My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
fifty



Hari ini telah berakhir, dan semuanya berjalan dengan lancar. Alvaro bersyukur tak terjadi masalah dan kekuatan mistis buang merugikan itu tak menimpanya.


Alvaro kembali melihat pergelangan tangannya, "Hari ini ku pastikan angka ini akan berkurang."


Alvaro pulang dari kantornya dam mengendarai mobil ke restoran fast food. Lelaki itu membelikan burger dan minuman coklat melalui Drive thru dan kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah.


Sesampainya di rumah Alvaro mencari keberadaan Clara. "Clara," panggil lelaki itu.


Clara yang masih sibuk dengan pekerjaan membuat kue terkejut mendengar suara Alvaro. Untunglah kuenya baru saya selesai dan tinggal di bungkus untuk satu pesanan seseorang.


Clara segera memasukkannya ke dalam kulkas pribadinya yang ada di kamar dan segera merapikan bahan kue secepat mungkin.


Clara memasukkan semua bahan ke dalam suatu box dan segera menyimpannya ke bawah laci meja dapur.


Clara menutup pintu itu dan baru dapat bernafas lega.


'Jangan pikirkan apapun jika tidak aku akan ketauan,' batin Clara sebelum dia menjumpai Alvaro.


"Iya Tuan!" Sahut Clara dan segera menghadap Alvaro.


Alvaro melipat kedua tangannya di dada, "Kenapa kau lama sekali? Ke apa saja kau?"


Clara menggaruk tengkuknya, "Tadi saja di dapur Tuan, sedang masak jadi tak mendengar Tuan datang."


"Alvaro, bukan Tuan," koreksi Alvaro.


Clara mengangguk dan tersenyum kikuk, "I-iya Alvaro, saya lupa."


Alvaro memberikan kantung makanan yang di belinya tadi, "Ini untukmu. Kau belum makan bukan?"


Clara melihat pemberian Alvaro, untuk pertama kalinya lelaki itu membelikan dia makanan. Clara melihat Alvaro tak percaya dan kemudian tersenyum, "Anda baik sekali."


Alvaro segera mengalihkan pandangannya, tidak dengan senyuman, dia tak boleh melihat senyuman itu terlalu lama jika dia tak ingin hatinya goyah. "Ambillah dan makan. Jaga kesehatan jika kau tak mau ambruk sepertiku."


Clara tersenyum, perhatian kecil Alvaro membuat Clara merasa senang dan di hargai. "Terimakasih banyak," Clara menerima bungkusan itu.


Alvaro pun pergi meninggalkan Clara.


"Alvaro. Makan siang kamu juga sudah aku sediakan di meja. Mau aku antar ke kamar atau di-"


"Di meja makan saja." Alvaro segera pergi setelah menjawab Clara.


Damn!


Kenapa Alvaro berdebar saat di panggil dengan sebutan kamu oleh Clara. Ck. Sial. Hatinya kenapa tak bisa berkompromi.


Alvaro menutup kamarnya dan menepuk-nepuk dadanya. "Hentikan, kau tak boleh berdetak untuk seseorang seperti dia."


Alvaro mengontrol dirinya dan kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.


Dia membersihkan dirinya dan kemudian keluar kamarnya untuk makan siang.


Clara sudah menyiapkan makan siang Alvaro dan menunggu lelaki itu keluar kamar, dan ya, lelaki itu sudah datang.


Alvaro sama sekali tak melihat Clara dan duduk di kursinya. Alvaro tak berbicara apapun dan menghabiskan saja makan siangnya.


Clara masih saja berdiri di sebelahnya membuat Alvaro sedikit terganggu, "Ada apa denganmu? Apa kau tak memakan makanan yang ku belikan?"


Clara mengangguk, "Sudah Al. Makanannya sangat enak. Apa lagi pemberian dari kamu." Jawab Clara dengan jujur.


Deg!


Alvaro sedikit menepuk dadanya. Astaga kenapa ini malah dia yang salah tingkah.


Clara melihat Alvaro dengan wajah serius, "Kamu tak apa? Jantung kamu sakit lagi?" Clara kuatir.


Alvaro mennyetop tangan Clara yang hendak menyentuhnya hingga membuat wanita itu berhenti, "Tak masalah. Aku hanya tersedak."


Clara segera membawakan air minum pada Alvaro, "Ini."


Alvaro mengambil gelas itu dan meminumnya. "Makasih."


"Sama sama."


Alvaro kembali melanjutkan makannya. "Besok Minggu, kita akan jalan ke mana? Kau suka kemana?"


