My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #51



"Aku ingin mengunjungi makam ayah dan ibumu, apa boleh?" Tanya Nando.


Nando yang memang mengenal baik mendiang kedua orang tua Samira, ia juga merasa sangat bersedih dan kehilangan, belum sempat ia bertemu kembali dengan kedua orang tua yang ia sudah anggap sebagai orang tua nya sendiri. Mereka berdua sudah tidak berada di dunia ini lagi. Nando sangat menyayangi kedua orang tua Samira, meskipun anaknya sudah membuatnya sakit hati namun Nando tidak mempunyai hak untuk membenci mereka, bahkan Nando sangat mengasihani mereka.


Samira terkesiap, ia tidak menyangka bahwa pria yang sangat di cintainya itu masih peduli dengan kedua orang tua nya. andai saja kedua orang tuanya masih ada, mungkin mereka akan senang bisa bertemu dengan Nando kembali. apalagi Nando sudah di anggap layaknya anak sendiri oleh kedua orang tua Samira.


"Kau benar-benar ingin menemui mereka?" Tanya Nando.


"Iya, Aku sangat merindukan paman Rey dan Bibi Wina. belum sempat aku bertemu mereka kembali, namun Tuhan berkehendak lain." Wajah Nando terlihat sendu, ia mengingat kembali bagaimana kedua suami istri tersebut selalu memperlakukannya dengan baik, dan sangat Menyayanginya.


Air mata Samira menetes begitu saja dari dalam maniknya, hati nya tersentuh akan ucapan dari Nando. Samira menepiskan senyuman, ia akan dengan senang hati mengantarkan Nando untuk mengunjungi makam kedua orang tua nya.


"Kau ingin kesana Sekarang?" Tanya Samira Seraya beranjak dari duduk nya. ia segera mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


Nando mendongak, menatap wajah Samira. "Kau tidak keberatan?"


"Kenapa harus keberatan? aku senang kau masih peduli dan bersikap baik terhadap orang tua ku, meskipun mereka sudah tidak ada di sini." Samira kembali berkaca-kaca, Namun ia sangat berusaha agar air matanya tidak jatuh kembali.


"Ayo." Ajak Samira.


Nando menepiskan senyuman, ia pun menganggukinya dengan semangat. segera ia juga beranjak, lalu mengajak Samira melangkahkan kaki menuju ke arah mobil miliknya yang terparkir disana.


Mereka berdua segera masuk kedalam mobil, Nando pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit mereka berdua pun akhirnya sampai di tempat yang di maksutkan. segera Nando memarkirkan mobilnya tersebut.


Kedua nya turun dari dalam mobil, Samira mengajak Nando masuk ke dalam tempat pemakaman dimana kedua orang tuanya di peristirahatkan di sana. setelah berjalan lumayan jauh Samira pun memberhentikan langkah kakinya tepat di sebuah makam yang terdapat dua nisan berdampingan. Nando yang berdiri tepat di hadapan Samira. "Selamat siang Paman, Bibi." Ucapnya.


Samira duduk bersimpuh dihadapan kedua makam orang tua nya. Ia tak bisa mempertahankan air matanya yang sudah menggenang di kedua sudut mata nya.


"Samira akhir-akhir ini sibuk mempersiapkan diri untuk masuk kuliah."


"Samira datang bersama Jullian." Samira mengalihkan pandangan kepada Nando. "ayah dan ibu masih mengingatnya Kan? iya, Jullian anak kesayangan kalian. Samira senang setelah sekian lama tidak bertemu Dengannnya, kini Samira bertemu dengannya lagi." Ia Mengalihkan Pandangannya kembali pada kedua nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya. Samira bergantian mengusap kedua Nisan tersebut.


"ayah, ibu Samira tidak bisa membohongi hati ini, Samira masih sangat mencintai Jullian. Samira tau mungkin Jullian sudah membenci Samira karena kebodohan Samira sendiri. atau bahkan Samira sudah tidak mempunyai kesempatan untuk bisa kembali kepada Jullian. Maafkan Samira tidak bisa memenuhi keinginan ayah dan ibu, Samira harap kalian mengerti. Kini hidup Samira jauh dari kata baik ayah... Samira berdosa besar sudah memilih jalan ini. sekali lagi maafkan Samira. Damai dan tenanglah kalian, terimakasih sudah membesarkan Samira dengan ketulusan dan kasih Sayang." Ucap Samira Dalam hari, air Matanya tidak berhenti terjatuh dari maniknya. Namun sangat mengatakan semuanya hatinya merasa sedikit lebih tenang.


Kini giliran Nando yang mendekat, Nando bergantian mengusap kedua nisan tersebut.


"hallo paman bibi, maaf Nando baru bisa mengunjungi kalian berdua. Nando sangat beruntung bisa bertemu dengan kalian berdua meskipun dengan kenyataan yang berbeda. Paman, bibi maafkan Nando jika selama ini Nando mempunyai kesalahan. bahkan Nando tidak bisa mengantarkan kalian ke tempat peristirahatan kalian yang terakhir. Tenang lah disana bibi dan paman, Syurga untuk kalian." Nando terlihat menahan air matanya. ia merasa sangat kehilangan, namun ia berusaha untuk kuat agar Samira tak melihat kesedihannya.


Setelah dirasa cukup mengatakan isi hati masing-masing, mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk kembali.


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š