
Malam hari ini mereka makan di luar. Clara yang ada di hadapannya masih diam dan menunduk, Clara masih trauma dengan kejadian itu.
Alvaro menghembuskan nafasnya dan mulai bicara, "Dengar Cla, tak ada yang perlu di kuatirkan. Mereka sudah aku laporkan dan juga sudah di tangkap. Kau tak perlu takut."
Clara mendongakkan kepalanya dan melihat Alvaro dengan haru, "Al jika aku melakukan kesalahan aku minta maaf ya." Clara merasa bersalah karena sejak dulu mengaggap Alvaro adalah seorang yang jahat dan kejam.
Alvaro menggeleng singkat, "Tak masalah, intinya lupakan saja kejadian yang menganggu pikiranmu dan kembalilah bahagia."
Clara mengangguk dan kembali tersenyum. Clara merasa sangat beruntung bisa mengenal Alvaro, dulu yang di anggapnya sebagai lelaki yang suka menyiksa ternyata adalah seorang yang sangat baik dan perhatian.
Alvaro memakan makanannya seakan tak memperdulikan pikiran Clara yang dapat dengarnya, padahal dalam hati dia sangat senang Clara memujinya seperti itu.
Clara melihat ujung bibir Alvaro yang terdapat sisa makanan, segera Clara mengambil tisu. Mengetahui itu Alvaro segera mengambil tisu dari tangan Clara, "Aku bisa sendiri. Makasih."
Clara mengangguk kaku, "Ah, iya."
Alvaro kembali melanjutkan makannya. Hatinya sangat bertolak belakang dengan tindakannya, tapi itu yang terbaik bukan?
"Kau makanlah. Itu akan segera dingin," lanjut Alvaro membuat Clara tersadar akan lamunannya.
"Oh. Iya," Clara pun memakan makan malamnya.
Makanan ini terasa sangat enak. Ini kali pertama Clara memakan makanan ini, makanan barat yang bahkan namanya membuat lidah Clara terbelit dan sudah di ingat. Ya sudahlah lupakan saja, intinya makannya enak.
Alvaro melihat Clara yang begitu menikmati makanan tersenyum tipis. Wajah Clara yang biasanya menyebalkan malah terlihat lucu sekarang.
"Ehem. Dinner with your special person huh?" Terdengar suara seseorang dari belakang Alvaro. Lelaki itu pun menghentikan langkahnya tepat di sebelah Alvaro.
Alvaro melihat datar lelaki itu jatuhnya ke jijik sebenarnya.
Viandro mengambil kursi dan duduk di antara mereka. Alvaro mengembuskan napasnya dan tersenyum licik, "Huh... Indah sekali percintaan beda kasta."
Clara yang merasa di sindir hanya diam. Memang nyatanya begitu, jadi tak ada gunanya juga melawan.
Alvaro tersenyum miring melihat Viandro, "Apa urusanmu? Ah... Aku tak pernah mendengar sesuatu tentang perusahaanmu. Oh ya, memang tak pernah ada kemajuan ya, lupa aku."
Viandro tertampar dengan kata kata Alvaro.
"Oh ya, dimana semua gadis yang kau sewa? Membosankan? Ah... Tentu saja namanya juga wanita panggilan," Alvaro terkekeh singkat dan kembali melihat Clara. "Berbeda dengan gadisku yang terlalu manis dan cantik. Aku takkan bosan dengannya."
Clara tersenyum, Alvaro membuatnya tersipu.
Viandro melihat Clara datar, ntah apa yang membuat kembarannya ini masih bertahan dengan si udik ini. Memang Clara tampak lebih berubah sekarang, tapi tetap saja wanita ini sangat rendah.
"Hei, jangan terlalu lama melihat wanitaku." Kata Alvaro membuat Viandro mengalihkan pandangannya dan berdecih.
"Hah, menyedihkan sekali."
"Oh ya, sampai sepenasaran itu kah kau sampai mengejar kami ke sini? Cih, ternyata kau yang lebih menyedihkan."
Viandro menaikkan salah satu sudut bibirnya, "Dih, dengar ya, aku ke sini juga karena ada pekerjaan. Kebetulan jumpa sama kalian. Jadi jangan terlalu percaya diri."
Alvaro terkekeh singkat, "Oh ya? Tapi aku meragukannya."
Viandro memutar bola matanya malas, "Lebih baik aku pergi. Melihat kalian begitu memuakkan."
