My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Forty nine



Dokter telah dipanggil ke rumah Alvaro, dan dari penjelasan dokter kalau jantung Alvaro dalam keadaan normal, hanya saja karena kelelahan membuat jantung berkerja lebih berat  membuat dia merasa sesak seperti sekarang.


Namun penjelasan itu tembus di pikiran Alvaro, ini pasti ada hubungannya sama kejadian tadi pagi. Kutukan ini masih berjalan, dan membuat Alvaro dapat menangkap sesuatu. Setiap kali dia melakukan suatu hal buruk pada Clara kutukan ini akan menyiksa raganya dan saat tak terjadi apapun tubuhnya akan terasa lebih baik dan berjalan normal.


Alvaro melihat datar Clara. Sekalipun dia membenci wanita ini dia harus menjaga perilakunya, karena salah bertindak akan membuat dia dalam posisi yang di rugikan.


Clara kembali melihat Alvaro, namun tak sanggup menatap lelaki itu lama karena takut akan menambah emosi Alvaro.


Alvaro mengalihkan pandangannya muak. Kenapa harus seperti ini dan kenapa harus Clara?


Alvaro menutup matanya, "Biarkan aku beristirahat."


Ucapan Alvaro di setujui oleh sang dokter, "Baiklah Tuan. Jangan terlalu memaksakan diri untuk pekerjaan."


"Hm. Kalian pergilah."


Sang dokter dan Clara pun pergi keluar kamar Alvaro.


"Apakah Tuan baik baik saja dok. Apakah ini akan terulang lagi dan jadi semakin parah?"


Sang dokter menggelengkan kepalanya, "Tak dapat di tentukan. Itu tergantung bagaimana Alvaro dapat menjaga kesehatannya. Istirahat yang cukup itu perlu."


Clara mengangguk, dia akan mengingat apa pesan dokter itu, "Baik dokter. Terimakasih atas bantuannya."


"Iya, sama sama."


Clara mengantarkan sang dokter keluar rumah.


Alvaro masih di dalam kamar memandang ke arah langit langit, "Bagaimana agar aku bisa terlepas dari Clara. Aku tak tau bagaimana caranya?"


Alvaro ingat bagaimana dia dulu pernah hendak mengusir Clara, tapi ada saja gangguan. "Bagaimana kutukan ini dapat hilang."


Alvaro menghembuskan nafasnya.


Alvaro kembali melihat pergelangan tangannya, ya, pergelangan tangan yang bertuliskan angka.


Dan benar saja, di sini tertulis angka 12. Dan ingat Alvaro terakhir kali itu adalah angka 11.


Alvaro mulai menangkap, "Semakin aku membuat dia tersiksa dan takut angka ini bertambah dan aku akan selalu dapat masalah. Dan pasti saat dia bahagia angka ini akan berkurang dan aku akan terbebas dari kesialan.


Alvaro mengangguk, sepertinya teori yang ada di akalnya memang benar adanya.


"Baiklah Clara, cepat atau lambat aku akan terlepas darimu."


***


Jam terus berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul satu siang. Saatnya makan siang, tepat di saat itu Clara mengantarkan bubur ke meja Alvaro. Meja kecil yang di sediakan di atas tempat tidur Alvaro agar tak sudah sudah lagi ke ruang makan mengingat kondisi Alvaro yang kurang sehat.


"Ini makannya tu-"


"Panggil saja Alvaro. Dan maafkan kejadian tadi pagi, aku lepas kontrol," kata Alvaro sambil menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.


Clara menunduk, "Tidak Tuan, memang saya yang salah."


"Tidak, aku yang salah. Dan jangan panggil aku Tuan, panggil Alvaro, jangan membuatku kesal."


Clara terdiam. Sifat Alvaro berubah lagi 180°.


Alvaro mengangguk, "Maafkan aku yang suka cepat berubah ubah dalam emosi. Ya beginilah aku sebenarnya, jangan heran."


Clara mencoba memahami Alvaro, benar dia harus bisa memahami Alvaro.


Alvaro yang dapat membaca pikiran Clara merasa muak, tidak akan ada yang dapat memahaminya kecuali dirinya sendiri. Seberapa pun Clara mencoba tapi takkan bisa.


