
Clara menyelesaikan semua pekerjaan seperti biasanya dan kemudian hendak berisitirahat. Wanita itu melihat ke arah halaman belakang yang tampak asri dengan beberapa bunga cantik di sana. Clara merasa terpikat dengan pemandangan indah itu dan memutuskan untuk ke sana.
Clara duduk di kursi taman. Wanita itu membayangkan bagaimana nasib dirinya sekarang. Clara melihat ke arah langit, matanya tertuju ke awan yang terlihat mendung di atas sana.
Clara menutup matanya dan dan merasakan udara yang sejuk karena cuaca semu ini. Beberapa menit menutup mata Clara terbangun saat hujan rintik rintik menetes pada wajahnya.
Clara segera masuk ke dalam rumahnya, tapi kakinya terhenti ketika berada di ambang pintu.
Sudah lama dia tak bermain air hujan. Lagi pula takkan akan ada yang memarahinya kan?
Clara tersenyum tipis dan kembali mundur beberapa langkah dan kemudian kembali bermain hujan.
Clara memeluk dirinya sambil terkekeh, "Dingin..."
Kemudian Clara berputar putar dan tertawa, bermain hujan memang mengasyikkan. Clara bahkan melupakan kesedihan yang sedari tadi dia rasakan.
Terlalu drama sih, tapi sepertinya itu seru.
Clara yang merasa lelah akhirnya duduk kembali di kursi taman dengan senyuman yang tak pudar. Clara merebahkan dirinya di kursi panjang itu sambil membiarkan dirinya di guyur hujan deras.
Alvaro yang sudah pulang dari kantor mencari keberadaan Clara diam diam. Kemana Clara? Hujan deras begini kenapa malah menghilang?!
Alvaro yang semakin panik mencari Clara pun kemudian mendapatkan Clara. Alvaro terkejut melihat Clara terbaring di kursi taman sedang tubuhnya di terpa hujan.
Apa yang di lakukan Clara di sana? Dan kenapa dia tergeletak di sana?!
Alvaro yang ketakutan melihat keadaan wanita itu dan berlari ke arahnya, "Clara!"
Clara terlonjak kaget dan bangkit dari tempatnya, "Al?"
Alvaro menarik tangan Clara untuk segera masuk ke dalam rumah. Alvaro mengentakkan tangannya melepas genggamannya, "Cla! Apa yang kamu pikirkan?! Kenapa tiduran di situ?! Kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?! Demam, batuk, bahkan kesambar petir bisa aja terjadi padamu!"
Clara tersenyum.
"Di marahin kenapa malah senyum senyum huh? Kamu itu selalu saja bertindak tanpa memikirkan resiko apa yang akan kamu peroleh dari tindakanmu! Kamu-" Kesal Alvaro.
Dreb
Clara melingkarkan tangannya di leher Alvaro memeluknya, "Makasih sudah menghawatirkanku."
Clara sangat senang, sekalipun Alvaro marah padanya Alvaro masih mempedulikannya.
Clara mengangkat wajahnya menatap lelaki itu, "Makasih."
Mata Alvaro terbelalak saat Clara menciumnya lembut untuk pertama kali atas keinginannya sendiri.
Clara melepaskan ciumannya itu namun segera di tahan Alvaro. Bibir Clara sangat sempurna bagi Alvaro, dia merindukannya sungguh.
Lelaki itu memperdalam ciumannya membuat rasa dingin menjadi terasa hangat.
Hatchi!
Clara bersin di hadapan Alvaro.
Clara terbelalak dan segera menutup mulutnya, "Maafkan aku. Aku- Hatchi!"
Alvaro mengusap wajahnya. Baru saja merasa senang sedetik kemudian dapat semburan. Hedeh.
Alvaro mengacak rambut Clara, "Mandi sana gih. Nanti tambah sakit."
Clara mengangguk dan kemudian segera beranjak ke kamar mandi.
***
Setelah mereka membersihkan diri Alvaro yang tak tega melihat Clara yang terus bersin pun berinisiatif untuk membuat bubur Clara dan juga teh hangat untuknya.
Alvaro membawa makanan itu ke dalam kamar dan memberikannya pada Clara, "Aku suapin?" Tanya Alvaro.
Clara menggeleng, "Aku bisa sendiri Al."
Alvaro mengangguk dan memberikan makanan itu pada Clara. Clara tersenyum mendapatkan perhatian khusus dari Alvaro. "Makasih ya Al."
Alvaro duduk di sebelah Clara mengangguk, "Iya sayang."
"Oh ya. Kamu udah makan?" Tanya Clara baru menyadari hal itu.
Alvaro mengangguk, "Udah tadi."
