
Sesampainya di rumah Clara menghidangkan makanan ke hadapan Alvaro. Kali ini dia memasak Kare kambing yang sangat menggugah selera. Rasa rempahnya yang begitu kental dengan paduan rasa pedas yang terasa mengigit di lidah membuat siapa saja akan lupa untuk berhenti melahapnya.
Clara membuat Alvaro jatuh cinta pada masakan seperti ini. Alvaro melihat ke arah Clara yang juga makan di hadapannya dengan senyuman. Sekali lagi Clara merebut hatinya.
Sedangkan di sisi lain Clara tampak sangat menikmati makanan berlemak ini dengan syahdu. Dia bahkan tak menyangka makanan buatannya ini ternyata sangat enak tanpa sadar ini adalah suapan terakhirnya.
"Enak banget." Kata Clara dengan hati yang bahagia.
Clara melihat ke arah Alvaro dan segera Alvaro mengalihkan pandangannya, "Tuan sudah selesai?"
Tanya Clara.
Alvaro mengangguk dan memberikan piringnya pada Clara. Clara mengambil piring Alvaro dan segera mencucinya bersamaan dengan piringnya.
Clara berjalan ke arah Alvaro dan berhenti tepat di sebelahnya, "Mari Tuan biar saya antar sampai depan pintu."
Alvaro menaikkan salah satu alisnya, "Sampai depan pintu?"
Clara mengangguk.
"Sampai depan kantorku. Enak aja," sambung lelaki itu tak terima.
"Lah?"
"Lah loh lah loh," Kata Alvaro sambil bangkit berdiri. "Cepat."
Clara mengangguk pasrah, "Baiklah Tuan."
Mereka pun pergi bersama ke kantor Alvaro dan Clara menjalankan tugasnya mengantarkan Alvaro ke depan pintu kantor.
Clara tersenyum dan hendak memberikan semangat pada Bosnya itu, "Semoga hari Tuan-"
Alvaro langsung masuk ke dalam kantor dan menutup pintu sebelum Clara melanjutkan kalimatnya.
"Jadi malapetaka," sambung Clara dan kemudian menaikkan salah satu sudut bibirnya sambil monyong meledek Alvaro di dalam sana.
Clara menghentakkan kakinya kesal dan kemudian pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Clara memulai bisnis jualan kue onlinenya di rumah dan mulai melakukan transaksi lain sebagainya.
Lumayan lelah juga hari ini dan tepat jam 8 malam Clara menyelesaikan tugasnya lalu membereskan dapur karena dia tau Alvaro akan pulang sebentar lagi.
Clara membereskan segalanya dan tersenyum tipis saat semuanya telah selesai.
"Akhirnya."
Clara merenggangkan badannya dan beranjak ke kamarnya untuk mandi dan bersiap kalau kalau Alvaro akan menyuruhnya melakukan tugas baru lagi nanti. Clara pun merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang nyaman dengan hati yang sangat senang.
Tak merasa takut lagi tidur di kamarnya. Jika mengingat kata kata Alvaro yang menakutinya tentang ruangan kamar yang horor Clara jadi terbesit sesuatu. Itu pasti hanya akal bulus Alvaro untuk membuat dia semakin tertekan dan ketakutan bukan? Tidak. Clara takkan takut lagi.
Lama kelamaan Clara jadi pemberani tau.
Clara pun mulai menutup matanya dan tertidur.
Tok tok tok
Clara membuka matanya mendengar suara ketukan itu, "Apakah Alvaro sudah pulang?"
Clara bangkit dari tidurnya dan beranjak keluar kamar. Dan ya dia mendapati Alvaro yang baru pulang kerja, "Buatin aku makan malam."
Tuh kan langsung nyuruh, sudah Clara duga.
"Iya Tuan."
Clara berjalan ke arah dapur. Memanaskan makanan yang sempat dia masak tadi dan kemudian menghidangkannya di atas meja makan sambil menunggu Alvaro yang masih mandi.
Alvaro keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan dan segera duduk di sana. Alvaro melihat makan malam yang di sediakan oleh Clara. Ikan nila sambal dengan tumis genjer.
