
'Apa yang terjadi padaku, kenapa aku sangat ketakutan jika Clara di miliki oleh orang lain?' itulah yang ada di pikiran Alvaro.
Clara melihat ke arah depan memperhatikan lalu lintas yang sepi kendaraan karena memang melalu tol.
Alvaro kembali meneguhkan hatinya kalau dia berjuang untuk menyelesaikan misi bukan untuk memenangkan hati Clara.
Oh ayolah Al, apa yang kau pikirkan? Clara adalah sumber mala petaka dan kenapa kau malah mencoba mempertahankannya? Lupakan itu Al, lupakan!
Tangan Alvaro terasa sangat panas dan terbakar saat dia menyetir mobilnya pulang ke rumah. Alvaro menepikan mobilnya dan kemudian memegang pergelangan tangannya sambil mengigit bibir bawahnya menahan sakit.
"Al, kamu tak apa?" Tanya Clara sambil dengan perasaan risau.
Alvaro menarik nafas dalam dalam dan kemudian mengeluarkannya saat panas itu sudah mulai reda.
Alvaro melihat tangannya kini terdapat di angka 10. Alvaro tersenyum, sungguh tak sia sia dia melakukan kebaikan kemarin, lihatlah dia menuai hasilnya.
Alvaro melihat ke arah Clara, "Teruslah bahagia Cla, aku ingin kau seperti ini."
Clara memiringkan kepalanya bingung, lelaki ini baru saja menahan sakit di tangannya tiba-tiba malah mengatakan hal yang tak ada hubungannya dengan keadaannya tadi , "Apa kamu baik baik saja?"
Alvaro mengangguk, "Tentu saja, kau pikir aku kenapa?"
Clara menggaruk kepalanya, "Ntahlah Al, seperti aneh saja."
Alvaro mengacak rambut Clara, "Jangan terlalu banyak berpikir, kau akan pusing. Aku tau seberapa kapasitas otakmu, makanya jangan di paksa."
Clara merasa jengkel juga dengan kata kata Alvaro, walaupun memang benar adanya. Clara kembali melihat ke arah jalan dengan wajah merenggut.
Alvaro terkekeh singkat dan mencubit pipi Clara, "Jangan marah, aku bercanda."
Deg!
Kenapa Alvaro jadi manis seperti ini? Clara menahan dirinya agar tidak baper seketika itu juga, karena dia tau kalau dirinya baper pasti pipinya akan segera jadi memerah dan itu pasti sangat memalukan.
Alvaro kembali terkekeh, "Ingat kalau aku bisa baca pikiran?" Alvaro mengingatkan.
Clara menutup wajahnya, habis sudah dia sangat malu sekarang.
Alvaro kembali mengendarai mobilnya.
***
Setelah sampai di rumah Alvaro hanya memberhentikan mobilnya di depan gerbang, "Kau masuklah. Aku mau lanjut kerja."
"Kerja? Tapi kita kan baru pulang."
Alvaro mengedikkan bahunya, "Pekerjaan ku tak dapat di tinggalkan karena itu yang terpenting." Jelas lelaki itu.
Clara memaklumi karena Alvaro memang worker holic. Clara mengangguk, "Kalau gitu semoga lancar ya kerjaannya." Sambung Clara.
Alvaro mengangguk. Clara keluar dari mobil Alvaro dan Alvaro pun melajukan mobilnya.
Clara melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam rumah, Clara kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa ketika di tinggal Alvaro yaitu home industry pembuatan kue.
Hari ini pesanan Clara memang sedang banyak banyaknya tapi tak terasa begitu berat karena hari ini mood Clara sangat bagus karena Alvaro.
Setelah menyelesaikan semuanya Clara hendak mengantar makan itu melalui jasa pengiriman online semuanya, namun ternyata ada satu nama yang menginginkan untuk Clara mengantarkan langsung padanya. Clara tak masalah dengan hal itu apa lagi lokasinya dekat, demi kepuasan pembeli Clara pun mengantarkannya.
Clara keluar dari rumah dan mengantarkan pesanan tersebut. Sang pembeli sangat senang berjumpa dengan Clara, ternyata pembeli itu adalah pelanggan setianya sejak pertama kali Clara memulai bisnis ini.
Clara senang melihat pelanggannya senang. Karena telah menyelesaikan semua hantaran Clara pun pulang.
Clara berangkat dan pulang menggunakan sepeda tua yang ada di gudang Alvaro, sepeda itu tak pernah di pakai namun tak terlalu buruk juga jika di gunakan. Jadi Clara mengunakan sepeda itu sebagai kendaraannya tadi.