"Oh, syukurlah." Clara pun kembali melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Clara dan Alvaro pun membaringkan tubuh mereka. Alvaro memeluk Clara dan mencium pipinya, dia merindukan Clara, padahal baru kemarin dia tak tidur bersama Clara tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun, sangat menyiksa.
Prang! Syut!
"Brengsek!" Umpat Alvaro. Sialan! Kenapa dia bisa tak bisa memprediksi kejadian ini?! Arh! Dia terlalu terlena akan hal hal kecil.
Mata Alvaro membesar kala mengingat satu hal.
"Jangan jangan," Alvaro segera menelpon ajudannya untuk menangkap siapa yang mencoba bertindak sialan ini.
Deng!
"AARHH!" Kepala Alvaro seakan di hantam oleh benda keras. Seperti memutar memori ingatan kematiannya kembali terulang dan berputar dengan sangat cepat dalam otaknya.
Clara yang sangat panik segera memeluk Alvaro, "Al! Kamu tak apa?!"
Alvaro tak mendengar apapun lagi karena kebisingan dalam telinganya yang mengiang. Alvaro menutup telinganya dan kemudian menjerit.
Clara segera menelpon pihak berwenang dan juga ambulan sesegera mungkin.
Hanya menunggu 5 menit ambulans datang. Dengan cepat Clara membawa Alvaro untuk keluar kamar dan membawanya masuk ke dalam ambulans.
"Pak tolong suami saya!" Ucap Clara dan mereka segera mengangguk dan membantu mengangkat Alvaro.
Mereka mengemudikan mobilnya dengan kencang melewati jalan raya yang padat.
"Al. Sabar ya sayang. Sebentar lagi kita sampai." Clara terus menangis dan mengusap wajah Alvaro yang pucat sambil meringkuk menjambak rambutnya.
Clara pun melihat rumah sakit tujuannya, "Kita hampir sampai!"
Bush...
Ambulance melewati rumah sakit itu dan terus saja berjalan. "E-em maaf pak. Kita melewati rumah sakitnya."
Sang pengemudi hanya diam tak menjawab dan menoleh ke belakang singkat.
Set!
Pembatasan antar kursi pengemudi dan belakang seketika tertutup dan tempat ini menjadi gelap.
Bruff
Lampu berwarna merah hidup mati,
Tet.. tet.. tet..
Bunyi sirine seperti tanda bahaya itu bergaung seraya keluar asap yang memenuhi ruangan. Clara terbatuk batuk. Kepalanya terasa pusing dan pandangan mulai mengabur.
Semua menjadi gelap seutuhnya dan Clara tak lagi merasakan apapun.
***
"Clara! Clara! Sayang!" Alvaro memanggil Clara sambil menangis.
Clara membuka matanya perlahan, Alvaro sangat bersyukur melihat Clara sudah mulai sadar dan segera memeluknya.
"Sayang..." Lelaki itu mulai menetralkan debat jantungnya yang sempat sangat ketakutan ketika Clara pingsan tadi.
Clara melihat sekitar, "Kita ada di mana sayang?"
Alvaro menatap Clara, "Kita di jebak. Dan aku tau siapa dalangnya." Alvaro mengalihkan pandangannya dari Clara dan memandangi ruangan.
"Kita harus keluar sekarang," sambung Alvaro.
Alvaro membantu Clara bangkit berdiri. Alvaro menggandeng tangan Clara dan berusaha mencari pintu keluar.
Lelaki itu mendapati pintu keluar berlari ke arah pintu itu.
Brak!
Pintu itu terbuka sebelum Alvaro membukanya. Terlihat 11 orang di hadapan mereka berjalan memasuki ruangan .
Alvaro dan Clara mundur perlahan. Alvaro menatap geram lelaki yang berdiri di antara ke 10 orang yang masuk ke dalam ruangan ini.
Lelaki itu tersenyum miring dan kemudian bertepuk tangan, "Wah.. mau memamerkan keromantisan huh?" Ucap lelaki itu dengan tawa licik.
"Brengsek!" Umpat Alvaro. Sekali lagi dia harus mengalami hal ini untuk kedua kalinya.
Alvaro menggenggam tangan Clara erat dan membawanya ke belakangnya, "Urusanmu denganku Viandro, bukan dengan istriku!" Tegas Alvaro menatap tajam Viandro.
Viandro memiringkan kepalanya dengan wajah yang berusaha di lembutkan, "Oh ya. Memang benar. Karena sehabis kematianmu malam ini, istrimu akan menjadi milikku."
Viandro menghentikan kalimatnya dan menggeleng, "Ah, tidak. Semuanya. Semua milikmu akan menjadi milikku kakak. Semuanya."