
Hari ini Clara membantu Alvaro dalam menyiapkan segala keperluan untuk meeting pagi ini. Dan ya ternyata Clara bisa di andalkan juga ternyata. Memang sebenarnya Clara bisa di andalkan kalau masalah mapar-memaparkan, hanya Alvaro saja yang tak pernah memperhatikan Clara.
Alvaro kembali berfikir mengenai Clara, bisa saja dia menjadikannya sebagai pekerja tetapnya di kantor ini khusus menjadi asistennya dalam mengatur segalanya karena kemampuan Clara cukup memenuhi kriteria. Tapi pikiran itu segera di bantah oleh dirinya, pasalnya dia tak mau perhatian Clara beralih darinya dan malah mendapatkan pria lain selain darinya. Tidak, dia ingin menjadi satu satunya pria yang ada dalam pandangan dan benak Clara.
Terdengar posesif. Tapi itulah yang di rasakan Alvaro saat ini.
Alvaro pun sebenarnya bingung. Sudah bertahun-tahun dia pernah menjalin kasih seorang wanita baru kali ini dia merasakan hal yang seperti ini. Dia menjadi sangat egois untuk hal cinta.
Alvaro menyadari itu belakang ini. Sepertinya dia memang sudah jatuh cinta pada Clara.
Tapi walaupun dia mencintai Clara dia tak mau mengatakan hal sebenarnya sekarang, dia tak mau anak ingusan itu jadi besar kepala dan malah semakin menyebalkan.
Alvaro berjalan masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi kebesarannya. Clara merapikan barang uang barusan di pakai untuk meeting tadi dan kemudian menghadap Alvaro, "Tuan apakah saya sudah bisa pulang?"
Sebelumnya Alvaro sudah mengatakan bahwa Clara hanya perlu membantunya untuk meeting pagi hari ini dan setelahnya Clara bisa bebas melakukan hal lain.
Tapi rasanya sekarang itu bertentangan dengan hatinya, dia ingin Clara tetap di ruangan ini bersama dengannya. Bahkan sekalipun Clara hanya duduk rasanya itu tak menjadi masalah. Yang penting Clara masih dalam pengawasannya.
"Tuan?" Tanya Clara lagi.
Alvaro menatap Clara datar, "Ak masih membutuhkan bantuanmu. Bantu aku menyusun rencana laporan bulanan dan juga mengenai perbendaharaan coba di cek ulang siapa tau ada kesilapan." Perintah Alvaro tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Clara cemberut, padahal Clara ingin keluar untuk melakukan beberapa hal yang penting seperti rencananya yang dia atur untuk berpenghasilan sendiri dari jerih payahnya.
"Tuan, tapi kalau saya sudah selesai mengerjakannya berarti saya sudah bisa keluar kan Tuan?" Tanya Clara memastikan.
Alvaro melihat ke arah Clara, bagaimana jika dia dapat mengerjakan tugas yang di berikan dengan cepat? Dia akan meninggalkan Alvaro sendirian dan itu akan membuat Alvaro jadi risau.
"Kerjakan saja dulu. Jangan banyak komentar."
Clara mendengus dan mengerjakan apa yang di perintahkan Alvaro.
Ruangan dalam keheningan karena mereka sama sama mengerjakan tugas mereka. Kadang Alvaro melihat Clara sesekali memperhatikan keadaan wanitanya itu, dan tampaknya tak ada masalah apapun.
Senyum simpul terlukis di wajah Alvaro kala melihat Clara dalam mode serius, wajahnya sangat menggemaskan. Alvaro mengalihkan pandangannya, bagaimana dia bisa terpesona semudah itu? Astaga.
Beberapa saat kemudian Alvaro kembali melihat ke arah Clara, melihat wajah polosnya yang menyebalkan itu. Alvaro kembali tersenyum melihat Clara yang mulai garuk garuk kepalanya karena terlalu banyak berkas yang ada di hadapannya.
Terlihat wanita itu kembali menyemangati dirinya sendiri dan kembali mengerjakan tugasnya itu. Wajahnya yang serius selalu menjadi pemikat hati Alvaro dalam diam.
Clara menoleh ke arah Alvaro dan segera Alvaro mengalihkan pandangannya dan mengatur ekspresinya agar tetap datar.
