
Clara terkejut bukan main.
Alvaro semakin mengeratkan pelukannya dan tumbuhnya terasa panas, sepertinya dia demam. Clara memberanikan diri untuk memegang dahi Alvaro, "Aw, panas."
"Jangan jauh-jauh. Diam di sini dan jangan banyak bicara," ancam Alvaro disela-sela rasa sakitnya.
Alvaro kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Clara, dan jujur dia merasa sangat nyaman di posisi ini.
Tapi seperti kurang pas. Alvaro melepaskan pelukannya, "Naik ke sini. Duduk di sebelahku. Cepet.." pinta Alvaro.
"Tapi-"
"Clara cepet. Aku pusing sekali..." Rengek lelaki itu.
Clara pun terpaksa mengikuti perintah lelaki itu. Segera Alvaro memeluk Clara dengan erat, kenapa wanita ini sangat enak untuk di peluk huh?
Alvaro melihat wajah Clara, "Batalkan saja dokter itu. Aku baik-baik saja."
Clara balik melihat Alvaro, "Sakit gini malah nolak Dokter. Nanti makin parah."
Alvaro sangat takut dengan suntik, dia takut kalau di periksa malah di suntik nantinya. "Gak usah. Kau saja yang mengobatiku. Kan bisa."
"Pakai apa?"
"Ambil aja Paracetamol. Nanti setelah itu juga sembuh. Aku cuma butuh istirahat sejenak, itu penyakitku yang sering timbul," jelas Alvaro.
"Tapi-"
"Ck. Banyakan tapi. Ngak akan ada apa-apa. Lakukan saja apa yang ku katakan. Jangan bawel!"
Clara menghembuskan nafasnya panjang. Sabar Clara... Sabar...
Clara pun menelpon sang dokter, "Maaf dok. Tuan Alvaro sudah mendingan, jadi bapak tak perlu datang lagi. Maaf menganggu waktunya ya pak."
"Oh iya tidak apa. Semoga Tuan semakin baik keadaannya ya Bu," sambung sang dokter.
"Iya dok. Terimakasih."
Clara mematikan telponnya. Alvaro tersenyum tipis mendengar Dokter yang menakutkan itu tak jadi ke rumahnya, lelaki itu kembali memasang wajah datarnya, "Ambilkan aku obat dan air putih sekarang. Setelah ini aku akan tidur."
Clara mengangguk, "Baiklah."
Clara mengambil obat dan kemudian memberikannya pada Alvaro. Lelaki itu makan obatnya dan kemudian mulai menutup matanya, dia tertidur pulas. Clara pun keluar dari kamarnya.
***
Clara menyiapkan makanan dan setelah itu mengantarkannya ke dalam kamar Alvaro. Alvaro melihat Clara dan kemudian sedikit menggeser posisinya. "Duduk di sini," Alvaro menepuk kasur sebelahnya.
Clara mengerutkan keningnya, "Sepertinya demam Tuan makin parah."
Alvaro berdecak kesal dan menatap tajam Clara, "Sini. Cepat."
Clara meletakkan makanan Alvaro di meja dan menempelkan telapak tangannya di dahi Alvaro. Panas Alvaro sudah turun tapi kenapa masih aneh saja.
Alvaro menarik tangan Clara dan memeluknya erat. Kenapa tubuh mungil ini semakin enak di peluk? Dia tak ingin melepaskan pelukannya.
"Tuan-"
"Diam. Jangan banyak bergerak. Aku cuma mau transfer panas tubuhku saja padamu. Jangan kepedean."
Clara menggerutu, lelaki ini sangat menyebalkan.
"Sulangkan aku. Aku lapar," perintah Alvaro.
"Makanya lepaskan dulu. Aku gak bisa gerak."
Alvaro tak mau melepaskan pelukannya, ini terlalu nyaman untuk di lewatkan. "Kalau aku ngak mau kau mau apa?"
Alvaro semakin mengada ada saja, bagaimana dia bisa menyulang manusia satu ini jika dia tak melepaskan pelukannya. Bisa-bisanya dia malah bilang gitu.
Alvaro mendongak melihat wajah Clara. Semakin lama di lihat Alvaro semakin dalam menilai kecantikan Clara. Bulu mata Clara lentik juga hidungnya juga lumayan mancung, pipinya tak terlalu tembam juga bibirnya terlihat tebal dan berwarna pink alami di kulitnya yang kuning langsat membuat dirinya tersenyum tipis. Pantas saja Viandro sempat menyukai Clara.
Ketika melihat Clara Alvaro seperti mendengar suara halus di telinganya, seperti Clara tengah memuji dirinya. Dia sesempurna itu kah? Alvaro semakin mendekatkan wajahnya ke Clara.
