
Alvaro menghembuskan nafasnya.
"Kamu itu penting." Ucap Clara yang di ingat Alvaro.
"Penting," ulang Alvaro. Alvaro menunduk, Clara adalah orang pertama yang mengingatkan kembali pada dirinya bahwa dia adalah sosok yang penting bagi dunia dengan tulus tanpa di buat buat.
Dia adalah orang yang pertama yang membuat dirinya menjadi lebih sadar akan keberadaannya bukan sekedar membalaskan dendam saja.
Alvaro mengusap wajahnya dan kemudian mencari keberadaan wanita itu.
Kaki Alvaro berhenti di depan pintu kamar Clara, lelaki itu mengetuk dan kemudian segera di bukakan Clara.
Clara menunduk, "Maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana. Aku hanya tak ingin kamu senang di hari ulang tahunmu."
Clara melihat Alvaro, "Maafkan aku."
Alvaro menggeleng pelan, "Bukan salahmu. Tapi aku yang tak terbiasa dengan hal seperti ini. Hari ulang tahun dan hari lain menurutku sama saja, aku bahkan tak pernah merayakannya setelah aku menginjak dewasa dan bekerja. Yang penting bagiku adalah pekerjaan."
Clara mengangguk, "Yang terpenting bagimu adalah karir. Aku paham sekarang."
Alvaro mengangguk membenarkan apa yang di ucapkan Clara.
"Dan satu lagi, kamu dan Viandro ternyata memang berbeda. Maafkan aku sempat menyamakan kalian."
Alvaro tersentak dengan ucapan Clara. Baru saja dia mendengar wanita ini mengatakan dirinya dan Viandro adalah berbeda, bagaimana dia bisa secepat itu mengubah persepsinya.
Lelaki itu merasa Clara sudah mulai mencari muka padanya. Alvaro mulai menyelidiki pikiran Clara.
Tak ada, tak ada pilihan lain yang ada di benak wanita lugu itu. Dia mengatakan hal itu tanpa ada pikiran lain yang membuat Alvaro dapat mengatakan kalau wanita ini penjilat.
Tak ada yang dia temui.
Alvaro cukup lega. Clara akhirnya memahaminya.
Sedetik kemudian Alvaro mengalihkan pandangannya. Untuk apa dia perduli? Mau Clara sudah paham atau tidak itu tak akan mengubah apapun. Alvaro harus membenci wanita ini dan menghilang dia dari kehidupannya selamanya.
Hanya menyelesaikan misi. Hanya itu Alvaro, jangan melibatkan apapun di sini.
"Alvaro suka sama kuenya? Kalau gak suka juga gak apa biar aku ambil lagi aja."
"Belum aku makan," jawab Alvaro cepat. Dia juga mau memakan kue buatan Clara.
Clara tersenyum, "Baiklah. Akan aku siapkan di meja makan.
Clara pergi mendahului Alvaro sedangkan lelaki itu melihat punggung wanita itu yang semakin menjauh. "Ntah sampai kapan hati ini bisa bertahan," gumam Alvaro.
***
Clara menyediakan kue ke hadapan Alvaro yang sudah duduk di meja makan.
Clara menutup tangannya, "Sekarang kita menyanyikan lagu selamat ulang tahun."
"Memangnya harus seperti itu?" Tanya Alvaro mengingat suaranya terlalu sumbang jika bernyanyi.
Clara mengangguk, "Tentu saja. Itu harus." Clara tersenyum riang.
"Satu dua tiga ya, slamat ulang tahun
Slamat ulang tahun...
Slamat ulang tahun Alvaro...
Slamat ulang tahun."
Prok prok prok
Clara bertepuk tangan. Suara tersenyum miring singkat, suara mereka sama sama tak bagus tapi terdengar seirama.
Clara menunjuk lilin yang ada di atas kue Alvaro, "Make a Wish Al, lalu tiup lilinnya."
Alvaro melihat ke arah lilin dan menutup matanya membuat permohonan,
'Harapanku adalah mendapatkan kesuksesan dunia dan menyiksa Viandro,' batin Alvaro lalu menghembuskan lilin.
Clara tersenyum dan bertepuk tangan.
Tangan tanpa sadar Alvaro mengelus rambut Clara dan tersenyum tipis.
Tersadar Alvaro segera menarik tangannya kembali dan melihat ke arah lain, "Kita jadi pergi atau tidak?" Tanya Alvaro mengalihkan pandangannya.
