My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Forty four



"Kalau aku ngak mau gimana?"


Aduh... Clara jadi pusing sendiri.


Clara menyatukan tangannya memohon, "Untuk malam ini saja."


Alvaro mengubah posisinya menjadi duduk, lelaki itu memperhatikan wajah Clara yang memohon padanya. Hatinya merasa tak tega jadinya.


Tunggu. Sejak kapan Alvaro jadi orang yang bersimpati?


"Ya... Please... Maafkan kata-kata saya yang tadi Tuan. Saya sudah berbicara tak sopan," Clara kembali berbicara dengan formal seperti biasa.


Alvaro membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menepuk punggungnya, "Pijatin aku sekarang jika kamu masih mau tidur di sini."


Clara tersenyum lebar dan mengangguk, dia baru sadar Tuannya ada sifat kemanusiaan juga. "Baik Tuan!"


Clara pun naik ke atas tempat tidur Alvaro dan mulai mengusuk Alvaro walaupun tanpa minyak urut, hanya di tekan-tekan saja.


Alvaro tersenyum kecil di balik bantalnya. Walaupun Clara mencoba menjauh darinya dia takkan bisa, karena Alvaro yakin Clara itu tak dapat hidup tanpanya, Clara tercipta hanya untuknya


Lama memijat Alvaro rasanya tangan Clara pegal juga. Clara memegang bahunya yang pegal. Sejak dari tadi Alvaro di pijat lelaki itu masih saja belum tidur, dia tau kalau setelah memijat dirinya Clara pasti akan kembali tidur di atas ambalnya itu, hal itu lah yang tak diinginkan Alvaro, dia ingin Clara tidur di sebelahnya malam ini. Dia merindukan memeluk wanita ini dalam waktu yang lama.


Saat Clara hendak beranjak Alvaro segera menarik Clara dan mendekap Clara dengan posisi tidur yang nyaman.


Clara membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang, kejadian ini sangat tiba-tiba dan menurutnya gila.


Clara menoleh ke arah Alvaro. Lelaki itu terlihat tertidur dengan mata tertutup sambil memeluknya dengan sangat erat.


"Aduh, bagaimana ini?" Batin Clara.


Clara melihat perutnya, dimana tangan Alvaro melingkarkan disana. Clara mencoba mengangkat tangan Alvaro perlahan untuk melepaskan pelukan Alvaro.


Dreb!


Alvaro malahan semakin mengencangkan pelukannya membuat Clara terbelalak. Sangat tidak aman bagi jantung Clara.


Clara berusaha berfikir lebih, "Apa aku bangunkan saja ya?"


Alvaro berdecak kesal. Tenang aja gak bisa apa ya ni orang? Udah nyaman gini pun masih mau di lepas. Alvaro jadi dongkol sendiri.


"Tuan?" Panggil Clara.


Alvaro tak mau menjawab.


"Tuan?"


Masih tak ada jawaban.


Clara sedikit mengguncang tubuh Alvaro, "Tuan, bangun."


"Ish, diam!" Kata Alvaro sambil tertidur.


Clara menghembuskan nafas lelah. Ini tak semudah di bayangkan.


Clara kembali menjauhi Alvaro sambil mendorong Alvaro untuk melepas diri, "Lepas dong." Batin Clara.


Alvaro dongkol sendiri dengan Clara, kenapa wanita sepertinya sangat tak peka coba? Bisa-bisanya dia malah menghindar.


Alvaro membuka matanya dan menatap Clara tajam, "Tinggal tidur aja apa susahnya sih? Diam aja di sini. Paham?"


Clara mengedipkan matanya berkali-kali, "Tuan belum tidur?"


"Udah tadi!


Tapi karena kamu banyak bicara aku jadi terbangun!"


Clara langsung kicep.


Alvaro memeluk Clara sambil tertidur. Bahkan pelukannya menyelimuti tubuh Clara, "Tutup matamu dan tidurlah."


Clara masih syok berat dengan kejadian ini. Apa yang terjadi di dalam otak Alvaro?


Deg!


Clara segera menutup matanya mendengar ancaman Alvaro. Alvaro tak pernah main main bukan jika memberikan suatu ancaman? Tentu saja Clara tak mau.


Alvaro melihat Clara menutup matanya rapat-rapat merasa sangat terhibur, terlihat seperti anak kucing yang ketakutan. Lucu sekali.


