
Kuping Clara sangat panas sampai di rumah ini. Sedari tadi Alvaro merepet mulu, semua dia komen dan tak ada yang benar sedikit pun si matanya. Sampai-sampai tangan Clara pingin sekali mencekiknya sampai mati.
"Clara siapkan air hangat ku, jangan terlalu panas dan jangan terlalu dingin. Awas kalau saja kau buat masalah lagi," Alvaro menatap Clara tajam.
"Iya Tuan," Clara pun melakukan tugasnya sebaik mungkin. Dia menyediakan semuanya.
Alvaro keluar kamarnya dan segera ke dapur mengambil segelas air putih karena tenggorokannya terasa kering karena mengomel terus. Ini semua salah Clara. Dia selalu saja melakukan segalanya dengan tak teliti, lihat saja setelah ini dia harus di hukum nanti.
Penciuman tajam Alvaro merapatkan suatu bau-bauan yang asing. Ini seperti baik kue yang baru di oven. Siapa yang membuatnya dan mana kuenya?
Alvaro melihat mencari keberadaan kue itu, dia tau pelakunya pasti Clara, wanita ini pasti melakukan banyak hal aneh selama dia di rumah sakit. Ck. Dasar menyusahkan, dia harus di beri hukuman yang berat.
Alvaro tak kunjung mendapatkan di mana kue itu berada. Dia menyembunyikannya huh?
Mata lelaki itu tertuju pada lemari es. Mungkin saja di sana.
Alvaro pun membuka kulkas dan benar dia mendapati kue itu. Alvaro mengambil kue itu dan melihat perawakannya, "Kue macam apa ini. Tak ada keindahan sama sekali. Siapa yang akan tergiur memakannya?" Hina Alvaro.
Alvaro sedikit penasaran dengan kue ini, lelaki itu pun mengambil sendok dan menyendok sesuap ke dalam mulutnya. Alvaro menyerngitkan dahinya dan tersenyum miring, rasanya lumayan.
Alvaro kembali menyuap sesendok lagi dan malah keterusan hingga habis tanpa dia sadari. Alvaro melihat piring kue ini sudah habis tak bersisa, sedikit kecewa kenapa kuenya cepat sekali habis.
"Tuan semuanya sudah selesai- eh, itu kan kue aku, kok habis.." kata Clara tak terima.
"Itu salahmu, Kenapa dia buat terlalu sedikit? Geser aku mau mandi," Alvaro pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sambil menyodorkan piring kosong kuenya itu.
Clara menatap sedih piring kosong yang ada di tangannya, padahal dia mau makan nanti malam pasti rasanya akan sangat enak. Ck. Dasar lelaki menyebalkan.
***
Lelaki itu telah selesai mandi dan kini dia menuju ruang nonton untuk bersantai sejenak. Dia menonton berita, namun seperti ada hal yang kurang.
"Clara!" Panggil Alvaro.
Clara segera keluar dari kamarnya terbirit-birit, "Iya Tuan."
"Buatkan aku kopi," suruh lelaki itu.
Clara menggeleng, "Tidak bisa Tuan, Tuan bari saja keluar rumah sakit harus jaga kondisi dulu. Saya buatkan teh jahe saja ya."
Ide bagus, Alvaro juga butuh menghangatkan tubuhnya. "Hm."
Clara pun segera membuat teh jahe dan memberikannya pada Alvaro, "Ini Tuan."
Alvaro menyeruput teh nya dengan nikmat. Tunggu, dia melupakan sesuatu, dia seharusnya menghukum wanita ini karena sudah membuatnya marah-marah tadi siang kan?
"Sapu dan pel seluruh ruangan tanpa terkecuali sekarang," suruh Alvaro membuat Clara terbelalak.
"Tapi Tuan, tadi sore juga sudah di bersihkan," Clara protes.
Alvaro menatap datar Clara, "Yang bersihkan bukan kau kan? Sekarang kau yang bersihkan."
"Tapi-"
"Gak ada tapi tapi. Kerjakan!" Suruh Alvaro dengan tajam.
Lagi-lagi Alvaro membuatnya kesal. Kenapa dia selalu saja menyusahkan Clara, menyebalkan sekali!
