My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
sixty three



Clara memandangi bahan baku kue yang kini ada di hadapannya. Setelah Alvaro pergi ke perusahaannya Clara pun mengeluarkan semua bahan bahan kue yang dia punya. Perasaan sedih menyelimuti dirinya, "Gak bisa lanjutin ini lagi."


Walaupun dulu tujuan Clara membangun bisnis kue karena untuk menabung uang sebagai pegangan saat pergi dari rumah Alvaro, tapi rasanya sedih juga harus meninggalkan pekerjaan yang di rintis dari nol.


Clara menghembuskan nafasnya berat. Wanita itu menumpukkan semua bahan kue dan memasukkannya ke dalam lemari bahan kue di dapur, sedangkan kertas kertas lainnya sebagai pembungkus dai tumpukkan di dalam plastik sampah, dia hendak membuangnya.


Clara membawa kantong sampah itu ke luar rumah. Wanita itu berjalan ke tong sampah yang ada di depan rumahnya.


Clara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Clara membuka tong sampah dan membuangnya, "Selamat tinggal kenangan."


Clara membalikkan badannya dan,


Bruk


Clara menabrak seseorang membuat dia mundur beberapa langkah sambil memegangi jidadnya yang terbentur di dada bidang lelaki itu.


Clara mendongak. Seketika terkejut, "Vian-"


"Stt.. jangan keras keras. Nanti ketauan orang," ucap lelaki itu sambil menutup mulut Clara dengan telunjuknya.


Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telinga Clara. "Kamu punya toko kue online kan?" Bisiknya.


Clara terbelalak. Bagaimana dia tau?


Clara segera mendorong Viandro, "Jangan sok tau kamu!"


Viandro tertawa, "Tentu saja aku tau. Apa kamu ingat Bu Ani? Dia pelanggan setia mu bukan?"


Deg!


Ungkapan Viandro membuat Clara sungguh panik. Lelaki itu benar mengetahuinya.


Viandro mengelus rambut Clara, "Tenang saja. Aku bisa menjaga rahasia kamu kok."


Clara menepis tangan Viandro, "Sudah berapa kali aku katakan jangan menyentuhku!"


Viandro tertawa menyeramkan, "Masih saja kamu kasar padaku sayang."


Viandro mendekatkan wajahnya, "Aku tau kamu masih mencintaiku Clara, aku tau itu."


"Tidak sama sekali! Aku sama sekali tak pernah mencintaimu. Bahkan memikirkan mu sebentar saja tak pernah. Jangan kepedean kamu!" Sentak Clara.


Viandro mengangguk, "Baiklah, aku akan membuat suatu pilihan bagimu Clara."


Clara menggeleng dan membalikkan badannya, apa dia gila? Pilihan katanya? Clara takkan memilih apapun. Siapa rupanya dia bisa mengatur Clara?


Viandro menarik tangan Clara, "Dengerin dulu."


"Aku tak punya waktu mendengarkan omong kosong mu," Clara berusaha menarik tangannya kembali tapi Viandro menahan tangannya lebih kencang.


"Aw sakit!" Ringis Clara.


"Makanya dengerin aku dulu. Siapa suruh membantah?"


Clara masih tak mau menghadap Viandro, "Lepasin kalau tidak aku akan menjerit!"


Viandro mengangguk, "Menjerit saja. Aku akan bilang kalau aku dan kamu berselingkuh. Kamu akan di ceraikan Alvaro dan akan menikah denganku."


Clara berdecak kesal. Viandro ini sungguh gila.


Clara membalikkan badannya dan melihat Viandro, "Cepat katakan!"


Viandro tersenyum kemenangan, akhirnya Clara menurutinya, "Aku hanya ingin kita bisa berteman saja. Tidak susah kan?"


Clara menggeleng, "Aku tak mau."


Viandro mendengar jawaban itu sangat kesal, "Jika kamu tidak mau kamu akan menerima balasannya."


Clara menghentakkan tangannya hingga terlepas, sungguh omong kosong. Clara pergi meninggalkan Viandro.


"CLARA!"


Arh! Viandro sangat kesal. Dia bahkan tak pernah sepanjang perjalanan hidupnya menjadi lelaki pengemis cinta seperti sekarang ini. Ini sungguh menghancurkan harkat martabatnya.


Viandro pergi meninggalkan Clara, dia akan membuat wanita itu menyesal tak menerimanya.


***


Clara duduk di tempat tidurnya sambil berfikir. Hari ini dia harus memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi padanya, dia merasa seperti penipu jika terus menerus menyembunyikan sesuatu dari Alvaro.


Clara keluar dari kamarnya dan mulai membereskan semua hal untuk makan malam ini. Clara sedikit melamun karena pikirannya bercabang, dia takut Alvaro akan marah besar. Clara menggelengkan kepalanya, "Sudahlah Clara. Kamu terlalu negatif thinking, jangan pikir yang enggak enggak, semua akan baik baik saja."


