
Alvaro kembali melihat ke arah seorang pelayan lainnya, "Hei!" Panggil Alvaro membuat wanita itu membalikkan badannya dan menunduk hormat pada Alvaro.
"Angkat wajahmu dan tatap aku," perintah Alvaro membuat wanita itu dengan takut mengangkat wajahnya.
Alvaro mencoba membaca pikiran dia, namun tak dapat di baca. Ini aneh, kenapa kemampuannya menghilang?
"Pergilah," usir Alvaro dan segera diangguki oleh pelayan itu.
Alvaro kembali melihat ke arah tukang kebunnya yang baru saja masuk ke rumah mengembalikan alat ke gudang, "Hei!"
Sang bapak itu segera menghadap Alvaro dan menunduk.
"Angkat kepalamu. Lihat aku," perintah Alvaro membuat lelaki itu melihat ke arahnya dengan takut. Dia takut jika dia memiliki masalah dengan pekerjaannya.
Alvaro lagi-lagi tak dapat membaca pikirannya. Ini sungguh aneh, apa dia hanya dapat membaca pikiran Clara? Tapi kenapa?
"Pergilah," suruh Alvaro di anggukin oleh tukang kebun itu.
Alvaro bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Dia ingin istirahat sejenak untuk hari ini, besok dia akan kerja seperti biasanya di perusahaan miliknya.
***
Pagi hari ini Clara sudah menyiapkan baju Alvaro dan sarapan Alvaro. Lelaki itu turun ke ruang makan sudah dengan baju yang rapi dan hendak sarapan. Pagi ini dia di buatkan sarapan roti panggang dengan jus jeruk.
Alvaro kembali melihat ke arah Clara. Kenapa harus wanita ini yang bisa di baca pikirannya. Sangat tak berguna kelebihan yang dia punya ini. Ck, lebih baik keahliannya ini di hapuskan saja.
Alvaro bangkit berdiri setelah sarapan hendak pergi ke kantor.
"Alvaro!!" Panggil seseorang membuat Alvaro menoleh melihat orang itu.
Lelaki yang sudah lanjut usia itu berjalan ke arah Alvaro dan segera memeluknya, "Ah, cucuku kau sudah sangat besar sekarang."
Alvaro tersenyum tipis, itu adalah kakeknya.
"Bagaimana calon istrimu nak? Aku ingin sekali melihatnya di acara pernikahanku nanti dengan nenekmu." Alvaro baru teringat akan acara itu, bagaimana dia bisa sangat melupakannya? Dulu Alvaro membawa Gladis ke acara ini. Namun kali ini, dia takkan melakukannya.
Kakeknya itu sudah sangat tua dan renta. Dia sangat ingin melihat cucunya sudah menggandeng pasangan di masa tuanya, dia ingin menjadi kakek yang berbahagia melihat keluarganya bahagia.
Alvaro menggaruk tengkuknya, "Kek, sepertinya-"
Wajah kakek Alvaro berubah sedih. "Cucuku. Aku akan sangat sedih jika kau tetap belum memiliki seseorang untuk kau gandeng." Kakek Alvaro mengusap punggung cucunya itu.
Kemudian lelaki tua itu menatap Alvaro dengan sangat serius. "Jika kau masih tak memiliki pasangan aku akan memberikan seseorang untuk mi berbagi."
Seketika kuping Alvaro berdenging, dan suatu bayangan melintasi pikirannya. Terlihat seorang wanita menggunakan pakaian yang mewah dan terlihat seksi, wanita itu tengah mengobrol dengannya, wanita itu di kenalkan oleh sang kakek padanya. Kemudian bayangan kembali berputar ke suatu kejadian lainnya, di sana terdapat Viandro dan wanita itu tengah memadu asmara dengan berciuman dan melakukan hal lebih dari itu. Kemudian bayangannya hilang seketika itu juga dan kemudian pikirannya kembali seperti semula.
Apa ini? Apa dia bisa membaca masa depan? Apa maksudnya?
Tubuhnya terasa sangat aneh dan berat. Seakan energinya terbuang ntah kemana.
"Bagaimana Alvaro? Kau harus menyetujuinya. Kakek tau ini pasti terbaik untukmu," sambung sang Kakek membuat Alvaro tersadar.
"Tidak perlu kek. Alvaro akan membawa seseorang nanti, kakek akan menyukainya," sambung Alvaro.
