
Alvaro merangkul pinggang Clara. "Kau tau kau sangat menyebalkan Clara?"
Clara mengerutkan keningnya. Apa lagi yang mau di katakan Alvaro? Apakah Alvaro masih mencari gara-gara lagi?
Alvaro tersenyum tipis dan menggeleng. "Tuh kan nyebelin. Aku padahal ngak ada niat cari gara-gara."
Clara mengalihkan pandangannya, "Ya sudah, aku mau kembali ke kamar." Clara ingin cepat cepat lepas dari pelukan Alvaro. Jantungnya tak karuan.
"Kamarku?" Alvaro menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum miring menggoda Clara.
Clara membelalakkan matanya dan menatap Alvaro marah, "Al-"
"Aku mencintaimu."
Deg!
Bibir Clara seketika menjadi kaku. Dia tak salah dengar kan?
Alvaro mendekatkan wajahnya ke telinga Clara agar Clara mendengarnya lebih jelas, "Aku mencintaimu."
Alvaro menatap mata Clara dalam. Lelaki itu mengelus pipi Clara dan kembali melihat mata Clara dengan serius, "Bagaimana aku harus lakukan huh? Kau selalu membuatku kacau."
"Kau membuatku terus ada di pikiranku sekalipun aku mencoba membuangnya jauh-jauh. Kau selalu ada di sana," kini Alvaro tak dapat membendung perasaannya.
Clara tak menjawab apapun. Dia bahkan tak tau harus berbicara apa lagi.
"Kau tau kenapa aku selalu melakukan hal ini? Kenapa aku tak mau kau berdekatan dengan siapapun bahkan sekalipun itu seorang wanita? Karena aku cemburu Clara. Aku cemburu."
Alvaro memeluk Clara dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Clara dan mencium lehernya, "Aku hanya ingin aku yang ada di seluruh bagian tubuhmu. Aku dan hanya aku."
Clara menahan bahu Alvaro namun lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya, "No... Jangan menjauhkanku darimu. Aku tak mau."
"Hanya kau yang membuatku begini Clara, kau harus tanggung jawab Clara. Aku kacau." Desak Alvaro.
Hati Clara pun seperti melompat rasanya. Mendengar pengakuan Alvaro membuat dia sangat bahagia dan senang, namun kuatir juga meliputi hatinya.
Clara takut dia akan mengulang kesalahannya yang dulu. Dia takut menjadi wanita yang tersakiti seperti dulu. Dia tak ingin membuat dirinya semakin hancur dalam hal percintaan.
"Percayalah aku berbeda Clara. Aku takkan membiarkan hal itu terjadi. Aku bukan orang yang sama yang menyakitimu, aku adalah Alvaro Dirgantara, lelaki yang akan memegang apapun ucapannya dan bertanggung jawab akan segala hal yang dia ucapkan."
Alvaro menatap Clara begitupun Clara menatap lelaki itu dengan sungguh, "Aku tak terlalu yakin lagi tentang cinta Al. Mereka menyakitkan."
Clara meneteskan air mata mengingat begitu jahatnya Viandro yang mencampakkannya dahulu. Begitu kejam baginya hingga Clara trauma mencintai.
Alvaro menyentuh pipi Clara lembut, "Aku mencintaimu tanpa syarat. Bukan karena suatu alasan, tapi aku mencintaimu sepenuhnya, apapun yang ada padamu aku menyukainya."
Clara terdiam dan kemudian mulai bicara, "Apa kamu yakin?" Tanya Clara.
Alvaro mengangguk, "Tentu saja. Aku mencintaimu."
Clara menahan senyumnya, dia sangat senang namun dia tak mau terlihat terlalu berlebihan.
Cup
Clara terbelalak saat Alvaro menciumnya.
Alvaro tersenyum miring, "Aku dapat membaca pikiranmu. Jangan mencoba menyembunyikan perasaanmu."
Alvaro menarik tengkuk Clara dan kembali mencium Clara dengan full senyum, dia senang sekali Clara pun mencintainya sama seperti dirinya yang mencintai Clara.
Alvaro menuntun wanita itu untuk melingkarkan tangannya di leher Alvaro dan memperdalam ciumannya sambil memeluk erat pinggang Clara.
Bibir Clara terlalu memabukkan untuk di lepaskan.
Clara melepaskan ciuman Alvaro dengan mendorong tubuh Alvaro menjauh, "Al. Jangan pernah lakukan ini lagi."
