My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
sixty eight



Ini adalah persidangan pertama yang di lakukan oleh Clara sebagai saksi utama. Hari ini berjalan begitu sengit. Pengacara Viandro terus melakukan pembelaan terhadap kliennya membuat Clara seakan menjadi salah seorang tersangka juga bersama dengan Viandro.


Persidangan akan di lakukan besok. Banyak yang Clara pikirkan, bukan hanya mengenai keselamatan Alvaro, keselamatan dirinya pun di pertaruhkan sekarang.


Alvaro memperhatikan wajah Clara yang terlihat pucat. Alvaro merasa bersalah karena permasalahannya membawa Clara dalam hal hal yang berat seperti ini. Alvaro berusaha membaca apa yang dipikirkan Clara tapi dia tak mendapatkan apapun, kemampuannya dulu bahkan hilang begitu saja.


Alvaro menggenggam tangan Clara membuat Clara menoleh ke arahnya kaget dan segera menarik tangannya. Alvaro tersentak ketika tangannya di tepis Clara, hatinya sangat sakit melihat Clara memandangnya sebagai seorang asing.


"Maaf." Ucap Alvaro dan hanya di balas palingan wajah oleh Clara.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih sudah melakukan pembelaan terhadapku," sambung Alvaro.


"Tak perlu berterimakasih, Viandro harus mendapatkan hasil perbuatan buruknya itu." Clara merasa perih mengatakan ini. Bagaimanapun Viandro telah banyak melakukan hal baik padanya saat mereka berpacaran, Viandro adalah lelaki pertama yang mengajarinya memiliki suatu hubungan lebih dari pertemanan dan dialah orang pertama yang ada di dalam hati Clara, begitu pun dia adalah orang pertama yang paling menyakiti hatinya seketika itu juga menghancurkan perasaannya mengenai apa itu yang di sebut cinta.


Alvaro melihat ke arah Clara, "Clara." Clara menoleh dan mendapatkan kedua mata mereka saling berpandangan.


"Bisakah kita menjadi teman." Alvaro menjeda kalimatnya sebelum dia kembali berbicara, "Aku sungguh merasa kita terlalu asing Clara. Aku ingin kita menjadi lebih dekat. Terutama menjadi teman." Alvaro menatap mata Clara dalam, dia ingin wanita kembali bersamanya walaupun hanya untuk status teman.


Clara mengalihkan pandangannya. Tampak berfikir sejenak lalu kembali melihat lelaki itu, "Aku tak yakin kita akan menjadi teman yang baik nantinya Al." Clara mengingat mereka memiliki jarak yang sangat jauh, itu akan menjadi terasa sangat aneh.


Alvaro kembali kecewa dengan kalimat yang terucap dari Clara. "Tidak ada yang aneh dengan hal itu Clara. Aku ingin menjadi temanmu, ku mohon."


Clara melihat kesungguhan dalam mata Alvaro dan dia juga tak mungkin menolak permintaan Alvaro yang ingin menjadi temannya bukan?


Clara menganguk. "Baiklah Al."


Alvaro tersenyum girang. "Sungguh?!"


Clara mengangguk dan membalas dengan senyuman tulus. Segera Alvaro memeluk Clara erat, "Astaga aku senang sekali Clara."


Deg!


Jantung Clara berdebar kencang. Dia tak tau kenapa jantungnya bisa berdebaran seperti ini, dia tak pernah  merasakan hal aneh seperti ini jika di peluk oleh seorang lelaki.


Clara ingin segera mendorong Alvaro dan memarahinya. Tapi hatinya bertolak belakang karena jutsru dia merasa senang.


Alvaro tersadar karena tindakannya yang mungkin akan membuat Clara merasa tak nyaman. Alvaro segera melepaskan pelukannya, "Maafkan aku. Aku terlalu senang."


Dia merasa ada semburan panas di pipinya merasa malu. Clara segera mengalihkan wajahnya untuk menetralkan ekspresinya. Clara berdehem saja menjawab ucapan Alvaro.


Alvaro tersenyum kembali, "Baiklah Clara."


Deg!


Clara memegang dadanya yang kembali berdebar. Sial! Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia malah terus berdebar seperti ini?


Alvaro kembali menghadap depan dengan senyumannya yang tak pudar dari bibirnya.


