
Clara melihat ke Alvaro yang tengah mengiring temannya saat acara pernikahan. Bohong kalau Clara tak terpana dengan ketampanan Alvaro, lelaki itu terlalu sempurna menjadi seorang pria bukan? Dia berharap dia pun mendapatkan pria seperti Alvaro, tapi lebih ramah tentunya.
Alvaro tersenyum singkat mendengar kata hati Clara, tentu saja dia tampan. Alvaro melirik ke arah Clara dengan melihat apa yang akan terjadi, apakah Clara akan malu?
Clara terkejut dan mengalihkan pandangannya, astaga, sepertinya wajahnya sangat merah sekarang. Tercyduk oleh Alvaro itu sangat memalukan.
Alvaro terkekeh singkat dan kembali meluruskan pandangannya ke depan. Kemudian Alvaro tree tersadar akan suatu hal, kenapa dia jadi ikutan tersenyum? Alvaro menggelengkan kepalanya. Ada yang tidak beres dengan otaknya.
Clara melihat sekitarnya dan matanya menyorot seorang yang lain, Fransisco.
Lelaki itu tengah bersama sang mempelai wanita berdiri di hadapannya. Mereka tampak cocok, bahkan Fransisco pun terlihat tampan dengan setelan baju putih pernikahannya. Clara tersenyum, otaknya memang rada gesrek, bisa bisanya memuji ketampanan mempelai orang.
Alvaro yang mendengar kata batin Clara menjadi kesal, kenapa dia malah memuji ketampanan Fransisco? Apa dia buta, dia bahkan lebih tampan di bandingkan Fransisco.
Clara kembali melihat beberapa teman Alvaro, 'Apakah semua teman Alvaro setampan ini? Mereka bahkan memiliki ketampanan di atas rata rata juga... Wah... Kalau aku menikah dengan salah satu dari mereka gimana ya? Xixixixi,' batin Clara sambil cekikikan dalam hati.
Alvaro melihat Clara marah, Clara semakin menjadi jadi.
Clara mengalihkan pandangannya dan melihat hal lain, di sana ada makanan enak juga, sepertinya enak sekali jika di santap, terutama Clara tadi belum sempat sarapan, dia sangat lapar.
Clara mengelus dadanya, 'Sabar Cla, ntar lagi ntar selesai dan acara makan di mulai.'
Setelah menunggu dan semua pemberkatan pernikahan sudah selesai sekarang mulailah acara makan makan. Clara sudah sangat girang untuk menyantap makanan yang enak enak itu.
Clara segera berbaris dengan wajah sumringah tanpa sadar ada lelaki yang berdiri di belakangnya yang melihat lucu tingkah Clara.
"Laper banget?" Tanya lelaki itu di balas anggukan oleh Clara.
Lelaki itu tersenyum tipis dan kembali berbisik, "Mau ambil dagingnya berapa potong?"
"Dua kali, kayaknya dagingnya enak. Eh-" Clara tersadar, dia di sini harus jaga image terutama dia datang bersama Alvaro.
Clara menoleh dan melihat lelaki itu. Jarak wajah mereka sangat dekat membuat Clara seketika menjauhkan wajahnya, "Maaf."
Lelaki itu menggeleng, "Tak apa. Oh ya, nama kamu siapa?"
Clara kembali menghadap depan. Dia takut kalau terlalu banyak bicara dengan orang orang di sini kebodohannya akan kentara seperti yang sering di katakan Alvaro. Lelaki yang ada di belakangnya itu tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya di telinga Clara, "Aku Rangga."
Clara menoleh ke belakang lagi, seperti mengingat nama itu. Aha!! Itu temannya sewaktu SMA, lelaki itu memang sangat gendut dan sering di bully, Clara dulu lumayan sering membantu Rangga agar bisa terlepas dari pada pembully walaupun dia sebenarnya pun takut. Clara lebih sering membantu Rangga untuk kabur saja sih sebenarnya.
Clara kembali menoleh dan melihat lelaki itu, "Rangga? Yang waktu SMA.."
Rangga mengangguk, dan kemudian menarik Clara menjauhi barisan, "Aku rindu padamu tau."
Clara terkekeh, "Sungguh?"
Rangga mengangguk dan memeluk Clara, "Oh astaga, tubuhmu memang tak pernah bertambah apa? Terus saja kurus kecil seperti ini." Ledek Rangga.
Clara mencubit perut Rangga membuat lelaki itu melepaskan pelukannya dan mengelus perutnya yang sakit, "Aw."
"Kau itu sangat menyebalkan."
Rangga terkekeh. Clara kesal sekali, dia padahal sudah sangat berusaha untuk menaikkan berat badan sejak dulu, tapi tak pernah meningkat saja.
