
"Hai Al," sapa Clara yang berada di hadapan Alvaro.
Clara berputar memamerkan dress putih selutut dengan lengan transparan yang dia kenakan, "Seseorang memberikannya padaku karena menyelamatkan anak anjingnya yang hampir tenggelam."
Alvaro terpesona melihat Clara dengan gaun simpelnya itu. "Kenapa dia sangat baik padamu? Cuma karena menyelamatkan anjingnya?" Tanya Alvaro.
Clara mengangguk, "Iya, tadi aku di ajak ibu itu jalan-jalan setelah menyelamatkan anjingnya, kami malah sampai ke pasar oleh-oleh dan jadi di beliin dress deh sama ibu itu."
"Kau yang minta?"
Clara menggeleng, "Tidak. Ibu itu yang membelinya. Padahal aku udah nolak tapi malah di paksa ambil."
Alvaro melihat Clara dari atas sampai bawah, "Aku bisa membelikan yang lebih mahal dari itu."
Clara spontan tersenyum dan terkekeh singkat, "Tentu saja, Tuan kan banyak uang. Tapi tak perlu sampai membelikanku baju Tuan, melihat Tuan senyum saja sudah membuatku senang."
Blush
Pipi Alvaro memanas. Alvaro mengalihkan pandangannya dan menetralkan ekspresinya, "Sudah beberapa banyak lelaki kau goda dengan kalimatmu ini?" Kata Alvaro dengan malas.
Clara menekuk wajahnya, "Goda? Saya tak menggoda Tuan kok. Itu memang benar."
Alvaro melihat Clara dengan ekspresi datar, "Sudahlah, lupakan saja. Nanti malam kita akan makan di luar. Persiapkan dirimu."
"Apa kita akan menginap?" Tanya Clara sedikit kuatir.
Alvaro mengangguk, "Besok kita pulang pagi tapi. Jam 7 harus sudah sampai rumah, banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan."
Clara kembali berfikir, bukankah penginapan ini hanya memiliki satu kamar, terus dia tidur di mana?
Ah, iya. Dia berarti tidur di sofa lah ya kan? Ya sudah tak masalah. Pikir Clara.
"Tidak ada yang akan tidur di sofa. Kita tidur di ranjang yang sama."
Deg!
Pikiran Clara kembali traveling, bagaimana jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan? Bagaimana pun Alvaro adalah seorang laki-laki bukan?
"Apa ini kali pertamamu tidur bersamaku? Apa aku pernah melakukan hal aneh padamu?" Sindir Alvaro.
Benar juga, Clara pernah sempat tidur dengan Alvaro. Dan ya, tak pernah terjadi apapun padanya. Tapi tetap saja batin Clara menolak.
Alvaro menggelengkan kepalanya malas, "Tapi terserahmu juga. Kalau mau tidur di sofa juga tak masalah. Itu hak mu."
Alvaro pergi meninggalkan Clara dan kembali ke tempat tidurnya.
Clara mengembuskan napas lega, ternyata Alvaro pengertian dan tak mempermasalahkan mengenai tempat tidur.
Clara pun hendak kembali ke luar penginapan. Dia ingin sekedar duduk di halaman depan untuk melihat pemandangan indah pantai di sore hari menjelang malam.
"Hei!" Panggil Alvaro membuat Clara menghentikan langkahnya yang sudah di depan pintu keluar.
Clara menghembuskan nafasnya. Pasti Alvaro akan melarangnya keluar. Clara berbalik badan dan melihat Alvaro. "Iya Al"
"Jangan pergi jauh-jauh, nanti kalau kau hilang aku juga yang susah. Paham?" Jelas Alvaro yang segera di angguki Clara.
Seutas senyuman pun terlukis di bibir ranum wanita itu.
Alvaro masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Lelaki itu mengembuskan napas berat, "Selagi masih ada waktu untuk beristirahat lebih baik ku pergunakan sebaik baiknya."
Mengingat Alvaro yang jarang tidur karena pekerjaan Alvaro pun memanfaatkan waktu ini untuk memulihkan dirinya dengan beristirahat.
***
Clara memandangi sunset yang begitu indah di depan matanya dengan haru. Pertama kalinya dia melihat sunset yang asli. Clara menghembuskan nafas dan tersenyum lebar.