Seketika pandangannya berubah menjadi membayangkan Viandro. Lelaki yang mencampakkannya dengan seenaknya membuat Clara tersadar, dia bukan salah satu dari wanita yang bisa mendapatkan pria seperti mereka.
Alvaro terdiam. Lelaki itu kembali mendengar suara itu lagi dan membuatnya kecewa, kenapa harus Viandro?
Tapi tunggu, dia bisa membaca pikiran Clara. Tapi sejak kapan?
Clara mengalihkan pandangannya, "Tuan harus segera makan, nanti makin sakit."
Clara menjauhkan tubuhnya dan mengambil piring untuk segera menyulangkan sesuap nasi ke Alvaro.
Alvaro menjauhkan wajahnya dari suapan Clara dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Clara.
Clara membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang, bayangkan saja wajah tampan lelaki itu terpampang jelas di hadapannya. Alvaro menatap datar Clara. "Aku Alvaro, bukan Viandro," tekan Alvaro.
Clara terdiam.
Alvaro melihat kearah sendok di tangan Clara, "Cepat sulang."
Clara mengangguk dengan kaku dan menyulangi Alvaro. Alvaro menggeser posisi menjadi duduk di sebelah Clara. Lelaki itu kembali membuka mulutnya saat nasi di dalam mulutnya sudah habis meminta di sulangi lagi.
Clara kembali menyulangi Alvaro lagi dan lagi sampai habis. Lalu wanita itu memberikan obat pada Alvaro, setelahnya Alvaro tidur tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.
Clara keluar dari kamar Alvaro dan meletakkan piring kotor Alvaro di wastafel lalu dia segera ke kamarnya.
Alvaro tak suka jika dia disamakan dengan lelaki pecundang seperti Viandro. Jelas saja mereka berbeda, dari sikap bahkan kesuksesan sangat berbeda. Bisa-bisanya dia disamakan dirinya dengan Viandro. Ck. Dasar bodoh!
Alvaro kembali berfikir, sepertinya semenjak kematiannya banyak hal aneh yang terjadi belakangan ini. Tanda di tangannya ini jadi serasa aneh terutama saat dia membaca pikiran Clara. Apa dia bisa membaca pikiran orang lain juga?
Alvaro mengangguk, sepertinya akan bagus juga membaca pikiran orang. Dia akan lebih mudah mempelajari situasi.
Mata Alvaro kembali berat dan mulai tertidur, dia berharap bangun nanti tubuhnya akan lebih baik lagi.
***
Setelah menyiapkan makanan Alvaro Clara segera membawa nampan berisi makanan ke kamar Alvaro. Belum lagi Clara melangkahkan kaki ke luar dapur dia melihat Alvaro datang dan berjalan ke arah meja makan. Dia melihat ke arah Clara, "Bawa ke sini."
Clara pun berjalan ke arah Alvaro dan memberikan piring itu ke pada Alvaro. "Silahkan di makan."
Alvaro memakan makanannya dan melihat ke arah Clara, dia ingin mencari gara-gara dengan Clara, dia ingin memastikan dia beneran bisa baca pikiran atau tidak.
Dia tak bisa mempermasalahkan pakaian Clara karena dia sudah memakai pakaian putih hitam dengan benar layaknya pelayan di rumahnya, rambutnya juga sudah rapi di kicir, terus apa lagi?
Ah, wajah Clara yang sama sekali di make-up. "Heh! Wajahmu sangat jelek. Kau membuat semangat makanku berkurang."
Clara memegang wajahnya dan cemberut, 'Biarinlah, namanya ini muka muka aku, ya suka-suka aku! Lagi pula ini di rumah bukan di luar, ya bebas lah' batin Clara.
Alvaro mengangguk. Hm, ternyata benar dia bisa membaca pikiran Clara.
"Kenapa? Tak terima?" Gertak Alvaro dengan angkuh.
Clara segera menggeleng, "Tidak, tidak apa-apa."
'Dasar galak! Aku doain semoga kena hipertensi!' kutuk Clara dalam hati membuat Alvaro membelalakkan matanya geram.
"Heh! Jaga mulutmu! Kau menyumpahiku huh?!" Bentak Alvaro membuat Clara terlonjak.
Clara menggeleng, "T-tidak Tuan. Saya tidak mengatakan apapun."
'Sial, apa bisa membaca pikiranku?' Batin Clara panik.
Alvaro menatap tajam Clara, dia tak mungkin juga mengatakan bahwa memang benar dia bisa baca pikiran Clara, tapi dia rahasiakan saja, biar dia lebih lancar lagi membaca pikirannya nanti.
"Pergi sana. Jangan memasang wajah burikmu itu di hadapanku. Hias itu, paham?!"
Clara mengangguk, "I-iya. Baik Tuan."
Clara pun segera pergi.