
Viandro memberikan kode pada suruhannya. Mereka mengangguk dan kemudian menghampiri Alvaro.
Seorang menahan tangan Alvaro dengan paksa dan mendorong Clara menjauh.
Bak! buk! bak! buk!
Mereka memukuli Alvaro dengan bertubi-tubi dan brutal. Hingga Alvaro memuntahkan darah dari bibir dan hidungnya.
Viandro mengangkat tangannya, "Stop! Kalian. Kembalilah ke sini." Suruhnya pada orang suruhannya itu.
Segera Clara kembali pada Alvaro dan memegangi wajahnya Alvaro dengan tangannya, wanita itu terisak dan menangis. "Al.."
"Untuk apa menangisinya sayang. Jangan kotori tanganmu dengan darahnya yang menjijikan." Sinis Viandro.
Clara menatap nyalang Viandro dengan masih menangis, "Apa maumu! Kamu sangat kejam!"
Viandro terkekeh, "Aku? Kejam? Tidak sayang. Kamu yang kejam. Kenapa memilih orang sepertinya di bandingkan aku huh?"
Viandro menatap datar Clara, "Aku lakukan ini untuk membuktikan padamu betapa tidak beruntungnya pilihanmu itu sayang."
Viandro melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum miring, "Sungguh menyedihkan huh? Sangat mudah mengambil permen dari anak menyedihkan sepertimu kakak."
Alvaro tersenyum miring, "Kau takkan bisa memiliki apapun dariku adik bodoh. Sebesar apapun kau mencoba takkan bisa."
Viandro menatap geram Alvaro, sudah di titik kejatuhannya malah semakin sombong. Tanpa di ketahui Viandro kalau Alvaro sudah memasang alat pelacak pada jam tangannya selama ini dan sudah memberitahukan kepada para anggotanya untuk melacak keberadaannya bersama dengan polisi tadi. Dan lihat saja, Alvaro takkan kalah dengan Alvaro, untuk kali ini dia takkan kalah.
Viandro mengangkat pistolnya dengan mengacungkannya pada Alvaro,
Dor! Dor!
"Al!" Jerit Clara ketika Viandro menembak kaki Alvaro memaksanya untuk berlutut. Alvaro terjatuh dan menahan kepedihan dan kesakitan. Viandro tertawa kemenangan.
"Meminta ampun huh? Kasian sekali," hina Viandro melihat kakak kembarnya itu menderita.
Dor! Dor!
"Arh!!"
Tembakan itu kembali melesat pada bahu kanan kiri Alvaro membuat Viandro tertawa menggelegar di dalam ruangan ini, "Jeritanmu itu terdengar sangat merdu my twins."
Clara seketika melemah, kakinya tak kuat untuk berdiri, Clara menegang bahu lelaki itu dan melihat darah yang mengalir di sana membanjiri tangannya.
Viandro kembali mengacungkan pistolnya ke hadapan Alvaro dan bersiap untuk membunuhnya. Kali ini dia menargetkan jantung lelaki itu. "Kau akan mati." Gumam Viandro terdengar seperti bisikkan.
Dor!
Set!
Mata Alvaro terbelalak melihat Clara yang berada di hadapannya. Clara menghalangi tembakan itu hingga mengenai dadanya sendiri.
Clara runtuh seketika dan termegap-megap di pangkuan Alvaro.
Viandro syok dengan apa yang dia lakukan. Viandro menggeleng, tidak, bukan Clara yang dia inginkan tiada. Bukan...
Brak!
Pintu ruangan ini di didobrak dan rombongan polisi yang datang menyergap mereka semua.
"****!" Maki Viandro. Dia tak menyangka hal ini bisa gagal.
"Aku akan membalas mu Alvaro! Aku akan membalasmu!"
Mereka semua di amankan petugas.
Keributan di ruangan ini sama sekali tak terdengar Alvaro. Lelaki itu menggeleng dan mengusap wajah Clara, "Sayang. Sayang... Kenapa begini? Ku mohon... Jangan."
