
Clara menghembuskan nafas berat. Tubuhnya lemas saat sudah ada di tempat tidur yang baru kemarin dia tinggal.
Baru saja dia senang beberapa detik, kini dia malah merenung meratapi kehidupannya lagi. Mengsedih.
Clara melihat ke arah jam. Sudah pukul sebelas malam tapi dia masih tak bisa tertidur, kepalanya di penuhi semua tanda tanya dan kebingungan. Kenapa Alvaro begitu labil? Dongkol sekali rasanya saat kau sudah mengatur rencana yang sangat baik malah di hancurkan lagi. Ck.
Ini tentu sangat super duper membuat gedeg!
Clara membantingkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang dengan tangan yang terbuka lebar, "Gini amat hidupku." Keluh Clara.
Clara kembali membayangkan sesuatu, Alvaro dan Viandro.
"Apa mereka tidak bisa harmonis hm? Perasaan mereka terus saja bersaing. Kenapa gak coba kerja sama aja, kan mereka kembar, kenapa kerjaannya selalu berantem aja sih? Dasar aneh."
"Padahal nih ya, kalau di lihat lihat wajahnya sangat sama persis. Kalau saja Alvaro lebih sering senyum mungkin wajahnya akan sama dengan Viandro, kalau Viandro mukanya selalu kusam pasti mirip Alvaro. Ya kan?"
"Di tambah lagi, pasti karena kembar mereka punya ikatan buang sangat kuat, tak mungkin mereka punya niat jahat terhadap kembarannya bukan, kan mereka sebatin. Gak mungkin lah bertengkar hebat."
Bruk!
Pintu kamar Clara terbuka membuat Clara spontan bangkit duduk terkejut.
Alvaro dengan wajah merah padam menghampiri Clara, kupingnya sangat panas saat di sama samakan dengan Viandro. Sebatin katanya? Jika sebatin Viandro tak mungkin membunuhnya dulu! Dasar idiot!
"Kau tak tau apapun tentang saingan Clara, tak ada yang namanya keluarga di sana! Hukum yang berlaku adalah siapa yang hebat dia yang bertahan, yang lainnya di musnahkan." Tekan Alvaro membuat Clara mengedip ngedipkan matanya kaget.
"M-mm. Baiklah."
Alvaro kembali menegakkan badannya dan pergi dari ruangan, namun kakinya terhenti sejenak, "Jangan bahas Viandro. Sedetik pun jangan samakan aku dengan dia!"
Clara segera mengangguk, "B-baik Tuan."
Alvaro pergi meninggalkan Clara, lelaki itu galak sekali. Pikir Clara.
But wait, dia tau lagi apa yang di pikirkan Clara? Wah... Sungguh gila.
"AKU TIDAK GILA!" jerit Alvaro ntah dari mana.
Weh, dia bisa baca kata hati lagi. Kenapa ini jadi menyeramkan. Clara mengusap usap bahunya, tidak tidak Clara, jangan pikir yang aneh aneh. Mendingan dirimu tidur saja, sudah malam juga.
Clara menutup pintu dan kali ini dia mengunci pintu itu.
Clara segera masuk ke dalam selimut dan menutupi dirinya seutuhnya, malam ini jadi serasa horor jadinya.
***
Pagi hari Clara melakukan tugasnya seperti biasa, menyediakan pakaian Alvaro dan juga sarapan lelaki itu.
Dan lihatlah, Clara sudah mulai lincah dalam menyiapkan makanan western food dan makanan apa yang cocok untuk sarapan. Karena Alvaro biasanya tak suka makanan yang terlalu berat untuk sarapan, Clara menyiapkan pie apel dan juga teh untuk sarapan lelaki itu. Semoga saja dia suka.
Alvaro turun tangga dan melihat ke arah meja makan kemudian ke arah Clara, tumben dia menggunakan otaknya kalau buat makanan.
Alvaro tak banyak bicara dan segera saja memakan sarapannya itu. Dia menghabiskan satu potongan pie itu dan meminum tehnya.
Hari ini cukup berjalan baik, semoga saja tak ada lagi gangguan lagi.
Clara tersenyum melihat makanannya di makan habis oleh Alvaro, tak sia sia dia belajar masak dari video masak masak.
"Masalah uang yang pernah aku berikan itu untukmu saja, tak perlu di kembalikan. Paham?" Jelas Alvaro.
