
Clara masih tak dapat tertidur, dia takut campur bingung juga campur rasa was-was. Sangat campur aduk.
Sret
Clara segera menoleh ke sebelahnya, Alvaro mulai naik ke atas ranjang. "Kenapa belum tidur hm?" Tanya Alvaro.
Clara tak menjawab apapun. Alvaro tersenyum tipis dan menarik Clara dalam pelukannya, mencium kening Clara dan mengelus rambut Clara lembut, "Tidur sayang."
Jantung Clara berdegup kencang sedangkan perasaannya semakin tak karuan. Clara segera mendorong Alvaro tapi di tahan oleh lelaki itu, "Jangan membantahku sayang. Aku membencinya." Sorot Alvaro tajam dan kembali memeluk Clara.
"Kamu akan terbiasa untuk memelukku mulai hari ini, karena besok kita bukan lagi sepasang kekasih tapi sudah suami istri."
Clara terbelalak, "Kekasih?! Kita bahkan tak pernah berpacaran!" Tekan Clara masih tak terima.
Alvaro menghembuskan nafasnya, "Kenapa kata katamu sangat menyakitkan telingaku huh?
Clara hendak kembali membalas Alvaro tapi Alvaro menutup mulut Clara dengan telunjuknya, "Sekali lagi kamu bicara lagi, aku akan menciummu."
Clara langsung kicep.
Alvaro tersenyum puas dan kemudian memeluk wanita kesayangannya ini dengan erat dan menenggelamkan wajahnya dalam ceruk leher Clara. Lama sekali dia menginginkan memeluk mesra Clara, dan akhirnya tersampaikan.
"Good night by," Alvaro menutup matanya dan mulai tertidur. Nafasnya mulai teratur dan dia pun memasuki alam mimpinya.
Clara terdiam. Lelaki ini suka sekali mengancamnya hingga dia tak dapat bicara banyak.
Alvaro mendusel pada Clara dan menghirup tubuh Clara yang selalu membuatnya candu. Dia menyukainya.
Clara yang niatnya tak mau tidur sama sekali malah tertidur, pelukan ini membuat dia jadi mengantuk entah bagaimana caranya.
***
Clara terbangun dari tidurnya. Wanita itu merenggangkan kedua tangannya dan melihat sekeliling, matanya menangkap sosok Alvaro yang menggunakan pakaian setelan jas rapi berwana silver dan kemeja putih dengan bunga mawar putih pada saku jasnya.
Lelaki itu benar sangat tampan hingga membuat Clara terhipnotis oleh-nya. Clara menggeleng, apa apaan dia. Ck, bisa bisanya.
Alvaro tersenyum dan berjalan ke arah Clara. Lelaki itu duduk di sebelah Clara merapatkan dirinya pada Clara.
Cup
Mata Clara terbelalak saat Alvaro mencium pipinya singkat, "Good morning babe."
Clara masih tak bergeming melihat ke arah Alvaro, sedangkan Alvaro semakin gemas di buatnya, "Jangan pasang wajah seperti itu jika tidak aku akan menerkammu."
"A-al! Apa yang kau lakukan?!"
Alvaro terkekeh dan memeluk Clara, "Ini pernikahan kita, dan kamu terlambat bangun?"
Cup
Alvaro kembali mencium pipi Clara dan bangkit dari tempat tidur. Lelaki itu menyuruh para pelayan untuk membereskan Clara dengan menepuk tangannya sebagai kode.
Seketika segerombolan pelayan yang sudah datang menghampiri Clara dan kemudian menggotong Clara, "Hei! Kalian mau ngapain?!"
Jeritan Clara tak di gubris oleh mereka, mereka tetap menjalankan tugasnya.
Alvaro hanya tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Clara yang di bopong oleh Pelayannya.
Para pelayan pun melakukan tugasnya.
***
Ting!
Clara di hadapkan di depan kaca. Gaun yang begitu indah dengan berbagai mutiara pada bagian dada sampai pinggang, begitu pula berlian yang menghiasi beberapa detail pada bagian dada dan bagian bawah gaun. Membuat Clara bahkan tak percaya melihat kecantikannya menggunakan gaun ini.
Tata rias rambut dan wajahnya sangat cantik di tambah mahkota kecil pada kepalanya bersama dengan balutan kain tipis yang menutupi bagian kepala ala pengantin.
