My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Forty three



Alvaro melihat ke arah langit langit kamarnya. Lelaki itu baru saja selesai dari ritual mandinya dan sekarang tengah menunggu Clara yang masih berada dalam kamar mandi. Alvaro belum memperbolehkan Clara untuk keluar dari kamarnya, dia ingin wanita itu terus berada di dekatnya dan memperhatikannya.


Lihat tadi siang, baru saja Alvaro meninggalkan Clara sebentar Clara sudah memandang lelaki lain dan tertarik pada ketampanan pria itu. Tentu saja itu membuat Alvaro kesal.


Cetak!


Clara pun selesai dan keluar dari sana. Dia mengambil smartphonenya dan duduk di ambal tempat dia tidur itu. Clara tau ini akan menjadi malam yang panjang baginya karena dia merasa tubuhnya masih belum lelah jadi dia memutuskan untuk mendownload beberapa film untuk dia tonton sampai dia mengantuk nanti.


Tep!


Clara mendongak saat smartphonenya di ambil darinya.


"Lah? Kok di ambil?"


Alvaro menepuk-nepuk smartphone Clara di telapak tangannya, "Kenapa? Terserah aku lah."


"Tapi kan Tuan, itu Hp saya," Clara jadi kesal sendiri.


"Mau ini hpmu mau ini hp orang emangnya kenapa kalau aku ambil? Eh, dengar ya, ini hp sangat merusak pemandangan."


Kdebuk!


Alvaro membuang smartphone Clara ke lantai membuat Clara membolangkan matanya, "HP KUU!!!"


Alvaro melipat kedua tangannya, "Udah malam. Tidur sana!"


Clara menganga dengan mata berkedut, "Tuan! Itu hp aku! Semata wayang!" Clara mengusap wajahnya kasar, "Malah belum siap lagi cicilannya..."


Clara bangkit berdiri, "Tuan harus ganti rugi! Saya ngak ada yang lagi beli baru!"


"Hah? Apa peduliku? Ya terserahku lah." Alvaro tak mau kalah. Dalam hatinya dia senang akhirnya ada juga obrolan panjang dengan Clara malam ini.


Clara mengeraskan rahangnya dan berbalik badan segera membaringkan dirinya dalam posisi tidur.


Alvaro menyenggol Clara dengan jempol kakinya, "Heh. Bangun!"


Clara tak mau menjawab. Dia sangat marah. Padahal kan dia cuma main Hp, kenapa itu pun di gara gara-garain oleh Alvaro. Apa dia tak tau Clara sudah menghemat mati-matian uangnya itu untuk hal lain? Kenapa selalu saja ada hambatan?


Alvaro dapat membaca pikiran Clara yang sangat emosi pada dirinya.


Sepertinya dia salah bertindak untuk mencari perhatian Clara.


Alvaro melipat kedua tangan dan mengalihkan pandangannya, "Nanti aku beli baru."


Clara tetap tak menggubris, dia masih teramat kesal. Dia tak mau smartphone baru, dia butuh harga dirinya sekarang. Dia mau Alvaro sadar kalau dia itu mengaku kesalahannya dan minta maaf padanya, tapi Clara tau itu takkan terjadi karena dia tau Alvaro itu adalah orang yang sangat tinggi hati dan menyebalkan!


Deg!


Mendengar kata hati Clara tentu saja membuat Alvaro naik darah. "Siapa yang kau sebut menyebalkan huh?"


Clara tetap tak menjawab.


Kalau aku menyebalkan terus kau apa? Kau lebih menyebalkan, sangat." Sindir Alvaro.


Clara membuka matanya dan segera bangkit berdiri kesal, "Sejak kapan saya menyebalkan, Saya baik orangnya. Tuan yang menyebalkan!"


Alvaro menunjuk dirinya, "Aku? Heh ngaca, kau lah yang selalu seperti itu. Tingkah mu yang bodoh membuat siapapun kesal padamu. Kau membuat setiap orang geram dan kau sangat menyebalkan!"


"Aku? Kamu yang seperti itu, kamu yang buat aku selalu jengkel. Karena perilaku kamu yang menyebalkan membuat aku pusing sendiri. Kamu kamu kamu yang terus muter muter di kepala aku! Dasar menyebalkan!"


Alvaro diam mendengarkan Clara,


Kamu?


Barusan Clara memanggilnya dengan sebutan Kamu?


Dan juga, Clara bilang Alvaro lah yang selalu ada di pikiran Clara. Begitu kah?


Alvaro tersenyum tipis. Baru mendengar hal itu saja sudah membuat perutnya tergelitik oleh kupu-kupu.


