My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
forty



"Aku mau jalan jalan," Alvaro menatap Clara dengan datar.


Clara menghembuskan nafasnya, "Jalan ke mana Tuan? Bukannya kaki Tuan sakit, jika Tuan jalan akan terasa semakin sakit."


Alvaro melipat kedua tangannya, "Siapa yang bilang berjalan? Naik kursi roda lah. Bego banget jadi orang!"


Clara menggaruk kepalanya, emang bener yang di bilang Alvaro. "Tapi, Tuan tidak ada kursi roda. Bagaimana-"


"Ya beli, kok susah!"


Clara kembali menggaruk kepalanya, "Beli di mana Tuan? Saya tak tau ada dimana di jual."


"Pikirkan sendiri! Biasakan menggunakan otak! Jangan menyusahkan!"


Clara menghela nafas panjang dan mulai berfikir! Bagusan dia membeli secara online saja. Toh lebih cepat dapat barang juga ya kan?


Clara mengambil hpnya dan mulai mengetik ngetik, Alvaro melihat apa yang di kerjakan Clara, "Aku gak suka barang murahan terutama bukan barang original. Paham!"


"Iya Tuan..." Ucap Clara dengan nada jengkel, bagaimana tidak? Lelaki ini terlalu banyak maunya.


Clara pun memesan dan katanya barang akan di antar sekitar jam jam kemudian. Sekarang jam 8 pagi berarti sekitar jam 9 sampai. "Tuan, barangnya akan sampai dalam 1 jam katanya, jadi jam 9 baru ada. Tuan istirahat saja dulu sampai-"


"Tidak. Sudah aku katakan aku mau jalan. Barangnya harus sampai sekarang!"


"Tapi Tuan-"


"Aku. Mau. Jalan. Sekarang!" Tekan Alvaro tak mau di bantah.


Clara menghela nafasnya dan menelpon sang pemilik toko, "Pak barangnya tak bisa sampai sekarang? Majikan saja tidak bisa menunggu."


"Tidak bisa kak, kami juga punya pengorder yang lebih dulu memesan, jadi kami harus mengutamakan yang pertama kali mengorder kak," jelas lelaki itu.


Clara segera di tatap dengan pelototan oleh Alvaro dengan wajah marah, sudah dia bilang dia tak mau menunggu.


Clara meneguk air liurnya, "Walaupun dia adalah seorang Alvaro?"


"Iya kak, walaupun dia seorang Alvaro yang kaya raya itu," jawab sang pemilik toko. Ya tidak mungkin juga kan Alvaro membeli barang di tokonya? Jadi lelaki itu berani mengatakan itu.


Alvaro yang mendengar jawaban si pemilik toko itu segera naik darah, Alvaro mengambil HP Clara dan mengambil alih pembicaraan, "Apa kau tak sayang nyawa? Berani sekali kau mengatakan itu." Kata Alvaro dengan nada mengintimidasi.


Sontak sang pemilik toko terkejut bukan main, suara Alvaro yang begitu berwibawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga.


Sang pemilik toko menggeleng. Tapi tidak, tidak mungkin itu Alvaro, bagaimana bisa di yakininya sebagai Alvaro?


"Maaf sebelumnya-"


"Dalam 5 menit akan ku buat toko murahan mu itu tutup, camkan itu."


Alvaro menutup sambungan teleponnya.


Alvaro mencampakkan hp Clara dan syukurnya langsung dapat di tangkap Clara, "Huh slamat," gumam Clara.


Clara melihat Alvaro dengan wajah datar, "Tuan, tak seharusnya Tuan seperti itu. Dia juga melakukannya untuk kepuasan pelanggan bukan? Itu tak bisa di salahkan."


"Tapi aku pelanggannya juga," protes Alvaro.


Clara mengangguk, "Memang benar, tapi kan selain Tuan dia juga punya pelanggan yang lebih dahulu di bandingkan Tuan. Pemilik toko itu harus adil terhadap semua pelanggan. Jadi itu tak bisa di salahkan."


Alvaro memutar bola matanya, kenapa dia malah jadi mendengar penjelasan orang seperti Clara? Apa gunanya mendengarkan orang sepertinya.


Clara menghela nafas, dia tau kalau Alvaro masih berisi keras dengan pikirkannya. "Tuan dengar. Apapun itu alasan Tuan saya tetap membela si tukang toko. Tuan gak boleh egois lah." Kesal Clara pada akhirnya.


Alvaro bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri tepat di depan Clara, "Kalau aku gak mau kau mau apa? Jangan memaksakan kehendak!"


"Tuan sendiri saja suka maksakan kehendak malah nuduh orang, gimana sih, gak jelas."


Alvaro membelalakkan matanya, "Beraninya kau bilang aku gak jelas?"


