
Alvaro keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan. Di sana tak ada Clara yang biasanya langsung memberikannya sarapan.
Alvaro jadi kuatir Clara benar benar akan marah padanya. Atau mungkin juga misinya akan bertambah karena Clara merasa tersakiti olehnya?
Alvaro baru saja mau bangkit berdiri Clara datang ke dapur dan menyiapkan sarapan pagi Alvaro, wanita itu segera meletakkan sarapan Alvaro tanpa berbicara dan kemudian kembali lagi ke kamar.
Alvaro melihat sarapan itu, tentu saja dia sangat sedih karena Clara mendiaminya. Ya memang ini salahnya, salahnya yang sangat fatal. But, I Am Alvaro, nobody can say I'm wrong.
"Clara!" Panggil Alvaro. Clara terkejut dan menghentikan langkahnya, wajahnya kembali memerah dan panas.
"Kemari," sambung lelaki itu. Clara tak langsung menjawab dan berbalik, wanita itu menggenggam tangannya erat, dadanya sangat sesak ingin marah.
Clara membenci perilaku Alvaro tadi. Dia pikir Alvaro akan menjadi pelindungnya sama seperti seorang saudara lelaki, tapi ternyata dia salah. Memang sekalipun Clara sudah mulai menjatuhkan hatinya pada Alvaro tapi tetap saja Alvaro sudah melakukan hal bejat padanya.
Alvaro yang mendengar kata hati Clara tertegun. Dugaannya benar, Clara sungguh marah padanya.
Tapi itu adalah hal yang normal untuk pria normal sepertinya, dia menyukai Clara jadi itu spontan dia lakukan.
Alvaro menghembuskan nafasnya, lebih baik dia tak memperpanjang dialog karena Clara juga sedang merasa tidak nyaman.
"Baiklah aku pergi," Alvaro pergi kerja tanpa memperlama durasi lagi. Lelaki itu segera melesat ke kantornya.
Di kantor Alvaro kembali berfikir sesuatu, pikirannya kembali pada Clara dan hatinya sangat tak menentu olehnya. Baiklah, nanti pulang kerja Alvaro akan minta maaf pada Clara dan berjanji takkan mengulanginnya.
***
Clara mulai memasak kue yang di pesan darinya. Clara tak menerima pesanan yang banyak karena memang dia batasi hari ini, tubuhnya masih butuh istirahat.
"Clara." Panggil seseorang membuat Clara mendongakkan kepalanya ketika dia menunduk menghias kue.
Clara terkejut, "Viandro?" Tanya Clara memastikan.
Ini sangat aneh, kenapa Viandro bisa datang ke sini?
Viandro menatap Clara dengan rasa rindu yang teramat. Lelaki itu berjalan ke arah Clara lalu memeluknya, "Terimakasih Clara, terimakasih banyak. Kalau tak ada kamu mungkin hari ini aku tak dapat sepulih ini. Ucap lelaki itu dengan bekas perban masih melekat di kepala lengan dan kakinya.
Clara terkejut dan melepaskan Viandro, "Itu bukan apa apa. Hanya kemanusiaan saja. Kamu pulang saja, aku sedang banyak pekerjaan,"
Viandro menolak untuk di abaikan, "Clara, ku mohon jangan seperti ini. Aku tak ingin hubungan kita menjadi-"
"Tak masalah Viandro, aku menolong mu ikhlas, tak ada hal yang di anggap utang budi karena aku tulus. Satu satunya yang aku minta sekarang adalah kamu untuk pergi."
Viandro tak mau, "Clara, ada yang mau aku bicarakan denganmu. Sebentar saja, ku mohon."
Clara menghembuskan nafasnya, "Baiklah kamu mau ngomong apa? Aku tak punya banyak waktu."
Lelaki itu tersenyum dan segera memeluk Clara lagi, jujur dia sangat rindu pada mantannya itu, "Aku sangat rindu padamu. Bisakah kita menjalani hubungan kita seperti dulu Clara?" Tanya Viandro to the point.
Clara membelalakkan matanya dan spontan mendorong Viandro, "Kamu gila."
Viandro menggeleng, "Aku janji takkan mengulanginya, ku mohon kembalilah padaku-"
Bruk!
Viandro oleng saat suatu pukulan melesat di pipinya membuat ujung bibir lelaki itu berdarah, "Udah siap bicara omong kosongnya?"
Alvaro mencengkram kerah Viandro dengan emosi, "Berani sekali kau menyentuh wanitaku?!"
Bruk!
Alvaro kembali meninju wajah Viandro, Viandro tak mau kalah dan membalaskan dua pukulan di rahang kembarnya itu bertubi-tubi.
Buk! Buk!