"Kamu sangat menyebalkan dalam segalanya!" Akhir Clara.


"Siapa suruh mikirin aku, kamu sendiri yang mikirin aku. Itu derita kamu lah," jawab Alvaro santai. Dan malahan Alvaro ikut ikutan manggil kamu aku.


"Deritaku? Iya emang menderita banget sama kamu. Kamu itu selalu tidak pernah memberikan aku ketenangan. Kamu itu... Ish!"


Clara kehabisan kata-kata mengungkapkan kegeramannya.


Clara baru terpikir sesuatu. Clara spontan menoleh lagi ke arah Alvaro, "Atau jangan-jangan," Clara menghentikan kalimatnya sambil memandang wajah Alvaro dengan serius.


"Kamu suka ya sama aku?" Kata Clara membuat Alvaro terdiam.


Deg!


Tidak, tentu saja dia tak mungkin menyukai gadis kampung dan juga aneh seperti Clara,


Ktok


Clara memegang jidadnya setelah mendapatkan jitakkan dari Alvaro yang lumayan sakit juga, "Iih sakit tau!"


"Siapa suruh ngomong sembarangan? Lagian ya, ngapain juga aku menyukai mu? Melihat mu saja sudah sangat memuakkan."


Clara melipat kedua tangannya di dada dan menatap Alvaro kesal, "Terus kenapa masih menyuruh aku tetap tidur sekamar sama kamu? Kenapa ngak suruh aku balik ke kamarku."


"Ya karena, karena kamu itu pengusir setan yang paling ampuh!" Sambung Alvaro spontan.


"Dengan adanya kamu di sini suasana tidak lagi horor seperti dulu. Itu berarti kamu adalah pawang hantunya. Makanya aku tetap menyuruhmu di sini."


Alvaro kehabisan kata-kata. Dan jujur saja dia merasa penjelasannya ini terlihat sangat bodoh. Aish, kenapa malah terbesit mengenai hantu sih?


Alvaro mengutuki dirinya yang terlihat bodoh.


Alvaro mengalihkan pandangannya dan melihat tangannya di dada, "Kalau kamu mau pergi ya pergi saja sana. Tidak ada yang melarangmu lagi." Tak ada pilihan lagi, lebih baik dia menyuruh Clara untuk kembali ke kamar Clara sendiri saja diri pada dia malah bicara semakin ngawur.


Clara masih terdiam mengingat kata-kata Alvaro. Hantu katanya?


Seketika bulu kuduk Clara naik ke atas. Alvaro segera berbalik badan agar wajahnya yang sudah memerah malu itu tak terlihat Clara.


Alvaro membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutupnya dengan selimut.


"Tuan." Panggil Clara pelan.


"Sudah pergi sana! Jangan ganggu aku, mau tidur!"


Clara meneguk air liurnya berat.


Clara meyakinkan dirinya untuk tidak takut.


Clara memberanikan diri untuk berjalan keluar kamar.


Clara memegang dadanya. "Astaga, kenapa jadi penakut gini sih," batin Clara.


Kata batin Clara terdengar di telinga Alvaro.


Alvaro tersenyum miring, ternyata Clara memang mudah sekali di bohongi.


Ah... Sepertinya ini akan menjadi hal yang menguntungkan Alvaro.


"Btw biar aku kasih tau sedikit," kata Alvaro membuat langkah kaki Clara terhenti.


"Di kamar kamu sebenarnya banyak penghuninya. Aku baru ingat makannya aku kasih tau," Sambung Alvaro membuat Clara semakin merinding.


Clara cengo, "Lah, jadi selama ini kamu malah ngasih aku tempat berhantu?!" Kesal Clara.


Alvaro mengedikkan bahunya malas, "Ya mau gimana lagi. Ngak ada kamar kosong lagi soalnya."


Alvaro melihat Clara santai, "Ya terima aja lah. Gak usah lebay. Kan cuma hantu. Palingan kalau sedikit diganggu anggab aja mimpi buruk."


Deg!


Clara segera kembali pada ambal tempat tidurnya tadi.


Alvaro yang melihat itu sungguh mati-matian menahan tawa.


Asik sekali mengerjai Clara.


"Lah, ngapain di sana. Balik ke tempat tidurmu aja sana! Keberadaanmu buat semak tau."


Clara mengalihkan pandangannya, "Kaki aku lagi sakit sekarang. Gak bisa di paksain untuk ke kamar malam ini. Jadi lebih baik aku malam ini istirahat di sini."


"Kalau aku ngak mau gimana?"


Aduh... Clara jadi pusing sendiri.