Clara hendak membersihkan bibir Alvaro dari bubur yang sedikit berselemotan di sana namun Alvaro segera menlap ya sendiri, "Katakan saja. Tak perlu kau yang membersihkannya."


Clara mengangguk.


Alvaro sedikit melihat ke arah Clara dan kembali pada buburnya, "Minggu ini aku punya waktu berlibur. Kemana kita mau berlibur? Akan aku beli tiketnya."


"Sekali kali harus refreshing."


Clara kembali berfikir sesuatu. Bagaimana jika terjadi hal hal buruk nantinya di jalan. Pastilah emosi lelaki ini tak bisa di kontrol.


Alvaro menggeleng, "Aku bisa mengontrolnya. Aku janji, aku akan tepati."


Clara mengangguk walaupun dia masih meragukannya. "Baiklah Tu- Alvaro."


Alvaro tersenyum tipis tak minat.


"Baiklah kau bisa keluar sekarang, nanti ku panggil lagi kalau aku sudah selesai makan." sabung Alvaro dan segera mendapatkan anggukan oleh Clara.


Alvaro memutar bola matanya malas ketika Clara sudah pergi, "Dia pikir aku mau apa mengajak dia pergi? Cih. Kalau tidak karena misi kutukan ini aku takkan mau melakukannya dan segera saja mengusirnya dari rumah."


Umpat lelaki itu.


Alvaro kembali memakan makan siangnya. Alvaro bahkan tak tahan berada lama di dekat Clara makanya dia menyuruh Clara pergi saat dia memakan makan siang ini.


Setelah selesai makan Alvaro kembali memanggil Clara dan Clara pun mengambil piring lelaki itu, "Apakah ada keperluan lainnya yang Tuan butuhkan?"


Alvaro menggeleng, "Tidak ada."


Clara mengangguk dan menundukkan kepalanya izin, "Saya izin keluar."


Alvaro hanya berdehem. Clara pun keluar kamar Alvaro.


Alvaro bangkit dari tempat tidurnya dan mengunci kamarnya, "Dasar wanita tak berguna."


Alvaro melihat ke arah tangannya, "Sebentar lagi ini akan berakhir Alvaro, sebentar lagi."


***


Malam ini Alvaro keluar dari kamarnya, baru saja Clara mau masuk ke dalam kamar Alvaro membawa makanan.


Alvaro melihat Clara dan menunjuk makanan yang di bawa Clara dengan dagunya, "Bawakan saja ke ruang makan. Aku mau makan di sana. Aku sudah lebih mendingan sekarang."


Clara mengangguk dan membawakan makanan itu ruang makan dan meletakkannya di atas meja.


Alvaro melihat makanan yang di masakkan Clara dengan tak minat. "Sudah ku katakan aku tak mau makan masakan tradisional."


Clara melihat makanan yang di masaknya, padahal ini hanya sup ayam dan bubur.


"Tapi Al, ini-"


Alvaro mengeluarkan sereh, bunga lawang dan bumbu ala sup Indonesia lainnya, "Aku tak suka rempah, jangan padukan apapun yang berbau tradisional padaku." Alvaro menatap tajam Clara.


Deg!


Clara mengangguk dan segera mengambil makanan itu, "Saya akan menggantinya Alvaro."


Alvaro mengalihkan wajahnya tak minat dan memainkan hpnya.


Clara menoleh ke belakang melihat Alvaro, singkat dan kembali melihat ke arah makanannya. Clara tak mengucapkan apapun dan bahkan tak berfikir apapun. Dia hanya melakukan tugasnya saja


Clara pun selesai memasak makan malam untuk Alvaro dan menghidangkannya, "Kau lamban sekali." Hina Alvaro. Kemudian Alvaro kembali tersadar, dia salah, dia harus berbicara lebih baik lagi agar tak menyinggung Clara mulai sekarang bukan?


Lebih cepat wanita itu merasa bahagia lebih cepat misi ini selesai.


"Maafkan aku, lain kali jangan bertindak lamban. Paham?"


Clara menatap Alvaro dengan tatapan yang sulit di artikan lelaki itu. Kemudian Clara mengangguk, "Baiklah, Maafkan saya."


Alvaro merasa ada yang aneh. Tapi lupakan saja, dia tak perduli.


Alvaro kembali memakan makan malamnya itu.