
Clara memasangkan dasi Alvaro. Perlahan agar tak terjadi kesalahan lagi, Clara melihat ke arah Alvaro setelah selesai memasang dasinya.
Deg
Mata mereka terkunci. Sama sama dalam pikiran mereka sendiri.
Alvaro berdebar saat melihat Clara sedekat ini, seperti ada dorongan kuat untuk mencium wanita yang berhasil merebut hatinya ini. Sedangkan Clara berperang dengan dirinya untuk berhenti menatap Alvaro yang membuatnya takut.
Ya takut. Clara takut untuk jatuh cinta pada Alvaro, dia tak mau tersakiti untuk kedua kalinya. Dia harus membenci Alvaro.
Clara menundukkan kepalanya, "S-sudah selesai Tuan."
Alvaro sedikit kecewa saat melihat Clara mengalihkan pandangan darinya. Dan pikiran Clara tentang dirinya, sangat mengecewakan. Ada apa dengannya, kenapa Clara tak mau membukakan hati untuknya?
"Kenapa?" Tanya Alvaro membuat Clara yang tadinya menunduk kini mendongak.
"Kenapa apanya Tuan?" Tanya Clara sedikit menjauhkan dirinya dari Alvaro.
"Kenapa kamu membenciku?"
Clara terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Alvaro seakan bisa membaca pikirannya.
Alvaro mendekatkan dirinya pada Clara membuat wanita itu mundur beberapa langkah sampai kakinya terhenti menyentuh kaki meja yang menghalang langkahnya. "Bagaimana jika aku katakan aku bisa membaca pikiranmu?"
Clara terbelalak, membaca pikiran katanya? Bagaimana bisa?
Mungkin memang seringkali Alvaro dapat mengetahui apa yang ada di pikirannya tapi itu karena ekspresi Clara lah yang selalu dapat di terka. Tapi kali ini...
Clara tak percaya, ini pasti hanya karena gelagatnya yang terlihat seperti mencoba menjauhi Alvaro makanya Alvaro berpendapat kalau Clara membenci dirinya.
"Kenapa kamu ragu? Aku bisa membaca pikiranmu. Bahkan saat kamu mengumpat, memaki dan bahkan pernah memujiku. Aku tau."
Alvaro menghentikan kalimatnya dan semakin menatap dalam Clara,
"Aku tau semuanya yang ada di pikiranmu."
Jantung Clara berdebar. Apakah sungguh demikian? Apa semua pikirannya dapat dibaca Alvaro?
"Jika kamu meragukannya pikirkan satu hal, aku akan mengetahuinya."
Clara mencoba berfikir, 'Aku pingin nasi goreng untuk makan siang,' batin Clara random
Alvaro memutar bola matanya malas. Bisa bisanya malah mikir nasi goreng saat dia sudah serius begini, apa gak ada pikiran lain? "Nanti kita beli nasi goreng nanti siang.
Clara menganga seketika, pikiran randomnya bisa terbaca oleh Alvaro.
Clara kembali berfikir, 'Aku gak suka salad.'
Alvaro mengembuskan napas. "Kamu tak suka salad," Kata Alvaro seketika itu juga membuat Clara menutup mulutnya. Wah, ini sungguh nyata. Ternyata orang yang dapat membaca pikiran sungguh ada, dan salah satunya adalah Alvaro.
'Susu Bear Brand rasanya tawar,' pikir Clara lagi dan malah jadi main tebak-tebakan.
Alvaro menjitak kepala Clara, "Aku menyuruhku untuk memikirkan satu hal, bukan banyak hal." Geram Alvaro karena menyadari jadi di permainkan oleh Clara.
Clara terkekeh dan kemudian bertepuk tangan salut, "Wah keren Tuan. Itu keahliannya sejak lahir ya Tuan? Atau muncul tiba-tiba?"
Alvaro kembali menjitak kepala Clara.
"Tak penting. Sekarang jawab aku kenapa kamu membenciku?" Tekan Alvaro membuat Clara tersadar akan topik awal mereka.
"Sebenarnya saya tidak enak ngomong gini ke Tuan. Tapi lebih baik saya ucapkan dari pada membuat Tuan menerka-nerka," Clara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, Clara menatap Alvaro serius. "Yakin Tuan mau tau?"
Alvaro mendengus kesal, padahal tadi dia sudah serius malah di tanya lagi.
