
Alvaro membuka matanya perlahan, dan saat itu juga dia tersenyum kecil dan semakin memeluk Clara sambil mengusap punggung Clara.
Clara terbangun dan melihat Alvaro yang juga melihat wajahnya. Alvaro tersenyum miring dan menarik tengkuk Clara mencium bibirnya perlahan.
Mata Clara terbelalak dan segera melepaskan ciuman Alvaro sambil memegang bibirnya, "Al apa yang-"
Alvaro kembali menarik tengkuk Clara, dia tak suka jika ciumannya terlepas saat dia baru mau menikmatinya. Oh ayolah, Alvaro juga ingin merasakannya bukan?
Clara mencengkram kerah baju Alvaro, sungguh ini pertama kalinya dia di cium dan dia sangat shock bercampur panik. Alvaro menyadarinya namun juga menyukainya.
Alvaro melepaskan tangan Clara dari kerahnya dan menuntun tangan Clara melingkari lehernya sedang tangannya kembali turun pada pinggang wanita itu semakin membuat Clara tak karuan.
Alvaro dengan nakal mulai mengelus dan memperdalam ciumannya hingga wanita itu hampir kehabisan oksigen.
Alvaro melepaskan ciumannya dan tersenyum miring, "Good morning honey."
Wajah Clara merah merona, ini sungguh gila! Kenapa bibir Clara tak mampu berkata apapun? Kenapa dia begitu pasrah?
Alvaro mengusap bibir Clara, "Terimakasih makanan pembukanya sayang. Di tunggu makanan utamanya," Alvaro tersenyum smirk.
Clara memukul bahu Alvaro, "Apa kamu gila?! Apa yang kamu lakukan?!"
Alvaro terkekeh dan mengeratkan pelukannya, "What's wrong? Kamu istriku bukan?" Ucap lelaki itu tanpa rasa bersalah.
Alvaro mendekatkan wajahnya di telinga Clara, "Bukankah tadi menyenangkan?" Goda Alvaro kembali membuat wajah Clara merona.
Sial. Kenapa Alvaro begitu menyebalkan?!
Clara mendorong Alvaro namun kembali ditahan Alvaro, "Sayang, berhentilah bersikap asing. Ingat, kita kini bukan lagi dua melainkan satu."
Alvaro terkekeh singkat, "Aku menyukai irama jantungmu." Sambung Alvaro. Alvaro tersenyum, dia senang wanita itu berdebar karenanya.
Jantung Clara memang tak dapat di ajak kompromi, benda itu berdetak kencang hingga bahkan Alvaro dapat merasakan debarannya itu.
Kenapa ini jadi sangat memalukan, rasanya dia ingin menghilang saja dari bumi ini. Kenapa dia jadi kelihatan bodoh seperti ini astaga..
Alvaro kembali terkekeh dan mengelus rambut Clara, "Aku juga berdebar karenamu sayang."
Clara mengalihkan wajahnya, "Aku membencimu! Siapa yang tidak berdebar jika seseorang menciumnya tiba-tiba!"
Clara mendorong Alvaro dan menyorot tajam Alvaro, "Lupakan tentang ciuman itu karena aku sungguh membencinya! Aku akan membersihkan semua jejak ciumanmu! Sungguh Alvaro, aku membencimu!" Kesal Clara.
Clara bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi, Clara menggosok giginya hingga 10 kali, dia tak ingin ada sisa ciuman Alvaro menempel padanya.
Alvaro menghela nafas panjang, Clara masih tak mau membukakan hati untuknya, Alvaro sungguh kecewa. Kenapa sulit sekali?
Alvaro menghembuskan nafas berat lagi. Lelaki itu menghempaskan selimutnya dan berjalan ke arah depan jendelanya, "Aku merindukanmu Clara, aku merindukan dirimu yang dulu."
Alvaro menghembuskan nafasnya dan keluar dari kamarnya. Ntahlah, rasa putus asa kini semakin menghantuinya.
Alvaro melihat ke arah dapur, kembali teringat dulu Clara yang selalu memasakkannya. Kini dia tak dapat merasakan masakan Clara lagi, keadaannya sangat berbeda sekarang.
Alvaro duduk di meja makan dan segera pelayan menghidangkan makanan di hadapan Alvaro. Alvaro menatap sedih makanan yang ada di hadapannya ini, Alvaro mulai mengangkat sendoknya dan menyulangkannya ke dalam mulutnya sendiri.
