
Clara melihat banyak sekali makanan yang sangat menggugah selera di sini. Rasanya Clara ingin sekali membawa plastik untuk tambahan makan di rumah. Clara kembali menepuk jidadnya, astaga, ngapain juga dia mikir gitu, dia kan udah tinggal di tempat orang yang berkecukupan. Kebiasaan nih Clara.
Clara malah cengengesan.
"Selamat malam Kek," sapa seseorang dari belakang Clara membuat Clara segera menoleh ke belakang.
Deg!
Itu Viandro.
Viandro tentu terpana melihat sosok wanita yang ada di hadapannya ini, cantik dan seksi, paket lengkap. Namun seperti tak asing di matanya.
"Clara?" Viandro tak percaya.
Alvaro segera mengetahui betapa paniknya Clara. Lelaki itu segera merangkul pinggang Clara dan menatapnya lekat, "Aku berada bersamamu." Menenangkan Clara.
Bukannya makin tenang Clara makin grogi lah. Bagaimana tidak, wajah tampan Alvaro sangat dekat di pipi sebelah kirinya.
Viandro memicingkan matanya, ntah apa yang membuat dirinya panas melihat Alvaro merangkul Clara. Alvaro tersenyum miring, dia yakin Viandro pasti tak menyukainya sekarang.
Viandro segera mengalihkan pandangannya dan segera menyalam sang kakek, "Happy Anniversary Grandpa." Viandro segera mendapatkan pelukan hangat oleh sang kakek.
"Terimakasih Vian."
Viandro melihat sekeliling mencari seseorang, "Mana nenek kek?"
"Dia sedang bersama ibumu di kamar. Masih merias diri. Kau tau lah perempuan." Ledek sang kakek.
Clara tersenyum tipis, "Tapi hasilnya akan membuat kakek terpana bukan?" Gurau Clara membuat Sang kakek terkekeh.
Darius tersenyum melihat Clara, ternyata calon Alvaro punya humor yang bagus juga.
"Siapa namamu nak?" Tanya Darius mulai penasaran.
"Clara kek. Salam kenal." Clara memperkenalkan diri.
"Wah. Nama yang bagus. Dan apa kesibukanmu sekarang?" Tanya Darius lagi.
Deg!
Clara terdiam. Apa yang harus dia katakan? Tidak mungkin kan Clara bilang dia adalah babu Alvaro, kan sekarang lagi jadi pacar setingan Alvaro.
"Dia sekretarisku kek. Karena itu Alvaro merasa mulai nyaman karena terbiasa." Jawaban Alvaro membuat Clara lega, untung lelaki itu segera menjawabnya.
Sang kakek mengangguk paham. Tapi lelaki tua itu ragu jika Alvaro menyukai gadis ini, bisanya cucunya ini jika menyukai sesuatu pasti karena ada hal yang menarik dari hal itu. Memangnya apa yang di miliki Clara sampai Alvaro memulainya?
Tapi terserah Alvaro saja. Mana yang dia rasa itu terbaik pasti terbaik, semoga saja pilihan Alvaro adalah yang terbaik.
"Kakek pergi dulu. Banyak tamu yang harus di sapa." Izinnya.
Mereka mengangguk.
Baru Clara sadari ternyata Viandro tadi tengah membawa seorang wanita. Dan wanita itu memang terlihat sangat cantik dan elegan.
Saat Clara ingin menyapa Viandro segera memalingkan wajahnya dan menggandeng pasangannya itu dari hadapan mereka. Alvaro mengedikkan bahunya, dia pun tak perduli.
Saat Alvaro kembali melihat Clara wanita itu ntah kemana, dia menghilang tiba-tiba membuat Alvaro berdecak malas, wanita itu sangat menyusahkan.
Clara pergi ke kamar mandi. Rasanya sedih sekali melihat Viandro mengandeng wanita lain. Walaupun memang dia sudah merelakan Viandro tetap saja rasa sakit hatinya tak terobati. Kenapa lelaki itu sangat jahat? Apa kesalahannya hingga lelaki itu mencari wanita lain di luar sana?
