My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
sixty four



Alvaro tak menjawab Clara dan segera membaringkan tubuhnya untuk segera tidur. Bibir Clara melengkung ke bawah, dia sedih melihat keadaan Alvaro yang sama sekali tak memperdulikannya.


Clara berniat untuk kembali berbicara tapi dia tahan, sepertinya Alvaro sedang tak mau membicarakan apapun dan tak mau mendengar apapun.


Clara menangis walaupun tak bersuara, dia sangat sedih sungguh. Bahkan makanan yang tadinya di siapkan Clara dia lupakan seketika dan wanita itu pun keluar dari kamar menuju ruang tamu.


Clara menangis tersedu sendu, dia sangat kecewa pada dirinya sendiri, dia sudah gagal menjadi istri yang dapat di percaya suami.


Alvaro yang menyadari Clara sudah tak ada di kamar hanya diam saja. "Kenapa gak di bujuk? Kenapa malah membiarkan aku sendiri? Ck." Gumam lelaki itu berharap Clara ada di sebelahnya terus membujuknya.


Alvaro bangkit dari tempat tidur dan mengintip dari balik pintunya. Dia melihat kekosongan di lingkungan sekitarnya. Alvaro pun keluar kamar dengan sembunyi-sembunyi, "Dimana Clara?"


Alvaro menghentikan langkahnya ketika melihat Clara yang tengah menangis di ruang tamu. Hatinya terasa sakit melihat Clara yang terus menyalahkan dirinya sendiri dan terus menangis. Dia ingin memeluk Clara dan segera berbaikan dengannya.


Tidak, Alvaro menghentikan langkahnya yang hendak berjalan ke arah Clara. Dia ingin wanita itu yang datang padanya dan kembali membujuknya.


Alvaro kembali masuk ke dalam kamar dan berbaring di dalam sana.


Hati Alvaro tentu saja risau, ada rasa takut kalau kalau Clara malah bertindak tak sesuai keinginannya dan malah berbuat bodoh. Tapi, ayolah.. Clara seharusnya bisa dong merebut hati suaminya kembali.


Lama berfikir Alvaro pun mengacak rambutnya prustasi. Baiklah, dia menyerah, Alvaro tak bisa melihat Clara seperti itu.


Alvaro membuka selimutnya yang sembarangan dan bangkit duduk.


Kreak...


Pintu kamar terbuka dan segera Alvaro membaringkan tubuhnya kembali dengan posisi tidur. Dia niat awalnya kembali bergejolak, dia ingin Clara berusaha untuk merebut hatinya kembali.


Clara melihat ke arah Alvaro dan kemudian berjalan masuk perlahan,


"Al maafkan aku ya."


Clara menunduk, dia tak mungkin tidur bersebelahan dengan Alvaro sekarang, dia takut lelaki itu merasa tak nyaman.


Clara pun mengambil bantal dan selimut baru dari lemari, Clara keluar kamarnya dan berniat untuk tidur di kamarnya yang lama.


Alvaro berdecak kesal, kenapa malah pergi!


Alvaro menoleh ke belakang dan sudah tak mendapati Clara di sana. Alvaro mengusap wajahnya, dia tak ingin Clara malah tidur di tempat lain! Dia ingin tidur di sebelahnya!


Clara sudah masuk ke dalam kamar lamanya dan tidur di sana. Wanita itu kembali menangis, dia selalu saja sangat lemah ketika sudah mencintai seseorang, rasanya benar benar sedih.


Drett


Hp Clara bergetar, Clara melihat nama yang tertera di sana dan ternyata itu dari Viandro.


Dasar sialan! Karena dia hubungan Clara jadi renggang begini!


Clara mengangkat teleponnya, "Dasar Kamu lelaki kurang ajar! Semua karena kamu! Kamu jahat! Jangan pernah lagi muncul di hadapanku jika tidak aku akan memukulmu!"


Tut Tut Tut


Clara menantikan telponnya sebelum lelaki yang ada di sana mengatakan sepatah katapun.


Viandro awalnya kaget dan kemudian tersenyum, "Lagi bertengkar ya?"


Lelaki itu tentu saja sangat senang. Dia yakin pasti Clara menceritakan apa yang terjadi tadi pagi pada Alvaro dan Alvaro si keras kepala itu cemburu berat.


Viandro melipat kedua tangannya di dada, "Lupakan untuk kembali mendapatkanmu Clara, aku memiliki rencana yang lebih baik lagi dari pada itu."


Viandro tertawa licik dan kemudian menggambar sesuatu di kanvasnya, rencana pembunuhan Alvaro sudah di rancang, "Sempurna."