"Clara, aku yakin kita akan memenangkan kasus ini. Bersama kita akan melawannya!" Kata Alvaro bersemangat masih dengan tatapan lurus ke depan.


Clara mengangguk, "Kita akan menang."


***


Keesokan harinya persidangan di mulai. Hari ini Viandro di perhadapkan dengan Clara, Viandro menatap Clara dengan tajam dan mengintimidasi Clara. Rasa ketakutan merasuki dirinya, terutama kejadian  kejam yang di lakukan Viandro pada Alvaro seakan mematikan dirinya untuk jangan bertindak pahlawan karena Viandro bisa saja melakukan kekejaman yang lebih keji pada dirinya yang bahkan tak lebih dari debu dalam pandangannya.


Mata Clara mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Alvaro. Alvaro menutup mata dan mengangguk singkat, lelaki itu meneguhkan hati Clara untuk tetap berpendirian. Alvaro menatap dengan tatapan kesungguhan, Alvaro menatap Clara seperti menyalurkan semangat dan kekuatannya pada Clara membuat Clara kembali kuat.


Clara pun melakukan persidangan ini dengan teguh dan menyakini dia akan dapat menghadapi semuanya terutama bersama dengan Alvaro.


***


Persidangan berjalan dengan lancar. Hakim tampak tertarik dengan dengan kesaksian Clara dan menjadikan dirinya menjadi orang yang dilindungi dibawah LPSK untuk menjadi saksi yang di lindungi dalam peradilan pidana.


Persidangan ini membuat Viandro sangat geram dan menjadikan dirinya semakin tersudut dan akan di kenakan hukuman mati.


Persidangan tiap persidangan di lalui dan tiap harinya terus mengarah pada kebenaran ucapan Clara. Dan akhir pada persidangan ini membuat Alvaro sangat bahagia dan senang. Mereka memenangkan persidangan!


Alvaro segera memeluk Clara, menggendongnya sambil berputar beberapa kali membuat nafas Clara tercekat seketika. Jantungnya berdebar kencang.


Alvaro menurunkan kembali Clara dan menatap Clara dengan sangat bergembira, "Aku bahagia sekali kamu tau?"


Alvaro memegang kedua pipi Clara dengan tatapan membinar, "Aku bangga memilikimu Clara."


Perasaan Clara seperti berada di angkasa. Senang, bahagia juga haru berputar pada hatinya.


Pengacara Clara pun tersenyum melihat pemandangan yang tak biasa ini. Pengacara pilihan Alvaro sekaligus teman Alvaro ini baru pertama kali melihat Alvaro seperti ini. Dia turut bahagia.


Alvaro kembali memeluk Clara dan mengelus rambut Clara, "Aku menyayangimu Clara."


Deg!


Seketika semua orang yang mendengarnya terdiam. Bahkan kedua pengacara mereka yang tak menyangka Alvaro bisa mengatakan hal itu pada seorang wanita secara frontal.


Alvaro menyadari kalimatnya segera melepaskan pelukannya, "Aku menyayangimu sebagai teman yang selalu ada untukku Clara. Terima kasih banyak." Sambung Alvaro. Dia tak mau membuat suatu hal yang mematikan hubungannya dengan Clara. Dia tau jika dia mengatakan mengenai perasaan hatinya sesungguhnya Clara akan segera menjauh darinya dan itu akan sangat menghancurkannya.


Semua orang saling tatap satu sama lain, ini terasa sangat aneh. Seorang Alvaro mengucapakan terimakasih saja sudah menggentarkan, malahan sekarang Alvaro mengatakan kata kata manis pada Clara? Itu seperti suatu keajaiban dunia.


Clara yang tak terlalu mengenal sifat dingin Alvaro pada setiap orang merasa kelembutan Alvaro adalah hal yang biasa. Clara mengangguk paham, "Hm, kamu juga teman ku yang terbaik. Jika tidak karena pertolonganmu aku tak akan bertahan sampai sekarang."


Alvaro tersenyum. Alvaro senang sekarang dia bernilai di mata Clara. Mungkin untuk kali ini Clara hanya menganggapnya sebagai teman, tapi lama kelamaan Clara pasti akan mencintainya seperti sedia kala.