
Nando berdecak saat tak mendapati satu satpam pun didalam pos tersebut.
"Kenapa?"
"Tidak ada satpam."
"Kenapa kau mencari satpam?"
"untuk bertanya."
"Bertanya-- "
Dering ponsel Yara membuatnya menghentikan ucapanya, ia segera memeriksa ponselnya tersebut. panggilan masuk dari Alesya tertera dilayar ponsel.
Manik Yara mengalihkan pandangan pada Nando.
"Siapa?" Tanya Nando
"Alesya." jawab Yara
"Yasudah jawablah." perintah Nando.
Yara pun segera menekan ikon berwarna hijau lalu mengarahkan ponsel tersebut didekat daun telinganya.
'Hallo Yara...' Suara Alesya diseberang sana.
'Kau dimana? aku daritadi mengetuk apartementmu, tapi tidak ada sahutan.'
"Aku di kampus, kenapa kau baru menjemputku?"
'Maaf aku lupa memberitahu, Kampus hari ini sedang diliburkan, para dosen sedang ada kunjungan penting di luar kota.'
"kenapa mendadak?"
'sebenarnya kemarin saat kau izin, sudah ada pengumuman.'
"lalu kau tidak memberitahuku? menyebalkan." Terlihat Yara mengerucutkan bibirnya.
'aku sendiri saja lupa kalau hari ini sengaja diliburkan, aku baru ingat pagi tadi Saat terbangun.'
"Pantas saja kampus sepi."
'Maaf aku benar-benar lupa memberitahumu.'
"Yasudah aku akan kembali ke apartment, tunggulah."
'Baiklah aku tunggu, bye.'
Yara dan Alesya saling memutuskan sambungan masing-masing.
"Apa katanya?" Tanya Nando.
"Kampus hari ini sengaja diliburkan, para dosen ada kunjungan penting diluar kota." Ucap Yara seraya memasukan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Kenapa baru memberitahu?" Nando mengernyitkan dahinya.
"Alesya lupa."
Nando berdecak kesal.
"memangnya Darwin dan Bryan juga tidak memberitahumu?"
"kalau mereka memberitahu, tidak mungkin kita berada disini."
"membuang-buang waktu saja!"
"awas saja kalian!" Nando mengepalkan tangannya dengan kesal.
membuat Yara yang melihatnya mengernyit heran. "Siapa?"
"Siapa lagi kalau tidak Bryan dan Darwin."
"lihat saja nanti." Ucap Nando, ia mengeraskan rahangnya.
"jangan aneh-aneh." Yara memelototkan kedua maniknya kepada Nando.
"Hanya memberi mereka sedikit pelajaran." Ucapan Nando penuh dengan penekanan.
"Tidak usah." Yara meraih tangan Nando, ia berusaha meredam amarah laki-laki itu, Bagaimana pun juga bukan hal tidak mungkin jika Nando benar-benar akan melakukannya. bagaimana jika Nando akan memukul kedua temannya itu, lalu mereka saling baku hantam. walau hanya masalah sepele sekalipun, Yara benar-benar tidak bisa membayangkannya, sangat jelas terlihat dari raut wajah Nando yang menahan rasa amarahnya.
"Biar saja, gara-gara mereka kau marah-marah padaku! membuat kita terus beradu mulut!" Nando menautkan kedua alisnya tajam. tatapan dingin nampak diraut wajahnya. apa mungkin Nando akan benar-benar memberi kedua temannya pelajaran? atau menghajar mereka?
Yara terdiam mendengar ucapan Nando, ia menjauhkan tangannya Dari Nando. Yara merasa sangat bersalah telah memaki-maki laki-laki itu, memicu perdebatan, hingga berkata kasar terhadapnya. tidak seharusnya ia bersikap seperti itu, Yara benar-benar takut jika Nando benar-benar akan memukuli kedua temannya.
"jangan seperti itu, mereka temanmu."
Nando menajamkan kedua matanya kepada Yara. "Kenapa kau malah membela mereka? jelas-jelas mereka bersalah tidak memberitahu pada kita! aku tidak peduli sekalipun itu temanku."
"Mungkin saja mereka juga lupa memberitahu , sama seperti Alesya dan Valen." Ucap Yara, mengalihkan agar mengurungkan niat Nando.
"Temanmu dan mereka berdua tidak ada bedanya!"
"apa maksutmu berbicara seperti itu?" Yara mulai kesal dengan ucapan Nando, kemarahan dan rasa kesalnya membuat dirinya menyalahkan semua termasuk teman Yara.
"kau tidak dengar? mereka semua tidak ada bedanya!"
"Kau ini kenapa? hanya masalah sepele saja kau besar-besarkan. Jangan seperti anak kecil." Yara sedikit mengeraskan Nada suaranya.
"teruslah membela, bahkan kau tidak pernah peduli denganku."
"Justru aku peduli denganmu."
"Aku hanya tidak ingin kau bersikap berlebihan. orang lupa itu wajar!"
"Kau membenciku!"
"Tidak ada hubungannya dengan ini Nando."
"kau memang tidak pernah peduli padaku! kau melihatku hanya dengan kebencian bukan?!" Nando memalingkan wajahnya, ucapannya penuh penekanan.
"Aku sudah pernah mengatakannya."
"jangan mengaturku dan jangan ikut campur!" Bentak Nando.
Itulah Nando, dibalik sikap lembut dan humorisnya, ada sikap dingin, keras kepala, dan kejam jika rasa amarahnya sudah memuncak, bahkan tak peduli siapapun itu.
Yara terkesiap, mulutnya bungkam seketika. pertama kalinya Nando membentaknya dengan sangat kasar. Yara menahan air matanya yang sudah menggenang memenuhi sudut matanya, hatinya terasa sakit dibentak oleh Nando. demi apa pun baru Kali ini Ada laki-laki yang membentaknya, Demian memang sangat kejam, namun ia tak pernah sekalipun membentak dan berkata kasar kepada putri kesayangannya itu. Yara memundurkan langkahnya perlahan lalu Segera ia berlari menjauh dari hadapan Nando.
Seketika Nando tersadar akan ucapannya. "Shit!" Nando mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun mengejar Yara yang semakin menjauh dari jangkauannya.
Yara memberhentikan sebuah taxi. Namun geraknya kurang cepat, hingga membuat Nando segera menarik tangannya, menghalanginya masuk kedalam taxi tersebut.
Nando menyuruh sopir taxi segera pergi dari sana.
Ia menatap Yara dengan perasaan bersalah. terlebih melihat air mata Yara mengalir deras membasahi wajahnya. Dadanya terasa sesak, melihat wanita yang dicintainya menangis karena kesalahan dari diri nya sendiri.
Nando mengusap lembut air mata Yara yang terus menerus terjun bebas dari maniknya. Seketika ia mendekap tubuh Yara dengan sangat erat. "Maafkan aku..."
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
jangan Lupa Vote dan Likeπ