
Clara terdiam, apakah mungkin karena ini Alvaro jadi terlihat murung?
Wah... Dasar wanita jahat. Bisa bisanya dia mengundang Alvaro setelah apa yang di lakukannya pada Alvaro. Ck ck ck. Sungguh keterlaluan.
Clara mulai berfikir, sepertinya dia harus melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Alvaro. Jika hanya kue ini pasti takkan bisa merubah suasana hatinya bukan? Baiklah besok kan malam minggu, dia akan mengajak Alvaro jalan jalan.
Clara akan mencari caranya agar Alvaro mau besok.
Clara pun keluar ruangan kerja Alvaro hendak kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam Alvaro.
Setelah selesai mandi Alvaro keluar dengan menggunakan handuk kimono lengkap dengan handuk kecil di kepalanya. Dia melihat Clara baru mau keluar kamarnya itu. "Lama sekali kau di sini? Kau ngapain dari tadi." Alvaro menaruh curiga pada Clara.
Clara menggeleng, "Bukan apa apa. Saya tak melakukan apapun."
Alvaro menatap tajam Clara membaca pikirannya. Alvaro membelalakkan matanya dan menatap Clara berapi-api setelah membaca pikiran Clara, "Kau!"
Clara segera menyatukan tangannya meminta ampun. Ntah kenapa perasaan Clara dia sudah tertangkap basah membaca undangan yang seharusnya tak di bacanya. Clara segera memohon ampun pada Alvaro dengan bersungguh-sungguh.
"Maafkan saya Tuan. Gak sengaja! Serius! Undangannya jatuh sendiri!"
Alvaro semakin membelalakkan matanya, "Terus, kenapa kau baca?! Apa aku mengijinkanmu?!"
Aih. Matilah...
"A-anu, itu-"
"Anu itu anu itu. Ngomong yang jelas!" Bentak Alvaro.
Clara kembali memohon sambil menunduk, "Jangan marah Tuan. Besok saya janji akan membawa Tuan ke suatu tempat yang membuat Tuan melupakan kegalauan Tuan sebagai wujud permohonan maaf saya."
Alvaro berdecih dan membolangkan matanya, "Jadi kau anggap aku selemah itu huh?! Kau pikir aku lelaki macam apa yang patah hati karena wanita?!"
Clara kembali menyerngitkan dahinya memukul kepalanya, salah bicara lagi.
"Bu-bukan begitu Tuan-"
"Terus apa!"
Clara menggerakkan tangannya mencari kalimat yang tepat. "S-setidaknya untuk refreshing aja Tuan. Tuan kan sudah penat kerja. Jadi kan ngak ada salahnya jalan jalan juga. Toh tempatnya juga ngak jauh. Gak mahal lagi." Tawar Clara.
"Kau pikir aku tak mampu makanya kau menawarkan ku ke tempat murahan?!"
Clara memukul jidadnya, salah lagi.
"Gini gini. Intinya Aku akan membuat Tuan bahagia besok. Mau gak? Kalau ngak mau ya udah gak apa." Jelas Clara untuk mengakhiri kalimatnya. Dari pada makin ruyem ya kan?
Alvaro diam dan berfikir sejenak. Ada gunanya juga jalan jalan bukan? Pasalnya sudah lama dia tak pernah jalan jalan untuk sekedar menghibur diri.
"Kita akan pergi ke mana?" Tanya Alvaro.
Clara tersenyum, "Ke suatu tempat yang menyenangkan pokoknya!"
Alvaro segera dapat membaca pikiran Clara, ke pasar malam. Ck, sangat tak berkelas. Bukankah itu tempat yang sangat ramai dan ricuh. Alvaro benci pergumulan banyak orang.
"Aku-"
"Tenang saja Tuan. Saya akan selalu ada di sisi Tuan, menemani Tuan. Tidak akan terjadi apapun yang buruk pada Tuan. Janji!" Clara menunjukkan dua jarinya bersungguh sungguh.
Alvaro menghembuskan nafasnya, "Jika saja ini tak menghiburku sama sekali. Aku akan menghukummu."
Clara bergidik ngeri. Namun tidak mungkin pasar malam tidak menyenangkan bukan? Clara yakin Alvaro akan terhibur. "Baiklah Tuan!"
"Pergilah. Biarkan aku istirahat, tak perlu memasak makan malam. Kue ku itu saja."
