My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
seventy two



Alvaro kembali menegakkan badannya dan mundur saru langka.


Clap! Clap!


Alvaro menepuk tangannya dua kali dan kemudian datanglah dua pengawal algojo Alvaro menarik Clara hingga berdiri dan menahan tangannya ke belakang lalu memborgolnya, "Apa apaan ini?!!"


Alvaro memberi kode algojonya untuk menutup mulut Clara dan dengan segera mereka menutup mulut Clara dengan kain putih.


"Clara. Kamu tau aku tak suka menunggu sayang. Mulai dari hari ini dan seterusnya kamu akan menjadi istriku, kita tinggal bersama dan hidup bahagia. Selesai." Jelas Alvaro enteng.


"Mm memm!!"


"Stt.. jangan banyak bicara sayang. Simpan suara indahmu." Alvaro membalikkan badannya.


Mata Clara makin lama semakin mengabur, Pusing dan terasa berat. Clara pun mulai tak sadarkan diri. Alvaro tersenyum tipis, obat biusnya sudah bekerja.


Tenang saja, bius ini pun dalam kadar yang rendah, Alvaro tak mau melakukan hal yang membahayakan Clara bukan?


Tubuh Clara pun di bopong ke dalam mobil dan di tempatkan tidur di sebelahnya. Alvaro mengusap wajah Clara, "Akhirnya aku mendapatkan mu Clara, aku tak sanggup lagi menunggu, aku sungguh merindukanmu."


Alvaro hendak mencium bibir Clara namun tertahan, "Aku akan menunggu sampai kita menikah besok dan kamu akan menjadi milikku seutuhnya tanpa terkecuali."


"Clara... Mengertilah, hanya aku yang menciummu, tidak ada yang lain, tak ada yang perlu di sesali nanti sayang. Percayalah padaku."


Alvaro mengusap air mata Clara dan membuka borgol tangan wanita kesayangannya itu. Memeluk Clara erat, "I love you so much."


***


Clara membuka matanya. Dia segera bangkit duduk dengan mata awas, "A-aku dimana?"


Srek


Tempat tidur Clara bergerak. Ada seseorang yang tidur di sebelahnya, "Sudah bangun?" Kata Alvaro dengan suara serak baru bangun tidur.


Clara membelalakkan matanya, dan melihat tubuhnya. Sekali lagi dia kembali shock melihat tubuhnya. Lihatlah dia sudah menggunakan pyama dress silver tipis tanpa lengan sepadan dengan baju pyama Alvaro yang berwana silver pula.


Alvaro duduk menghadap Clara dan dengan lihai menahan kedua tangan Clara dan kembali merebahkan tubuh wanita itu berada bawahnya.


Alvaro menindih Clara dengan wajahnya yang sangat dekat dengan Clara membuat nafas Clara tercekat dengan posisi yang begitu sensasional ini.


"Aku sudah menyentuhmu semalam sayang, sehingga tak ada alasan untuk kamu menolakku." Ucap Alvaro dengan nada mengancam.


Jantung Clara rasanya mau meledak, pikirannya kacau, "K-kamu.." suara Clara bergetar.


Alvaro mengangguk dan tersenyum miring, "Tentu, mana mungkin aku bisa tahan sekamar denganmu kan? Aku menyukai setiap inci tubuhmu sayang."


Deg!


Clara tak mampu mengatakan apapun. Hancur sudah semuanya.


Sebenarnya Alvaro tak tega berbohong seperti ini, dia tak mungkin melakukan hal sekeji itu tanpa ada ikatan apapun, dia sangat mencintai Clara dan takkan mau menyakitinya.


"Besok kita akan menikah, jangan coba melakukan perlawanan karena itu akan membuatku melakukan suatu hal yang lebih buruk nantinya. Kamu paham?"


Clara tak menjawab dan dia hanya menangis. Kejam sekali perbuatan Alvaro padanya, dia tak sanggup lagi.


Alvaro melepaskan tangannya dari Clara dan bangkit dari tubuh wanita itu ke luar kamar. Alvaro menutup pintu dan menguncinya.


Clara pun menangis sejadi jadinya. Air matanya mengalir deras. Ingin mati rasanya.


"Kenapa ini terjadi padaku? Apa kesalahanku? Hu hu hu.."


Malam hari tiba.


Clara masih merenung di kamar sampai pintu pun kembali terbuka dengan pelayanan membawa sepiring makan malam bersama dengan air putih serta makanan penutup.


Sang pelayan melihat ke arah pinggan yang sebelumnya berisikan piring makan siang dan gelas. Dan itu sama sekali belum tersentuh.


Sang pelayan menatap iba Clara, dia tau Clara pasti sangat trauma. Tapi apalah dayanya yang hanya sebagai keset kaki.


Wanita paruh baya itu mengganti pinggan makan siang dengan pinggan makan malam yang di bawanya.


Wanita itu ingin menghibur Clara tapi dia takut sang Tuan akan marah padanya. Jadi wanita itu memilih kembali ke ruangannya.


Alvaro berpapasan dengan pelayan itu dan melihat pinggan makan siang Clara tak tersentuh sama sekali. Alvaro menghembuskan nafas dan kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.


Alvaro menutup pintu dan menguncinya.


"Kenapa kamu gak makan dari tadi siang?"


Clara masih tak menjawab.


Alvaro menghembuskan nafasnya berat dan duduk di hadapan Clara membuat Clara mundur perlahan.


