
Clara menyiapkan makanan untuk Alvaro dan juga temannya itu di dapur sedangkan mereka berdua tengah berbicara di ruang tamu.
"Pernikahan ku dia hari lagi. Aku sangat gugup Al, bagaimana ini?" Tanya lelaki itu.
Fransisco meminta saran dari Alvaro. Alvaro menghembuskan nafasnya, "Kau sudah memikirkannya matang matang sebelumnya kan? Kenapa kau ragu?"
Fransisco melipat kedua tangannya di dada, "Ini pengalaman pertama ku Al, jadi wajar dong kalau aku panik."
Alvaro merasa kasihan dengan Fransisco, dia tau seberapa liciknya wanita itu nanti menipunya kelak, "Kau... Sudah memikirkan pernikahan ini dengan baik bukan?"
Tanya Alvaro.
Lelaki itu melihat Alvaro, "Sepertinya iya, aku sudah lama mengenalnya Al, setauku dia wanita yang baik."
"Setaumu? Bagaimana dengan pandangan orang lain. Apakah kau tak pernah menyelidikinya?" Sambung Alvaro lagi.
"Aku sudah yakin padanya Al. Kau tak perlu kuatir." Ucap lelaki itu dengan sangat percaya diri.
Di lihat dari keadaannya, tak mungkin Alvaro memberitahukan yang sesungguhnya juga pada sahabatnya ini. Alvaro takut lelaki ini berfikir kalau Alvaro akan merusak pernikahannya nanti dan pastinya akan merusak pertemanan mereka dan parahnya akan berujung pada konflik di perusahaan mereka. Itu akan sangat merugikan bukan?
Alvaro mengangguk, "Aku percaya padamu. Lakukanlah apa yang menurut mu benar untuk di lakukan."
Lelaki itu menepuk pundak Alvaro, "Aku tau kau sangat sedih, terutama karena masih menjomblo sampai bertahun-tahun seperti sekarang kan?" Fransisco malah mengejek Alvaro.
Alvaro memutar bola matanya malas, "Terserah apa katamu."
Clara pun membawa nampan yang berisikan dua gelas teh dan juga cookies yang masih hangat.
Fransisco tersenyum melihat Clara, "Pelayan satumu ini sangat keras kepala kau tau." Fransisco menyindir Clara dengan mengadukannya pada Alvaro.
Clara menarik ujung bibirnya ke atas mendengar komplain teman Alvaro ini. Ya iyalah, tugas Clara kan memastikan Tuannya tidak kenapa kenapa, makanya dia tadi rewel bertanya mengenai identitas lelaki ini.
Alvaro tersenyum miring, Clara memang keras kepala, tapi wanita ini tak sepenuhnya salah, karena tujuannya juga bagus untuk melindungi dirinya dari orang jahat.
Clara pergi meninggalkan mereka setelah meletakkan semuanya di atas meja.
"Oh ya, jangan lupa ya, kau akan menjadi teman pengantin Pria. Aku akan mengirimkan baju untukmu agar seragam dengan teman pengantin pria lainnya."
Alvaro melihat Fransisco, "Ck, kau sungguh merepotkan, aku tak-"
"Ett tet tet...," Lelaki itu segera menutup mulut Alvaro dengan tangannya, "Jangan banyak bicara. Ikuti saja."
Alvaro menghembuskan nafasnya berat. Sebenarnya dia tak terlalu mempermasalahkan menjadi teman pengantin pria Fransisco, masalahnya adalah calon pengantin wanitanya adakan Gladis. Itu yang membuat Alvaro semakin malas mengikutinya.
"Baiklah, aku cuma mau bilang itu. Aku pulang dulu." Lelaki itu pergi meninggalkan Alvaro.
Clara melihat kepergian lelaki itu dan kemudian beralih melihat Alvaro. Sedari tadi sebenarnya Clara sudah mulai menguping pembicaraan Alvaro dengan lelaki yang masih asing di mata Clara itu.
Ternyata itu lelaki yang akan menikah dengan mantannya Alvaro toh, dan meminta Alvaro untuk menjadi pendamping teman prianya.
Clara menggeleng, tak patut, Alvaro bahkan tak bisa menolak permintaan temannya itu karena tak berdaya, sungguh kisah cinta Alvaro sangat tragis dan menyayat hatinya. Clara membatin sambil menepuk dadanya mendramatisir keadaan.
Alvaro mengalihkan pandangan ke arah Clara yang masih melihat kepergian Fransisco dengan ekspresi anehnya. Alvaro memandang Clara aneh, memang tak salah jika dia menilai Clara yang absurd.