"Ya iyalah! Karena alasan kongkrit tak pernah ku dapat kalau hanya membaca pikiranmu." Desak Alvaro.
Clara mengangguk, "Baiklah kalau begitu. Saya membenci Tuan karena Tuan adalah kembarnya Viandro, pastinya kalian memiliki hati yang sama sekalipun cara berfikir kalian berbeda."
Clara mengangkat salah satu tangannya membentuk angka satu ke hadapan Alvaro, "Hati kalian satu. Itu sudah jelas. Dan pasti sama sama suka menyakiti perasaan sama seperti Viandro yang suka menyakiti perasaan orang. Oleh sebab itu saya membenci Tuan."
"Kan memang iya Tuan. Namanya juga kembar, kembar pasti gimanapun saling menyatu satu sama lain dan bahkan sekalipun membenci tak mungkin saling menyakiti." Anggab Clara seketika membuat Alvaro geram.
Alvaro kembali teringat akan kejadian kematiannya yang sangat tragis dan itu di sebabkan oleh kembarnya. Apa itu yang di maksud sehati?
Alvaro tersenyum getir sebelum dia berubah menjadi sangat dingin, "Tak pernah saling menyakiti katamu? Cih."
Alvaro menatap tajam Clara membuat perubahan pada ekspresinya membuat suasana ruang berbeda, "Itu sebabnya aku membenci setiap orang selain diriku sendiri. Ku pikir kamu mengerti, ternyata tidak, kamu sama saja."
Alvaro mengalihkan pandangannya, di tak suka lagi memandang Clara, "Keluarlah. Jangan membuatku bertindak lebih."
Menyadari ekspresi Alvaro yang berubah membuat Clara bertanya-tanya, apakah ada yang salah dari ucapannya?
"Ku bilang keluar ya keluar!" Bentak Alvaro membuat Clara terkejut dan takut secara bersamaan.
Clara menunduk dan segera keluar dari kamar Alvaro.
Alvaro melihat ke arah punggung Clara yang pergi menjauh, "Kau mengecewakanku Clara."
***
Clara kembali ke dapur menyiapkan kursi untuk sarapan Alvaro.
Alvaro keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Lelaki itu melihat sarapan pagi ini, Alvaro tak akan lagi berusaha menyukai makanan tradisional.
Prang!
Lelaki itu mencampakkan piring yang berisikan sarapan yang di sediakan Clara membuat wanita itu terkejut, kenapa Alvaro jadi seperti ini.
Kenapa jadi berubah seketika seperti dulu?
"Kau pikir aku perduli?"
Brass
Lelaki itu menyiram Clara dengan minumannya membuat wanita itu basah dengan jus jeruk buatannya. "Dasar wanita tak berguna. Kau pikir kau siapa dapat membenciku? Kau hanya babu."
Alvaro kembali berubah kasar padanya.
Tak perduli. Sifat lelaki itu kembali, itu semua karena Clara lah yang memancing kejadian ini terjadi. Kini hatinya sungguh tawar pada setiap orang.
Alvaro menunjuk Clara, "Aku membenci makanan sampah seperti ini. Sekali lagi kau menyiapkan sarapan seperti ini ku pastikan kau akan mati."
Deg!
Alvaro bangkit dari kursinya, "Hukuman akan berlanjut saat aku pulang. Persiapkan dirimu." Katanya dengan dingin.
Alvaro mengalihkan pandangannya dan meninggalkan Clara.
Clara tak percaya apa yang dilihatnya, dia sungguh merasa bersalah. Sepertinya memang dia telah berbicara lancang tadi.
"Tuan, maafkan say-"
"Diam kau!"
Deg!
Clara segera menunduk. Dia menyesal akan kejadian tadi pagi, dia sungguh merasa bersalah.
Alvaro berjalan ke arah Clara dan kemudian mencengkram rahang Clara kasar. Wanita ini sungguh lancang mencoba merebut hatinya, namun syukurnya dirinya dapat menahan diri dari wanita sialan ini.
"Aku sudah cukup berbaik hati padamu selama ini padamu babu. Tampaknya aku harus memberikanmu pelajaran."
Baru saja Alvaro merasakan jantungan seperti tertusuk tajam oleh panah beracun. Rasanya sakit sekali dan sesak, bersamaan itu tangannya sangat panas dan terbakar.
Tangan lelaki itu melemah dan melepaskan cengkraman rahang Clara dan tersungkur jatuh sambil merintih.
"TUAN!"