My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
sixty nine



Alvaro menunggu Clara di taman, dia sangat senang mendengar jawaban Clara yang mau di ajak jalan jalan hari ini. Mengingat beberapa hari lalu setelah persidangan berakhir mereka jarang berjumpa karena Clara selalu saja memiliki kesibukan lain.


Setiap kali Alvaro bertanya apa kesibukannya Clara selalu saja diam. Alasan utamanya adalah Clara tak mau Alvaro ikut campur dan selalu membantunya.  Oleh sebab itu Clara memilih diam.


Tapi satu hal yang Clara belum sadari sampai sekarang. Alvaro sebenarnya sudah mengetahui pekerjaan apa yang sedang Clara geluti, bahkan lebih dari itu Alvaro tau. Alvaro hanya menunggu saat yang tepat jika Clara membutuhkannya.


Lama menunggu Clara akhirnya Clara pun menampakkan sosok dirinya membuat senyum Alvaro kian merekah.


Alvaro melambaikan tangan membuat wanita itu segera mendapatkannya, "Udah lama nunggu?" Tanya Clara.


Alvaro menggeleng, "Gak kok."


Alvaro melihat Clara tanpa henti, dia merindukan Clara, dia ingin Clara kembali mengingat dirinya, namun itu sulit sekali, dan rasanya begitu berat.


"Apakah ada yang aneh denganku?" Tanya Clara pada Alvaro seketika membuat Alvaro tersadar.


"Ah, tak ada yang aneh."


Clara mengangguk masih dengan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Kenapa Alvaro setiap kali menatanya selalu saja dengan tatapan seperti itu, tatapan yang menunjukkan rasa kesedihan dan kerinduan. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu, ini terkesan sangat aneh.


"Cla, mau ke mana hari ini?" Tanya Alvaro sedikit membuat Clara kaget. Ini kali pertama Alvaro memanggil namanya dengan sebutan Cla.


"Hm, kemana aja, terserah kamu," Jawab Clara sedikit kaku.


Alvaro mengangguk,


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang," Alvaro tersenyum.


Mereka pun berangkat.


Dari mulai perjalanan mereka di mulai tak ada pembicaraan apapun, sunyi dan sepi.


Alvaro melirik ke Clara singkat, "Clara, gimana kabarmu sekarang? Lama gak jumpa." Alvaro membuka pembicaraan.


Clara menoleh, "Baik Al. Kalau kamu?"


Alvaro tersenyum, "Baik."


Alvaro tersenyum tipis, "Jujur aku senang banget kamu ada waktu juga Clara."


Clara hanya tersenyum simpul menganggapi ucapan Alvaro. Sepesial itu kah?


Alvaro melihat ke arah jam tangannya, "Kita makan siang dulu?"


"Boleh," jawab Clara singkat.


Alvaro mengangguk, kali ini Alvaro akan memilih tempat makanan yang dulu sering mereka kunjungi. Tempat makanan yang Clara pastinya akan suka.


Alvaro berhenti di tempat makan kaki lima dan memarkirkan mobilnya di sana.


Clara melihat ke kanan kiri, apakah benar ini tempat perhentian mereka? Yakin Alvaro memilih tempat ini?


"Kita makan di sini?" Tanya Clara.


Alvaro melihat ke arah Clara dan mengangguk, "Tentu saja. Kenapa? Kamu gak suka? Mau ganti tepat makan?" Alvaro hanya merasa bingung jika Clara tak menyukai makan di sini. Apakah Clara sudah ganti makanan favorit?


"Oh bukan, aku suka tempat ini. Maksudnya, memangnya kamu suka makan di sini?" Clara ragu.


"Tentu saja, di sini makanannya enak."


Jawaban Alvaro membuat Clara mengerjap ngerjapkan matanya. Jika mendengar berita di luar sana Alvaro itu paling benci dengan makanan tidak higenis, dan kini apa yang dia lihatnya? Alvaro mau makan di kaki lima?


Alvaro yang melihat wajah Clara yang masih syok malah terkekeh, "Really, aku menyukai makanan di sini."


Clara mengangguk, baiklah jika Alvaro tak mempermasalahkan makan di sini.


"Ya udah, kalau gitu ayo kita makan."


Ajak Alvaro. Clara pun menurut.


Alvaro pun keluar dari mobilnya dan kemudian membukakan pintu Clara dan membantu Clara keluar.


Alvaro mencari tempat duduk, setelah mendapatkan tempat duduk Alvaro menarik tangan Clara, "Kita duduk disana saja"


Clara sedikit kaget ketika Alvaro menggenggam tangannya, di saat yang bersamaan juga jantungnya berdegup kencang.


Alvaro mengarahkan mereka duduk di kursi yang di pilih Alvaro. Alvaro menarik kursi untuk Clara dan mempersilahkan Clara duduk di susul dirinya. "Kamu mau pesan apa? Biar aku pesanin."


"Aku? Aku pesan ayam bakar aja satu." Jawab Clara cepat setelah pertanyaan Alvaro.


"Minum?"


"Jus jeruk."


Alvaro mengangguk lalu mengangkat tangannya memanggil pelayan. Pelayan yang di panggil itu pun datang dan menghampiri Alvaro, "Mau pesan apa pak."