"Kenapa Tuan. Itu genjer, enak loh."
Alvaro kembali melihat ke arah makanan yang tersedia itu. "Bentuknya aneh."
Clara melihat ke arah piring Alvaro juga, "Memang gitu bentuknya Tuan. Tadi saya juga makam sayur itu kok."
Alvaro kembali melihat Clara, tak ada yang mencurigakan dari ekspresi wajah Clara dan juga dalam pikiran Clara tak ada yang buruk.
Alvaro pun memakan makan malam itu. Biasanya Alvaro tak mau langsung percaya dengan siapapun, tapi khusus untuk Clara sepertinya dia mulai untuk bisa mempercayai orang lain selain dirinya sendiri.
Hm. Rasanya enak. Teksturnya memang unik tapi perpaduan bumbu dan juga ikan yang di sambal itu terasa nikmat.
Tanpa sadar Alvaro tersenyum dan kembali menyulangkan sesuap nasi lagi ke dalam mulutnya.
Clara merasa senang melihat Alvaro yang menikmati makanan yang dia masak. Apa lagi melihat wajah Alvaro yang biasanya sangat ketat kini terasa begitu hangat.
Alvaro tersadar. Kenapa dia malah tersenyum? Alvaro kembali memasang wajah datar dan mendapatkan Clara yang terus menatapnya dengan senyuman.
"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Alvaro melihat ekspresi Clara yang berubah seperti itu.
"Tuan ganteng," Ungkap Clara dengan polosnya.
Eh.
Clara terkejut sendiri dengan pernyataannya barusan. Astaga, mulutnya kenapa ngomong asal cetus. Astaga Astaga!!
Alvaro tak menjawab dan melanjutkan makannya. Bukan karena dia memang Clara memanglah bodoh, tapi karena jantungnya kini ingin meloncat dari tempatnya. Kalimat pujian Clara mampu membuat dia jadi tak karuan sungguh. Rasanya ada getaran ingin sekali menarik wanita dan mencium bibir nakal wanita itu yang memujinya tadi, tapi dia tahan kegilaan itu demi menjaga harga dirinya sendiri.
Alvaro segera menyelesaikan makannya dengan cepat dan meminum air putih dalam sekali teguk. Lelaki itu bangkit berdiri dan meninggalkan Clara seorang diri.
Clara menutup wajahnya, "Rasanya memang iya deh aku ini bego banget."
Clara menunjuk nunjuk kepalanya geram sendiri. Aduh sangat memalukan.
"Clara!" Panggil Alvaro membuat Clara segera berbalik badan dan bersiap.
"Iya Tuan!"
"Besok jangan terlambat bangun karena aku membutuhkan tenagamu. Jangan lama karena aku tak mau menunggu!"
Clara segera memberi hormat pada Alvaro, "Siap Tuan!"
Alvaro mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Clara.
Clara menghembuskan nafas lega. Dia pikir tadi Alvaro akan menghukumnya malam ini untuk tugas yang berat atau mungkin hal yang di luar nalar seperti biasanya. Tapi sekarang dia malah berlaku baik.
Sebenarnya jadi tanda tanya di dalam pikiran Clara.
Clara menggeleng, "Ah, apa yang kau pikirkan Clara, jangan aneh aneh.
Alvaro menutup pintu kamarnya dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Lelaki itu memang dadanya dan tersenyum, dari sekian lama akhirnya dia merasakan suatu debaran aneh di dadanya. Dan dia yakin itu karena Clara.
Dia tak akan melepaskan Clara.
***
Pagi ini Clara menyiapkan sarapan pagi Alvaro begitupun pakaian lelaki itu. Wanita itu tak sadar jika Alvaro terus memperhatikannya.
Alvaro mengambil baju itu dan mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, lelaki itu keluar kamar mandi.
Alvaro berjalan ke arah Clara. Alvaro menyerahkan sebuah dasi pada Clara, "Pakaikan segera."
Clara terpaksa mengangguk, "Baiklah Tuan."