My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
fifty seven



Clara tersenyum kala menyelesaikan tugasnya. Di saat itu Alvaro pulang, rumah ini sungguh bersih di buat Clara, Alvaro masih mencari cari kesalahan yang akan di jadikannya alasan untuk menghukum Clara.


Alvaro melihat Clara yang tengah berdiri di ruang tamu.


"Clara!"


Clara membalikkan badannya dan melihat Alvaro. Bibir Clara sangat pucat dan wajahnya penuh keringat, Alvaro terkejut melihat keberadaan Clara.


"Tuan sudah selesai-"


"CLARA!!"


Bruk!


Clara jatuh pingsan. Wanita itu bekerja terlalu keras dan tenaganya sudah habis total. Alvaro berlari ke arah Clara dan menggendongnya masuk ke dalam kamar Clara, "Hei, hei Clara. Bangun."


Alvaro mengusap wajah Clara dengan kain kering, "Clara, katakan kau baik baik saja."


Clara tak menjawab.


Astaga Alvaro sangat takut dan menelpon dokter.


Tak lama kemudian datanglah dokter dan memeriksa keadaan Clara. Wanita itu di pasang infus, "Dia kehabisan banyak energi, tubuhnya sangat lemah dan tensinya sangat rendah." Ucap sang dokter.


Alvaro melihat ke arah Clara dan menggenggam tangannya, "Dia bisa segera pulih kan?"


Sang dokter mengangguk, "Tentu bisa. Tapi dia butuh istirahat total dan hari ini."


Alvaro mengangguk, "Baiklah."


Setelah di berikan obat oral dan intravena sang dokter pun memberikan konseling pada Alvaro untuk menjaga kesehatan Clara agar segera pulih. Setelah itu sang dokter di bayar dan pulang.


Alvaro kembali ke kamar Clara dan menggetarkan tangan wanita itu sambil duduk di sebelahnya, "Kau jangan membuatku takut Cla. Maafkan aku yang keterlaluan."


Clara masih belum tersadar.


"Cla.." Alvaro mengelus kepala Clara dengan lembut. "Bangun."


Alvaro bangkit dari tempat tidur Clara dan menyuruh pelayan lain untuk membersihkan tubuh Clara dengan hati-hati, jangan sampai infusnya terlepas. Setelah Clara sudah di bersihkan Alvaro kembali masuk dan membaringkan dirinya di sebelah Clara. Lelaki itu memeluknya dengan lembut, "Tidurlah, tapi jangan kelamaan, aku takut kau tak bangun lagi."


Alvaro mengusap usap rambut Clara dan mulai tertidur.


***


Clara terbangun dari tidurnya. Dia melihat Alvaro yang tertidur di sebelahnya, dia terkejut dan kemudian menjauhkan dirinya segera dari Alvaro.


Alvaro terbangun karena gerakan Clara dan segera menarik Clara lagi masuk dalam pelukannya, "Dasar kau wanita menyebalkan! Siapa yang menyuruhmu sakit?!"


Alvaro menjewer Clara, "Kenapa kau tak mau menjaga kesehatanmu huh?! Apa harus aku lagi yang memperhatikanmu!"


Clara hanya diam tak menjawab.


Alvaro memegang dagu Clara, "Lihat, apa kau pikir kau akan semakin cantik dengan wajah pucat! Dasar bodoh!"


Clara semakin merasa bersalah.


Alvaro mencubit lengan baju Clara, "Bahkan memakai pakaian pun jadi orang yang memakaikannya untuk mu. Dasar kau sangat menyusahkan!"


Alvaro terus berkomentar. Padahal dalam hatinya dia sangat bersyukur Clara bangun juga.


"Maaf."


"Kau pikir maaf kau bisa langsung sehat?! Hei! Sampai kapan kau terus menyusahkan orang lain!"


Clara mengingat bagaimana dia bisa seperti ini. Ini di sebabkan karena dia menyelamatkan Viandro dengan transfusi darah akibat kecelakaan dan menemani Viandro sampai dia merasa mendingan.


Alvaro tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Viandro? Jadi alasannya karena lelaki sialan itu?


"Untuk apa kau menolong dia?! Dia pernah menyakitimu kan? Dan kau, kenapa kau sangat bodoh melakukan hal seperti ini?! Cih, mau jadi pahlawan kesiangan?!" Hina Alvaro membuat Clara kesal.


