My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Forty One



Clara mendongak melihat Alvaro hingga mereka jadi saling pandang. Wajah Clara terlihat begitu menggoda dirinya, ntah apa yang merasuki dirinya hingga jantungnya berdegup kencang, hawa di dalam selimut semakin membuat pikiran aneh muncul di kepalanya seperti mencium bibir Clara dan... Ah tidak! Cukup!


Alvaro mengalihkan pandangannya dan membuka selimut yang menutupi mereka. "Keluar!" Usir Alvaro. Alvaro memegang pelipisnya dengan pipi yang terasa panas.


Clara terdiam dan kemudian bangkit dari posisi duduknya, "Tuan tidak jadi menghukum saya?"


Hukum? Alvaro kembali melihat Clara, kenapa dia ingin sekali menghukum Clara dengan ciuman panas?


Alvaro menggelengkan kepalanya. Ah tidak, kenapa otaknya jadi sangat aneh!


"Kalau ku suruh pergi ya pergi!"


Clara mengerutkan keningnya, aneh sekali.


Clara pun pergi dari kamar Alvaro dengan kebingungan. Sedangkan Alvaro mengibas-ngibaskan bajunya kepanasan.


"Apa AC ini rusak? Kenapa terasa panas?"


Pikiran sialan itu yang membuat keadaan makin tidak waras. Oh astaga Alvaro, apa yang terjadi padamu?


***


Alvaro berdiri di depan kaca yang mencerminkan dirinya menggunakan baju kemeja putih rapi di tutupi oleh jas berwarna krim yang senada dengan celananya. Setangkai bunga berwarna merah di sematkan di depan jasnya itu.


Sudah berapa kali dia katakan, sebenarnya dia malas sekali mengikuti pesta pernikahan seperti ini, dia tidak suka keramaian dan di tambah lagi mendengar banyak omongan orang yang selalu mengatakan kapan menikah. Ck, dia sungguh terganggu dengan itu semua.


Kalau tidak karena Fransisco yang memaksa dirinya dia takkan mau datang hari ini, apa lagi berjumpa dengan wanita sialan itu.


Alvaro keluar kamarnya dan siap untuk pergi dari tempat ini.


Buk


Dada bidang lelaki itu di tabrak oleh seseorang yang membuat wanita itu berjalan di hadapannya itu mundur ke belakang sambil memegang jidadnya yang sakit, "Aduh.." adu wanita itu.


Alvaro menatap datar Clara, suatu pikiran terbesit dalam benaknya. Bagaimana kalau dia membawa Clara ke acara pernikahan itu, hitung hitung untuk memanas manasin Gladis. "Ikut aku," tangan Clara di tarik oleh Alvaro namun di tahan Clara.


"Ini mau ke mana?" Tanya Clara.


"Ke acara pernikahan Fransisco," jelas Alvaro.


Clara menggeleng, "Tidak. Saya tidak mau Tuan, banyak pekerja yang-"


Alvaro menarik tangan Clara tanpa memperdulikan apapun alasan Clara, "Ikuti saja."


Clara menahan tangannya namun tangan Alvaro yang besar dan kekuatan lelaki itu yang lebih besar membuat mau tidak mau dia harus mengalah.


Alvaro menarik Clara sampai halaman depan rumah, "Eh, tunggu. Pakaian ku bagaimana?"


Alvaro melirik sekilas Clara kemudian melepaskan tangan Clara, "Tak perlu kuatir. Kita beli sekarang juga."


"Heh? Apa?"


Alvaro kembali menarik tangan Clara dan memasukkannya ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya. Alvaro pun masuk ke dalam mobil dan mengendarainya ke suatu tempat.


Setelah di rasa sampai  di tempat yang di tuju Alvaro menghentikan mobilnya tepat didepan tempat itu, "Keluar," perintah Alvaro. Clara menghembuskan nafasnya dan kemudian keluar.


Alvaro memarkirkan mobilnya dan kemudian menjumpai Clara. Menarik tangan Clara masuk ke dalam bangunan itu.


"Berikan baju terbaik kalian," kata Alvaro pada pelayan di sana. Clara pun segera di arahkan oleh para pelayan untuk memilih baju dan menyocokkannya.


Alvaro duduk di kursi tunggu sambil membaca surat kabar.