Tanpa sadar Clara tersenyum. Namun kemudian senyum itu sirna. Dia tak seharusnya tak bisa tersenyum bahagia sekarang, masa depannya sudah tak ada lagi, jadi untuk apa dia harus tersenyum?
Clara kembali menunduk sedih. Namun sebuah tangan mengangkat wajahnya dan tersenyum, "Cantik sekali sayang." Ucap lelaki itu.
Alvaro menggandeng tangan Clara dan melihatnya serius, "Sayang. Ini harus berjalan dengan baik. Tidak ada yang bisa menghancurkannya. Dan kamu tetaplah berlaku baik maka aku takkan menyiksamu. Paham?"
Clara melihat Alvaro dengan sangat sedih, Alvaro jadi semakin tak tega. Lelaki ini memeluk Clara, "Percayalah aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Aku takkan menyakitimu sayang, aku hanya ingin kamu mengerti hanya akulah yang kamu butuhkan. Tidak ada yang lain."
Alvaro mencium pipi Clara, "Percayalah padaku."
"Ayo," Alvaro menuntun Clara keluar ruangan.
***
Semua acara pernikahan telah selesai, semuanya berjalan lancar dan tak ada hal yang buruk terjadi, bahkan Clara pun hanya diam saja.
Clara jujur tak tau harus berbuat apa. Pikirannya terlalu kacau untuk berfikir dan dia memilih untuk diam seribu bahasa.
Bahkan yang membersihkan dirinya saja para pelayan Alvaro, itu inisiatif Alvaro karena melihat Clara yang terus merenung dengan wajah sedihnya.
Mereka sekarang duduk di atas ranjang sama sama menggunakan pyama tidur. Alvaro melihat ke arah Clara, wanita itu tak kunjung membuka suaranya.
'Apakah aku salah mengambil keputusan lagi?' batin Alvaro. Alvaro segera mengalihkan pikirannya, 'Tidak, ini sudah cara yang tepat.' timpalnya lagi.
Alvaro mendekatkan dirinya pada Clara, "Clara, aku takkan melakukan apapun terhadapmu jika kamu tak mau."
Alvaro mengusap rambut Clara dan kemudian merebahkan tubuhnya untuk tidur. "Aku deluan," Alvaro menutup matanya. Dia pikir Clara pun membutuhkan waktu untuk beradaptasi bukan?
Clara melihat ke arah Alvaro, lelaki itu sama sekali tak melakukan apapun padanya. Dia menempati janjinya.
Apakah kalau Clara berbuat baik Alvaro akan selamanya berlaku baik padanya? Clara menggeleng, Clara yakin ini hanya tipu muslihat yang Alvaro lakukan untuk mendapatkan satu hal keuntungan darinya. Tapi apa? Dia bahkan tak mempunyai apa apa?
Alvaro yang baru saja tertidur masuk ke dalam alam mimpi. Alvaro bermimpi kejadian dimana Clara meninggalkannya untuk selama lamanya. Alvaro mengerutkan keningnya, dia sangat sedih, dadanya serasa sangat sesak.
"Clara... Clara... Jangan tinggalkan aku. Ku mohon..." Rintih Alvaro.
Clara mengerutkan keningnya, ada apa dengan Alvaro?
"Jangan tinggalkan aku lagi ku mohon. Clara.. bawa aku bersamamu saja.." tangis Alvaro.
Hembusan nafas Alvaro memburu, sangat ketakutan dan gemetar. Clara jadi risau tapi tak mengatakan apapun.
Alvaro kembali menangis dan terlihat begitu ketakutan, Clara jadi tak tega sendiri, "Al, Al.." Clara membangunkan Alvaro.
"CLARA!" jerit Alvaro sambil membuka matanya.
Alvaro melihat ke arah Clara dengan perasaan lega, segera dia memeluk Clara, "Clara jangan tinggalkan aku. Ku mohon..." Alvaro memeluk Clara dan akhirnya kembali tertidur.
"Al apa yang kam-" Terdengar suara rintihan tangis Alvaro membuat wanita itu menghentikan kalimatnya.
Alvaro mengeratkan pelukannya dan mulai tertidur nyenyak lagi, "Jangan tinggalkan aku lagi," gumam lelaki itu pelan.
Clara tak bergeming, dia masih mencerna kalimat Alvaro.
Alvaro, seorang Alvaro yang kuasa kenapa harus takut di tinggalkan seorang wanita biasa sepertinya?