
Alvaro memegang pelipisnya, kacau sekali.
Srekk
Angin bertiup dari kipas yang ntah kenapa bisa di taruh di situ. Angin itu menerbangkan semua kertas berharga ke segala arah.
Alvaro mengepalkan tangannya geram. Oh ****! Apa lagi ini?!
"SIAPA YANG MELETAKKAN KIPAS DI SINI?!"
Semuanya diam, mereka tak mau di salahkan dan tiba-tiba si pecat bukan?
Alvaro geram sekali, "KUTIP KERTAS ITU SEKARANG! SEMUANYA!"
Dengan segera mereka mengutip kertas kertas itu.
Tak sengaja Alvaro menjatuhkan pulpennya, lelaki itu menunduk dan,
Kreak
Seperti ada yang robek?
Semua terdiam dan melihat ke arah Alvaro. Alvaro menoleh ke belakangnya. D*mn! Celana Alvaro terobek tepat di bokongnya.
Brak!
Alvaro memukul meja. Cukup sudah, dia tak tahan lagi. Hari ini sungguh sangat gila!
"APA YANG KALIAN LIHAT! KUTIP KERTASNYA!"
Mata yang tadinya tertuju pada lelaki itu kini kembali pada tugas mereka memunguti kertas yang berserakan di lantai.
Alvaro pun pergi ke ruangannya untuk mengambil celana ganti, dia bisa gila jika ini masih berlangsung.
***
Pulang kantor Alvaro mengendarai mobil dengan gusar. Hari buruknya tak berhenti sampai rapat tadi.
Lelaki itu mendapatkan kabar tadi siang mengenai high news terbaru, Viandro mendapatkan kesuksesan untuk kerja samanya dengan pihak perusahaan asing sebagai mitra bisnis yang berjalan sangat sesuai dengan harapan. Tingkat kesuksesan mereka di atas rata rata perusahaan lainnya. Tentu saja ini bukan suatu yang baik, ini bisa menghancurkan Alvaro!
Cittt
Mobilnya Alvaro terhenti mendadak, Alvaro memukul setirnya, "Apa lagi sekarang?!"
Alvaro mengusap wajahnya kecewa, kenapa dia bisa seceroboh ini untuk masalah bensin yang ternyata habis?
Alvaro memukul jidadnya beberapa kali, "Dasar bodoh!"
Namun kembali Alvaro mengingat sesuatu. "Bukannya aku sudah mengisi bensin tadi pagi?"
"Ish!" Alvaro tak mau banyak berfikir yang aneh aneh sekarang. Pikirannya tertuju pada pulang ke rumah saja sekarang.
Alvaro hendak menelpon sekretaris pribadinya, tapi ternyata hpnya lowbat.
"Arh!!! Kenapa dengan hari ini?! Kenapa sejak pagi aku sudah di timpa kesialan?! Bahkan sampai satu harian ini!!"
Pergelangan tangan Alvaro terasa begitu sakit sekarang, seperti luka yang di berikan cuka rasanya. Perih sekali.
Alvaro melihat ke arah tangannya itu, angka 12 itu kini berwarna kemerahan dan menghitam kemudian memerah lagi.
Sakit, sakit sekali.
Kembali tangannya terasa terbakar, dan mulai menimbulkan tulisan,
'Hidupmu adalah dia, tanpa dia tak ada kehidupan.' tulisan tangan Alvaro itu muncul begitu saja.
Kemudian tulisan itu bergantian dengan tulisan lain, 'Kebahagiaan itu impian, Kematian itu mutlak'
Dalam merasakan kesakitannya Alvaro berfikir, apakah ini ada hubungannya dengan Clara?
Tulisan tadi menghilang dan hanya menyisahkan angka 12 seperti sedia kala.
Nafas Alvaro yang naik turun kini mulai tenang, "Ini pasti ada hubungannya dengan Clara. Aku yakin itu! Tapi bukannya dia sudah menjauh? Dia juga tampak sangat senang saat keluar rumahku, kenapa guna-gunanya masih menetap?"
Alvaro kembali mengingat terakhir kali berjumpa dengan Clara. Wanita itu memang terlihat sangat serius dengan kata katanya kalau dia sama sekali tak menggunakan pesugihan. Tapi kenapa ini selalu terjadi dan bersangkutan dengan dirinya?
Alvaro memegang dadanya. Tapi memang dia hidup kembali ke dunia ini untuk kedua kalinya juga terasa sangat aneh, ini juga hal yang di luar logikanya dan tak dapat di terima akal sehat sekecil apapun.