Clara meminum teh hangat yang di buatnya tadi dan menggoyang goyangkan kakinya dengan rileks.
Ibu paruh baya yang di tolongnya itu berlari ke arahnya dengan ketakutan membuat Clara spontan bangkit berdiri dan mengejar wanita itu. "Dik Tolong Anjing Saya! Dia tenggelam lagi!" Kata wanita itu meminta tolong.
"Anjing ibu tenggelam lagi?!"
Clara segera menarik tangan ibu itu, "Dimana Bu? Cepat tunjukkan!"
Sang ibu pun beralih menjadi menarik tangan Clara memberikan arahan kemana tempat yang di maksud.
Lama berjalan tempat ini bukanlah mengarah ke pantai malahan ke tempat lain, "Bu ini mau kemana?"
Sang ibu menoleh singkat, "Anjing saja tercebur di sumur nak. Dia tenggelam di sana."
Clara mengangguk. "Baiklah."
Lama berlarian malahan semakin mengarah ke tempat sepi, dia tak tau kenapa bisa jadi sesepi ini. Clara menghentikan kakinya, "Kenapa ini semakin ke tempat sepi ya Bu?"
Sang ibu menunduk, "Rumah saya memang polos nak."
Clara melihat cara pandang Ibu itu terlihat seperti menghilangkan kontak mata dengannya. Sepertinya ini mencurigakan.
Clara berpikir, ada yang tak beres. Clara mundur perlahan hingga punggungnya tertabrak oleh sesuatu di belakangnya.
Clara membalikkan badannya dan melihat dua orang bertubuh tegap tengah berdiri.
Mereka segera menahan tangan Clara, "Kalian siapa?!! TOLONG!!!!
"Tidak bisa nyonya, anda sudah jadi milik kami," salah satu dari mereka mengatakan hal ini sambil tersenyum miring.
"Jangan main main denganku!" Jerit Clara. Clara kembali menghadap ke arah ibu itu, "Bu tolong saya!"
Sang ibu yang tadinya sangat panik kini malah tersenyum kemenangan, "Tak ada yang akan menolongmu"
Damn!
Clara menggeleng, dia harus melepaskan diri. Clara meronta-ronta dan kemudian memukul dengan kakinya.
"Kau tidak bisa ke mana mana gadis kecil." Ejek lelaki bertubuh hitam padanya.
"Hahahaha, dasar bodoh!"
Clara berusaha keras tapi tetap saja tenaganya samasekali tak dapat menandingi kedua lelaki itu.
"Tolong!!" Clara terus menjerit minta tolong dan kemudian menangis, dia sungguh lemah tanpa dapat berbuat apa apa.
Mereka menarik Clara masuk ke dalam mobilnya,
Buk!
Lelaki bertubuh putih lainnya seketika tersungkur dengan wajahnya yang mencium tanah.
Buk!
Lagi. Pukulan itu dapat merobohkan kedua pria itu dalam sekali tendangan.
Clara melihat siapa yang menolongnya itu. Wanita itu menangis ketika mengetahui siapa yang menolongnya itu, "Alvaro..."
Alvaro mengangguk dan menarik Clara ke belakangnya, "Sudah saya duga anda adalah orang jahat." Kata Alvaro pada wanita yang beracting kehilangan anjingnya itu.
Alvaro dan Clara segera meninggalkan tempat yang ini. Alvaro segera menelpon polisi dan segera datang menjumpai Clara dan Alvaro.
"Sudah ku bilang, jangan mudah menyapajar orang. Lihatlah, apa yang kau perbuat itu sangat bodoh."
Alvaro mengusap wajahnya, "Sudahlah. Kita lebih baik pulang-"
Dreb
Clara segera memeluk Alvaro. "Terimakasih Al. Kalau tidak ada kamu aku gak tau akan jadi apa."
Tangis wanita ini pecah juga, dia sangat gemetar dan takut. Hampir saja dia di curi membuat hatinya bergemuruh dan pikirannya sangat kacau.
Tapi Alvaro, dia sungguh menyelamatkan nyawa Clara.
Alvaro melihat Clara. Tangan Alvaro hendak sekali menyentuh rambut wanita kesayangannya ini. Tapi dia tak bisa, dia tak mau melakukan hal bodoh. Tidak. Berhentilah Al!