
Clara melompat-lompat kegirangan di kamarnya. Dia senang sekali hari ini, dia bisa gila sekarang ini juga.
Bagaimana tidak, lelaki yang dia idolakan selama ini sekarang menjadi pacarnya. Seorang yang sangat tampan dan mapan berpacaran dengan wanita nerd sepertinya. Astaga ini sungguh gila!
Clara membanting tubuhnya di atas ranjang dengan nafas memburu selepas menggila. "Aku sangat senang!"
Drettt
Hp Clara berdering. Clara segera mengambilnya dan melihat nama siapa yang tertera di sana, dia harap itu Viandro.
Wajah Clara segera merengut setelah melihat nama kontak itu. Lelaki ini pasti akan merusak harinya yang indah ini, malah udah malam lagi.
Clara rasanya kesal sekali dan tak mau menjawab telpon lelaki itu, tapi jika tidak takutnya lelaki ini akan mengamuk, membayangkannya saja sudah membuat Clara merinding.
Clara menekan layar berwarna hijau,
"Kenapa kau tak menelpon ku?! Tidak bersyukur kah kau?! Kau pikir kau bisa jadi pacar Viandro itu karena siapa?! Kalau bukan karena aku yang merubah penampilanmu kau takkan bisa meraihnya!! Bodoh!!"
Clara menjauhkan hp itu dari telinganya, suara bariton itu sangat memekakkan telinga. Benarkan dia sangat menyeramkan. Belum lagi Clara mengucapkan sepatah kata ini malah sudah di sosor terus.
Clara kembali mendekatkan hpnya ke telinganya, "Maaf.." Clara ciut.
Memang ada benarnya juga omongan Alvaro. Tapi gak usah nge-gas juga kali.
Victor berdecih muak. Lelaki itu mengusap wajahnya, wanita ini memang sangat bodoh!
"Terus mulai sekarang kau harus lebih sering menelponku. beri tahu aku sudah sampai mana kalian berhubungan dan aku juga aku ada beberapa tugas untukmu untuk di lakukan. Paham?" Tekan lelaki itu.
Clara mengangguk, "Iya."
Tut
Tut
Tut
Sambungan telpon pun terputus sepihak oleh Alvaro. Clara mendengus kesal, "Dasar galak!" Kesal Clara.
Clara kembali melihat langit-langit kamarnya yang terlihat polos berwarna putih, "Tampaknya hari-hariku akan jadi makin sudah deh." Keluh Clara.
Alvaro tersenyum miring, akhirnya tujuan dia tercapai. Dia akan jadikan Clara menjadi mata-matanya untuk membunuh Viandro. Upss... Tak semudah itu, dia harus menyiksa lelaki itu secara badaniah dan juga jiwa. Dia akan merasa sangat puas juga harapannya itu tercapai hingga 100%.
Alvaro kembali menatap layar laptopnya yang tertera semua rencana kejam yang akan dia lakukan. "Nyawamu ada di tanganku Viandro. Kau tak dapat melepaskan dirimu."
***
Clara terbangun dari tidurnya dan melihat jam dinding. Sudah pukul 4 pagi dan sekarang waktunya beberes-beres. Clara merapikan peralatan dan baju uang akan di kenakannya, memasak sarapan dan setelahnya sarapan dan mandi. Setelah semuanya beres Clara segera berangkat.
Drett
Hpnya bergetar membuat dia kembali melihat ke arah Hpnya,
Clara mengerucutkan bibirnya, "Ish! Masih pagi juga! Mau merepet lagi?! Arh!"
Clara terpaksa mengangkat hpnya, "Ha-"
"Kau sudah pakai pakaian yang ku belikan kan? Sudah kenakan make up? Awas saja jika aku melihat ku terlihat gembel seperti biasanya, aku akan membunuhmu!" Ancam Alvaro dan segera mematikan hpnya sebelum mendapatkan jawaban dari Clara.
Clara dengan kesal membuat gerakan seperti memukul-mukul layar hpnya. Tapi tak sungguhan di pukul karena dia tau dia tak punya uang lagi untuk menggantinya.
Clara mendesis dan kemudian berbalik melihat kaca, wanita itu mengambil make up dan mulai merias dirinya.
Ahk... Sungguh menyusahkan!
***
Clara masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mulai bekerja. Tak lama setelah itu ada seseorang yang tampan datang ke dalam ruangannya, lelaki itu tersenyum tipis dan segera berjalan ke arahnya dengan sebelumnya menutup pintu agar tak ada yang mengusik mereka nantinya.
Jantung Clara kembali berdetak kencang. Apakah dia terkena serangan jantung sekarang? Tapi tunggu, dia tak memiliki riwayat jantung. Oh astaga, jantungnya semakin tak karuan.