Rangga mengelus rambut Clara, "Jangan marah, nanti cantiknya hilang."
"Lagian sih kamu. Eh iya, kok kamu bisa jadi kurus begini?" Clara baru mengingat kalau Rangga bisa jadi kurus seketika seperti ini.
"Diet lah, ke dokter khusus gizi." Jelas Rangga.
Clara mengangguk paham. "Pasti makannya gak enak kan?"
Rangga terkekeh singkat, "Gak salah lagi."
Clara terkekeh mendengar jawaban Rangga. Rangga menggenggam tangan Clara, "Kita makan di tempat lain aja yuk, dari pada makan di sini, gak sehat."
Clara diam tak menjawab. Kalau Rangga mengajaknya ke tempat yang mahal gimana nanti bayarnya?
"Aku traktir!" Sambung Rangga membuat Clara spontan sumringah.
"Baiklah!"
Rangga pun menggandeng tangan Clara hendak pergi dari tempat ini.
Tep!
"Mau kemana?" Suara mengintimidasi itu terdengar menakutkan di telinga Clara. Clara meneguk air liurnya dan menoleh ke belakang.
"Tua- Alvaro maksudnya."
Alvaro menarik tangan Clara dan membawanya menjauhi Rangga. Alvaro menggenggam tangan Clara dengan kuat hingga terasa sakit di jari jarinya.
"Sakit!"
"Siapa yang menyuruhmu bicara dengan orang asing. Kau tau kan kau bodoh? Kalau ketauan gimana?!" Bentak Alvaro.
Clara menunduk. Yah elah kena marah.
Alvaro kembali menggenggam tangan Clara kencang hingga Clara mendongakkan wajahnya pada Alvaro. "Sakit!"
Alvaro menatap Clara tajam, "Salahmu kenapa membiarkan dia menyentuhmu."
Clara diam dan kemudian menunduk seperti seorang anak yang di marahi oleh bapaknya, "Emangnya kenapa? Kan cuma teman."
"Lihatlah betapa kerasnya kepala mu. Kau mencoba melawanku?"
Clara mendongakkan kepalanya, "Tidak. Aku kan cuma-"
"Apa? Apa lagi? Jangan membantahku ya."
Clara menghembuskan nafasnya.
"Kenapa dengan ekspresi mu? Kenapa? Merasa tertekan?"
Clara menyerngitkan dahinya, Alvaro jadi sangat sensitif tiba tiba.
"Gak, gak kok." Clara menolak pikiran over thinking Alvaro padahal memang benar dia mah tertekan.
Alvaro semakin kesal saat mendengar jawaban Clara berbeda dengan kata hatinya.
Alvaro menarik tangan Clara menuju halaman parkir dan menuju mobilnya yang terparkir di sana.
"Kau tetap di dalam, aku akan izin untuk pulang."
"Lah kenapa?"
"Diam!"
Clara menghentakkan kakinya, Alvaro kenapa sih? Marah terus. Selalu saja dia salah di mata Alvaro.
Ceklek!
Pintu kemudi terbuka dan menampakkan sosok Alvaro, tanpa bicara banyak Alvaro mengendarai mobilnya meninggalkan acara ini.
"Al kenapa sih?"
"Al?" Tekan Alvaro.
"M-maksudnya Tuan. Kenapa sih Tuan? Memangnya saya salah apa?"
Clara meminta penjelasan yang jelas dari Alvaro.
Alvaro tak menjawab dan masih mengendarai mobilnya.
"Ck. Kasih tau kek. Kan kaya gini aku bingung hadepin kamu! Gak jelas banget!"
Alvaro melirik ke arah Clara, "Katakan sespesial apa hubunganmu dengan lelaki itu? Bagaimana bisa kalian seakrab itu tadi?"
Clara mengedikkan bahunya, "Dia hanya teman biasa. Memang baik sih. Makanya aku nyaman sama dia. Itu doang. Kami juga baru ketemuan tadi dari sekian lama gak jumpa. Makanya saling melepas rindu aja."
Alvaro mengalihkan pandangannya. Tapi tetap saja dia tak suka juga ada yang mendekati Clara. Apa lagi laki laki.
Namun dari ucapan Clara dan kata hatinya memang benar, dia sama sekali tak ada maksud lain.
Alvaro memberhentikan mobilnya dan melihat ke arah Clara, menarik wanita ini dalam pelukannya membuat Clara membelalakkan matanya.
Astaga!
Alvaro mengusap rambut Clara, "Jangan sampai ada orang lain yang melakukan ini selain aku. Cuma aku. Paham?"
Suasana seketika mencekam. Nada yang di lontarkan dari bibir Alvaro terdengar seperti ancaman yang menakutkan.
Clara mengangguk, "B-baiklah."
"Bagus."