Clara pun segera berbalik badan dan mengganti pakaiannya. Dia mengambil sapu dan menyapu seluruh lantai setiap ruangan lalu setelah itu mengepelnya. Rumah Alvaro yang besar ini membuat Clara mengerjakan semuanya bisa sampai 3 jam. Hingga kini pukul 9 malam, lelah sekali.
"Kenapa duduk?! Kerjaan mu belum siap! Sirami tanaman di halaman depan dan belakang, bersihkan mobilku dan juga kolam berenang di kuras. Kerjakan semuanya baru kau bisa istirahat."
Clara membelalakkan matanya tak percaya, "Yang benar saja?"
"Kau lihat aku sedang bercanda? Pergi sana!"
Clara mendengus gusar dan terus bergumam kesal. Semoga saja dia di sambar petir! Biar gosong sekalian! Arghh..
***
Semua telah selesai dan Clara masih di luar rumah. Dia ada di taman dan melihat suasana malam yang indah, dia baru tau ada pemandangan yang memukau seperti ini di rumah Alvaro. Memang taman ini memang sudah tertata indah dari dulunya tapi malam terlihat lebih memukau, terutama di hiasi dengan lampu taman.
Clara tersenyum dan duduk di rumput Jepang yang tumbuh tapi di taman itu. Sepertinya dia akan lebih sering ke sini malam-malam. Lama Clara di luar rumah membuat dia kelelahan dan mulai tertidur.
Alvaro mencari keberadaan Clara, dia membutuhkan Clara untuk menyiapkan tempat tidurnya, dia mulai mengantuk sekarang.
"Clara!" Panggil Alvaro.
"Clara- akh!" Pekik Alvaro kesakitan di dadanya tepat di jantungnya. Bersamaan dengan itu tangan kanannya terasa sakit sepertid terbakar dalam beberapa menit tangannya berubah menjadi kemerahan dengan suatu tulisan di sana,
"11"
Angka 11? Maksudnya?
Jantungnya yang tadinya sakit mulai menghilang dan mereda, bahkan tangannya yang terasa terbakar tadi terasa kembali normal, namun angka itu menjadi menetap, menghitam seperti tatto.
Telapak tangannya kembali memanas dan terasa terbakar. Lelaki itu memegang tangannya erat dan menjerit keras, rasanya sakit sekali, "Aaa!!!"
Sekeras apapun dia menjerit tak ada yang mendengar bahkan menolong lelaki itu. Apa yang terjadi padanya?
Telapak tangannya itu menampakkan tulisan, "Kebahagiaan itu impian, Kematian itu mutlak."
Alvaro menyerngitkan dahinya dan kemudian tulisan itu menghilang.
Nafas lelaki itu ngos-ngosan dan kemudian matanya menggelap dan dia mulai tak sadarkan diri.
***
Alvaro terbangun dan melihat sekitarnya. Dia sedang berbaring di tempat tidur dan di sini terdapat Clara yang masih tertidur di sebelah bednya. Dia tidur sambil duduk.
Alvaro kembali melihat ke arah tangannya, angka itu masih tetap ada, dia bingung apa yang terjadi tapi dia merasa sangat tak tenang karena kejadian kemarin malam.
Clara terbangun dan melihat Alvaro, "Bagaimana keadaan Tuan? Tadi malam Tuan tertidur di lantai. Apa Tuan baik-baik saja."
Alvaro menggeleng, "A-aku tak tau."
Clara melihat wajah pucat Alvaro segera berinisiatif untuk memanggil dokter, "Aku telpon dokter dulu ya. Kau harus segera di obati."
Alvaro mengangguk. Clara menelpon dokter dan menjelaskan semuanya pada dokter itu, setelah itu Clara kembali pada Alvaro, "Nanti dia akan datang. Tuan istirahat saja. Semua akan baik baik saja."
Alvaro menarik tangan Clara, Clara kembali duduk di kursinya.
Deb!
Alvaro memeluk Clara erat, dia sangat panik dan juga takut dalam perasaannya. Dia merasa suatu buruk akan terjadi padanya lagi... Bahkan lebih buruk dari pada kematiannya dulu.