My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Twenty eight



Clara merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. "Aduh... Hancur rasanya badanku," keluh wanita ini.


"Kenapa sih kayaknya Alvaro itu sensian amat jadi orang? Kan kesalahan ku juga gak fatal fatal banget. Dia itu kaya bener aja. Memangnya dia ngak pernah buat salah apa?!" Gerutu Clara sambil mengacak ngacak udara seakan akan itu adalah Alvaro.


"Ganteng tapi sadis!"


Clara kembali menjatuhkan tangannya di atas tempat tidur, dia melihat ke arah jam. Masih jam 8 malam.


"Hari ini aku bahkan ngak sempat promosikan kue aku ke orang untuk di jual. Gimana mau dapat uang aku. Ck. Kalau aku udah ada uang pastinya aku akan pergi dari sini, aku akan sombong sama si kembar kutu kupret kaya mereka!" Rasanya Clara begitu dendam dengan Alvaro dan Viandro. Mereka sama sama ingin dia bunuh saja.


Clara bangkit duduk. Dan menghidupkan hpnya, "Aku buat story di media sosial aja. Dan bilang pesanannya di antara besok. Besok juga gak ada kegiatan kan? Toh juga masalah ini udah kelar dan udah kena hukum juga."


Clara pun mulai mengetik ngetik, mengedit dan memposting.


Tentunya di privasi khusus untuk Alvaro dan Viandro. Kau tau bukan apa yang terjadi jika mereka tau lebih awal? Yup, mereka pasti akan menghancurkan kegiatan Clara.


Clara pun keluar kamar untuk mengambil minuman karena tenggorokannya terasa sangat kering.


Clara mulai memasuki ruang dapur.


Deg!


Kedua mata mereka bertemu. Terasa hening sampai lelaki di hadapannya tertawa singkat, "Kau, sudah ku duga. Kau tak lebih dari pembantu di sini."


Kata lelaki itu sambil menyorot tubuh wanita itu yang menggunakan pakaian putih hitam layaknya pembantu di rumah ini.


Clara hanya diam menatap lelaki itu geram.


"Sudah lama aku ingin mengatakan ini. Kau sungguh tak berguna, aku bahkan sejak dari dulu memang ingin mengeluarkanmu dari kantor ku Clara. Maaf kalau kau tersinggung, tapi memang itu kenyataannya sayang. Kau sangat menganggu, terutama untukku." Jelas lelaki itu dengan senyuman manisnya yang sangat mematikan.


Mendengar itu hati Clara terasa sangat sakit dan perih. Begitu kejamkah dunia ini padanya?


"Kau selain miskin, kau tak memiliki apapun yang bisa di banggakan Clara, sungguh sangat di sayangkan," Viandro berjalan mendekat ke arah Clara dan menepuk pundak wanita itu, "Cih, sangat tak berguna." Kalimat itu di akhiri dengan senyuman tipis dan kemudian lelaki itu pergi meninggalkan Clara.


Clara sangat panas mendengar kalimat kasar Viandro. Dia tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Viandro begitu saja. Jadi yang di lakukannya selama ini yang selalu di puji lelaki itu hanyalah sebuah kebohongan?


Clara mengambil cangkir dan menuangkan air itu ke dalam gelas. Meminum air biru dengan rakus dan wajah memerah. Clara segera ke kamar setelahnya dan kemudian menangis sejadi jadinya.


"Apa semua orang kaya seperti mereka? Aku tau mereka adalah orang yang sempurna, tapi tidak bisakah mereka menghargaiku?" Geram Clara dalam tangisnya.


Sedangkan di lantai bawah antara Alvaro dan Viandro terjadi pertarungan yang sengit. Tentang kekuasaan mereka dan juga hak waris. Alvaro yang di ribet kan karena dalam pembahasannya dengan Viandro malah di sibukkan lagi dengan jeritan hati Clara yang sampai ke telinganya.


Arh!! Wanita ini sangat mengganggunya. Kupingnya sangat panas dan sakit!


"DIAM!!" bentak Alvaro dan di tatap sinis oleh Viandro.


"Kau lah yang harus diam. Kau tak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan semua hak waris Alvaro. Aku yang layak dan semua akan menjadi milikku."


Meskipun Alvaro tak menginginkan hak kekuasaan dari keluarganya itu secara total karena dia pun memiliki perusahaan lain miliknya pribadi yang bahkan juga sama besarnya, tapi dia ingin menyiksa Viandro hingga ke tulang tulang sampai lelaki itu melarat dan mati mengenaskan di tangannya. Dia ingin membuat sisa hidup Viandro sama sekali tak memiliki kesempatan untuk bahagia walaupun sedetik.


Alvaro menatap datar Viandro, "Kau takkan bisa. Dan hanya aku yang layak untuk jabatan presiden." Alvaro menepuk tangannya sekali dan seketika sang ajudan langsung menari Viandro keluar dari rumahnya.