Sang kakek jelas saja langsung sumringah, "Ah, cucuku kau memang yang terbaik. Aku tak sabar melihatnya." Sang kakek memeluk Alvaro, "Jangan lupa datang nanti malam ya. Kehadiranmu dan juga wanitamu itu yang paling ku tunggu."
Alvaro tersenyum tipis, "Baik kakek."
Sang kakek pun pulang sedangkan pikiran Alvaro kembali tertekan. Siapa yang akan di bawanya nanti?
Clara berjalan melewati Alvaro dengan menggunakan pakaian santai ingin pergi sebentar, Clara ingin jalan-jalan di luar sebentar.
Alvaro mendapatkan ide. "Woy!"
"Kau mau kemana?" Tanya Alvaro. Dih ngapain juga sebenarnya Alvaro nanya, Alvaro kan sudah tau apa yang di pikirkan Clara.
"Mau pergi-"
"Kemarilah," potong Alvaro.
Clara berjalan ke arah Alvaro.
"Malam ini ada acara di rumah kakek. Nanti sore kita akan beli baju untukmu dan bermake-up lah secantik mungkin, jangan membuatku kecewa," jelas Alvaro.
Alvaro menatap Clara tajam. Clara mengangguk, "Baiklah."
Alvaro membuang wajahnya datar dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Clara.
Clara menghembuskan nafas panjang, "Semua cowok sama saja. Menyebalkan."
***
Pada sore harinya Clara dan Alvaro sedang memilih pakaian yang akan di pakai untuk nanti malam oleh Clara. Wanita itu melihat pakaian yang di pilihkan oleh pelayan itu terlihat sangat cantik, gaun berwarna biru gelap dengan motif glowing in the dark terlihat sangat memukau. Gaun itu menampilkan bentuk tubuh setiap pemakainya karena pada bagian belakangnya terbuka hingga ke pinggang, itu akan terlihat seksi dan menawan.
Tapi sepertinya Clara tak akan cocok dengan itu. Sepertinya dia terlalu sederhana untuk di riasi pakaian mewah.
"Aku ambil itu. Berapa harganya," kata Alvaro membuat Clara terkaget.
Dia saja belum mencoba bajunya, bagaimana Alvaro bisa yakin dengan baju itu.
"Ikuti saja yang ku bilang," Tegas lelaki itu dengan wajah datar.
"Ini kurasa sudah cukup, nanti malam buatlah diri mu terlihat menawan. Awas saja jika tidak. Kau akan tau akibatnya." Ancam Alvaro membuat Clara bergidik ngeri.
Setelah selesai memesan bajunya mereka pulang.
***
Malam harinya Clara begitu deg degan. Ini untuk pertama kalinya dia menggunakan make-up yang menantang dengan lipstik merah merona. Rambutnya dia gerai dengan kep dengan bertabur berlian dia gunakan membuat kesan dewasa dan menggoda.
Clara keluar dari kamarnya dan terlihatlah Alvaro tengah menunggunya dengan wajah datar. Lelaki itu melihat penampilan Clara yang cukup membuatnya terpana beberapa detik. Segera Alvaro mengalihkan pandangan.
Clara mengusap tengkuknya, "Apa ini bagus? Atau lebih baik aku ganti saja?"
Alvaro memutar bola matanya malas, "Dasar bodoh. Kau mau menghabiskan waktuku huh? Menunggu mu sekarang saja membuatku berkerak!" Kesal Alvaro.
Clara terkekeh, "Ya maaf."
"Dengar ya. Nanti kau tak perlu banyak bicara, nanti bodohmu ketauan. Paham?" Tekan Alvaro.
Clara mengangguk walaupun dalam hati dia sangat jengkel, "Iya."
Mereka pun pergi bersama.
Saat sampai di sana ternyata sang kakek langsung menyambut kedatangan Alvaro dan Clara.
"Ah. Ini ternyata calon Alvaro," kata Kakek dengan penuh harap.
Clara bingung, kenapa dia datang datang malah di panggil calon Alvaro? Gak lah, dia ngak mau jadi calon lelaki galak! Please deh..
Clara segera menggeleng, "B-buk-"
"Iya kek, ini calonnya." Sambung Alvaro dengan menggenggam tangan Clara dengan kuat kode agar Clara diam.
Clara terpaksa mengalah.