Air mata Alvaro mengalir, "Clara aku merindukanmu."
Alvaro segera menghapus air matanya dan melanjutkan sarapannya.
Alvaro menghela nafas panjang dan kemudian mengambil pakaiannya kerjanya dan pergi menuju kamar mandi.
Setelah selesai Alvaro kembali melihat keadaan Clara, wanita itu masih diam duduk melihat ke arah jendela dengan tatapan sendu.
Alvaro yang tak tega menghampiri Clara, "Sayang. Kalau kamu mau keluar juga tak apa. Kalau ada apa apa hubungi saja aku." Jelas lelaki itu tanpa di jawab oleh Clara.
"Baiklah, aku mau pergi, kamu jaga diri baik-baik ya, jam 5 aku sudah pulang, sebelum aku pulang dari rumah kamu harus sudah sampai rumah." Sambung lelaki itu berpamitan.
Alvaro pun pergi meninggalkan Clara seorang diri di kamar. Clara menoleh ke arah pintu yang tertutup oleh Alvaro, wanita itu jadi semakin tambah bingung, "Kenapa dia membiarkan aku pergi begitu saja? Apa dia tak takut jika aku kabur?" Tanya Clara pada dirinya sendiri.
Got it
Clara segera mendapatkan jawaban, "Sekalipun dia membiarkan aku pergi pasti sudah memiliki mata mata yang akan mengawasi ku bukan?" Clara mendengus.
Clara bangkit dari tempat tidurnya dan hendak keluar rumah. Sekedar hanya berjalan jalan membuang suntuk dan mencari cara agar dia bisa seutuhnya bebas dari kandang singa yang menyeramkan ini.
Clara berjalan menuju kota. Wanita itu lumayan terhibur melihat pemandangan luar, melihat beberapa orang yang saling berbagi cerita dan saling tersenyum terlihat begitu membahagiakan. Namun itu kembali mengingatkan Clara akan keadaannya yang penuh tekanan membuat wanita itu kembali bersedih.
"Permisi?" Ucap seseorang dari belakang Clara.
Clara membalikkan badannya dan melihat orang itu, "Ada apa ya?"
Lelaki itu tersenyum dan sedikit menunduk karena tingginya melebihi Clara, "Saya tidak sangka berjumpa dengan anda di sini. Saya adalah salah satu penggemar kue kamu. Rasanya enak sekali. Bahkan saya seringkali membeli kue kamu karena buat ketagihan." Ucap lelaki itu.
"Oh ya. Terima kasih." Kata Clara dengan mata berbinar. Dia tak sangka berjumpa dengan seseorang yang menyukai kuenya sedemikian rupa.
"Oh ya, kenapa kamu rubuhkan toko kuenya? Kamu pindah tempat ya?" Tanya lelaki itu membuat Clara kembali teringat kalau dia tidak lagi memiliki toko yang di bangunnya susah payah itu.
"Aku berhenti jualan." Kata Clara dengan sedih.
Lelaki itu mengerutkan keningnya, "Huh? Kenapa?"
Clara menggeleng, "Sudah di jelaskan."
"Ah, sayang sekali, aku sangat menyukainya." Lelaki itu terlihat sedih.
Clara menepuk pundaknya, "Hei, banyak toko kue lain yang enak enak, kamu bisa mencobanya."
Lelaki itu menggeleng, "Kue kamu punya ciri khas sendiri. Makanya aku menyukainya."
Lelaki itu mengusap dagunya, "Bagaimana jika kamu membuatkan aku satu kue lagi untuk terakhir kalinya. Mau ya?" Pinta lelaki itu.
Clara tak mau mengambil resiko, dia tak mau jika karena satu hal kecil Alvaro akan sangat marah padanya dan menghukumnya dengan hukuman berat nanti. "Maaf aku tidak bisa."
"Oh ayolah... Aku punya cafe yang lumayan besar di dekat sini. Buatnya di sana saja, kita beli semua peralatannya sekarang." Jelas lelaki itu.
"Tapi-"
"Sebentar saja. Please... Demi penggemar kuemu ini," lelaki itu memohon lagi.
Clara menghela nafasnya dan kemudian mengangguk, "Baiklah. Tapi tidak lama ya."
"Siap!"