My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
sixty seven



Alvaro membuka matanya. Terlihat banyak orang berbaju hijau tengah mengelilinginya yang sedang terbaring.


Tit tit tit tit


Bunyi mesin medis EKG terdengar sangat menganggu itu membuat Alvaro semakin kebingungan.


"Mujizat!"


Alvaro yang sempat terbangun kemudian kembali menutup mata kelelahan.


***


Alvaro membuka matanya perlahan. Awalnya terasa silau namun kemudian kornea matanya dapat menangkap situasi yang ada di sekitarnya. Alvaro terbangun dan melihat sekitarnya lebih fokus.


Dia di rumah sakit. Dan berbaring?


Alvaro hendak bangun namun badannya semua terasa sangat ngilu.


"Perlahan. Tubuhmu sangat tak stabil sekarang." Ucap seorang wanita yang tak asing di telinga Alvaro.


Alvaro menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang wanita, wanita yang membuat dia segera menangis haru dan tak dapat berkata kata.


Wanita itu seketika merasa empati dengan lelaki yang tengah menangis ini. Dia rasa Alvaro merasa sangat kesakitan setelah kejadian yang hampir membunuhnya itu. Pembunuhan yang di lakukan oleh mantan pacarnya yang begitu kejam memutuskannya beberapa saat lalu.


Clara mengusap wajah Alvaro, "Sakit sekali ya? Sabar lah. Dokter akan menanganimu. Kamu akan selamat."


Alvaro menahan tangan Clara tetap menempel pada pipinya. Lelaki itu semakin meneteskan air matanya, ini sangat nyata seakan Clara sungguh masih hidup seperti sekarang.


Clara segera melepaskan tangannya, rasanya akan sangat canggung jika tangannya di genggam oleh seseorang asing seperti Alvaro.


Clara baru berjumpa dengan Alvaro hari ini dan itu pun karena Clara membututi Viandro ke suatu tempat asing. Viandro yang mencoba membunuh saudara kembarnya membuat Clara sangat mendidih dan jijik melihat Viandro.


Dia tak sangka Viandro sesadis itu dengan saudaranya kembarnya. Yang sangat mirip, sedarah dan serahim dengannya. Sungguh tak manusiawi!


"Aku akan membela kasus kamu. Aku juga tak terima dengan perbuatan Viandro kepadamu. Aku akan menjadi saksi pembelamu." Kata Clara dengan tegas dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Alvaro mengangguk dan kembali menarik tangan Clara, "Iya sayang. Terimakasih untuk semuanya."


Clara yang kaget kembali menarik tangannya, "Maaf. Sayang?"


Alvaro mengerutkan keningnya, apa yang terjadi pada Clara. Kenapa ini terasa sangat asing?


"Aku dan kamu baru berjumpa di malam ini. Dan bagaimana kamu menyebutku dengan kata sayang?" Clara menggeleng tak percaya.


Alvaro semakin bingung bukan main.


Lelaki itu melihat Clara dengan serius, "Sayang, aku ini suami kamu."


Clara syok mendengar ucapan Alvaro, bagaimana bisa dia sudah menikah dengan lelaki ini, dia sendiri bahkan tak mengenali Alvaro dan bahkan namanya saja Clara tak tau. Bagaimana bisa dia mengatakan kalau Clara adalah istrinya.


"S-sepertinya kamu butuh istirahat." Clara mencoba menenangkan Alvaro dan membatunya untuk berbaring lebih nyaman.


"Hati-hati!" Clara membantu Alvaro untuk duduk dengan posisi benar.


Alvaro melihat tubuhnya yang penuh dengan luka dan jahitan. Alvaro menggeleng, "Clara kamu jangan buat aku semakin sedih."


Deg!


Bagaimana lelaki ini mengetahui namanya? Dia bahkan tak pernah perkenalan sebelumnya.


"Tunggu. Sepertinya memang ada sesuatu yang salah di pikiran kamu." Clara menahan nahan tangannya di hadapan Alvaro.


"Baiklah, aku akan menceritakan yang sebenarnya terjadi. Aku baru putus dengan kembaranmu dan aku membuntutinya ke suatu tempat Nyang aneh setelah putus. Aku sedikit kecewa dengan ucapan Viandro, terjadi sangat tiba-tiba, jadi aku memutuskan untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dan setidaknya aku bisa tenang.


Alvaro terngiang sesuatu, ah jangan jangan ini.


"Tunggu, apa katamu? Kita baru berjumpa?"


Clara mengangguk.


Alvaro memegang kepalanya, sambil mengingat kejadian kematiannya dulu, "Kamu membawaku keluar dari rumah gas beracun?"


Clara kembali mengangguk.


Yaps, benar. Dia sungguh kembali ke masa di mana dia mati.


"Bagaimana aku bisa kembali hidup bukannya aku seharusnya sudah mati." Gumam Alvaro yang terdengar Clara.


"Kamu tadi sempat di nyatakan meninggal. Namun Tuhan memberikan mujijat aku bahkan sangat terkejut. Itu kejadian yang sangat luar biasa. Kamu selamat dari kematian.


Alvaro menatap Clara sedih. Satu hal yang ada dalam benaknya adalah Clara pasti tak akan merasakan cinta seperti yang dulu dulu padanya. Semuanya telah hilang.


Dada Alvaro terasa sesak mendengar itu. Wanita satu satunya yang dia cintai telah melupakan dirinya. Alvaro memegang dadanya, hatinya sangat terluka.


Clara memegang bahu Alvaro seketika kuatir dengan lelaki itu yang tampak semakin pucat, "Kamu tak apa? A-aku akan memanggil dok-"


Alvaro menahan tangan Clara, "Tak perlu. Aku hanya butuh istirahat."


Alvaro dengan perlahan membaringkan tubuhnya di bantu Clara, "Hati-hati."


Alvaro melihat ke arah Clara, "Jangan pergi ku mohon. Tetaplah di sini."


Clara sebenarnya ingin menolak Alvaro. Tapi dia tak setega itu meninggalkan orang yang sedang di landa musibah seperti Alvaro.


Clara mengangguk dan kembali duduk di kursi sebelah tempat tidur Alvaro.


Alvaro walaupun merasa sangat sedih, tapi setidaknya melihat Clara yang memperhatikannya membuat dia merasa lebih baik.


Beberapa hari pemulihan keadaan Alvaro, kini Alvaro setidaknya sudah bisa melakukan persidangan.


Clara yang menjadi saksiakan pembunuhan yang di lakukan Viandro pun menjalani serangkaian tes dan berbagai wawancaranya sebelum di sidangkan.