Viandro tak mau berlama-lama dan pergi meninggalkan Alvaro dan Clara dengan gusar.
Alvaro kembali memakan makan malamnya sedangkan Clara masih menatap Alvaro.
Alvaro melihat ke arah Clara, "Kenapa menatapku?" Tanya Alvaro dan kemudian kembali pada makanannya.
"Untuk?" Tanya Alvaro tanpa melihat Clara.
"Untuk semuanya." Clara meneteskan air matanya bahagia.
Alvaro melihat Clara, "Tak perlu berterimakasih. Lanjutkan saja makannya."
Clara mengangguk dan memakan makan malamnya. Hari ini adalah salah satu hari yang paling menyenangkan dan berkesan bagi Clara, dia harap semuanya akan berjalan lebih baik lagi kedepannya.
Alvaro lebih dahulu menyelesaikan makannya. Lelaki itu melihat ke arah langit, dalam benak Alvaro dia harus segera melakukan balas dendam ke Viandro, dia harus tetap membalasnya dengan memberikan hal yang setimpal. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan nyawa ganti nyawa.
"Al aku sudah selesai."
Ucapan Clara membuat Alvaro tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah Clara, "Hm, Baiklah ayo kita pulang."
Clara mengangguk, mereka pun keluar dari restoran. Alvaro mengendarai mobilnya, kemudian terbesit dari pikiran Alvaro untuk memberikan sesuatu pada Clara agar Clara lebih bahagia hari ini.
Alvaro memberhentikan mobilnya, "Tunggulah sebentar di sini, aku akan kembali."
Alvaro keluar dari mobilnya dan kemudian membelikan kalung berlian, lelaki itu pun kembali ke dalam mobil dan memberikan paper bag kepada Clara, "Ini untukmu."
"Untukku?"
Alvaro mengangguk. "Buka sekarang saja."
Clara mengangguk dan membukanya, Clara terkejut dan sangat senang, "Kalungnya indah sekali."
Alvaro melihat Clara dan mengangguk, "Tentu saja. Itu cantik untukmu."
Alvaro mengambil kalung itu dan memasangnya di leher Clara, "Cantik." Puji Alvaro.
Clara tersenyum, "Terimakasih. Aku akan menyimpannya."
"Jangan hanya di simpan, tapi di pakai." Koreksi Alvaro membuat Clara tertawa singkat.
"Iya Al, aku akan pakai dan jaga baik baik pemberian kamu," sambung Clara.
Lihatlah mereka sudah seperti sepasang kekasih sungguhan. Padahal sebenarnya yang terjadi Alvaro hanya beracting demi penyelesaian misinya dan segera mengeluarkan Clara setelah semuanya selesai nantinya.
Alvaro kembali mengendarai mobilnya menuju penginapan mereka.
Sesampainya di penginapan Clara dan Alvaro masuk ke dalam. Alvaro masuk ke dalam kamar dan segera membaringkan tubuhnya untuk tidur.
Alvaro memijat kepalanya, dia harus membuat Clara bahagia bukan? Berarti dia harus memperlakukan Clara dengan terbaik.
Alvaro pun bangkit dari tidurnya dan mengambil selimut dan bantal tidur. Alvaro menjumpai Clara yang ada di ruang tamu, wanita itu tampak hendak tertidur.
"Hei, tidurlah di kamar. Biarkan aku di sini," Kata Alvaro membangunkan Clara.
Clara terkejut dan segera duduk, "Eh, tidak usah Alvaro. Aku di sini saja, di sini juga sudah nyaman." Clara tak enak jika harus di perlakukan sebaik itu, karena hari ini pun Alvaro sudah sangat baik padanya.
"Tak usah sungkan. Kau adalah wanita dan aku pria, tidak baik jika kau yang berkorban di bandingkan denganku," sambung Alvaro.
"Tapi-"
"Tak ada tapi tapi, kau tidurlah di kamar aku si sini. Aku sudah mengantuk." Alvaro segera membaringkan dirinya di atas sofa dan tidur.
Clara sungguh tersentuh dengan kebaikan Alvaro. "Terimakasih Alvaro."
Clara pun pergi menuju kamar Alvaro dan tidur di sana. Clara mengatur alarm, rencananya Clara akan bangun di pagi hari dan memasakkan sarapan untuk Alvaro. Dia akan membuat esok hari Alvaro akan tersenyum.