Clara mendongak dan melihat Alvaro, "Itu bukan masalah dia pernah menyakitiku atau tidak. Ini masalah nyawa Al. Dia sangat membutuhkan pertolongan dan harus di tolong!"


Alvaro terkekeh singkat dan menatap tajam Clara, "Terus, kalau kau yang di posisinya apakah dia akan melakukan hal yang sama? Apa pernah dia berfikir seperti itu?!"


Clara terdiam. Memang yang di katakan Alvaro benar, dia pun yakin Viandro takkan mungkin melakukan hal itu padanya.


"Sadar kan? Makanya tau diri!"


Clara menundukkan kepalanya. "Tapi aku hanya melakukan hal kemanusiaan saja, aku tak sampai hati jika membiarkan seseorang mati di hadapanku padahal aku bisa membantunya. Siapapun itu bahkan jika itu musuhku aku akan menolongnya." Kata Clara yang terdengar seperti cicitan kecil.


Alvaro menghembuskan nafasnya panjang. Benar, itu kekurangan yang ada dalam diri Clara, itulah kenapa Alvaro selalu memarahi Clara.


Alvaro memeluk Clara dan mengelus kepala Clara, "Sudahlah."


Clara membalas pelukan Alvaro, "Maaf ya selalu buat kamu marah."


Clara menyadari kesalahannya.


Alvaro mengangguk, "Hm."


Alvaro tersenyum tipis, dia ingin selalu seperti ini, memeluk Clara dan pelukannya juga mendapat balasan.


Clara melihat Alvaro dan tersenyum. Seperti ada suatu magnet yang di rasakan Alvaro, lelaki itu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Clara.


Clara terkejut membelalakkan matanya.


Alvaro menarik tengkuk Clara memperdalam ciumannya. Tangan Alvaro beralih pada pinggang Clara tanpa melepaskan ciumannya itu.


Ciuman Alvaro begitu mendominasi hingga wanita itu hampir kehabisan oksigen dan Clara. Clara mendorong Alvaro hingga ciuman itu berhenti.


Alvaro mengalihkan pandangannya, astaga apa yang dia lakukan? Kenapa dia malah lepas kendali?


Ingat Alvaro, ingat ini hanya misi!


Alvaro melihat wajah Clara. Wajahnya memerah, sepertinya dia sangat malu.


'Clara... Berhenti menggodaku," batin Alvaro menahan gejolak dalam dirinya.


Alvaro mencium kembali bibir Clara singkat dan kemudian menyentuh bibir itu dengan ibu jarinya, "Hanya aku yang bisa melakukan ini. Hanya aku."


Alvaro bangkit dari tempat tidur dan pergi meninggalkan Clara sebelum hal yang lebih gila terjadi.


Alvaro masuk ke dalam kamarnya dan menutup kamarnya rapat-rapat. Lelaki itu terduduk di lantai dan menutup wajahnya dengan tangannya.


"Ah... Ada apa denganku." Lelaki itu mendengus panjang. Dia menyentuh bibirnya dan membayangkan bagaimana ciuman itu begitu mendominasi dirinya. Dia tak pernah merasa seperti ini, hanya ketika bersama Clara.


Lelaki itu memukul kepalanya sendiri, "Kenapa harus Clara Al, kenapa harus wanita itu."


"Apa itu yang di maksud dengan mencari kesempatan dalam kesempitan?" Mengingat Clara yang masih belum sembuh total dan Alvaro malah mencium Clara karena Clara pasti juga tak akan bisa melawan.


Apakah wanita itu akan membenciku nanti? Apakah dia akan marah? Kenapa dia tak mengatakan apapun tadi?" Alvaro mengusap wajahnya gusar.


Pikiran itu terus berkutat di pikiran Alvaro.


"Apa aku harus minta maaf? Apa yang akan terjadi nantinya?"


Alvaro memilih untuk menghilangkan pikiran buruknya, dia akan pergi ke kantor bukan pagi ini? Dia harus mempersiapkan dirinya.


Alvaro pun bangkit berdiri dan membersihkan dirinya. Lelaki itu mandi, dan saat dia hendak menggosok gigi Alvaro kembali mengingat kejadian tadi. Dia tak mau menghilangkan jejak ini, dia menyukainya.


Alvaro tersenyum tipis, lupakan menggosok gigi. Tidak akan mati bukan jika tidak menggosok gigi dalam sehari?