***


Alvaro sedari kemarin tak dapat tidur dengan nyenyak. Dia terbangun setiap dua jam sekali dan sekarang kepalanya sangat berat sekarang.


Perasaan lelaki itu terasa tidak nyaman dan juga pikirannya terlalu bercabang. Apa yang terjadi padanya?


Alvaro bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur.


Srekk


Tangan Alvaro tak sengaja menimpa sesuatu di atas tempat tidurnya, lelaki itu segera menoleh dan melihat tiga tangkai bunga, bunga unik yang tak asing di lihatnya.


Alvaro meraih bunga itu dan memandangnya, barulah Alvaro teringat sesuatu. Ini adalah bunga yang dia dapat kala membuat Clara bahagia beberapa hari silam.


Alvaro kembali berfikir, "Bukannya ini bunga ini aku letakkan di dalam vas bunga?"


Alvaro melihat ke arah meja yang tak jauh dari tempat tidurnya, tempat Vas bunga yang berisikan bunga ini seharusnya. Vas itu kosong


Krek..


Lelaki itu melihat ke arah pintu yang baru saja terbuka, menampilkan sosok Clara yang datang menghampirinya dengan mata sembab.


Mereka saling tatap tanpa bicara, Clara enggan bicara karena mengingat kesalahannya kemarin, sedangkan Alvaro tak mau memulai pembicaraan jika Clara tak memulainya.


Alvaro mengalihkan pandangannya dan kemudian bangkit berdiri. Lelaki itu berjalan ke arah meja kecil yang di dekatnya dan kembali memasukkan bunga itu ke dalam Vas. Alvaro tak terlalu memikirkan mengenai keanehan bunga itu karena memang bunga itu selalu aneh bukan? Dia bahkan tak pernah layu.


Alvaro mengambil handuknya dan segera hendak mandi. Percayalah dia sangat merindukan Clara hingga dadanya terus menerus berdebar ingin memeluk Clara.


"Al." Clara memberanikan diri untuk membuka mulutnya, "Maafkan aku ku mohon."


Alvaro sangat senang Clara kembali mengajaknya bicara. Alvaro masih memasang wajah datarnya, "Hanya itu yang kamu bisa? Hanya bisa meminta maaf?"


Ucapan Alvaro membuat Clara semakin tersudutkan. Dia juga tak tau harus apa.


Alvaro memutar bola matanya malas, dia kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Clara.


Clara menghembus nafas berat. Sedih sekali rasanya.


Clara pun mempersiapkan pakaian Alvaro dan meletakkannya di atas tempat tidur Alvaro, Clara pun kemudian keluar kamar untuk mempersiapkan sarapan Alvaro.


Alvaro yang telah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi pun kemudian keluar kamar untuk sarapan.


Alvaro melihat Clara yang sedari tadi menunggu dengan pikiran yang sangat berantakan.


Clara terkejut melihat Alvaro yang sudah datang dan duduk di hadapannya. Lelaki itu menyantap sarapannya tanpa ada pembicaraan apapun.


"Alvaro, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu. Bagaimana aku harus berbuat untuk membuatmu kembali percaya padaku Al?" Batin Clara menangis.


Alvaro mempercepat sarapannya dan segera hendak pergi. Dia tak tahan melihat Clara yang seperti ini, tapi dia masih ingin berpegang teguh pada pendiriannya.


Alvaro bangkit berdiri dan segera berjalan meninggalkan Clara.


Tep,


Clara menahan tangan Alvaro seketika mengentikan langkahnya. Clara segera menghadap Alvaro dan memeluknya, dia sungguh tak mau pertengkaran ini terjadi semakin lama.


"Sayang aku mencintaimu. Aku minta maaf kalau aku salah sayang, aku gak akan ulangi lagi. Sungguh aku minta maaf." Clara menahan tangisnya walaupun air matanya sudah mengalir.


"Bagaimana jika aku tak percaya." Tantang Alvaro.


Clara semakin sedih dengan ucapan Alvaro. Clara menunduk, tangan Clara melemah dan perlahan mundur memberikan jarak antara dirinya dan Alvaro. "Baiklah aku takkan memaksa. Maafkan aku. Aku akan menjauh seperti apa yang kamu inginkan."


Tidak. Bukan itu yang Alvaro harapkan sebagai jawaban.


Clara Mengusap air matanya dan mengangguk, wanita itu pun pergi meninggalkan Alvaro.


Alvaro hendak mengejar Clara. Tapi dia menghentikan niatnya, di sini bukan dia yang salah, tapi Clara. Jadi Clara lah yang harus berusaha untuk Alvaro.