My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
seventy



Setelah selesai makan mereka pun melanjutkan perjalanan dan tentu saja hanya Alvaro yang tau ke mana mereka akan pergi.


Alvaro melihat ke arah Clara sambil terkekeh, "Kenapa sih Clara? Masih teringat yang tadi? Masih mikir kalau aku ini duda?"


Clara melirik ke arah Alvaro sinis. Dia sulit mempercayai Alvaro, lelaki ini tak pernah tampak serius, sungguh menyebalkan.


Alvaro menghembuskan nafasnya berat beberapa saat setelah tertawa. "Kalau aku memberitahukan yang sebenarnya apakah kamu akan percaya?"


Clara melihat ke arah Alvaro. Suasananya kini berbeda, Alvaro lebih diam sekarang.


"Memangnya apa?" Tanya Clara penasaran.


Alvaro melihat Clara dan kembali melihat ke jalan. Apakah kalau Alvaro mengatakan sesungguhnya Clara akan percaya? Itu pasti akan terlihat mengarang bukan?


Alvaro terkekeh singkat mengalihkan pembicaraan yang di mulainya. "Ah, bukan apa apa. Aku pun hanya bercanda tadi. Kamu mudah sekali di kerjain."


Clara mendengus kesal. Sudah ntah ke beberapa kali Alvaro menjahilinya.


"Ish. Kamu!"


Alvaro hanya terkekeh dan kembali diam. Dia ingin sekali mengatakan ini, tapi apa dayanya, sekalipun di beritahukan Clara akan lebih menganggapnya pembohong dan takkan mau lagi berjumpa dengannya.


Seketika setelahnya semuanya menjadi sepi. Tak ada pembicaraan apapun sekarang, Alvaro pun memilih untuk diam dan tak bercanda lagi.


Clara melihat ke arah Alvaro, terlihat aneh karena dia jadi diam seribu bahasa, padahal sebelumnya dia banyak bicara.


Apa memang benar 'Bercanda' barusan sungguh bercanda?


Sudahlah, Clara tak mau terlalu memikirkan hal itu, toh juga dia tak punya hak banyak bertanya pada Alvaro.


Alvaro pun menghentikan mobilnya membuat Clara sedikit terdorong ke depan karena rem. Clara melihat ke arah depan, "Ini kita dimana?"


Alvaro tersenyum dan keluar dari mobil. Lelaki itu membukakan pintu Clara dan wanita itu pun keluar


"Taman hiburan." Kata lelaki itu sambil menunjuk tulisan selamat datang ala taman hiburan.


Alis Clara bertautan bingung, "Kenapa ke sini?"


Alvaro tersenyum tipis, "Ingin main wahana aja. Udah lama gak pernah ke sini."


"Kok?"


Alvaro segera menarik tangan Clara, "Udah... Ayo!" Clara tertarik oleh tangan Alvaro yang menuntunnya.


Alvaro memesan tiket dan setelah itu mereka mulai bermain wahana permainan.


"Roller coaster?" Ajak Alvaro.


Clara menggeleng cepat. "Gak deh. Nanti rambut ku beranta-"


Set!


Alvaro tak mau mendengar alasan Clara. "Mau gimanapun kamu tetap cantik." Ucap lelaki itu seketika membuat Clara memerah.


Clara menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin baper dengan lelaki ini. Tidak.


Mereka pun di siapkan di bangku yang tersedia. Pengaman di kencangkan dan-


Tett!


Bel berbunyi dan saatnya roller coaster melaju.


Ketika sudah di titik tertinggi dan meluncur semua orang menjerit, putaran demi putaran membuat para penumpang terus menjerit, sangat seru.


Clara melihat ke arah Alvaro. Lelaki itu tampak tersenyum dengan tatapan wajah yang sedih.


Clara menepuk pundak Alvaro, "Hei, apa yang kamu pikirkan?"


Alvaro tersadar dan menoleh ke arah Clara sambil tersenyum, "Tidak ada, Kenapa?"


"Kamu yakin?" Tanya Clara ulang.


Alvaro terkekeh dan mengangguk, "Iya sayang. Tak ada masalah apapun." Alvaro kembali menghadap ke depan.


Clara terdiam mendengarkan Alvaro memanggilnya dengan kata panggilan 'sayang'.


Sayang?


