
Clara terbaring di tempat tidur pasien setelah melakukan transfusi darah. Memang Clara membenci Viandro tapi dia tidak sekejam itu membiarkan Viandro mati di hadapannya.
Clara beristirahat sebentar sebelum dia kembali menjenguk Viandro yang ada di ruangan lain. Transfusi darah yang di berikan ke Viandro jumlahnya lumayan banyak hingga Clara sedikit lemas setelah melakukan transfusi itu terutama dia adalah seorang wanita.
Setelah di rasa tenaganya sudah mulai pulih Clara pun menjenguk Viandro yang ada di ruangan intensif. Viandro masih belum sadarkan diri, kata dokter butuh waktu beberapa jam untuk kesadaran Viandro.
Sedangkan di rumah Alvaro sangat panik.
Buk!
Alvaro memukul stir mobilnya, "Kemana kau huh?! Mencoba kabur?! Dasar wanita tak tau diri!" Umpat Alvaro.
Sungguh Alvaro membenci Clara, dia menyesal sekali melakukan kebaikan pada Clara kemarin.
"Arh!!" Emosi Alvaro.
Clara yang ada di rumah sakit melihat Viandro jadi simpati padanya. Clara rasa pekerjaannya sudah selesai, kini dia harus segera pulang, sudah larut malam Alvaro akan marah besar padanya terutama dia tak ada memberi kabar apapun.
Clara membalikkan badannya dan hendak pergi meninggalkan Viandro untuk pulang ke rumah.
Tep
Tangan Clara di tahan. Clara menoleh ke belakangnya dan melihat Viandro yang masih menutup matanya menahan tangan Clara, "Clara jangan tinggalkan aku."
Clara terkejut, ternyata Viandro sudah sadar namun belum memiliki tenaga untuk menggerakkan badannya total.
"Maaf Vi, aku harus-"
"Ku mohon. Sebentar saja," Viandro membuka matanya memohon pada Clara.
Clara menghembuskan nafasnya berat. Dia tak tega juga meninggalkan Viandro tapi di sisi lain nyawanya dalam masalah besar.
Viandro menggenggam tangan Clara.
Lelaki itu baru tersadar kalau Clara adalah wanita berhati mulia, dia sangat menyesal pernah menyakiti hati Clara.
"Ra, maafkan aku yang selama ini-"
"Sudahlah, aku sudah melupakannya. Kamu istirahat saja, yang terpenting adalah kesehatanmu sekarang."
Viandro sangat tersentuh dan bahkan meneteskan air mata. Dia berjanji dalam hatinya, setelah dia sembuh dia akan meminta maaf secara serius dan bahkan akan berubah menjadi lebih baik lagi.
***
Pagi harinya Viandro terbangun dan kemudian melihat Clara yang masih ada di sisinya. Viandro tersenyum dan mengelus rambut Clara. "Seharusnya dulu aku sangat beruntung memilikimu dulu Ra."
Viandro mengembuskan napas berat, "Seharusnya aku sadar itu."
Clara mengangguk terbangun dari tidurnya dan sedikit terkejut melihat wajah Viandro yang sangat dekat dengannya. Clara menjauhkan wajahnya.
"Ehem, apa kamu sudah lebih baik?"
Viandro mengangguk, "Iya."
"Baiklah kalau begitu, aku harus segera pulang." Ucap Clara dan segera bangkit berdiri.
Viandro menahan tangan Clara, "Jangan. Tetaplah di sini."
Clara melepaskan tangan Viandro dan menggeleng, "Tidak bisa. Aku tidak bisa."
Clara segera keluar dari ruangan kamar intensif Viandro dan pulang.
"Aduh... Pasti Alvaro akan sangat marah."
Clara secepat kilat pulang ke rumah dan segera masuk ke dalam dengan mengendap-endap. Clara akan memberikan alasan nanti saja setelah Alvaro pulang dari kantor nanti, tapi jangan pagi ini, kalau pagi ini bisa berabe, hukuman pasti akan lebih besar nanti.
Clara tak melihat Alvaro. Clara menghembuskan nafas lega, untung saja Alvaro sudah pergi pikir Clara.
Clara mulai berjalan menuju rumahnya, baru saja Clara memegang gagang pintu kamarnya-
Aih.. habislah.
Clara membalikkan badannya, dia sudah sangat mengenali suara galak itu. Clara menunduk tak berani menatap Alvaro, "Al maaf-"
"MAAF? MAAF KAU BILANG?!"
Aduh, benerkan, feeling Clara dia akan mendapatkan hukuman.