Clara mengangguk, "Memang gak jelas. Keras kepala lagi!"


Tangan Alvaro segera menjewer Clara membuat Clara meringis, "Aw sakit!"


"Siapa suruh kau membantah ku! Ingat kuadratmu!"


Clara mengeraskan rahangnya, pagi ini dia sudah cukup emosi, baiklah dia takkan tinggal diam.


Clara menarik tangan Alvaro dan menggigit tangannya.


Sebelum Alvaro kembali menyiksanya lebih baik dia kabur. Clara berlari menjauh sambil mengejek Alvaro, dia tau Alvaro takkan bisa mengejarnya karena kakinya pasti sakit.


"CLARA!!!!" Jerit Alvaro dengan suara menggelegar dengan emosinya. Tapi Clara malah tertawa sambil berlari.


***


Clara tetap duduk di ruang tamu, pasalnya kalau dia kembali lagi ke kamar Alvaro bisa mati dia di siksa Alvaro.


Drettt


Hp Clara bergetar untuk sekian kalinya, dan itu semua panggilan dari Alvaro.


Clara tak menjawab karena memang dia malas kena maki lagi, cukup, dia mau merasakan ketenangan hari ini.


Alvaro mencampakkan gulingnya, "Dia sungguh keterlaluan!"


Emosi Alvaro yang terus meluap luap tadi mulai mereda ketika suatu pikiran jahil muncul dari kepalanya.


"TOLONG!!!!" jerit Alvaro.


Deg!


Clara bangkit dari duduknya, apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?


Clara menggeleng, tidak, itu pasti hanya akal akalannya. Bodo amat.


Clara kembali duduk sambil matanya terus melihat ke lantai atas tempat kamar Alvaro. Ini kenapa jantungan? Padahal tadi kan Clara sudah meyakinkan dirinya kalau Alvaro hanya mengakalinya.


"TOLONG... AKH!!" jerit lelaki itu.


"Aku tak perduli!" Balas Clara dengan suara kencang. Biar saja, dia pikir dia bisa terus membodohi Clara? Cih. Tidak!


Beberapa menit kemudian tak terdengar suara. Bahkan suara telpon tadi pun tak terdengar lagi. Ntah kenapa hati Clara sangat resah sekarang. "Tuan?" Panggil Clara.


Tak ada jawaban.


"Tuan?" ulang Clara dengan suara yang lebih di kencangkan, mungkin saja Alvaro tak mendengarnya bukan?


Dan panggilan ini pun tak mendapat jawaban.


Clara mulai merasa panik, apakah Alvaro sungguh drop?


Clara menuju kamar Alvaro, lelaki itu meringkuk dalam selimutnya dan mengeluh.


Clara perlahan mendekati Alvaro, "Tuan. Apa anda baik baik saja?"


"Engg..." Alvaro mengeluh tanpa menjawab pertanyaan Clara.


Astaga sepertinya Clara keterlaluan pada Alvaro, "Tuan maafkan sa-"


Tangan Clara langsung di tarik Alvaro dan masuk ke dalam selimut bersama Alvaro, "Sekarang kau tak dapat pergi." Alvaro tersenyum miring.


Clara melipat tangannya memohon, "Iya maaf..."


Alvaro terkekeh singkat dan kembali memasang wajah jahil, "Belakangan ini aku sepertinya terlalu baik dengan mu sampai kau jadi besar kepala ya."


Clara mendongak melihat Alvaro hingga mereka jadi saling pandang. Wajah Clara terlihat begitu menggoda dirinya, ntah apa yang merasuki dirinya hingga jantungnya berdegup kencang, hawa di dalam selimut semakin membuat pikiran aneh muncul di kepalanya seperti mencium bibir Clara dan... Ah tidak! Cukup!


Alvaro mengalihkan pandangannya dan membuka selimut yang menutupi mereka. "Keluar!" Usir Alvaro. Alvaro memegang pelipisnya dengan pipi yang terasa panas.


Clara terdiam dan kemudian bangkit dari posisi duduknya, "Tuan tidak jadi menghukum saya?"


Hukum? Alvaro kembali melihat Clara, kenapa dia ingin sekali menghukum Clara dengan ciuman panas?


Alvaro menggelengkan kepalanya. Ah tidak, kenapa otaknya jadi sangat aneh!


"Kalau ku suruh pergi ya pergi!"


Clara mengerutkan keningnya, aneh sekali.


Clara pun pergi dari kamar Alvaro dengan kebingungan. Sedangkan Alvaro mengibas-ngibaskan bajunya kepanasan.


"Apa AC ini rusak? Kenapa terasa panas?"


Pikiran sialan itu yang membuat keadaan makin tidak waras. Oh astaga Alvaro, apa yang terjadi padamu?