"Hm. Terserah Alvaro saja."
Alvaro mengangguk, "Siapkan dirimu dan juga pakaian ganti. Begitu juga pakaianku sediakan. Sebentar lagi kita berangkat."
Clara mengangguk, "Baiklah."
***
Alvaro menoleh ke arah Clara.
Deg
'Cantik,' batin Alvaro.
Alvaro segera mengalihkan pandangannya. Damn, kenapa Alvaro jadi mudah terpana? Tidak. Hentikan Alvaro.
Alvaro berdiri dan berjalan mendahului Clara, "Semuanya sudah di masukkan ke dalam mobil?"
Clara pun mengikuti Alvaro menyamakan langkahnya dengan Alvaro, "Sudah."
"Tidak ada lagi yang tertinggal?" Alvaro memastikan.
"Sudah."
Alvaro kembali melihat ke arah Clara, "Nanti kita ke pantai, kau suka kan?"
Clara mengangguk, "Tentu saja." Clara tersenyum antusias.
Alvaro menghadap depan, "Baguslah."
Pilihan Alvaro untuk ke pantai tak salah ternyata, syukurlah Clara menyukai pantai.
Mata Clara tak beralih dari Alvaro, "Terimakasih ya."
"Untuk apa?"
"Untuk kebaikan kamu mau mengajak aku pergi jalan jalan. Aku senang sekali." Kata Clara jujur. Clara memang jarang jalan jalan, apa lagi ke pantai. Kenapa? Selain jauh, Clara tak mau menghabiskan uangnya dalam jumlah besar.
Alvaro melihat singkat ke arah Clara, "Kalau kau senang aku juga senang."
Semakin kau senang semakin cepat kehidupanku kembali ke semula.
Mereka pun berangkat ke pantai.
***
Clara melompat ke sana ke mari dengan sangat girang di pinggir pantai. Sedangkan Alvaro duduk santai di kursi rumah penginapan yang di sewanya sambil melihat Clara yang begitu bersemangat.
Alvaro merasakan tangannya tiba tiba terasa sangat sakit, "Akhh..."
Pergelangan tangannya sangat perih dan kemudian menghilang begitu saja. Alvaro melihat ke arah tangannya lagi, "11."
Angka sebelas itu membuat senyuman Alvaro mengembang. Ternyata benar, dengan membuat Clara senang kutukan ini pasti bisa menghilang.
Clara yang sudah kelelahan pun berjalan ke arah Alvaro, "Tuan, eh, Alvaro, ayo berenang."
Alvaro melihat ke arah Clara dan menggeleng, "Kau saja."
"Ayolah... Pliss," bujuk Clara.
Alvaro menggeleng, "Tidak."
Clara pun menyerah, dia gak mau membuat Alvaro jadi marah di hari ulang tahunnya ini.
"Baiklah aku deluan ya." Clara oh. Meninggalkan Alvaro dan segera menceburkan diri ke dalam air.
Alvaro menyerngitkan dahinya, dia kan ngak pakai baju berenang, kenapa malah segera main cebur-cebur aja?
Alvaro menggeleng, memang Clara itu aneh, mau di bilang apa lagi?
Alvaro melipat kedua tangannya didada dan kemudian menutup matanya sambil bersender santai dan menikmati sinar matahari sore yang menerpa kulitnya.
Beberapa saat kemudian Alvaro terbangun dan kemudian segera bangkit dari kursinya, dia masuk ke dalam penginapan dan tertidur.
Alvaro kembali melanjutkan tidurnya di dalam kamar, tidur di kursi membuat badannya pegal.
1 jam lamanya Alvaro tertidur akhirnya Alvaro terbangun,
Srek
Tangan Alvaro seperti memegang sesuatu, Alvaro segera menoleh. Dia melihat bunga unik di tangannya, dan Alvaro kembali mengingat sesuatu, "Ini jenis bunga misterius yang dulu pernah ku dapat."
Ya, bunga yang pernah Alvaro dapatkan saat Alvaro dan Clara jalan jalan ke taman hiburan dulu.
Alvaro memasukkan saja bunga itu ke dalam Vas. Sepertinya dengan adanya bunga ini menandakan sesuatu yang baik akan terjadi.
Alvaro keluar kamarnya sambil memegang Hpnya.
Ktak
Hp itu segera terjatuh saat dia melihat ...