Saat Clara melajukan sepedanya Clara terkejut melihat keberadaan Viandro yang tak jauh dari tempatnya. Clara berharap lelaki itu tak melihatnya dan membocorkan kegiatannya pada Alvaro mengingat lelaki itu suka mengadu domba. Clara segera bersembunyi bersama dengan sepedanya.
Viandro yang tengah berjalan sendiri kini hendak menyeberang. Memang jalanan tengah sepi, Clara menunggu Viandro pergi menjauh dari tempat ini baru dia kembali menjalankan sepedanya pulang ke rumah.
Tapi ntah datang dari mana sebuah mobil dengan sangat kencang melaju ke arah Viandro tanpa di sadari lelaki itu yang sibuk dengan hpnya.
Deg!
Viandro dalam bahaya!
Mobil itu kencang sekali. Dan gila seperti kehilangan kendali.
"Viandro!" Jerit Clara namun lelaki itu masih berkutat pada hpnya.
Astaga!
Tanpa berfikir panjang Clara berlari ke arah Viandro hendak menolong lelaki itu, "VIANDRO AWAS!!!"
Kali ini jeritan Clara terdengar oleh Viandro, Viandro menoleh ke sebelah kirinya dan melihat mobil dengan sangat kencang melaju ke arahnya.
Brak!!
Viandro tertabrak dengan tubuhnya tercampak ke trotoar sekitar 3 meter dari jaraknya tadi.
"TIDAK!!!"
***
"Misi sudah berhasil Tuan," ucap seseorang yang tengah membersihkan mobilnya dari cipratan darah dari korban yang baru saja dia hantam.
Lelaki yang ada di seberang sana tersenyum miring, "Sudah kau pastikan dia tak mati di tempat bukan? Aku ingin melihat dia mati tersiksa."
"Tidak Tuan, dia hanya terpental beberapa meter dan mengeluarkan banyak darah. Jika tak langsung di tangani mungkin dia akan mati."
Lelaki yang ada di seberang telepon pun tersenyum miring, "Ah... Baiklah kalau begitu. Aku akan mengirimkan uang padamu."
"Baik Tuan. Terimakasih."
Tut Tut Tut
Sambungan terputus. Alvaro tersenyum miring, "Sudah aku katakan, aku tak akan membuat hidupmu tenang sampai ke liang kubur."
***
Clara dengan panik mundar mandir di depan ruangan IGD dia sangat takut akan Viandro. Apakah dia akan selamat? Darah yang keluar dari tubuhnya sangat banyak tadi.
Pintu ruangan khusus itu terbuka dan segera Clara menjumpai sang dokter, "Dok, bagaimana keadaannya?"
Sang dokter melihat Clara dengan datar, "Pasien kekurangan banyak darah dan membutuhkan transfusi darah yang banyak pula. Kita membutuhkan pendonor-"
"Saya saja dok! Saya memiliki golongan darah yang sama dengan beliau!" Ucap Clara mengingat dia dan Viandro memiliki golongan darah yang sama.
"Baiklah, tapi kami harus memeriksa terlebih dahulu kesehatan ibu dan melakukan beberapa pengecekan. Ibu bersedia?"
Clara mengangguk pasti, "Baik dok. Akan saya lakukan!"
***
Alvaro pulang ke rumah dan mencari keberadaan Clara, dimana dia? Kenapa sedari tadi Alvaro mencari dia tidak ada?
Alvaro menelpon Clara tapi tak di jawab, Alvaro memanggil salah satu pelayan. "Dimana Clara?"
Sang pelayan menunduk, "Tadi Clara pergi ke luar Tuan. Katanya ada yang harus di kerjakan sebentar. Tapi sampai sekarang belum kembali."
Alvaro merasa sedikit panik, "Jam berapa dia pergi tadi?"
Sang pelayan mulai mengingat, "Jam 12 siang Tuan."
Alvaro melihat ke arah jamnya, "Tapi ini sudah 8 malam. Kenapa dia belum balik?!"
Alvaro menatap tajam sang pelayan, "Panggil semuanya menghadapku!"
Segera sang pelayan memanggil rekannya menghadap Alvaro,
Alvaro menatap tajam mereka semuanya, "Cari Clara sekarang juga!!"
Semuanya menunduk dan segera mencari Clara.
Alvaro pun segera keluar rumah dengan tergesa gesa.
Wanita itu sangat keterlaluan, sudah di berikan kebebasan malah melunjak! Lihat saja, jika dia sampai bertemu dengan Clara dia akan memberikan hukuman berat padanya!