Clara mengangguk, "Baik Tuan. Saya permisi."
Alvaro meninggalkan Clara dan menuju lemari nya, untuk mengambil pakaian. Sedangkan Clara pergi meninggalkan ruangan sesuai perintah Alvaro.
***
Keesokan harinya, Alvaro beraktivitas seperti biasa. Begitu pula Clara yang mengerjakan tugasnya dengan baik sekaligus mengerjakan sampingannya membuat kue setelah Alvaro pergi. Semuanya berjalan dengan lancar.
Sampailah di malam hari. Clara sudah bersiap-siap untuk berangkat. Wanita itu sudah mempersiapkan uang untuk bermain wahana nanti, dia tak mungkin meminta uang Alvaro karena dialah yang mengajak Alvaro untuk bersenang senang malam ini.
Oleh sebab itu....
Set!
Dia membawa tas dengan dia botol minuman 2 liter air putih dan dua kotak bekal kue yang banyak untuk cemilan mereka nanti. Jika harus membeli di sana sangat merugi rasanya. Menghemat pangkal kaya! Clara harus bisa menghemat untuk masa depannya bukan? Hehe.
Clara menggunakan kaos putih dan celana selutut dengan topi hitam. Sangat sederhana untuk orang yang sederhana juga.
Clara menunggu Alvaro yang keluar dari kamarnya. Alvaro pun telah siap dengan setelan baju kemeja hitam dan celana ceper coklat. Lelaki itu turun sambil merapikan lengan bajunya yang dia lipat sedikit naik ke atas dan juga kancing atas kemejanya yang terbuka membuat Clara menganga lebar menatap maha karya Tuhan yang sempurna ini.
Clara segera menggeleng. Tidak. Dia tak boleh menjadi wanita yang tergila-gila pada pria se-gila Alvaro. Lagi pula dia juga tak pantas bersanding dengan orang kaya bukan?
Clara kembali melihat ke arah Alvaro yang mulai mendekat. "Kau sudah siap?" Tanya Alvaro.
Clara mengangguk, "Tentu! Ayo kita berangkat!"
Clara menuntun jalan dengan berjalan di sebelah Alvaro. Alvaro memutar bola malas dan mengikuti Clara.
Alvaro memencet alarm mobilnya untuk kendaraan mereka ke sana.
Namun tangan Clara menurunkan tangan Alvaro tang terangkat itu, "Kita naik kendaraan umum saja Tuan. Lebih asik tau."
Alvaro menyerngitkan dahinya, "Kendaraan umum katamu? Tidak! Kendaraan itu sangat kotor dan menjijikan!"
Clara menghela nafas, "Tuan, di situlah letak kesenangannya. Itu bus khusus mengantar kita sampai ke pasar malam, jadi di dalamnya semua orang yang ingin ke sana juga. Mereka pasti seru seruan di bus-"
"Tidak! Menjijikan!"
"Tapi Tuan-"
"Kalau aku bilang tidak ya tidak!"
"Pokoknya harus!" Kesal Clara membuat Alvaro membelalakkan matanya.
"Berani sekali kau-"
"Tuan, hari ini saya akan membuat Tuan bahagia bukan? Jadi ikutilah cara saya. Saya jamin tak akan ada masalah." Clara menepuk dadanya berjanji. Jika mengikuti Alvaro yang iyanya rencananya semua akan gagal dan pasti tidak akan seru.
Alvaro ingin sekali menghukum Clara sehabis habis nya, namun lengan tangannya sangat sakit.
Yup, tanda angka 11 itu terasa sakit.
Tunggu, angka 11? Bukannya terakhir kali itu angka 12?
Siapa yang perduli. Intinya Clara harus di hukum seberat mungkin.
Akh! Tangan Alvaro semakin sakit.
Semakin memikirkan untuk menghukum Clara tangan Alvaro terasa sangat sakit.
'Baiklah, aku takkan menghukumnya!' batin Alvaro membuat tangannya kembali rileks.
'Ck. Ini tentu sangat merugikanku,' batin Alvaro lagi.
"Baiklah terserah mu!" Putus Alvaro dengan geram.
Clara tersenyum senang, "Baiklah.... Mari kita naik bus!!!"
Alvaro memutar bola matanya, 'Oh ya ampun...'