Alvaro pun menutup matanya dan mulai tertidur.


***


Semalaman suntuk ini Clara sama sekali tak tertidur. Dia sama sekali bisa berisitirahat karena kejadian kemarin yang masih berlanjut sampai pagi ini.


Clara melihat ke arah jam, sudah pukul 4, Clara sedikit mengguncang tubuh Alvaro, "Tuan, saya harus menyiapkan segalanya untuk Tuan pagi ini.


Alvaro membuka matanya dan melihat wajah Clara yang begitu dekat dengannya, "Ini Minggu, bodoh."


Nusuk banget di hati Clara, di pagi hari yang seharusnya dapat kata kata semangat malahan dapat kata kata ulti dari mulut Alvaro. Sungguh tak punya hati.


Clara menutup matanya menahan emosi. Sabar Clara, kamu harus terbiasa dengan si Alvaro.


Alvaro melonggarkan pelukannya dan Clara pun keluar dari rangkulan Alvaro. "Hari ini siapkan sarapan untukku," kata Alvaro singkat.


Clara duduk melihat Alvaro. Dia rasa lelaki ini memang tak memiliki hati sama sekali, bisa-bisanya Alvaro langsung menyuruh Clara untuk melayaninya setelah apa yang di lakukannya tadi malam yang memeluknya tanpa rasa berdosa.


Alvaro memutar bola matanya malas dan bangkit dari tempat tidurnya segera mengambil handuk untuk mandi, "Dan jangan lupa siapkan bajuku, aku mau berjumpa seseorang pagi ini." Alvaro masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Clara menganga tak percaya.


"Buset, memang lelaki berengsek," Clara menggeleng melihat tingkah laku Alvaro.


"Ah, biarkan saja, lebih baik aku kerjakan saja lah tugasku. Hari ini juga banyak kerjaan yang harus di selesaikan bukan? Kalau meladeni orang seperti Alvaro yang ada aku malah tambah gila."


Clara pun beranjak dan menyediakan pakaian Alvaro lalu meletakkannya di atas tempat tidur setelahnya dia pun pergi ke dapur untuk memasak sarapan.


Tepat setelah Clara selesai masak Alvaro keluar dari kamar berjalan menuju ruang makan. Clara pun meletakkan piring beserta sandwich di atasnya, tak lupa dengan jus jeruk untuk menetralkan.


"Silahkan di makan Tuan,"


Alvaro melihat ke arah Clara, "Mana sarapanmu?"


Pertanyaan Alvaro membuat dia bingung, "Sarapan saya?" Ulang Clara.


Alvaro mengangguk, "Apa kamu tidak sarapan?"


Otak Clara kembali memproses kalimat Alvaro. Tunggu, barusan lelaki itu bertanya tentang apa yang dia makan? Tumben. Bukannya Alvaro selalu tak memperdulikan dirinya, kenapa jadi tiba-tiba jadi care?


Alvaro berdecak malas, wanita ini terlalu lama berfikir hal-hsl yang tak perlu di pikirkan, memangnya kenapa kalau dia bertanya. "Apa kamu tuli?" Sentak Alvaro membuat Clara tersadar.


"Oh, iya Tuan. Nanti saya sarapannya setelah Tuan," sambung Clara.


"Ambil sarapanmu ke sini. Kita sarapan bareng."


Clara mundur satu langkah kaget. Apa ini sungguh Alvaro? Kenapa berubah? Padahal baru saja Alvaro berkata kasar padanya di kamar, kenapa jadi perhatian begini?


"Heh, apa aku perlu mengambilkan sarapanmu princess? Kamu membuatku mengunggu lama," sindir Alvaro dengan mata nyalang menahan emosi karena lama sekali menunggu wanita ini merespon.


Clara menggeleng, "Tidak Tuan, saya akan segera mengambil sarapan saya."


Clara pun mengambil sarapannya yang berisikan nasi dengan ikan dencis sambal dan juga tumis buncis.


Clara duduk di hadapan Alvaro dimana Alvaro terus saja memperhatikannya.


Alvaro melihat sarapan Clara dan menukarkan piringnya dengan piring Clara. Lelaki itu melahap sarapan yang seharusnya milik Clara itu dengan santai.


Clara membelalakkan matanya. "Tuan itu-"


"Apa? Aku ingin memakan ini. Terus masalah?"


Clara menutup mulutnya rapat. Ini sangat aneh, sungguh.