Lelaki itu berdiri di belakang Clara dan kemudian memeluk gadisnya itu, "Sayang,"
Aaa!! Rasanya Clara ingin sekali menjerit sejadi-jadinya, tapi dia sadar dia pasti akan di pikir orang gila nantinya.
"A-aku sudah makan," jawab Clara cepat.
Viandro terdiam. Wait a minute, ini cewe dari alam apa sih? Di ajak makan sama pacar kenapa malah di tolak? Dia mau gitu kalau pacarnya makan sama cewe lain huh?
Sedangkan dari seberang jauh sana seorang lelaki menepuk jidadnya. Lelaki itu sebelumnya sudah meletakkan perekam yang di letakkan di tas Clara beberapa jam yang lalu sebelum mengantar Clara sampai ke kantornya untuk mengetahui perkembangan hubungan Clara dan Viandro.
Siapa pagi kalau bukan Alvaro.
"Dasar bodoh! Wanita itu selalu saja bodoh! Apa dia sungguh idiot?!" Maki Alvaro.
Viandro terkekeh singkat, "Yang, tapi aku maunya makan sama kamu. Mau ya?"
"Terima bodoh! Jangan di tolak!" Kata Alvaro seakan-akan berbicara kepada Clara.
Clara mengusap tengkuknya, "A anu. Aku sungguh sudah kenyang. Kalau kamu laper banget langsung aja makan deluan, hehe."
Alvaro menutup wajahnya. Pasrah. Wanita ini sungguh di luar nalar, otaknya sangat kecil.
Viandro mengangguk, "Baiklah. Kalau begitu aku makan dulu. Kamu lanjut saja kerjanya, semangat kerjanya ya.."
Clara tersenyum dan mengangguk, "Siap!"
Viandro keluar ruangan dan menggeleng, "Dia sangat aneh."
Alvaro menghembuskan nafasnya berat. "Sepertinya aku harus mengajarkan sesuatu pada otak kecilnya itu agar bisa bekerja."
***
Clara tersenyum girang sepanjang perjalanan. Wanita yang menggunakan kereta matik dengan helm bulat itu merasa bahwa hatinya sangat berbunga bunga, karena perilaku manis Viandro padanya tadi pagi.
Tapi setelah kejadian tadi pagi Clara selalu kabur saat melihat Viandro. Dia malu sekali setiap berjumpa dengannya, jadi dia memutuskan untuk sembunyi setiap kali melihat Viandro. Alhasil, dia hanya berjumpa Viandro pagi ini saja, selebihnya tidak.
Cittt
Tiba-tiba ada mobil hitam mewah menghalangi jalannya dan berhenti di depan Clara membuat Clara Seketika memberhentikan keretanya.
Clara mengerutkan keningnya dan sangat marah, hampir saja dia tertabrak. Apakah orang yang di dalam mobil itu tak punya sopan santun? Apa dia tak tau peraturan apa?
Clara mencagak keretanya. Melodi berjalan ke arah pintu mobil itu, namun kemudian pintu itu terbuka dan sosok yang keluar dari mobil itu malah membuat Clara mundur perlahan.
"Kau itu sungguh sangat tak berguna!" Bentak lelaki itu.
"Aku? Kenapa?" Tanya Clara balik.
Lelaki itu mengusap wajahnya gusar, "Kau tau. Viandro itu sudah ada dalam genggamanmu, tapi kenapa kau malah bertindak bodoh? Kau sama sekali tak peka dan tak tanggap! Setiap kali Viandro itu mengajakmu makan atau apalah itu ya terima aja lah! Apa susahnya? Masa di ajak makan aja gak mau, kau mau kalau pacarmu itu di rebut orang? Sudah kan dapetinnya kenapa malah di anggurin! Bego!"
Clara mengerucutkan bibirnya. Ini orang suka merepet mulu, asal jumpa selalu saja di marahi. Nanti pecah pembuluh darah baru tau.
"Hoh, kenapa ekspresi mu huh? Kau masih merasa benar?"
Clara menggeleng.
"Jawab, jangan geleng doang!"
"Iya aku salah," jawab Clara.
Alvaro menunjuk jidad Clara, "Aku akan mengisi otak kosongmu sekarang juga. Ikut aku."
"T-tapi aku-"
"Tak ada bantahan! Ikuti saja!"
Clara menoleh ke arah sepeda motornya, bagaimana nasib keretanya? Malah itu semata wayang lagi.
Alvaro melihat arah pandangan mata Clara, "Itu akan sampai ke rumahmu. Intinya kau ikut aku sekarang!"
Clara menunduk dan mengangguk.
Ck. Galak!