Clara melihat Alvaro dengan wajah yang tak dapat di terka seperti yang sudah sudah. Alvaro mencoba membaca pikiran Clara tapi tak dapat di baca sama sekali.


Apa maksud dari pandangan itu?


Alvaro merasa ada yang janggal. "Ada apa denganmu?"


Clara bingung, "Ada apa dengan saya? Tidak ada Al."


Alvaro menggeleng, "Apa yang kau pikirkan beberapa saat tadi? Kenapa pandanganmu begitu padaku?"


Clara tertegun. Alvaro tak dapat membaca pikirannya?


Alvaro menyerngitkan dahinya. Sekarang Alvaro dapat membaca pikiran Clara yang meragukannya.


Tunggu, ini aneh sekali.


Alvaro mendekatkan wajahnya membaca pikiran Clara lebih dalam. Dia malah mendengar Clara yang masih kebingungan.


Alvaro mengalihkan pandangannya. Sial. Dia tak mendapatkan pikiran apapun selain kebingungan.


Alvaro bangkit dari duduknya, "Aku sudah dapat membacanya." Alvaro berbohong. Dia sengaja mengatakan itu agar Clara tak macam macam berfikir.


"Awas saja kalau kau coba-coba berfikir yang tidak-tidak aku akan menghukummu."


Alvaro pun meninggalkan Clara.


***


Alvaro berbaring di kamarnya, kenapa tadi malah semakin memikirkan Clara. Alvaro berdecak kesal, "Apa yang ada di pikirannya sih? Sangat mencurigakan."


Alvaro duduk di tepi ranjangnya, "Apa jangan jangan dia mencoba berfikir untuk melakukan pembunuhan terhadapku sama seperti Viandro dulu?"


Pikiran Alvaro malah jadi sejauh itu karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Clara kau sungguh membuatku ingin membunuhmu. Jika bukan karena misi ini aku akan lakukan itu jauh jauh hari!"


Alvaro mengusap wajahnya, dia harus bersabar.


Alvaro kembali membaringkan tubuhnya dan menutup matanya. Dia harus bisa menenangkan dirinya, "Sebentar lagi saja."


***


Alvaro terbangun dari tidurnya dan melihat sinar matahari sudah masuk ke dalam matanya. Alvaro melihat ke arah jam nya yang menunjukkan jam 7 pagi. Dia terlambat bangun, kenapa Clara sama sekali tak membangunkannya?! Lihatlah betapa tak bertanggung jawabnya dia terhadap pekerjaan.


Alvaro bangkit dengan emosi menjumpai Clara yang ternyata ada di dapur.


"Cla-!"


Aduh, Alvaro sudah terbangun. Aih... Aku terlalu lama memasak kuenya batin Clara segera membuat Alvaro terdiam.


"Kue?"


Alvaro melihat kue yang ada di hadapan Clara. Tertulis Happy Birthday Alvaro.


Ulang tahun? Bahkan Alvaro sendiri tak mengingat ulang tahunnya karena merasa tak penting baginya.


Clara mengusap tengkuknya dan kemudian memberikannya Alvaro kue buatannya, "Selamat Ulang Tahun."


Alvaro melihat ke arah berwarna putih dengan hiasan coklat yang mengelilingi kue itu.


Senang? tentu saja Alvaro sama sekali tak senang! Hari ini seharusnya mereka pergi jalan jalan bukan? Dan kenapa dia malah melakukan ini?!


Arh!


"Kenapa kau tak membangunkanku?! Sudah ku bilang bukan kalau kita akan jalan-jalan. Kenapa kau-"


"Tapi ini ulang tahunmu Al."


"Tidak ada yang hebat tentang hari kelahiran! Sama sekali tak penting!"


Geram Alvaro.


"Tak penting katamu? Tentu saja ini penting. Ini mengingat kejadian kelahiranmu. Mengingat betapa beruntungnya kedua orang tuamu melahirkan orang sehebat dirimu. Apakah ini yang kamu sebut tak penting?" Ucap Clara membuat Alvaro terdiam.


"Kamu itu penting. Oleh sebab itu kamu ada di sini. Ini bahkan lebih penting dari pada jalan jalan rancangan itu. Karena kamu itu lebih penting." Sambung Clara.


Clara mundur menjauhi Alvaro, "Itu kue kamu," Clara meninggalkan Alvaro saat dia sudah mengakhiri kalimatnya.


Clara sedikit kesal. Sudah cape cape buat malah di marahi. Dasar menyebalkan