
"Terus apa saja yang harus aku bawa?" Tanya Clara lagi.
"Yang pasti makanan sehat dengan mutu yang terbaik. Jangan yang murahan seperti yang kau beri ini. Paham?"
Clara mengangguk, "Iya Tuan..." Jawab Clara malas.
"Kenapa dengan ekspresi mu? Kau tak terima?" Alvaro menatap tajam Clara
Clara segera menggeleng, "Tidak Tuan. Saya akan lakukan apa yang Tuan mau."
Alvaro menatap sinis Clara dan kemudian kembali membaringkan dirinya membelakangi Clara, "Pergi sana. Dasar tak berguna."
Ish. Kata-kata Alvaro selalu saja menyakiti perasaan. Dasar bos lucknut.
***
Clara kembali membesuk Alvaro. Lelaki itu sudah duduk dari tadi menunggu Clara, "Bawa aku keluar jalan-jalan. Aku bosan."
Clara mengangguk, "Baiklah, aku ambil kursi roda dulu."
Clara mengambil kursi roda dan mendekatkannya ke arah Alvaro, lelaki itu duduk di sana. "Jalan."
Clara memayunkan bibirnya kesal, dasar bos cerewet!
Clara mendorong kursi roda itu dan kemudian menjalankannya perlahan,
Clara menjalankan kursi itu menuju taman rumah sakit yang ada di lantai bawah. "Jawab pertanyaanku dengan jujur," kata Alvaro tiba-tiba.
"Hm. Okey."
Alvaro mengembuskan napasnya, "Kalau aku mati hari ini gimana?"
Clara membolangkan matanya, "Kau harus tetap hidup! Jangan bicara giruu!"
Alvaro sedikit tersenyum miring. Beberapa hari ini dia selalu saja mengingat saat dia mati di masa depan, seorang wanita yang menyelamatkannya itu. Wanita yang hanya dapat dia dengar suaranya dan dia sangat berutang budi itu ternyata berada di dekatnya. Itu Clara.
Ucapan Clara sekarang dan suara wanita itu sangat mirip jika di ingat ingat.
"Kenapa Tuan bilang gitu? Apa ada yang melakukan sesuatu pada Tuan?" Tanya Clara cemas.
Alvaro menggeleng, "Tidak."
Clara kembali berfikir, dasar aneh.
Ting!
Pintu lift terbuka dan kemudian Clara kembali melanjutkan langkahnya sambil mendorong kursi roda Alvaro.
"Aku besok sudah bisa pulang. Siapkan semua barangku dan juga rapikan kamarku, semua harus tertata baik nantinya saat aku sampai."
Clara mengangguk, "Baiklah."
Saat berkeliling langkah mereka terhalang oleh seseorang di hadapan mereka, "Al gimana kabar kamu? Kamu sepertinya sudah mulai baik."
Alvaro muak sekali melihat Gladis di hadapannya, sungguh membuat moodnya turun.
Clara melihat ke arah Gladis tak suka. Wanita ini sudah menyelingkuhi Alvaro bukan? Clara sangat tak suka dengan tukang selingkuh, itu mengingatkannya akan seseorang yang paling dia benci, Viandro.
"Mbak bisa pergi gak. Apa mbak lupa kalau mbak sudah putus dengan tuan- maksudnya Alvaro?" Tekan Clara.
Alvaro melirik ke arah Clara. Ntahlah, dia berharap wanita ini bisa diandalkan sekarang untuk menjauhkan Gladis dari pandangannya.
Gladis tak perduli dan berlutut di hadapan Alvaro menyamakan pandangannya dengan lelaki itu. "Aku bawa makanan kesukaan kamu," kata wanita itu dengan senyuman.
Clara menusuk pipinya dengan lidahnya, wanita yang di hadapannya ini sangat menyebalkan.
"Mbak dia pacar saya, paham kan? Jangan ganggu hubungan orang." Clara segera mendorong kursi roda Alvaro membuat wanita itu sedikit menyingkir dan terduduk di rumput.
Alvaro terkekeh singkat. Ternyata Clara lumayan garang juga.
Gladis sangat jengkel dan kemudian bangkit berdiri lalu menarik rambut Clara, "Dasar perebut pacar orang. Alvaro itu milik aku!"
Saat Alvaro bangkit berdiri untuk membela Clara, Clara sudah lebih dahulu membalikkan keadaan dengan menjatuhkan Gladis, "Mbak jangan kasar. Saya bisa lebih kasar dari ini."