Viandro melepaskan cekatan tangan sang ajudan, "Aku bisa sendiri! Lihat saja Al, aku akan membuat mu tak berdaya!" Kecam lelaki itu kemudian pergi dari rumah Alvaro.


Alvaro tak perduli dengan ucapan Viandro. Kupingnya sudah sangat gatal dengan teriakan hati seorang Clara yang ada di kamar. Sangat menganggu.


Clara segera ke kamar Clara dengan langkah kaki panjangnya. "Wanita ini harus di beri pelajaran!"


Alvaro mengetuk brutal pintu kamar Clara. Wanita ini terlalu menganggu. "CLARA!!! BUKA!!!"


Clara membuka pintunya dan melihat Alvaro dengan emosi dan air mata yang masih berlinang.


Segera pikiran Clara dapat di baca oleh Alvaro, dan baru di ketahuilah kalau Clara baru saja di hina oleh sang kembar. Alvaro berdecih, "Tak bisakah kau mandiri dan kuat. Gunakan otakmu untuk melawan dan bukan perasaan! Kau pikir dengan kau menangis menyelesaikan masalah! JANGAN LEMAH!!"


Bentakan dan juga nasehat itu tertombak pada hati Clara. Yang di katakan Alvaro itu benar. Tak perlu menggunakan perasaan. Itu sama sekali tak membantu dan malah semakin terasa menyakitkan.


Pikiran Clara belum sampai ke 'Bagaimana Alvaro tau kalau dia baru saja tersakiti? Bukannya merek tadi tak ada bicara apapun?'


Clara mengangguk, "Maafkan aku."


Alvaro pergi meninggalkan Clara dan berjalan menuju kamarnya, lelaki itu memijat pelipisnya. Semakin lama rumahnya terasa makin ruyem saja.


Kepala Alvaro bukannya semakin tenang tapi tiba tiba terasa seperti tertusuk dan sangat sakit.


Kakinya menjadi tak bertenaga dan dia seketika jatuh dengan pandangan gelap.


Suara bising di telinganya semakin menjadi, seperti suara desing dan juga bau gas yang sangat menusuk. Badan Alvaro sangat sakit dan juga perih setengah mati. Dan seketika juga terdengar suara pintu terbuka, Alvaro membuka matanya dan melihat seseorang yang tak asing.


Clara?


Alvaro melihat sekeliling, dan sungguh sangat tercengang. Ruangan tempat dia di eksekusi oleh Viandro, dan Clara. Clara apa yang dia lakukan di sini?


Clara melepaskan semua ikatan Alvaro, "Tak apa, aku akan menolongmu."


Deg!


Seketika itu juga pandangan Alvaro menghitam dan tak ada yang dapat di rasakannya lagi.


***


Alvaro membuka matanya. Ntah berapa lama dia tertidur. Kejadian kemarin seperti sangat nyata, itu seperti mimpi namun itu tidak seperti mimpi.


Viandro mengusap wajahnya.


"Akh!!" Pergelangan tangannya sangat sakit membuat lelaki itu melihat tangannya itu.


12


Tangan Alvaro kembali terasa terbakar dan sangat panas. Huruf demi huruf tertulis di sana dan rasanya kulitnya seperti di lukai setiap hurufnya.


'Kebahagiaan itu impian, Kematian itu mutlak,"


Seketika tubuh lelaki itu seperti terbakar dan mendidih.


"Tolong!! Siapa saja!!!"


Jeritan lelaki itu sama sekali tak mendapat jawaban dari siapapun, tubuhnya sangat menderita.


Alvaro tersungkur di lantai. "PANAS!!! TOLONG!!!"


Terdengar suara langkah kaki yang mendekati Alvaro, langkah itu seperti berlari.


"TUAN!!"


Suara itu...


Alvaro segera mendongakkan kepalanya, akhirnya ada seseorang yang mendengarnya.


Clara segera menghampiri Alvaro, dan memegang punggungnya, "Tuan Tuan kenapa?!" Clara sangat panik.


Sentuhan Clara melumpuhkan rasa panas di punggung Alvaro namun di bagian lainnya masih terasa panas.


Alvaro segera memeluk Clara erat.


Hoshh...


Panas itu menghilang. Jantung Alvaro mulai berdetak normal walaupun dia masih sangat lemas karena kejadian barusan.


"Saya panggil-"


"Tak perlu, kau di sini saja." Kata Alvaro sambil mengontrol nafasnya.


Tulisan tangan 'Kebahagiaan itu impian, Kematian itu mutlak,' itu menghilang tapi tidak dengan angka yang ada di pergelangan tangan Alvaro.


Alvaro menatap Clara.


Apa yang di lakukan wanita ini terhadapnya?