My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Thirteen



Clara duduk menghadap Alvaro yang berada di hadapannya, "Kenapa Al?"


Alvaro menatap Clara dengan ada ancaman, "Al?" Tekan Alvaro. Dia tak suka jika wanita ini malah menganggap dirinya jadi sederajat.


"Hm-maksudnya Tuan," sambung Clara dengan takut.


Mata marah Alvaro pun mereda, "Hm."


Alvaro menyandarkan tubuhnya di kursinya dan menatap Clara dengan datar, "Ku beritahu padamu. Setiap kali kau berada di dekat pacarmu itu kau jangan menolak dirinya kalau dia mau dekat denganmu, termasuk jika Viandro mengajakmu makan. Kau juga harus terima! Jangan seperti tadi pagi, kau bodoh sekali."


Clara menatap Alvaro, "Memangnya harus ya? Aku kan udah makan."


Alvaro melipat kedua tangannya di dada, "Kau sudah pernah pacaran?"


Clara menggeleng, "Viandro pacar pertamaku."


Alvaro mulai paham. Ini pengalaman pertamanya, mungkin jadi agak susah. Bayangkan saja jika seorang yang sudah berpengalaman dengan seorang pemula di gabung.


"Dengar ya, kau itu harus bisa lebih membangun relasi hubungan yang baik dengannya. Kau tau, lelaki itu butuh di perhatikan juga, kau pikir hanya perempuan saja yang membutuhkannya. Sampai di sini kau paham?" Alvaro memastikan Clara mengerti.


Clara mengangguk paham.


"Kadang lelaki itu akan mencari alasan untuk bisa bersama. Contohnya mengajakmu makan bersama, atau mungkin dia ajak kau untuk nonton bareng. Yang seperti itu harus kau ladenin, jangan malah di tolak. Paham?"


Clara mengangguk lagi.


"Sering seringlah panggil dia dengan sebutan sayang, atau apalah yang terdengar manis. Karena itu akan membuat lelaki bahagia juga."


"Dan juga, kau harus perhatikan juga pacarmu itu. Jika dia merasa sendiri atau kesepian temani dia, jangan diem aja. Paham kan?"


Clara terus mengangguk-angguk mendengar penjelasan Alvaro seperti anak sekolah yang di ajarkan gurunya.


Alvaro menatap datar Clara, "Ya sudah kalau begitu. Pulang sana."


Clara menganga seketika, "Huh?" Tadi dia di paksa ikut dan sekarang malah di campakkan begitu saja.


"Pergi. Jangan buat aku muak dengan wajah mu itu." Tekan lelaki itu.


Clara menggembungkan pipinya, sungguh lelaki ini sama sekali tak mempunyai perasaan! Kenapa dia ngusir?!


Tapi lebih baik memang dia pergi. Dari pada dia di sini dan terus meladeni lelaki kejam ini, bisa-bisa lelaki ini malah menyuruhnya menjadi pembantu tiba-tiba.


Clara bangkit berdiri, "Baiklah aku pulang."


Clara pergi meninggalkan Alvaro.


Alvaro memegang rahangnya. Rasanya pegal sekali menerangkan pada Clara panjangnya lebar seperti itu, pasalnya lelaki ini sama sekali tak pernah berbicara banyak kepada orang lain kecuali saat rapat dengan rekan kerja. Tapi ini malah ngomong mengenai hal cinta yang sangat tak menjijikan.


Ah.. pegal sekali.


Demi untuk menjatuhkan Viandro, Alvaro rela melakukan apapun. Dan dia pastikan lelaki itu pasti akan tamat.


***


Clara membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Badannya pegal sekali karena terpaksa berjalan kaki sampai ke rumahnya. Hari ini setelah berjumpa Alvaro tiba-tiba saja kesialan terus menimpanya tanpa henti, mulai dari dia kehilangan uang ntah jatuh di mana, dia terpaksa jalan kaki dengan jarak yang sangat jauh, di tengah jalan malah hujan, di tambah lagi di kejar anjing kecil yang galak. Akhhh... Tertekan banget pokoknya.


Clara mengacak rambutnya geram, "Aaa... Kenapa sih setiap kali jumpa sama Alvaro bawaannya susah mulu!"


Clara memukul-mukul bantalnya geram. "Apa huh? Kamu bilang aku bego? Iya? Terus aja bilang gitu! Sok pintar banget sih!"


