
"Clara ambilkan buku."
"Baik Tuan."
"Clara ambilkan minum."
"Baik Tuan."
"Clara ambilkan selimut baru. Minumku tumpah."
"Baik Tuan."
"Clara besarkan derajat AC. Dingin."
"Baik Tuan."
"Kecilkan lagi. Terlalu panas."
"Baik Tuan."
"Apakah kau tak ada kata kata lain selain baik Tuan? Aku muak mendengarnya."
"Terus apa Tuan?"
"Ya mana aku tau. Pikir lah!"
"Maaf Tuan, saya ganti jadi Iya Tuan."
"Gak gak. Itu juga gak bagus."
"Siap Tuan?"
"Gak."
"Akan saya lakukan Tuan?"
"Kepanjangan!"
"Laksanakan Tuan?"
"Kau pikir kau militer?!"
Clara menggaruk kepalanya. Makin ke sini makin ingin memaki Alvaro saja bawaannya, astaga...
"Gak. Baik Tuan sepertinya lebih bagus." Sambung Alvaro dengan santai dan kemudian membaringkan badannya dengan posisi tertidur.
Oh astaga, yang benar saja, dia sangat mengesalkan. Kalau saja Clara ada samurai Clara pasti akan segera menghunuskannya sekarang juga.
Alvaro membuka sebelah kelopak matanya, "Apa? Aku tak terima?"
Clara menggeleng, "Bukan Tuan. Saya tak masalah." Sambung Clara, kalau dia melawan yang iyanya dia akan semakin susah dengan tambahan hukuman Alvaro, belum lagi jika Alvaro melaporkan ke pihak berwenang karena mencelakakan dirinya.
"Kau tidur di lantai! Gelar saja ambal dan jangan jauh dari tempatku karena kau harus memenuhi kebutuhan ku!"
Perintah Alvaro membuat Clara membelalakkan matanya, bisa bisanya dia menyuruh Clara dengan mudah tidur di lantai menggunakan ambal sedangkan Alvaro enak enak tidur di atas. Ish... Udah dia yang nyuruh Clara ke sini, malah jadi kaya budak yang di kaki Tuannya saja.
"Cepat." Alvaro membelalakkan matanya dengan intonasi yang di tekan agar Clara segera melakukan perintahnya.
Clara mengangguk dan segera mengambil ambal dan tidur di bawah lantai. Sungguh tega sekali.
Begitulah sedari tadi Clara di suruh dengan perintah yang sangat banyak, padahal keseleo kaki Alvaro bukanlah terlalu berat, tapi malah seakan akan tak berdaya untuk melakukan pergerakan sekecil itu.
Clara mulai menutup bola matanya dan masuk ke dalam alam mimpi. Belum lima menit wanita itu tengah terdengar suara Alvaro yang meraung membuat Clara terbangun, "Kenapa?!" Clara panik sambil melihat keadaan Alvaro.
"Aku bosan! Ambilkan aku buku!" Pinta lelaki itu dengan nada perintah.
Clara menggenggam tangannya erat dengan menutup matanya menahan geram untuk sekian kalinya. Menarik nafasnya dalam dalam dan kemudian tersenyum, "Buku apa Tuan?"
Alvaro tersenyum miring singkat, menghibur sekali memang pemandangan wajah Clara, "Buku yang ada di atas mejaku. Ada satu buku biru di sana."
Clara mengangguk dan mengambilnya, memberikan buku itu kepada Alvaro, "Ini Tuan."
Alvaro mengambil buku itu dan melihat ke arah Clara, "Cla, aku kedinginan."
Clara mengambil selimut yang lebih tebal dan memberikannya pada Alvaro. Tak sengaja dia sedikit menekan tangan Alvaro membuat lelaki itu meringis, "Hei! Tanganku! Kau mau balas dendam huh?!"
"Aku tak sengaja," Clara terkejut.
"Au... Sakit sekali!"
Clara segera meraih tangan Alvaro dan perlahan mengelusnya, "Aduh maaf Tuan, aku sungguh tak sengaja."
Alvaro tak menjawab dan hanya meringis samar, "Aws..."
Clara duduk di pinggir tempat tidur Alvaro sambil memijat tangan itu. Alvaro memperhatikan tangannya dengan tangan Clara, kembali lelaki itu tersenyum tipis. Dia suka ketika di perhatikan Clara.
"Aws... Sakitnya." Ringis Alvaro lagi agar menambah panik Clara.