"Kamu jangan seperti ini. Kamu bisa sakit nanti sayang. Kam-"


Alvaro mengepalkan tangannya geram. Kenapa Clara begitu keras kepala?


"Bagaimana aku membuktikannya padamu Clara! Aku sudah berusaha!" Bentak Alvaro membuat Clara semakin ketakutan.


"Dengar! Aku tidak akan mengampunimu jika kamu sekali lagi mengatakan kalau aku pura-pura mencintaimu!" Tekan Alvaro dengan mata nyalang.


Clara menunduk takut.


Alvaro menghembuskan nafasnya geram dan mengontrol dirinya.


"Baiklah, besok adalah hari pernikahan kita. Makanlah agar dirimu mempunyai tenaga. Paham?"


Clara masih tak menjawab.


Alvaro memegang dagu Clara dan mengangkatnya perlahan, "Paham kan Clara?" Alvaro menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.


Clara mengangguk.


Alvaro tersenyum tipis, "Good girl."


Alvaro mengelus wajah Clara dan juga rambutnya, Alvaro mengambil ikat rambut yang ada di meja untuk mengikat rambut Clara dengan lembut.


Alvaro mengambil piring makan malam Clara dan mulai menyulangkannya pada Clara. Clara menerimanya sambil meneteskan air mata, dia sungguh ketakutan.


"Berhenti menangis. Jangan membuatku marah," Clara segera mengusap air matanya sambil menahan tangis.


Hati Alvaro sungguh sedih melihat ini. Dia tak ingin membuat wanita ini tersiksa sungguh, dia hanya ingin wanita ini memahami bahwa sesungguhnya Alvarolah lelaki pendamping hidupnya sampai akhir hayat, lelaki yang paling mencintainya dengan tulus.


Alvaro tak ingin di lihat sebagai monster di mata Clara, dia ingin menjadi seseorang yang sungguh di cintai segenap hati.


Setelah menghabiskan makanannya dan juga minuman. Alvaro melihat Clara yang begitu lusuh, "Bersihkan dirimu."


Clara mengangguk, dia lebih baik menurut saja dahulu. Dia harus mencari cara untuk keluar dari sini.


"Jangan berusaha melarikan diri dari padaku Clara, aku pasti akan menemukanmu dan kamu takkan ku beri ampun." Ucap Alvaro dengan wajah datar. Alvaro mengingat bagaimana Clara dulu sempat ingin kabur juga dari padanya.


Clara spontan melihat mata Alvaro, lelaki ini bisa membaca pikirannya?


"Pergilah mandi. Aku menunggumu di sini." Sambung Alvaro.


Clara masih diam melihat Alvaro. "Cepat," suruh Alvaro lagi membuat Clara segera mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Clara pun membersihkan dirinya. Di dalam kamar mandi dia terus menangis tanpa suara, dia sangat kacau dan tak tau harus berbuat apa. Dia terus berusaha meneguhkan hatinya, namun sulit sekali rasanya.


Setelah beberapa lama Clara tersadar akan satu hal. Dia lupa membawa baju gantinya, sedangkan baju kotornya sudah basah.


"Astaga, apa yang harus aku lakukan?"


Tok tok tok


Pintu terketuk membuat Clara segera menoleh ke arah pintu, "Siapa?"


"Alvaro. Buka." Kata lelaki itu membuat Clara melotot.


"Apa kamu gila?!" Cetus Clara spontan.


Alvaro mengembuskan napasnya, "Ini bajumu. Buka pintunya sedikit dan ambil bajumu, kamu melupakannya kan?" Ucap Alvaro.


Clara yang tadinya mau marah jadi tersadar dia terlalu berfikir negatif.


Tapi mungkin saja ini trik Alvaro bukan?


"Kenapa lama? Apa perlu aku dobrak pintunya?" Kata Alvaro membuat Clara terbelalak. Baiklah, lebih baik dia membuka sedikit pintunya di bandingkan pintu ini di dobrak.


"Iya iya bentar." Clara segera membuka pintu kamar mandi sedikit dan segera mengambil baju yang di berikan Alvaro.


Alvaro tersenyum tipis, dia yakin Clara pasti sempat berfikir yang tidak tidak.


Clara dengan cepat kembali menutup pintu, ternyata benar Alvaro tidak melakukan hal macam macam. Clara mengembuskan napasnya, "Syukurlah."


Clara pun segera mengeringkan tubuhnya dan menggunakan pakaian kering itu.


Clara keluar kamar mandi dan matanya langsung mendapatkan Alvaro tengah duduk di kursi kerjanya dengan laporan yang bertumpuk di meja.


"Sudah siap?" Ucap lelaki itu saat melihat Clara. Alvaro kembali melihat kerjaannya, "Kamu istirahat saja. Aku masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."


Clara masih diam di tempat. Dia bingung bagaimana cara menilai lelaki ini.


Alvaro melihat Clara mengembuskan napasnya dan bangkit dari duduknya berjalan ke arah Clara. Clara mundur perlahan sedangkan Alvaro segera menarik tangan Clara dan kemudian menggendong Clara ala bridal style.


Nafas Clara tercekat saat Alvaro memperlakukannya seperti itu. Lelaki itu membawanya ke atas ranjang dan meletakkannya di sana. "Istirahatlah," Alvaro pun meninggalkan Clara dan kembali ke meja kerjanya.


Clara terdiam masih mencerna apa yang terjadi. Tunggu, apa yang barusan terjadi? Kenapa Clara jadi semakin bingung?