Setelah beberapa menit berlalu Clara pun selesai dan menemui Alvaro.


"Yang seperti ini Tuan?" Tanya Clara.


Dress tanpa lengan yang menampakkan bahu dan leher putih Clara itu terlihat sangat menggoda, di tambah lagi dengan bagian punggung Clara yang ter-ekspose seketika membuat tubuhnya panas dingin. Sial, apa yang terjadi padanya?


Clara melangkahkan kakinya mendekati Alvaro dan menatap Alvaro dengan serius. "Bagus atau tidak Tuan? Apakah aku harus-"


"Itu saja. Kita ambil itu."


Alvaro mengalihkan pandangannya sebelum pikiran aneh kembali terbesit di otaknya. Alvaro segera membayar gaun itu dan Clara pun mengikuti Alvaro segera karena Alvaro bilang langsung di pakai saja gaunnya.


Alvaro pun membawa Clara ke salon untuk merias Clara agar terlihat lebih cantik. Dan ya, Clara memang terlihat lebih cantik.


Clara kembali menjumpai Alvaro yang melihatnya dari kejauhan tadi. "Tuan saya sudah selesai."


Alvaro mengangguk, "Kalau begitu kita langsung saja berangkat."


Alvaro berjalan terlebih dahulu dengan Clara yang mengikutinya dari belakang.


***


Alvaro menggandeng Clara dan kemudian berbisik di telinga Clara, "Jangan panggil aku Tuan disini. Panggil aku Alvaro."


Clara mengangguk dan kembali berbisik di telinga Alvaro membuat lelaki itu seketika merona, "Baik Alvaro."


Alvaro mengalihkan wajahnya, kenapa dia malah mendekatkan wajahnya juga?! Dasar menyebalkan!


Clara menghadap ke depan dan melihat sekitarnya. Semua orang terlihat begitu spesial, pakaian yang indah dan juga begitu ekslusif sangat menyilaukan mata Clara.


Clara mengeratkan pelukannya pada lengan lelaki yang kini menjadi pasangannya itu, dia sedikit deg-degan.


Alvaro tersenyum tipis ringkas melihat Clara yang memeluknya seperti ini, "Kenapa?"


"Al, ini terlalu ramai. Dan saya merasa rendah di sini," kata Clara dengan suara berbisik.


Alvaro memutar bola matanya malas, "Ini hanya pesta biasa. Jadi biasakan dirimu."


Clara memayunkan bibirnya, dia seharusnya tau walaupun dia curhat dengan Alvaro Alvaro pasti takkan membelanya.


Alvaro melanjutkan langkahnya di ikuti Clara di sebelahnya. Mereka menjadi pusat perhatian terutama karena terlihat begitu menawan, Clara yang tampak sangat cantik dengan gaunnya dan wajahnya yang manis di tambah dengan wajah tampak Alvaro yang mampu menyihir pandangan setiap wanita padanya.


Alvaro menjumpai para pendamping pengantin pria lainnya yang menggunakan pakaian yang sama dengannya yang tak lain adalah rekan bisnis Alvaro juga.


"Hai Al, tumben mau ikut beginian."


Sapa salah satu dari mereka.


Alvaro memutar bola matanya malas, "Terpaksa karena Fransisco yang memaksa."


Mereka mengangguk paham.


Kemudian mereka beralih melihat Clara, wanita yang mendampingi Alvaro ini terlihat cantik dan mempesona.


"Dan anda?" Lelaki itu menggantung kalimatnya untuk di jawab Clara.


"Pasangan ku." Sambung Alvaro cepat.


Clara mengangguk dan tersenyum tipis, "Salam kenal." Mereka pun menjabat tangan Clara sambil memandangi wajah cantik wanita ini.


Ntah kenapa Alvaro tak menyukai pemandangan ini dan segera melepaskan jabat tangan mereka, "Nanti saja perkenalannya. Acara sudah mau mulai."


Raut wajah mereka sedikit kecewa, kenapa proses perkenalan itu malah di putuskan secara sepihak dengan Alvaro. Sungguh di sayangkan. Tapi mereka tak dapat berbicara karena Alvaro yang berkuasa di sini bukan? Jadi semua harus tetap tunduk padanya.


Alvaro melihat ke arah Clara, "Carilah bangkumu."


Clara mengangguk paham, "Baiklah Al."