"Aku yang seharusnya jadi pacar Clara. Bukan kau!" Emosi Viandro.
Alvaro menggenggam tangannya erat dan bersiap untuk kembali melayangkan pukulan, "Brengsek!"
Buk! Buk! Buk!
Balas Alvaro membabi buta.
"Berhenti!! Berhenti Al berhenti!!" Teriak Clara.
Teriakan Clara tak di gubris oleh mereka dan malah melanjutkan pertengkaran dengan saling memukul satu sama lain.
Clara menahan tangan Alvaro yang sudah berkali kali memukuli Viandro hingga babak belur. "Al udah!"
"Kenapa huh? Kau sedih melihatnya tersiksa huh? Kau masih menaruh perasaan padanya? Haha. Ternyata begitu."
Clara menggeleng, "Aku tak pernah berfikir seperti itu Al. Kenapa kamu bilang gitu?"
Alvaro membuang wajahnya kesal. Memang benar Clara tak mengatakan itu, itu hanya pikiran Alvaro saja, Alvaro kesal saja kenapa Clara malah membela Viandro.
"Sebaiknya kamu pulang. Kita tak ada hubungan apapun, dan aku tak mau berurusan apapun denganmu," jelas Clara membuat Viandro menggeleng tak terima.
Clara mengangkat tangannya ke hadapan Viandro, "Jangan berkata apapun, ku mohon pergilah."
Viandro tercekat dengan kata-kata Clara yang seakan mengasingkannya. "Mungkin belum hari ini, Clara aku akan buktikan aku lebih baik darinya." Viandro meninggalkan rumah Alvaro dengan geram.
Alvaro melihat ke arah Clara. Sampai di rumah tadi memang rencananya Alvaro mau meminta maaf pada Clara karena dia telah menciumnya tadi pagi, tapi rencana tadi hilang seketika karena melihat Clara yang di peluk oleh Viandro.
"Kau marah aku menciummu tapi kau malah tak mempermasalahkan di peluk oleh-nya," tegas Alvaro dengan mata nyalang.
Clara membelalakkan matanya, "Apakah kamu ngak lihat tadi, aku mendorongnya. Aku tak mau di peluk oleh lelaki sepertinya!"
"Bohong! Kamu menikmatinya pasti kan!"
"Siapa yang bohong! Aku jujur!"
Alvaro tak perduli dengan jujur tidaknya Clara. Dia cemburu buta. Dia sangat tak terima ada orang lain yang menyentuh wanitanya.
Alvaro membuang pandangannya. "Aku tak perduli! Aku tak mempercayaimu apapun itu!"
"Kamu ngak percaya sekalipun kamu melihatnya, terus aku harus apa?"
Alvaro mendengus kesal masih tak menjawab. Dia merasa sangat tak terima.
"Kamu ini gimana sih?! Keras kepala! Ntah gimana buat kamu percaya! Apa aku harus memelukmu seperti dia memelukku?! Atau menciummu!"
Alvaro spontan melihat ke Clara saat mendengar penuturan wanita itu. Di saat itulah Clara sadar dia salah bicara.
Alvaro menghadap Clara dan mendekat langkah demi langkah, "Lakukan."
Deg
Clara mundur perlahan, "Al-"
Langkah Clara terhenti saat tubuhnya sudah menyentuh dinding.
Alvaro semakin mendekat dan mengunci tubuh wanita itu, "Pegang ucapanmu."
Clara panik. Dia harus apa?
Ini sungguh gila!
Hanya karena dia salah bicara dia harus mempertanggungjawabkannya?!
Alvaro terus menatap Clara dengan maksud menuntut ucapan Clara.
"Jika kau tak bisa melakukannya, maka aku pun akan selalu mengingkari janjiku padamu. Dan kau tau akibatnya."
Deg
Clara semakin tersudut.
Alvaro tak pernah main main dengan kata-katanya.
Clara menarik nafasnya. Ini keputusan yang sangat berat.
Ayolah Clara, kau harus bisa memilih.
"Satu," Alvaro mulai menghitung.
"Alvaro-"
"Dua,"
"Kamu sala-"
"Ti-"
Astaga!
Clara berjinjit dan mencium lelaki itu singkat membuat lelaki itu tersenyum miring.
"Peluk?" Tagih Alvaro.
Clara menutup matanya dan segera memeluk Alvaro. Dia sungguh malu.
Clara melepaskan pelukan namun di tahan Alvaro.
Alvaro menarik tengkuk Clara dan mencium wanita itu selembut mungkin, lelaki itu melepaskan ciumannya dan menatap mata Clara, "Seperti ini yang benar. Paham?"
Blush
Pipi Clara sungguh sangat merah sekarang. Astaga, bisa bisanya dia mengatakan hal seperti ini?!