"Ayam bakar 2 jus jeruk 2." Pesan Alvaro.


Sang pelayan mencatat dan kemudian  mengangguk, "Yang lain?"


"Itu aja."


"Baik pak, pesanannya akan segera sampai." Si pelayan pun pergi meninggalkan mereka.


Alvaro mengangguk, "Iya Clara."


Clara cukup terkesima, ada juga orang kaya raya dan kuasa seperti Alvaro mau makan di tempat makan seperti ini. "Keren juga ya."


"Kenapa?"


"Iya, orang kaya makan dijalan gini keren." Ujar Clara.


Alvaro terkekeh singkat, "Ini juga karena di paksa dulu. Karena dia aku jadi makan disini, eh malah jadi keterusan makan di sini."


"Oh ya? Siapa?"


"Istriku."


Deg!


Istri? Sejak kapan Alvaro punya istri? Dan hei. Bisa bisanya dia makan dengan suami orang sekarang.


"Istri?" Ulang Clara.


"Iya, istri yang tak bisa menjadi milikku selamanya." Sambung Alvaro. Wajah Alvaro berubah menjadi sedih, membayangkan Clara yang melupakan dirinya.


Clara tertegun, apa maksudnya Alvaro di tinggal istrinya? Tapi sejak kapan?kenapa bisa istrinya pergi meninggalkan orang seperti Alvaro? Bukankah Alvaro tak seburuk itu? Apa yang terjadi?


Alvaro terkekeh singkat melihat ekspresi Clara, "Sepertinya banyak pertanyaan yang ada di kepalamu sekarang."


Clara menggaruk tengkuknya tersenyum kaku, "Ah, anu."


Alvaro menghembuskan nafasnya berat, "Tak ada yang di salahkan di sini. Semuanya memang harusnya begini, hanya butuh proses saja sampai semua berjalan sedia kala."


"Kamu balik ke istri kamu?" Tanya Clara memastikan.


Alvaro mengangguk. Anggukan kepala Alvaro membuat Clara merasa sedih, sedih baru menyadari ternyata Alvaro sudah pernah menikah dan masih memgingini istrinya kembali.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang.


"Makan Clara." Ujar Alvaro mempersilahkan Clara makan.


Clara mengangguk pelan, "Iya."


Clara mulai mengangkat sendoknya untuk menyendok nasinya. Clara kembali melihat Alvaro.


Clara menggeleng, kenapa dia harus merasa kecewa? Memangnya dia siapa coba?


Bukannya dia sendiri yang tau mau berurusan dengan Alvaro. Kenapa malah sekarang Clara jadi kecewa mendapatkan kenyataan ini?


Astaga Clara, kau sangat ambigu.


"Kamu... Sangat mencintainya ya?" Tanya Clara sembari melahap nasinya.


Alvaro mengangguk, "Sangat. Dan aku yakin dia pun sama. Namun belum menyadarinya saja."


Alvaro melihat ke arah Clara dan tersenyum miring, "Kenapa Clara? Baru ini kamu banyak bertanya banyak mengenai percintaanku."


Alvaro mendekatkan wajahnya menggoda Clara dengan menaik turunkan alisnya, "Kamu cemburu?"


Clara seketika mengalihkan pandangannya dan terkekeh. "Aku? Kenapa harus cemburu?"


Alvaro terkekeh, sepertinya Clara mulai terpancing. "Aku di sini Clara, bukan di sana. Lihatnya ke sini."


Clara kembali melihat ke arah Alvaro yang ternyata sudah tersenyum jahil padanya.


"Eh ingat ya. Kamu kan udah punya istri. Udahlah aku pulang aja."


"Eh," Alvaro menarik tangan Clara, "Aku bercanda kali. Manalah mungkin aku punya istri, becanda doang tadi. Mau lihat ekspresi kamu doang."


Clara menatap Alvaro tak percaya.


Alvaro mengambil KTPnya dari saku menunjukkan profilnya dari website resmi perusahaan dari hpnya pada Clara. "Masih jomblo." Jelas Alvaro.


Clara membacanya beberapa saat dan kemudian mengalihkan pandangannya, memang di situ tertera lelaki itu masih berstatus lajang. "Mau jomblo atau duda aku juga tak perduli. Apa urusannya denganku?"


"Tentu ada."


Clara menautkan alisnya bingung.


"Karena kamu kan bakalan jadi ibu dari anak anak aku. Haha."


Spontan membuat Clara geli campur campur, "Dih, apaan sih. Gak usah sok gombal."


Alvaro terkekeh, "Gak apa dong. Gombalnya kan cuma sama kamu doang."


Jantung Clara semakin berdebar. Aduh... Bisa bisanya dirinya baper dengan gombalan pasaran Alvaro.


Biasanya juga tak pernah seperti ini.


Alvaro mencubit singkat pipi Clara gemas, "Ya udah kita makan dulu. Biar makin bertenaga jalan jalannya nanti." Alvaro melanjutkan makan siangnya sambil tersenyum tipis.


Akhirnya suasana bisa jadi sehangat ini. Alvaro bersyukur kini dirinya sudah mulai ada kemajuan.