Sungguh jahat sekali.
Clara mengeringkan matanya dari air mata yang sempat membendung tadi. Dia pun kemudian keluar dari kamar mandi.
"Eh copot!" Clara terkaget melihat Alvaro yang sudah di depan kamar mandi.
Hampir saja jantungnya copot. Dasar!
Alvaro melihat Clara acuh, "Kalau tak tahan di sini lebih baik pulang saja. Nanti akan ku jelaskan ke kakek kalau kau sakit malam ini jika dia mencari mu."
Mendengar kalimat Alvaro membuat Clara tersenyum. Bagaimana tidak? Kata-kata yang di ucapkan dengan dingin itu terdengar seperti sebuah perhatian yang manis bukan?
Alvaro memicingkan matanya melihat Clara, "Apa? Kau mulai menyukaiku? Dengar ya, kau bukan tipeku. Jangan berharap."
Clara mendesis kesal. Alvaro ini kepedean tingkat dewa ya, sok oke banget. Clara jadi kesal sendiri.
"Mana ada. Gak usah sok ganteng." Tukas Clara.
Alvaro memutar bola matanya malas, "Cih. Intinya sekarang mau pulang apa tidak? Banyak kegiatan di sini, jangan membuang waktuku."
Clara menggeleng, "Gak perlu pulang. Aku di sini aja."
"Terserah."
"Jangan pernah menyentuhku kalau tidak di depan keluargaku. Ingat ini hanyalah setingan. Paham," tekan Alvaro di jawab anggukan Clara.
Alvaro menghentikan langkahnya saat Viandro kini berada di hadapannya. Tampaknya lelaki ini akan mencari gara-gara lagi dengan Alvaro.
"That's your girl, huh?" Hina Viandro.
Alvaro menoleh ke belakang singkat dan kembali menatap Viandro tanpa bicara.
Viandro tersenyum miring dan mendekatkan bibirnya pada telinga Alvaro berbisik, "Lumayan juga setelah kau rias."
Pendengaran Clara yang tajam tentu saja menangkap ucapan Viandro dengan jelas. Jujur saja dia semakin membenci Viandro, sungguh bermuka dua.
Clara membalikkan badannya dan hendak meninggalkan Alvaro, hatinya panas karena emosi.
Tep
Alvaro menahan tangan Clara dan merangkulnya, "Bukan urusanmu aku dengan siapa." Tegas Alvaro sambil membawa Clara menjauh dari Viandro.
"Kau sudah besar bukan? Lakukan sesuatu yang membuat lelaki itu menyesal meninggalkanmu, jangan pernah pergi karena itu akan membuat mu terlihat seperti pecundang." Kata Alvaro seakan menantang Clara untuk bertindak lebih.
Clara melihat Alvaro yang tetap memandang lurus ke depan sambil masih berjalan mendampingi Clara.
Clara berfikir sejenak. Ada benarnya juga, kenapa dia harus kabur tadi kalau di hina seperti itu. Seharusnya dia harus buat lelaki itu panas balik bukan?
Dia harus lebih dewasa lagi bertindak dan jangan terlalu terbakar cemburu terus.
Dia jadi merasa bersalah kepada Alvaro karena rasanya dia selalu saja menyusahkan lelaki itu.
Clara tersenyum dan mengangguk. "Lain kali aku akan membuatmu terkesan," batin Clara.
Beberapa saat kemudian mereka kembali berkumpul dengan keluarga besar untuk makan malam bersama. Dan terlihat Viandro masih memperhatikan mereka, sambil berfikir rencana apa yang cocok untuk membasmi mereka.
Clara melihat ke arah seorang wanita yang tak di kenalnya itu. Matanya terfokus pada wanita itu yang sedang kesulitan meraih tasnya di meja karena pakaiannya yang memaksanya untuk terus tetap tegap.
