My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Thirty Five



"Oh hip hip Hura Hura..."


"Hura Hura!"


"U u u... Aku suka dia..."


"Suka dia!


"U u u... Aku jatuh cinta..."


"Jatuh cinta!"


Lagu pun di nyanyikan secara bersaut sautan. Sangat merusak telinga Alvaro hingga dia menutup telinganya, terlalu barbar sekali di dalam bus sialan ini rasanya. Kalau tidak karena tangannya sakit Alvaro takkan mau masuk ke dalam tempat menyusahkan ini!


Alvaro menarik tangan Clara yang ikutan asik juga dengan orang orang yang bernyanyi. "Apa kau gila?! Suaramu semakin membuat ribut! Telingaku hampir pecah mendengarnya!" Tekan Alvaro dengan berbisik.


Clara memayunkan bibirnya, "Maaf,"


Alvaro berdecak malas dan kembali mencari suatu hal yang membuat dia tenang. Hah! Headset!


Alvaro memasang Headset dan memutar lagu yang lebih tenang. Lelaki itu menutup matanya dan melipat kedua tangannya di dada.


Clara menyandarkan tubuhnya di kursi, Alvaro tampaknya tak menyukai hal ini, rasanya Clara merasa bersalah memaksakan kehendak Alvaro harus naik kendaraan umum dengannya.


Lelaki ini malah tersiksa oleh karenanya.


Alvaro mengintip sedikit melihat Clara. Dia tak menyangka Clara menyesal juga, dia pikir Clara masih saja egois dengan paksaannya tadi. Baguslah dia sadar.


Setelah sampai Clara dan Alvaro pun keluar bus dan masuk ke dalam pasar malam itu.


Clara berbinar melihat suasana kerlap kerlip lampu di sini. Permainan dan juga wahana di sini sangat dia rindukan sejak kecil!


Tanpa sadar Clara menggandeng tangan Alvaro sambil berlari ke arah permainan yang dia inginkan, "Kita main tembak tembakan!"


Alvaro yang tangannya tertarik belum sempat menolak terpaksa menghela nafas. Dasar wanita aneh!


"Pak minta pistolnya!" Kata Clara pada si penjaga.


"Ini neng."


Clara segera mengambilnya pistol yang ada di tangan si penjaga dan mulai menembak. Alvaro melihat Clara sambil melipat kedua tangannya didada.


Dia yakin wanita ini tak bisa.


Dor


Dor


Dor


Alvaro tersenyum miring, "Lemah!" Hina lelaki itu karena kegagalan Clara dalam membidik. Sangat buruk.


Clara mendengus, "Jangan meledek saya. Memangnya Tuan bisa?" Pancing Clara.


Alvaro mengedikkan bahunya, "Tentu saja. Bahkan dengan menutup mata."


Clara terkekeh, "Mana bisa membidik dengan mata tertutup, mata terbuka saja orang banyak yang gagal Tuan. Jangan mengada ada."


Alvaro menghembuskan nafasnya dan menarik senapan Clara, "Aku akan melakukan."


Alvaro menutup matanya dan mulai menembak.


Dor


Dor


Dor


Alvaro membuka matanya dan mendapatkan pandangan Clara tengah menganga,


Keren sekali! Batin Clara salut.


"Apa ku bilang."


Clara memberikan kedua jempolnya, "Wah hebat!"


Alvaro mengangguk, "Itu sangat biasa."


Mata Clara beralih pada sang penjaga, "kami sudah menang, berikan kami hadiahnya."


Sang penjaga mengangguk dan segera memberikan boneka beruang putih yang sangat besar. "Cantik sekali!" Kata Clara.


"Makasih ya!" Sambung Clara.


Alvaro menaikkan salah satu alisnya, "Makasih? Itu adalah hadiahku." Sindir Alvaro.


Clara mendengus sinis, lelaki ini selalu saja sombong. Baiklah dia akan memenangkan ini dan mendapatkan hadiah yang lebih bagus dari pada Alvaro.


"Pak! Saya akan mencobanya lagi!" Sang bapak memberikan senapan baru lagi dan Clara pun mulai bersiap.


Clara memasang kuda kuda dan mengunci sasarannya. Dan..


Dor


Dor


Dor


Alvaro tertawa kencang setelah tembakan itu mendarat. "Kau sungguh sangat payah! Sudah banyak gaya tidak kena sasaran pula! Hahaha, memalukan."


Clara mendengus gusar.


"Itu hanya permulaan!" Clara tak mau kalah.


Alvaro tersenyum miring, "Silahkan, aku juga tak berharap banyak kau menang."