Clara bangkit dan berjalan ke arah Alvaro, wanita itu memberikan beberapa berkasnya pada Alvaro, "Tuan ini laporannya sudah saya revisi dan filnya ada di sini," Clara menunjukkan laptopnya yang sudah dia kerjakan.
Alvaro melihat ke arah layar laptop, mulai mengkoreksi dan kemudian mengangguk, "Sudah benar. Sekarang buat hard copynya, berikan padaku dan setelah itu berikan juga salinannya pada bagian pendokumentasian agar di atur di sana."
Clara mengangguk dan melakukan apa yang di perintahkan Alvaro. Setelah itu Clara kembali ke ruangan Alvaro, "Tuan apakah say-"
"Oh, Carikan tempat makan siang yang enak. Makanan western," perintah Alvaro tanpa mengindahkan ucapan Clara tadinya.
"Tapi Tuan, tadi janjinya kan-"
Alvaro segera menatap tajam Clara, "Jangan membantah. Kerjakan saja."
"Tapi Tuan-"
"Tapi apa Lagi lagi?" Alvaro membesarkan matanya menggertak Clara.
Iya juga. Bisa-bisanya dia tak terpikir ke situ, salah ambil alasan.
"Ya terserah aku lah. Kalaulah aku nyuruh kami nanti siang, emang kamu langsung bisa langsung nemu yang pasti enak? Gak kan?" Sambung Alvaro karena dia tak mau argumennya kalah.
Clara menarik nafas dalam-dalam, butuh banyak oksigen jika berkutat dengan Alvaro.
"Iya Tuan iya. Saya cari ya sekarang." Sambung Clara lalu berbalik badan untuk meninggalkan ruangan.
"Heh mau kemana?!" Tanya Alvaro membuat langkah kaki Clara terhenti.
Clara sekali lagi mengembuskan napas panjang sebelum dia berbalik, "Ya mau cari makan siangnya lah Tuan. Apa lagi?"
"Cari pakai jasa antar makanan kan bisa. Ini bukan jaman batu." Sindir Alvaro.
Clara menutup matanya menahan geram, "Iya Tuan. Maaf sekeluarga BPJS ya Tuan." Ucap Clara dengan senyuman lebar.
Sangkin geramnya Clara sampai menyebutkan kartu jaminan kesehatan Nasional Indonesia.
Rame gak tu..
Alvaro memutar bola matanya, "Dasar tak berguna."
Clara membolangkan matanya dengan salah satu kelopak mata berkedut. Jadi dari tadi dia membantu Alvaro itu apa namanya? Tak berguna gitu?!
Clara mengelus dadanya, sabar toh ndok, bos koe memang rada minus akhlak, harap maklum.
"Tunggu tunggu, kalau Tuan nyuruh saya untuk cari makanan lewat aplikasi yang mudah dong dapatnya? Emangnya mau pesan sekarang? Nanti jadi ngak enak dingin dingin di makan nanti siang," Sambung Clara baru ngeh.
Alvaro mengangguk, "Memang iya. Siapa yang nyuruh untuk langsung di pesan. Cari cari saja makanannya, bukan langsung di pesan."
Lah, kalau gini mah gak sampai 10 menit juga selesai, batin Clara. Dengan semangat Clara melihat Resto bintang 5 mana yang enak.
"Ini Tuan. Beef steak dari Damian's resto," lapor Clara. "Resto bintang 5 yang tak jauh dari tempat ini.
Alvaro menggeleng, "Yang lain."
Clara pun kembali mencari jenis makanan lainnya beserta menyebutkan dimana restoran itu berada. Namun Alvaro terus menolak.
"Jadi yang mana Tuan? Saya sudah kehabisan akal," tuntut Clara.
Alvaro menutup laptopnya karena waktu pencarian resto tadi sudah menyita waktu Clara hingga sekarang benar benar sudah makan siang.
"Makan masakan kamu saja."
Clara menganga, "Hah..? Lah, kenapa tak jadi memesannya?"
Alvaro mengedikkan bahunya acuh, "Habisnya aku sama sekali tak tertarik dengan makanan-makanan yang tadi kau sebutkan."
Alvaro bangkit berdiri dan berjalan mendahului Clara, "Kita makan siang di rumah saja. Cepatlah. Dasar pendek."
Clara mengacak rambutnya.
Alvaro!!!!