Clara, mimpi itu...
"Berarti Clara yang menyelamatkan ku waktu itu maka dimasa ini aku jadi harus terikat padanya, jika tidak aku akan terkena kesialan." Alvaro mendapatkan suatu jawaban atas teka teki kehidupan keduanya itu.
"Tulisan, Hidupmu adalah dia tanpa dia tak ada kehidupan, itu yang membuat argumen ku ini tak salah lagi." Alvaro mulai memahami semua maksud kata demi katanya.
Itulah makanya semua hal yang aneh selalu berhubungan dengan wanita kampung dan bodoh itu.
Alvaro baru paham sekarang.
Dan angka 12 ini? Tak tau apa tapi pasti ada hubungannya dengan Clara dan balas dendam.
Dan sekarang yang perlu Alvaro lakukan adalah mencari keberadaan wanita itu, jika tidak dia akan selalu mendapatkan kesialan seperti hari ini setiap harinya.
Alvaro mengangguk. Dia harus mencari Clara sekarang.
***
Clara tengah merebahkan dirinya di atas tempat tidur sederhana miliknya. Kini dia dapat tersenyum dengan bebas dan mendapatkan ketenangan.
Hari ini adalah hari yang patut di syukuri. Clara yang sudah memiliki beberapa pelanggan dari jualan kuenya membuat pundi pundi uang mulai bermunculan, ya... Walaupun tak banyak tapi Clara akan terus berusaha sampai dia mendapatkan kesuksesan yang sangat besar nantinya.
Baru saja Clara menutup matanya pintu kosnya di ketuk ketuk.
"Siapa yang malam malam begini datang? Pelanggan? Tapi rasanya tidak mungkin." Gumam Clara.
Pintu itu semakin di ketuk hebat.
Clara semakin panik, jangan jangan itu adalah pencuri!
Pikiran Clara mulai traveling kemana mana. Ini sungguh gila dan menakutkan.
"Clara buka!" Panggil seseorang dari luar sana.
"Kamu siapa?! Saya akan lapor polisi jika kamu macam macam!" Ancam Clara.
Tapi tadi suaranya terdengar tak asing di telinga Clara, tapi... Tak mungkin lelaki itu, bukannya dia sendiri yang menyuruh Clara untuk keluar dari rumahnya?
"Alvaro! Aku Alvaro! Cepatlah buka!" Bentak Alvaro karena tak kunjung dibukakan pintu untuknya.
Clara bergumam dalam hati, apa lagi sih masalah lelaki itu, kenapa selalu saja menganggu dirinya? Untuk apa coba datang datang, malam malam pula lagi.
Clara dengan malas berjalan menuju pintu dan sedikit mengintip siapa yang di luar melalu jendela, hanya untuk memastikan kalau itu sungguh Alvaro.
Dan benar, itu adalah Alvaro bin ajaib nan menyebalkan.
Alvaro yang sedari tadi dapat mendengar suara batin Clara sangat dongkol dengan hinaan wanita ini. Bisa bisanya dia mengumpat dan merendahkan seorang Alvaro!
Clara membuka pintu, "Ada apa lagi Tuan? Apakah ada keperluan lain?" Tanya Clara.
Alvaro menatap tajam Clara, dia sangat tak terima jika harus berhubungan lagi dengan wanita ini, tapi takdir berkata lain, dia bahkan sangat tergantung pada Clara sekarang.
"Pulang," ajak Alvaro singkat.
Clara menyerngitkan dahinya, "Ini rumah saja Tuan. Mau pulang ke mana?"
Alvaro berdecak malas, "Pulang ke rumahku. Jangan banyak pertanyaan."
"Lah, kenapa? Saya sudah nyaman di sini Tuan, saya juga sangat tak di perlukan di rumah Tuan, jadi untuk apa saya di sana?"
Alvaro mengepalkan tangannya, "Keras kepala ya? Kau mau aku hukum?!"
"Tapi kita sama sekali-"
"Masih berhubungan, kau sudah ku kontrak. Jangan banyak bicara!" Alvaro menarik tangan Clara keluar rumahnya,
Clara menoleh ke belakang melihat rumahnya, banyak barang barang miliknya, itu gimana ceritanya?
"T-api rumah saya-"
"Aku sudah tak perlu di pikirkan, nanti para ajudan ku datang membawa semua barangmu. Diam dan ikuti saja."
Clara menghembuskan nafas berat. Oalah, ternyata hidupnya kembali pada rintangan baru lagi.