Alvaro tersenyum miring. Ntahlah dia suka melihat wanita ini terlihat pemberani, terlihat lebih berwibawa dan memiliki harga diri.
Mereka pun pergi meninggalkan Gladis yang tengah merengek tak terima, "Al! Hu hu hu... Kamu jahat!"
Dasar wanita gila.
***
Alvaro menatap datar Clara, "Siapa yang menyuruhmu bicara huh?"
"Itu karena dia menyebalkan. Sudah tau dia di putuskan karena dia selingkuh malahan tak sadar diri juga, siapa coba yang gak geram," jelas Clara kesal.
Alvaro menyentil jidad Clara kuat,
"Au!"
"Makanya jangan sok pintar. Tak perlu banyak bicara dan lebih baik diam," tekan Alvaro. Pasalnya mungkin hari ini syukur Clara pandai bicara, kalau tiba-tiba tak sengaja keceplosan dan malah jadi terlihat bodoh, kan jadi Alvaro yang malu.
"Tapi kan.."
"Gak ada tapi tapi. Dengarkan perintahku jika tak mau ku beri hukuman!"
Clara menunduk dan mengangguk, "Baiklah Tuan."
"Hm. Pergilah pulang. Sangat menyusahkan."
Clara mendesis tak terima tapi ya sudahlah, emang udah begitu produknya.
***
Clara membersihkan kamar Alvaro sebelum dia akan menjemput lelaki itu dan juga jangan lupa dia sebelumnya juga menyiapkan makan siang untuk lelaki itu.
"Apa aku buat kue juga ya? Hm.." Clara berfikir sejenak. Kalau dia buat dan rasanya ngak sesuai dengan lidah Alvaro juga lelaki itu pasti akan marah dan malah menghukumnya.
Ah, malas sekali. Lebih bagus tidak usah.
Clara melihat jam, menunjukkan pukul 12 siang, Alvaro di perbolehkan pulang jam 3 sore. "Nanti aja deh jam 2 aku datang. Dan dari pada gabut di rumah mending aku buat kue untukku sendiri, selama ini aku belum pernah buat kue khusus untukku sendiri kan? Coba deh aku buat aja."
Clara pun mulai memasak kue.
"Sebenarnya aku suka kue manis, tapi banyak juga orang yang ngak suka kue terlalu manis. Hari ini aku buat yang less sugar coba ya? Mana tau bisa enak. Hehe," Clara pun hanya memasukkan sedikit gula untuk adonan kuenya. Bahannya tak terlalu banyak karena Clara juga membuat kue tart yang kecil untuk dia makan seorang, kalau terlalu banyak juga akan kekenyangan dan tersisa banyak nanti.
Clara mulai meletakkan adonannya di dalam loyang kue dan memasukkannya ke dalam oven, harumnya mulai terasa saat dia mulai masak.
Ting!
Kue pun masak, Clara mengeluarkan dari oven dan mengeluarkannya dari cetakan. Clara memotong dari bawah membuat dia menjadi 3 layer untuk di masukkan cream putih dan strawberry segar di antara setiap layernya. Kemudian semua di lapisi dengan cream putih semua menutupi semua bagiannya. Setelah itu di hias dengan cream berwarna pink di atasnya. Cantik sekali tampilannya.
Clara pun memasukkan kue itu ke dalam kulkas, akan terasa nikmat jika di makan dingin. Clara pun merapikan semua peralatan dan bahan memasaknya.
Baru saja dia mau duduk sebentar hpnya berdering. Clara pun segera melihat siapa yang menelponnya, Alvaro!
Clara melihat ke arah jam. Masih juga jam 12.30, kenapa lagi nih orang?
"Halo?"
"Kenapa kau belum datang juga?! Aku sudah muak di sini dan kau malah enak enakan di rumah! Kau sengaja ya?! Senang sekali sepertinya di rumah ya?!" Komplein lelaki itu dengan nada tinggi hingga Clara langsung menjauhkan telponnya dari telinga.
"Tapi kan kata suster kemarin-"
"Kau dengar kata suster atau aku huh?! Kau sudah ganti majikan ya?!"
Clara memayunkan bibirnya kesal. "Merepet mulu," gumam Clara namun terdengar Alvaro.
"Apa kau bilang?!"
"Ah iya Tuan. Saya akan segera ke sana! Siap!" Clara segera mematikan hpnya.
"Tiap hari darah tinggi mulu tu orang. Nanti kena stroke baru tau. Ck," keluh Clara.
Dari pada dia makin kena marah nanti mending dia langsung berangkat saja.
Clara pun segera mengganti baju dan berangkat.