
Alvaro pulang ke rumah. Dia tak mau berlama-lama di kantor karena di rumah dia ingin langsung memeluk sang istri. Rindu sekali padahal baru beberapa jam saja meninggalkan wanita kesayangannya itu.
Clara sudah menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Alvaro. Wanita itu yakin Alvaro pasti sangat lapar. Clara berniat akan mengatakan sesuatu pada Alvaro nanti, dia ingin memberitahukan Alvaro mengenai pekerjaannya dan meminta izin untuk dirinya dapat bekerja. Jadi dia tak perlu bersembunyi lagi jika bekerja.
Lagi pula dia tak yakin dia bisa menyembunyikan pekerjaannya ini terlalu lama. Dan juga jika di ketahui Alvaro bukan dari bibir Clara sendiri, Alvaro pasti akan sangat marah.
Clara menghembuskan nafasnya lalu mengangguk, dia harus katakan yang sebenarnya.
Dreb
Alvaro memeluk Clara dari belakang.
Cup
Ciuman singkat Alvaro berikan pada Clara, "Aku pulang sayang."
Rencana untuk memberitahu Alvaro mengenai pekerjaannya pun tergantikan seketika karena ciuman Alvaro itu.
Jantung Clara berdegup kencang. Masih belum menyesuaikan diri dengan perilaku Alvaro yang tiba-tiba menjadi manja.
Alvaro tersenyum miring. Dia tau kalau Clara tengah berusaha menyesuaikan diri dengan sikapnya.
Alvaro membalikkan badan Clara dan merangkul pinggangnya, "Makasih buat makan malamnya sayang."
Lagi-lagi jantung Clara seperti ingin meledak, perilaku Alvaro seperti ini baru dia tunjukkan saat mereka sudah menikah, Clara jadi semakin tak karuan.
Clara mengangguk.
Alvaro menarik tengkuk Clara dan hendak kembali menciumnya.
Krukk...
Mereka terdiam dan saling tatap satu sama lain. Clara terkekeh singkat mendengar suara perut Alvaro, laper banget ternyata, "Udah kelaparan tapi masih genit aja kamu." Ledek Clara dan segera menyodorkan piring kepada Alvaro. "Makan sayang."
Alvaro menggaruk tengkuknya malu, dasar perut tak bisa di ajak kerja sama, "Hehe, iya sayang."
Setelah makan malam Alvaro kembali melihat ke arah Clara, "Mau jalan jalan ngak malam ini?"
Clara sebenarnya mau, tapi pikirannya kembali bercabang. Clara takut hari ini akan menjadi tambah bermasalah jika keluar dari rumah. Banyak hal yang tak terduga di luar sana bukan.
"Kenapa sayang? Apa ada yang terjadi padamu hari ini?" Tanya Alvaro.
Clara berusaha untuk tidak memikirkan mengenai kejadian tadi pagi. Jika Alvaro tau kalau dia jumpa dengan Viandro Alvaro akan sangat marah padanya, lelaki itu selalu sensitif kalau membahas mengenai kembarannya.
Clara menggeleng, "Tidak ada, hanya saja lagi gak mau aja keluar sayang."
Alvaro menganguk dan kembali memakan makan malamnya, "Oh gitu."
Clara mengangguk semakin berusaha untuk tidak berfikir apapun. Clara mencoba berfikir hal lainnya seperti film drama yang baru baru ini dia tonton.
Alvaro menggeleng setelah membaca pikiran Clara kali ini. Kenapa wanita selalu suka menonton drama di film.
Sedangkan Clara tersenyum kecil melihat suaminya yang pasti tengah menggerutu mengenai isi pemikiran Clara yang absurd.
Alvaro menghabiskan makanannya dan segera Clara merapikan piring yang di gunakan Alvaro dan mencucinya. "Sayang, kamu deluan aja ke kamar. Aku nyusul."
Alvaro yang sedari tadi memandangi Clara menggeleng, "Aku tunggu kamu aja. Kan cuma sebentar."
Clara mengangguk dan membereskan semuanya. Alvaro dan Clara pun masuk ke dalam kamar.
"Sayang kamu mandi dulu gih," kata Clara seraya masuk ke dalam kamar.
Alvaro tersenyum miring, "Mandi bareng?"
Clara langsung menggeleng, mengingat bagaimana kejadian malam pertamanya kemarin. Dia Alvaro pasti akan menerkamnya. "Kamu mandi sendiri. Aku udah mandi."
Alvaro terkekeh, "Tapi yang-"
Clara segera mendorong lelaki itu menuntunnya menuju kamar mandi, "Mandi sendiri gih. Aku mah bereskan baju kamu."
Alvaro kembali terkekeh, baiklah, dia takkan menggoda istrinya sekarang. Walaupun itu menyenangkan baginya.
Setelah mandi Alvaro pun menuju tempat tidur dan memeluk Clara, "Sayang..."
Mata Clara terbelalak, bagaimana tidak? Lelaki itu masih menggunakan handuk kimono dan bahkan talinya tak terikat kencang.
"Ih Al! Pakai baju dulu!" Clara mendorong dada lelaki itu sambil menutup matanya dengan wajah merah tomat.
Alvaro terkekeh, "Pakaikan lah yang.." gelayut Alvaro.
"Ih kamu!"