Alvaro merasa kecewa. "Kenapa?"
"Kita belum ada ikatan sah. Tidak ini salah."
Alvaro terdiam dan mengangguk. "Baiklah. Aku akan mengatur pernikahan kita, kita akan menikah besok. Dan aku pastikan semuanya terjadi."
Clara terbelalak, "B-besok?"
Clara mengerjap ngerjapkan matanya tak percaya.
Alvaro tersenyum tipis, "Persiapkan dirimu untuk besok ya calon istriku."
Lelaki itu pun tersenyum dan pergi meninggalkan Clara.
Clara memegang wajahnya, "Huh? Besok. Nikah? Al!"
Alvaro menutup telinganya, dia tak menerima penolakan. Intinya dia akan menikahi wanita itu besok. Dia pastikan acara ini akan mewah dan berkesan.
Alvaro tersenyum kemenangan.
***
Alvaro memang sudah gila. Hari ini sungguh terjadi pernikahan antara dirinya dan Clara. Pernikahan dengan sangat meriah dan juga dadakan ini membuat Viandro naik darah. Bagaimana bisa mereka malah menikah?
Viandro di undang oleh Alvaro, namun dengan pengawalan yang ketat pula, Alvaro tak mau kalau acaranya jadi berantakan jika membiarkan Viandro tanpa pengawasan, dan kenapa dia di undang? Karena jika tidak orang tuanya akan bertanya tanya dan malah semakin ribet. Jadi Alvaro tetap mengundangnya.
Dan di sisi lain Clara terdiam. Lelaki itu memang gila. Alvaro sungguh menikahinya hari ini!
Clara melihat lelaki itu tak percaya. Sungguh gila!
Alvaro yang merasa di tatap pun melihat Clara. Lelaki itu tersenyum tipis dan kembali mengalihkan pandangannya, dia sungguh tak sabar untuk malam nanti.
Clara melihat ke arah depan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, ini sungguh pesta pernikahannya. Pesta yang akan di adakan sekali setahun dalam hidupnya ini memang sangatlah mewah. T-tapi kenapa ini sangat mendadak?!
Alvaro yang dapat membaca pikiran Clara kembali tersenyum. Lelaki itu menarik pinggang Clara dan mencium pipinya, "Kenapa huh? Seharusnya kamu senang. Aku melakukannya dengan baik bukan?"
Clara menoleh ke arah Alvaro masih dengan wajah polosnya yang kebingungan.
Oh ayolah, kenapa wajah itu selalu saja menggodanya?
Cup
Alvaro mencium kembali Clara tepat di bibirnya, "Jangan menggodaku sayang. Aku sedang lapar."
Clara menundukkan kepalanya, astaga dia sangat malu. Pasti banyak orang yang melihatnya sekarang.
Alvaro terkekeh singkat. Lelaki itu menarik dagu Clara dan tersenyum miring, "I Love You."
Lelaki itu kembali mencium Clara.
Semua orang yang ada di sana bersiul dan bertepuk tangan melihat pasangan pengantin baru itu.
Clara membelalakkan matanya. Gila! Mereka sungguh menjadi bahan tontonan!
Aaa!!! Malu sekali!!!
***
Setelah semua selesai. Clara dan Alvaro kembali ke rumah mereka, dan percayalah jantung Clara semakin lama semakin berdebar.
Alvaro memeluk Clara posesif, "Mulai malam ini kita satu kamar."
Deg!
Jantung Clara semakin tak karuan.
Alvaro tersenyum miring dan berbisik, "Dan malam ini akan jadi malam yang panjang ya sayang."
Clara meneguk air liurnya dan melihat ke arah Alvaro yang sudah tak sabaran.
"Al-"
"Panggil aku sayang Clara." Omel lelaki itu.
Alvaro mengelus rambut Clara, "Clara kamu sangat cantik sayang. Cantik sekali."
Pipi Clara memerah, ntah kenapa dia terus saja merasa malu setiap kali lelaki itu menyentuhnya.
Alvaro menarik tengkuk Clara dan menciumnya, lelaki itu memperdalam ciumannya hingga berbunyi decakkan di antara pangutan bibir mereka. Dan jangan di tanya bagaimana dengan si supir yang berada sepasang kekasih baru sah ini, lelaki itu terus mengelus dada bersabar menghadapi cobaan hidup.