Wajah wanita itu yang sudah merah dan panas itu pun coba dia kontrol. Clara menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya, "Sabar Clara, sabar..."


Wanita itu kini sudah mulai merasa tenang. "Sudahlah, kamu harus terbiasa dengan tingkah ngeselin dan sombongnya itu Cla. Sabar."


Clara menghembuskan nafas panjang dan kemudian mulai berbesar hati.


Clara mulai menutup matanya, dia yang sudah kelelahan pun mulai terbawa dalam alam mimpi indahnya.


Hpnya Clara bergetar membuat Clara tak jadi tertidur dan membuka matanya spontan. "Ck. Baru juga mau tidur," lelah Clara.


Clara pun mengambil hpnya dan melihat siapa yang menelponnya. Mata Clara terbelalak terkejut melihat nama kontak itu, hatinya serasa berbunga-bunga, segera Clara bangkit duduk dan mengangkat teleponnya, "Hai," sapa Clara.


Lelaki itu terkekeh singkat, Viandro kembali diam dengan senyuman masih merekah di bibirnya. Dia menunggu Clara untuk mengatakan hal lain lagi.


Clara kembali teringat Alvaro. Lelaki itu tadi bilang lelaki itu suka untuk di perhatikan bukan?


"Kamu udah makan?" Tanya Clara.


"Belum."


Clara menggeleng, "Dasar. Makan gih sana."


Viandro melihat ke arah jam di dinding, "Gimana kalau makan sama kamu yang? Aku jemput?" Tanya Viandro seketika membuat Clara kembali teringat kalimat Alvaro.


Dia harus terima tawaran lelaki itu.


Clara mengangguk, "Baiklah." Walaupun dia sudah kenyang banget tapi dia harus mengikuti keinginan Viandro, semoga aja Viandro senang dengan jawaban iya darinya.


Viandro tersenyum, "Oke aku langsung ke sana ya."


Viandro mematikan ponselnya dan segera berangkat, rasanya dia juga merindukan Clara, walaupun hanya sedikit.


Sejujurnya dia tak yakin dengan hubungannya dengan Clara. Dia bahkan menjadikan Clara sebagai pelabuhan saja selagi dia mencari wanita lain. Ya iyalah, ngapain juga sama wanita udik sepertinya?


Kalau dia bisa mendapatkan Clara seluruhnya, hati terutama tubuhnya tentu saja Viandro akan langsung meninggalkan wanita itu. Tak ada gunanya lagi.


Clara mulai berbenah diri dan kemudian menunggu kedatangan Viandro.


Viandro datang dengan mobil mewahnya yang berhenti tepat di depan rumah Clara, lelaki itu menelpon Clara agar wanita itu keluar rumah untuk menghampirinya.


"Sayang, aku udah sampai."


"Oh ya. Tunggu ya."


Clara pun segera keluar. Penampilan yang sederhana di tampilkan Clara membuat Viandro semakin yakin satu hal, dia pasti akan meninggalkan wanita ini secepatnya.


Clara berdiri di hadapan Viandro dan Viandro tersenyum kecil, "Udah siap?"


Kata Viandro.


Clara mengangguk, "Tentu."


Viandro pun membuka pintu mobilnya mempersilahkan Clara masuk.


Clara pun masuk dan begitu pun Viandro. Mereka makan malam bersama dan kemudian jalan-jalan di mall, "Kamu suka yang mana? Biar aku belikan untukmu." Kata Viandro.


Clara menggeleng, "Gak usah Vi. Jalan sama kamu aja udah buat aku seneng banget."


Viandro terkekeh dan mengeratkan gandengan tangannya, "Sungguh?"


"Sungguh!" Jawab Clara yakin.


Mereka pun berjalan jalan sebentar dan bersanda-gurau. Cinta ini terasa sangat manis bagi Clara. Sungguh membuat dia semakin bahagia.


Tak lama setelah itu mereka pulang. Clara di antar lelaki itu dan di akhiri dengan pelukan hangat perpisahan untuk satu harian ini.


Clara melihat kepergian mobil Viandro dan setelahnya masuk kedalam rumahnya.


Wanita itu terus tersenyum sampai kepergian Viandro. Ah... Rasanya jadi melayang.


"Ternyata yang di katakan Alvaro ada benarnya juga, aku selalu melihat senyuman di bibirnya walaupun tipis selama kami bersama tadi," batin Clara.