Clara mengangguk, "Baik Tuan, terimakasih."
Alvaro menunjuk tasnya dengan dagu, "Bawakan tasku, aku harus segera berangkat."
Alvaro bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Clara, Clara membawa tas itu dengan hati hati siapa tau ada barang berharga di sana.
Lelaki itu menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju kantornya.
***
Alvaro mulai berkutat dengan pekerjaannya. Dia mengerjakan dengan fokus dan penuh konsentrasi, tak ada kendala sampai saat ini, Alvaro dapat merasa lega sekarang.
Lama dia melakukan pekerjaannya terdengar suara pintu terketuk membuat lelaki itu menghentikan pekerjaannya, "Siapa?"
"Orang terganteng di dunia," sahut orang tersebut dengan nada ngeyel.
Alvaro langsung dapat mengenali siapa orang aneh itu, Fransisco.
Teman SMA Alvaro yang kerjaannya membolos tapi punya otak yang sangat encer. Lelaki itu punya sifat yang baik dan sangat rendah hati namun sedikit bobrok. Karena sifatnya yang tak neko neko makanya Alvaro menjadikan Fransisco salah satu temannya sekaligus partner kerjanya.
"Masuk."
Fransisco pun masuk, "Ada Mastin."
Alvaro menyerngitkan dahinya, "Huh?"
Frans menaikkan bola matanya malas, Alvaro masih saja seperti dulu, humornya sangat terbatas, "Kabar gembira loh maksudnya, kaya iklan mastin."
Alvaro hanya mengedikkan bahunya acuh, dia tak perduli apakah lelaki itu punya berita bahagia atau tidak. Selama tidak ada hubungannya dengan dirinya dia takkan pernah perduli.
"Dih, malah gitu reaksinya. Kepo dong.." Frans malah maksa untuk di kepoin.
Alvaro merapikan berbagai berkas yang ada di mejanya untuk di letakkan dalam lemari yang ada di belakangnya, "Aku tak perduli."
"Oh gitu, jadi kau tak perduli jika temanmu ini akan menikah hm?"
Kata Fransisco membuat Alvaro sedikit tergelitik, temannya sudah mau nikah saja, dia yakin jika ini di ketahui oleh ayahnya dan kakeknya Alvaro pasti langsung di kebut mereka untuk menikah juga.
"Lah, malah ketawa."
Alvaro sedikit menoleh ke belakang singkat, "Ya terserah lah. Diri diri aku juga."
Frans menghembuskan nafasnya, temannya selalu saja membuat dirinya merasa terus di cuekin. Dia paham sekali kalau Alvaro memang tak pernah perduli dengan apa pun kecuali bisnisnya, "Ini aku mau ngasih undangan aku, datang nanti ke pesta pernikahanku. Wajib datang! Kau nanti yang menemani ku, kau jadi teman pengantin prianya. Awas saja kalau tak datang, aku akan menarikmu dari tempat mu berada." Ancam Frans dengan satu tarikan nafas seperti rapper.
Alvaro mendengus, "Kau selalu saja menyulitkanku."
Fransisco menunjuk dirinya, "Aku, menyulitkanmu? Mana pernah." Kesal lelaki itu.
Alvaro kembali ke mejanya, "Tentu saja kau menyulitkanku. Kau tau, aku jadi semakin susah karena mu. Pekerjaanku banyak."
"Gak mau tau. Ini cuma satu hari! Jangan mengada ada!"
Alvaro sebenarnya memang tak terlalu sibuk, tapi dia malas sekali ke pesta pernikahan orang, seakan-akan itu sebuah sindiran jika dia datang ke sana.
Tapi dia pun tau Fransisco ini adalah orang yang sangat nekad, dia bisa saja menarik Alvaro dari tempat kerjanya nanti, itu akan menjadi lebih memalukan dan malah jadi gosip hot karena ketahuan banyak orang dia adalah bujangga yang lama menikah dan selalu di deluanin temannya sendiri.
"Iya. Puas kan? Pergi sana!" Usir Alvaro.
Fransisco tersenyum, "Nah, gitu dong." Lelaki itu menepuk nepuk undangannya yang ada di meja Alvaro, "Datang ya, calon aku cantik. Pasti kau sangat iri."
"Terserah,"
Fransisco pun pergi meninggalkan Alvaro.
Alvaro melihat undangan itu dan matanya si kejutkan dengan satu nama.
"Gladis?"