Clara hendak memberitahu alasan kenapa dia tak pulang kemarin, "Tapi Al-"
"TAPI TAPI! AKU TAK TERIMA ALASAN! KAU HARUS DI HUKUM!"
Clara menghembuskan nafasnya lelah, baru saja pulang sudah dapat hukuman.
Alvaro menatap garang Clara memecahkan semua emosinya dari kemarin, "PUSH UP, SIT UP DAN PULL UP MASING MASING 200 KALI! CEPAT LAKUKAN!"
Clara membelalakkan matanya, "Huh?..."
"Oh... Masih mau melawan? Baiklah, SETELAH ITU BERSIHKAN SELURUH RUMAHKU TANPA TERKECUALI!"
Clara menganga.
"Aku memantaumu dari jauh asal kau tau. Jangan macam-macam denganku Clara! Aku akan memantaumu dari kantor!"
Clara seketika lemas, ini keterlaluan. Ini sangat kejam.
Alvaro tak perduli dan pergi meninggalkan Clara. Clara mau tak mau pun melakukan segala bentuk hukuman Alvaro dengan taat.
Wanita itu mulai dengan push up, sit up dan pull up.
Namun kepalanya mulai terasa pening dan sakit. Clara ingat apa yang di katakan dokter kalau dia perlu beristirahat, efek transfusi bisa membuat dia lebih merasa kelelahan. Terutama dia adalah seorang wanita yang setiap bulannya mengeluarkan darah secara alami menyebabkan tubuh lebih renta di bandingkan pria yang tak pernah mengalami fase seperti itu.
Clara masih memaksakan dirinya untuk melakukan sesuai apa yang di perintahkan Alvaro. Baru saja dia mengambil sapu dari gudang kepalanya sungguh sakit dan terasa seperti tertusuk.
"Akh!" Clara memegang kepalanya dan kemudian terjatuh tak sadarkan diri. Seorang pelayan wanita tak sengaja melihat Clara pun segera membawa wanita itu ke dalam kamar Clara dan mencoba menyadarkannya.
"Clara, Clara bangun."
Tapi Clara tak dapat di sadarkan. Sang pelayan pun mengambil inisiatif untuk memanggil dokter ke rumah, "Semoga tak terjadi apa apa padamu Clara."
Alvaro melihat cctv-nya dan melihat Clara yang tiba-tiba pingsan.
Alvaro tak percaya dan memikirkan untuk memberikan hukuman lebih parah lagi. Namun lama dia melihat video itu Clara masih diam walaupun sudah di periksa dokter yang baru datang.
Alvaro mulai cemas, tapi hatinya tetap menyangkal. "Aku takkan tertipu."
Beberapa lama waktunya Clara pun terbangun ketika sang pelayan dan dokter sudah tidak ada di tempatnya. Clara memegang kepalanya saat hendak duduk tapi di urungkan Clara karena merasa kepalanya masih sakit.
Clara menutup matanya sebentar dan mulai berfikir, "Aku harus menyelesaikan tugas rumah, Alvaro akan marah besar jika rumah ini masih terlihat kotor di matanya."
Clara meneguhkan hatinya dan kemudian bangun dari tempat tidur dan kembali melakukan aktivitasnya. Walaupun sesekali beristirahat Clara terus melakukan tugasnya.
Rumah Alvaro sebenarnya pun sudah bersih karena di bersihkan oleh para pelayan lain, tapi Alvaro pasti akan mencari setitik kesalahan untuk menjerumuskan Clara ke dalam hukuman baru jadi Clara membersikan ulang dengan teliti.
Clara melihat semua yang di kerjakannya baik dan setelah itu dia kembali duduk untuk minum sebentar. Kepala Clara rasanya sudah mau pecah tapi dia masih bertahan untuk menyelesaikan semuanya.
Rumah Alvaro yang luas membuat Clara sungguh kewalahan, bahkan dia baru saja menyelesaikan setengah dari pekerjaannya kepalanya sudah goyang.
Sang pelayan yang menolong Clara tadi terkejut melihat Clara, "Astaga, Kenapa kamu tidak istirahat? Kamu baru saja jatuh pingsan."
Clara tersenyum dan menggeleng, "Saya tak apa kok. Sebentar sebentar saya istirahat kalau sudah begitu lelah. Jadi jangan kuatir."
Sang pelayan rasanya ingin menangis melihat Clara, dia tau wanita ini sangat sabar menghadapi Alvaro. Pelayan itu tak mungkin melarang juga, dia tak ingin menjadi bahan makian Alvaro nanti. Sang pelayan mengangguk, "Baiklah, kalau ada sesuatu bisa saya bantu katakan saja."
Clara tersenyum, "Baik, terimakasih."