Gaun itu tampaknya sangat menyusahkan beliau. Clara mengambil inisiatif untuk menghampiri wanita itu. Clara mengangkat tasnya dan memberikan tas itu kepada wanita itu, "Ini Tante tasnya."
Sang wanita itu bernafas lega dan tersenyum, "Makasih banyak loh. Tadi saya bener bener butuh bantuan tapi suami saya baru saja pergi, ngak mungkin kan saya panggil dia cuma untuk angkat tas." Wanita itu terkekeh kecil menceritakannya.
Clara mengangguk, "Iya Tante, tak masalah. Toh juga Clara sekalian jalan tadi."
"Oh ya, kamu sama siapa di sini sayang?" Tanya wanita itu penasaran. Pasalnya dia tak pernah melihat Clara sebelumnya.
"Oh. Saya.." Clara bingung mau jelasin apa ke wanita ini. Dia takut berbohong juga sebenarnya. "Anu, p-pasangannya Alvaro Tante," sambung Clara agak grogi.
Wanita itu terdiam sejenak dan kemudian tersenyum. "Sejak kapan kalian berhubungan?"
Clara berfikir, kapan coba?
"S-sebulan Tante," Clara tak ada pilihan lain selain mengarang.
"Oo... Menurut kamu Alvaro gimana orangnya. Banyak yang bilang dia itu galak loh, kok mau sih sama dia?" Tante itu menyikut lengan Clara dengan nada berbisik pertanyaan terakhir kalimatnya itu.
Clara terkekeh, "Memang sih Alvaro galak Tante. Tapi dia sebenarnya ada sifat baiknya, dan juga peduli sama orang lain. Mungkin karena itu saya suka sama dia." Jelas Clara. Jujur sebenarnya Alvaro tak seburuk itu pikiran orang bukan.
Tante itu tersenyum. "Kamu tau ngak, kalau Alvaro itu punya sifat yang sangat bawel banget, memangnya kamu mau sama cowok begitu? Dia itu suka komplain. Cerewet banget dia itu..." Gosip wanita itu.
Clara kembali menyungingkan senyuman yang tulus, "Dia baik kok Tante. Dia kaya gitu juga demi kebaikan. Soalnya dia juga pernah komplain tentang Clara, yang ini lah yang itu lah.. awalnya memang agak kesal, tapi lama lama kalau di pikirkan maksud dan tujuan Alvaro itu untuk kebaikan Clara. Dan itu sangat berguna sekali untuk Clara bisa lebih intropeksi diri."
Mendengar jawaban Clara membuat wanita paruh baya itu senang. Dia sekarang percaya kalau wanita yang dibawa Alvaro ini adalah wanita yang baik dari cara menjawabnya.
"Ya udah kalau gitu. Kita sama sama ke depan yuk," ajak wanita itu.
"Oh iya Tante, dengan senang hati."
Clara dan wanita itu pun jalan bersama ke depan.
Tapi ada satu hal yang menjadi pertanyaan Clara, ibu ini siapa ya? Yang sudah pasti sih dia adalah salah satu anggota keluarga Alvaro. Tapi detailnya tak tau siapa.
Di depan sana sudah menunggu Alvaro dan keluarga besarnya.mereka tengah duduk meja sambil berbincang. Namun kehadiran Clara dan wanita itu membuat semuanya menghentikan pembicaraan seakan mereka menjadi pusat perhatian keluarga Alvaro sekarang.
Saat di depan meja Alvaro melihat ke arah Clara dengan segudang tanda tanya, sudah apa saja perbincangan yang Clara dan wanita ini. Apakah kedok mereka ketauan?
"Kamu ngak duduk di sebelah Alvaro nak?" Tanya wanita itu.
Clara pun mengangguk, "Eh, Iya Tante."
"Malam ma." Kalimat itu membuat kaki Clara terhenti saat dia baru saja mau memutar.
Clara berbalik dan melihat Alvaro dan Tante itu bergantian. Mama?
Wanita itu terkekeh melihat wajah Clara yang terkejut bukan main. "Saya ibunya Alvaro."