Alvaro tak kuasa menahan tawanya, dia tak menyangka ternyata pernikahan seindah ini. "Okey okey. Aku pakai baju dulu," Alvaro mengalah dan kemudian memakai bajunya.
Alvaro tersenyum dan mencubit pipi istrinya, "Bukunya kebalik."
Clara yang baru menyadari bukunya terbalik cepat cepat memutar bukunya dan kembali menutup wajahnya dengan buku.
Alvaro terkekeh dan menarik buku Clara, "Udah ah yang. Ngapain sih baca buku. Mending sama aku."
"Kamu ih. Nyebelin tau ngak," kata Clara dengan pipi yang masih merah tomat.
Alvaro terkekeh, "Iya deh maaf. Abisnya kamu lucu."
Clara mengerucutkan bibirnya kesal.
Alvaro merangkup kedua pipi Clara dengan tangannya, "Jangan di gituin, nanti aku hilaf loh."
"Al!"
Alvaro kembali terkekeh, "Iya iya. Ngak lagi, maaf."
Alvaro memeluk wanitanya itu dengan senyuman, "Sayang kangen."
Ya wes lah, Clara pun luluh. Memang beginilah lelaki yang bergelar jadi suaminya ini. Kadang menyebalkan kadang membuat dia meluluh.
Clara tersenyum dan membalas pelukan suaminya, "Aku juga sayang."
Alvaro memandang Clara, wajah Clara semakin lama semakin cantik saja. Dan tentu saja semakin menggoda.
Alvaro mendekatkan wajahnya pada Clara dan hendak mencium bibirnya.
Drett drett, drett drett
Hp Clara bergetar membuat pandangan mereka teralihkan, Clara melihat hpnya dan mendapati sebuah nomor tanpa nama menelpon Clara.
Alvaro juga melihat ke arah Hp Clara, "Siapa malam malam nelpon kamu?" Alvaro tak senang dengan sambungan itu.
Alvaro segera mengambil hp Clara dan mengangkatnya, "Ini siapa?"
Tak terdengar suara apapun dan kemudian sambungan di matikan.
Alvaro melihat ke arah Clara seakan meminta kejelasan ini siapa.
Clara menggeleng, "Aku juga tak tau. Orang iseng mungkin."
Alvaro mengalihkan pandangannya pada hp itu lagi, "Kalau ada nomor yang di kenal dan nelpon kamu malam malam jangan di jawab, kasih ke aku aja."
Clara mengangguk, "Baiklah."
Alvaro kembali mengeratkan pelukannya pada Clara, pikirannya kembali melayang, bisa jangan-jangan Clara selingkuh? Mengingat Clara yang memiliki inerbeauty tersendiri bukan?
"Kamu ngak selingkuh kan yang?" Tanya lelaki itu. Alvaro jadi merasa risau dengan hal itu.
"Ya gak lah Sayang. Kamu kok raguin aku yang?" Ungkap Clara sedikit kesal, dia bahkan sama sekali tak membayangkan tentang perselingkuhan.
Alvaro menghembuskan nafasnya dan kemudian kembali mengeratkan pelukannya pada Clara, "Gak ragu. Cuma antisipasi aja."
Clara memahami itu. Dia tau suaminya ini memiliki sifat yang pencemburu berat, jadi wajar saja Alvaro begitu.
Clara membalas pelukan Alvaro, "Aku ngak akan selingkuh dari kamu karena yang aku sayang itu cuma kamu."
Alvaro mengelus punggung Clara sambil melihat punggung wanita itu namun pikirnya masih mengambang. Alvaro sadar sifat buruk yang dia miliki adalah sikap cemburu buta terutama kalau sudah mencintai.
"Cla, aku cemburu kalau kamu dekat dekat dengan siapapun kamu tau. Siapapun bahkan sekalipun dia punya ikatan darah denganmu," ungkap Alvaro.
Alvaro menghembuskan nafasnya, "Itu sebabnya aku tidak akan mau membuatmu bekerja dan keluar dari rumah kalau tidak bersamaku. Aku benci kalau kamu di lihat lelaki lain selain aku Clara. Aku cemburu."
Clara tersentak, kalimat itu membuat Clara seketika risau. Alvaro tak menyukai dia bekerja. Seburuk itukah?
Alvaro menaikkan salah satu alisnya ketika membaca pikiran Clara yang seakan tak terima dengan ungkapannya itu. Alvaro menjauhkan diri untuk dapat melihat wajah Clara, "Apa itu masalah sayang?"
Clara mencoba untuk tidak berfikir apapun. Dia teringat kalau Alvaro dapat membaca pikiran, Clara menggeleng, "Tidak, tidak ada."
"Terus kenapa kamu-"
"Aku hanya terbiasa saja dengan bekerja. Jadi kalau kamu bilang-"
"Tidak Clara, aku sungguh tak menyukai jika kamu bekerja. Hajiku bisa memenuhi apapun untuk ku bahkan sampai keturunan kita nantinya. Aku tidak suka jika kamu membantah ini." Alvaro menekan kalimatnya membuat Clara segera terdiam.
Clara hanya mampu menunduk pasrah, "Baiklah Al."
Alvaro mengangguk, "Bagus. Ya udah sekarang lebih baik kita tidur."
Clara mengangguk. Tak ada harapan untuknya bekerja ternyata.