Tep! Dia mendapat sasarannya! Namun hanya sedikit menyenggol tak sampai jatuh.


Clara segera melihat Alvaro, "Tuan lihat? Saya mengenainya!"


Alvaro menggeleng, "Aku sama sekali tak menyadari itu kena. Mungkin saja tertiup angin." Alvaro kembali membuat wanita itu semakin kesal dengan wajah yang memerah.


Alvaro tersenyum kecil, ternyata membuat Clara marah itu bisa menjadi hiburan juga.


"Ish! Tadi kena!"


"Tidak."


"Kena!"


"Tidak."


"KE-"


"I-Iya iya neng, Eneng sama dapat juga seperti Tuan itu." Sang bapak segera menengahi pertengkaran agar tak semakin berlanjut, lagi pula dia juga melihat kalau Clara dapat mengenai sasaran tapi tak terjatuh.


Clara tersenyum, "Iya kan pak! Yes!" Pekik Clara senang.


Sang bapak pun memberi sebuah boneka kecil, "Ini neng. Maaf yang kecil ya, karena targetnya tak sampai jatuh."


Clara mengangguk, "Gak apa pak, intinya saya dapat!"


Sang bapak tersenyum dan memberikan boneka itu pada Clara.


Clara menerimanya dengan senang dan menunjukkannya pada Alvaro, "Saya juga dapat. Blee."


Alvaro memutar bola matanya malas, "Tak sebanding dengan hadiahku. Cih."


Clara membuang wajahnya, dasar menyebalkan.


"Ya udah kita cari permainan lain."


Clara pun memimpin perjalanan mereka.


Mereka berjalan ke arah bom Bim car. "Kita main itu!"


Alvaro menggeleng, permainan itu lebih bodoh dari pada permainan tembak menembak tadi. Lihatlah betapa bodohnya yang bermain itu, tak ada yang menang yang ada hanya tabrak menabrak saja.


"Skip! Ganti!" Protes Alvaro.


Clara menggeleng, "Ih, seru tau Tuan." Ayo!"


Clara menarik tangan Alvaro dan segera membayar karcis untuk bermain.


"Sudah ku katakan-"


Clara tak memperdulikan kalimat Alvaro dan malah segera naik ke dalam mobil itu dengan girang, dia senang sekali karena dia sangat rindu permainan ini. "Cepat Tuan!"


Lihatlah, dia bahkan lupa tugasnya sekarang untuk menyenangkan hati Tuannya. Malah dia yang bersenang senang.


Alvaro memegang jidadnya, Oalah.


Alvaro pun masuk ke mobil lainnya dan mulai mengendarai mobil itu.


Baru saja memulai,


Buk!


Alvaro segera menoleh ke belakang tak suka. Siapa yang berani menabraknya?!


Seorang wanita yang kini menutup mulutnya terkesima dengan ketampanan Alvaro,


"Hei kau! Apa kau buta?! Aku bisa menuntut mu!" Bentak Alvaro membuat wanita itu kaget.


Bukannya permainannya memang tabrak menabrak. Kenapa dia marah?


"Dasar bodoh! Lihat lah betapa tak bergunanya kal-"


Buk!


Seseorang kembali menabraknya, kali ini Alvaro semakin emosi. Terutama melihat cengiran wanita yang baru lagi menabraknya, "CLARA KAU!"


Clara memundurkan mobilnya dan,


Buk!


Dia malah kembali menabrak Alvaro lebih kencang dan tertawa, kemudian kabur.


Wah, ini tak bisa di biarkan! Alvaro mulai mengendarai mobilnya mengejar Clara. Clara tertawa melihat Alvaro yang sangat berusaha membalasnya itu. Biarkan saja, soalnya Clara sedari tadi di buat kesal olehnya, jadi harus balas dendam dong, hehe.


Clara terhenti oleh mobil orang yang ada di hadapannya. Mereka malah menutup jalan untuk kabur, sial!


Sementara Alvaro yang sudah sangat dekat dengan Clara tersenyum miring mendapatkan targetnya itu.


Dan,


Buk,


Buk,


Buk,


"Hahaha, kau kena! Kau payah!" Ledek Alvaro sambil tertawa puas. Rasanya bangga sudah mengalahkan Clara.


Clara melihat Alvaro bisa tertawa lepas pun tersenyum. Wanita itu kembali mengemudikan mobilnya dan menabrak Alvaro lagi, "Saya takkan kalah!" Clara pun kembali kabur.


"Hey!" Alvaro berdecih dan kemudian tersenyum, dia akan menaklukan Clara, lihat saja.