Clara mulai membuka mulutnya, dia ingin bertanya sesuatu. Namun di saat yang bersamaan roller coaster mulai memutar dan semua orang menjerit. "Sayang? Maksudnya apa ya?"


Alvaro tak mendengar pertanyaan Clara sedangkan lelaki itu mulai menikmati wahana, "Seru banget ya sayang. Jadi ingat masa masa kita sebelum nikah dulu!" Jerit lelaki itu membuat Clara kembali terbelalak.


"Nikah?! Kapan?!" Pekik Clara kaget.


Alvaro tersadar dan segera menoleh ke arah Clara, "H-huh? Nikah apa?" Alvaro tanya balik agar tak di curigai Clara.


"Tadi kamu bilang kita udah nikah. Maksudnya apa?!" Tekan Clara.


Alvaro menggeleng dengan wajah polosnya, "Memangnya aku ada bilang? Kamu salah dengar kali."


"Gak mungkin aku salah dengar Al. Itu sangat jelas-"


Kemudian kembali teriakan dari para pemain wahana menjerit rollercoaster mulai meluncur ke bawah dan naik lagi.


Kesempatan ini Alvaro ambil untuk pura pura tidak tau, "Ah, salah dengar itu Clara.. banyak suara orang di sini." Ucap lelaki itu pelan.


"Huh?" Clara mendekatkan kepalanya, "Gak dengar!" Ucap wanita itu sedikit menjerit.


"Lihat kan ngak dengar?! Kamu pasti salah dengar tadi Clara!" Alvaro terkekeh dengan sedikit menaikkan suaranya agar Clara mendengarnya.


Clara memundurkan dirinya kembali menghadap depan. Apa mungkin dia salah dengar? Memang di sini banyak suara orang, tapi...


"Hei sudahlah! Nikmati saja permainannya! Hu!" Pekik Alvaro keasyikan.


"O-kay," kata Clara dengan suara rendah. Sepertinya memang dia salah dengar mungkin.


Clara kembali melihat ke arah Alvaro, lelaki itu sama sekali tak memasang wajah panik ataupun hal mencurigakan lainnya. Dia bahkan tersenyum lepas.


'Ah, mungkin aku yang salah dengar memang,' batin Clara.


Di sisi lain Alvaro seberusaha mungkin terlihat bahagia natural. Dia bahkan terkejut kenapa bisa tercetus kalimat seperti itu tanpa sadar. Kerinduannya sudah meradang sampai dia lupa jika ini bukan keadaannya yang dulu.


***


"Ah... Seru sekali semua wahana tadi ya," ujar Alvaro sambil menyenderkan tubuhnya pada kursi rumah makan bersama Clara. Sudah banyak wahana yang mereka lalui tadi dan semuanya sebenarnya sangat biasa saja menurut Alvaro, hanya karena ada Clara lah maka semuanya jadi spesial.


Clara mengangguk, "Iya. Aku juga seneng banget tadi. Seru!" Ucap wanita itu.


Alvaro tersenyum tipis, senang melihat wanitanya ini bahagia.


"Oh ya, kita mau makan apa sekarang? Aku sama sama kamu aja pesanannya." Kata Alvaro sambil memberikan daftar menu makanan yang ada di meja makan.


Clara menerimanya dan melihat menu makanan di sana, "Aku mau pesan bakso aja deh."


Alvaro mengangguk, "Minumannya? Jus jeruk kan?" Sambung lelaki itu.


Clara kaget, kok Alvaro tau dia akan memesan jus jeruk.


Alvaro yang menyadari ekspresi Clara tersenyum tipis, "Kalau mau pesan yang lain juga gak apa, aku asal nebak aja sih."


Ekspresi kaget itu berubah jadi anggukan, ternyata hanya asal tebak. "Jus jeruk aja. Biar lebih segar."


Alvaro pun mengangkat sebelah tangannya memanggil pelayan, "Bakso dua dan jus jeruk satu. Satu baksonya jangan terlalu banyak kuah ya soalnya dia tidak menyukai makanan yang kuahnya kebanyakan." Pesan Alvaro mengingat istrinya dulu sering menuangkan kuah pada baksonya dulu karena tak suka terlalu banyak kuah bakso.


Clara kembali kaget di buatnya sedangkan Alvaro baru tersadar akan ucapannya barusan.


"Baik pak. Pesanannya akan segera saya antar." Sang pelayan pergi meninggalkan keheningan di antara mereka.