Clara pun dengan cepat membereskan masakannya dan kemudian menghidangkannya di meja makan.


Clara duduk di kursi sambil kembali melamun, bagaimana cara mengawali pembicaraannya ya? Clara bingung bagaimana memulainya.


"Ada apa?" Tanya seseorang membuat Clara terkaget.


"Eh, Alvaro. Kamu cepat banget pulang, tumben."


"Tadi tak terlalu banyak pekerjaan di kantor makanya aku langsung pulang saja," kata Alvaro yang kemudian duduk di sebelah Clara dengan tatapan selidik.


Alvaro mendekatkan dirinya pada Clara, "Ada apa sayang? Mau bilang apa?"


Clara mengembuskan napasnya, dia kembali mengingat bagaimana kejadian kemarin dan juga hari ini ketika berjumpa dengan Viandro. Dia tak tau mau mulai bicara dari mana.


"Aku-"


"Tunggu," tahan Alvaro. "Kamu selama ini kerja tapi kamu tak pernah memberitahukan ku?" Tanya Alvaro begitu membaca pikiran Clara.


Clara memegang tangan Alvaro, "Sayang aku bisa jelasin."


Alvaro melepaskan tangan Clara, "Viandro yang deluan tau mengenai ini di bandingkan suami kamu Clara?" Alvaro menatap Clara dengan sangat kecewa.


"Tapi Al, ini semua-"


"Kamu keterlaluan Clara," sentak Alvaro.


Dreb


Clara segera memeluk Alvaro, "Aku minta maaf, dari kemarin aku berusaha mau ngomong, tapi aku takut kamu marah Al, aku takut kamu salah paham. Al... Maafkan aku." Clara menangis. Dia takut sekali.


Alvaro sangat marah pada Clara, suami macam apa dia tak mengenal istrinya? Tak tau apa saja yang sudah di kerjakan istrinya selama ini seakan-akan dia sangat bodoh. Tentu saja ini membuat dia merasa tersinggung.


"Sayang... Jangan marah... Beneran deh, kemarin aku mau kasih tau kamu. Tapi sungguh aku sangat takut... Jangan marah ku mohon..." Mohon Clara.


Alvaro membuang wajahnya gusar. Dia sungguh cemburu. "Apa jangan jangan yang menelpon kamu kemarin itu Viandro huh? Kalian tampaknya suka bermain di belakang."


Clara menggeleng, "Gak Alvaro. Itu tidak benar!"


Alvaro berdecih, dadanya terasa sangat panas dan emosinya meluap. Alvaro melepaskan pelukan Clara dan pergi masuk ke dalam kamar tanpa menjawab apapun yang Clara ucapkan.


Clara segera mengejar Alvaro dan masuk ke dalam kamar. Alvaro tengah duduk di tepi tempat tidurnya melihat Clara dengan tatapan emosi.


Alvaro mengalihkan pandangannya. Dia sangat kesal.


Clara berjalan dan duduk sebelah Alvaro, "Sayang. Jangan marah. Maafkan aku."


Alvaro tak menjawab.


Clara menghela nafas, dia bingung harus apa. Dia benar-benar buntu akan hal ini. Dia sama sekali tak berpengalaman untuk meluluhkan hati seorang lelaki yang sedang cemburu.


"Al... Kan aku sayangnya sama kamu Al. Aku ngak pernah mau dekat dengannya, sungguh. Aku hanya mencintai kamu Al," kata Clara dengan suara melemah.


"Dia juga tau karena tak sengaja. Ntah kenapa kami bisa berjumpa di jalan dan dia mencegatku," ungkap Clara.


Clara kembali melihat ke Alvaro yang masih diam tak menjawab apapun.


Clara menunduk sedih bercampur aduk dengan kesal dengan kejadian kemarin. kenapa dia masih bersikap sopan kemarin? Kenapa dia tak menendang Viandro saja ya. Batin Clara.


Mendengar ungkapan batin Clara membuat Alvaro sedikit merasa tergelitik. Lelaki itu tersenyum singkat dan kembali memasang wajah datar.


Clara kesal sekali dengan Viandro, lelaki itu membuat permasalahan semakin bertambah saja. Rasanya pingin banget cakar wajah Viandro sekarang.


Alvaro menoleh ke arah Clara, melihat wanitanya yang masih termenung sedih.


Alvaro menghela nafasnya, di juga tak tega melihat Clara begini. Tapi hatinya dia masih merasa kesal dengan Clara yang tidak jujur dari awal padanya.


Alvaro memaafkan Clara namun masih tak mau berbicara dulu dengannya. Dia ingin melihat usaha Clara dulu untuk membujuknya