Alvaro segera mengetahui apa yang di pikirkan Clara. Lelaki itu memutar bola matanya malas, pantas saja, Clara selalu berfikir yang tidak tidak.
"Heh!" Panggil Alvaro membuat Clara tersentak dan mengatur ekspresi sewajar mungkin.
Alvaro menatap datar Clara, "Kau menguping bukan?"
"Kenapa diam? Jawab!"
Clara menggeleng, "T-tidak Tuan!"
Alvaro memutar bola matanya malas, "Sudah ketahuan dan malah berbohong. Kau pikir aku bodoh?!"
Clara menunduk, sudahlah, tamat riwayatnya, "Maaf Tuan, gak sengaja dengar."
Alvaro menatap tajam Clara, "Kau tau. Aku paling benci pembohong. Dan kau memancingku untuk marah."
Clara semakin menundukkan kepalanya bersalah, memang dia tak sepantasnya untuk menguping tadi. Seharusnya dia langsung pergi ke kamar saja tadi setelah mengantarkan minum.
"Bersihkan semua bagian rumah ini tanpa terkecuali. Jangan sampai ada debu sekecil apapun. Aku akan memastikannya setelah 2 jam nanti. Jika aku datang masih ada kotoran, aku akan menghukum mu lebih berat lagi!" Perintah Alvaro membuat Clara lututnya lemas.
"D-dua jam Tuan? Itu mus-"
"Mustahil? Belum memulai sudah menyerah, baiklah kalau begitu aku akan membuat hukuman yang lebih berat lagi!"
"Ah! Tidak Tidak Tuan! Saya akan mencoba mengerjakannya." Potong Clara agar tak di hukum lebih berat.
Alvaro tersenyum miring, rasakan.
"Dimulai dari sekarang!" Kata Alvaro membuat Clara segera tergesa-gesa mencari pel untuk segera membersihkan rumah ini.
Alvaro puas sekali melihat Clara seperti kesetanan karena hukumannya itu. Alvaro memasukkan tangannya ke dalam saku dan meninggalkan Clara yang sibuk dengan hukuman yang di berikannya.
Alvaro masuk ke dalam kamarnya, kembali pada berkasnya. Walaupun ini adalah hari minggu, Alvaro tetap saja bekerja di dalam kantor pribadinya. Dia jelas tak menyukai membuang waktu luang untuk hal yang tak berguna.
Setelah dia menyelesaikan semuanya, Alvaro kembali ke bawah untuk melihat apa yang sudah di lakukan Clara, ini sudah dua jam lewat satu menit, seharusnya semua sudah selesai bukan?
Alvaro tak sabar akan menghukum wanita ini lebih parah nanti, dia sangat yakin pekerjaan rumah tangga ini takkan mungkin bisa di kerjakan hanya dalam 2 jam.
Alvaro mulai berjalan ke ruang tamu mencari Clara, "Clara!"
Clara tak menjawab. Kemana anak itu?!
Alvaro melihat sekitar sambil melipat kedua tangannya di dada sambil mengangguk. Cepat juga dia membersihkan ruang tamu yang lebar ini dengan bersih.
Alvaro menyentuh meja dengan jari telunjuk dan tengahnya dan menggosokkannya dengan ibu jarinya di tangan yang sama mengetes apakah ada sisa debu yang tersisa.
"Hm, baiklah, ruangan ini sudah bersih."
Alvaro kembali melihat ke sekitarnya, "Clara!" Panggil Alvaro lagi. Pasalnya wanita itu terlalu tuli untuk mendengar. Kenapa dia masih tak menyahut?
Alvaro mulai berjalan ruangan tiap ruangan. Lelaki itu mengangguk, lumayan salut juga bisa bersih seperti itu. Dan kali ini dia mulai berjalan ke halaman belakang rumahnya. Alvaro membuka pintu rumah dengan pandangan lurus kedepan.
"TUAN AWAS!!" Jerit Clara agar Alvaro menghentikan langkahnya.
Bruk!!
Namun terlambat, Alvaro sudah terjatuh dengan cara sangat tak estetik. Dia di penuhi dengan busa yang berasal dari ember yang di tendangnya dan lantai yang sangat becek dengan air sabun lantai.
Lelaki itu menutup matanya dan mengeraskan rahangnya, "CLARAAA!!!"
Clara menutup telinganya dan menunduk. Dia sungguh tak akan selamat.