"Iya maaf ya, sakit banget? Gimana kalau aku panggil-"
"Kau saja yang merawatku, tak usah panggil siapapun. Kan kau pelayan yang khusus merawatku bukan? Jadi kenapa kau suka menyusahkan orang lain terutama ini karena ulahmu." Kesal Alvaro.
Clara menunduk, "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Tuan. Saya pikir tadi kalau di rawat sama dokter akan lebih baik-"
"Tidak perlu! Lakukan saja tugasmu!"
Clara mengangguk, "Baiklah Tuan."
Kata Clara sambil terus memijat tangan Alvaro.
***
Alvaro tersenyum kecil memperhatikan wajah Clara yang begitu dekat dengannya. Wanita itu semalaman mengusuk tangan dan bergantian dengan kakinya hingga dia tertidur dengan pulas duduk di atas lantai dengan kepalanya yang tergeletak di tepi ranjangnya dan tangannya yang masih menggenggam tangan Alvaro.
Dan berkatnya tangan dan kaki Alvaro di pagi ini sudah membaik dan bahkan bisa di gerakkan lebih nyaman di bandingkan semalam.
Alvaro mengusap wajah Clara perlahan, jika di perhatikan wajah Clara memiliki daya tarik tersendiri. Pipinya sedikit tirus dengan bulu matanya yang lentik di tambah bibir yang sebenarnya terlihat ranum.
Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Clara, ntah suatu tarikan apa yang membuat Alvaro terfokus pada bibir indah itu. Alvaro mengelus lehernya perlahan menahannya kemudian mencium bibir Clara singkat.
Alvaro tersenyum kecil, Clara memang kalau sudah tertidur pulas sulit sadar untuk bangun. Alvaro kembali menarik tengkuk Clara kembali menciumnya, kali ini dia sedikit memperdalam ciumannya dan mempertahankan ciuman itu hingga beberapa detik baru melepaskannya.
Alvaro mengusap bibir Clara yang basah dan tersenyum miring, bagaimana ciuman itu bisa membuat dadanya berdebar padahal hanya beberapa detik?
Clara mengeluh hendak terbangun dan segera Alvaro mengatur posisinya kembali pada keadaannya yang sebelumnya lalu menutup matanya seakan akan masih tertidur.
Clara membuka mata dan kemudian merenggangkan badannya, tidur dengan posisi duduk seperti ini membuat badannya terasa pegal pegal.
Clara melihat ke arah Alvaro yang tampak masih tertidur. Clara melihat wajah tampan lelaki itu di pagi hari ini memang sedikit menaikkan imunnya, terlepas dari sifat menebalkan Alvaro.
Clara tersenyum kecil dan kembali memijat tangan Alvaro, lihatlah tangan Alvaro yang lebih besar dari tangannya ini, sangat romantis bukan jika di genggam olehnya.
Clara menggeleng, tidak, lelaki ini takkan mungkin melakukan itu. Dia saja selalu menghina Clara, bagaimana bisa melakukan hal romantis dan lembut padanya?
Clara teringat akan sesuatu, dia harus menyiapkan sarapan untuk Alvaro sebelum dia terbangun nanti kan?
Clara pun melepaskan tangannya dan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan setelah itu membawanya ke kamar Alvaro.
Alvaro melihat ke arah Clara yang datang membawa sarapannya. Clara memberikan makanan itu pada Alvaro.
Alvaro memutar bola matanya, "Kau lihat aku bisa duduk sendiri? Ya bantu lah!"
Seketika itu juga persepsi Alvaro yang tampan hilang seketika. Sikapnya selalu saja membuat Clara menahan emosi.
Clara meletakkan makanan Alvaro di atas meja dan membantu Alvaro duduk bersender bahu ranjangnya, meletakkan meja kecil di sana dan setelah itu memberikan makanan itu pada Alvaro.
"Tanganku masih sakit. Kau sangat bodoh!" Maki Alvaro.
Clara mendengus, "Iya Tuan... Maaf ya Tuan..." Arh! Alvaro sangat menyebalkan.
Alvaro pun di sulang oleh Clara untuk memakan sarapannya. Dan setelah habis Clara merapikan piring piringnya dan kemudian kembali lagi ke kamar Alvaro. Rencananya sih Clara mau istirahat sebentar, karena semalam suntuk dia terus memijati Alvaro bukan? Tangannya sudah pegal sekali.
Alvaro menoleh ke arah Clara yang mau berbaring di tempat ambal, "Pijatin lagi kaki dan tanganku!"
Yah... Gak jadi istirahat deh...