Tangan Alvaro bergetar hebat dan cairan bening terus mengalir di pipinya.
"Tuan, kita harus bergerak cepat! Kita harus menyelamatkannya!" Ucap tangan kanan Alvaro.
Buk!!
Alvaro meninju tangan kanannya itu dengan keras. Tak perduli seberapa sakit tangannya yang terluka karena tembakan pistol, dia sungguh emosi melihat mereka semua.
"Brengsek! Dasar tolol! Berapa lama lagi aku menunggumu bodoh!! Lihat apa yang terjadi karena tindakan konyolmu!"
Alvaro menarik kerah sang tangan kanan, mencengkramnya kuat, "Cepat siapkan kendaraan!"
***
Alvaro dan Clara di rawat dalam ruang yang terpisah. Alvaro yang dalam kamar operasi dan kini sudah melewati beberapa tahapan penjahitan setelah anak peluru di keluarkan.
"Kenapa kau lama sekali brengsek!Segera bawa aku ke ruangan istriku!" Maki Alvaro pada seorang dokter yang melakukan penanganan terhadapnya.
"Maaf pak, ini sudah-"
"Siapa yang menyuruhmu bicara! Kerjakan cepat!"
Damn, rasanya sang dokter ingin sekali berkata kasar. Tapi dia memilih untuk bersabar memaklumi Alvaro sedang dalam tekanan akibat kejadian yang di alaminya.
Alvaro sungguh ketakutan. Dia gak sanggup jika terjadi sesuatu pada Clara.
Set
Pintu ruangan terbuka. Sang dokter keluar dengan wajah lesu dan berkeringat.
"Bagaimana dengan istri saya! Katakan!" Paksa Alvaro meminta kepastian.
Sang dokter mengehela nafas sebelum dia kembali berbicara, "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain."
Dunia Alvaro seakan berguncang. Alvaro menggeleng, "Tidak. Jangan bermain main denganku!" Emosi lelaki itu.
"Maaf pak. Ibu Clara tak dapat tertolong."
"TIDAK! TIDAK!! KALIAN DOKTER BODOH! BAGAIMANA BISA KALIAN TAK DAPAT MENOLONG ISTRIKU!! CLARA!! CLARA BANGUNLAH SAYANG!! CLARA!!!"
Dada Alvaro terasa sesak. Dia tak sanggup menerima kenyataan ini. Tidak, Clara. Dia tak ingin wanita itu meninggalkannya. Tidak..
"Tenang pak. Perhatikan juga keadaan bapak, bapak juga dalam luka berat. Tolong untuk menahan diri bapak."
"BAGAIMANA AKU BISA TAHAN! AKU- AKH!!"
Dada Alvaro terasa sangat ngilu dan sakit yang teramat sangat. Lelaki itu memegang dadanya yang memar dan babak belur di sekujur tubuhnya. Mata lelaki itu menggelap dan suara seakan berdenging.
"Pak, anda harus beristirahat. Suster, bawa dia ke ruangan intensif." Ucap sang dokter yang kemudian di laksanakan oleh suster itu.
Alvaro di bawa ke ruangannya dan di bantu oleh beberapa perawat pria lain Alvaro di angkat ke atas tempat tidur. Lelaki itu di baringkan di sana.
Alvaro mulai tertidur tanpa sadar. Tubuhnya begitu menderita bahkan batinnya. Sungguh malang Alvaro.
Tak menunggu lama, 3 jam lamanya Alvaro tertidur lelaki itu ke kembali terbangun. Alvaro segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuat anggota Alvaro yang menjaganya terlonjak kaget.
"Tuan hati hati!" Mereka segera memegangi Alvaro untuk duduk duduk dengan benar.
Alvaro menatap tajam para anggotanya itu, "Bawa aku ke ruangan Clara sekarang."
Kalimat penuh penekanan itu membuat mereka merinding takut. "B-baik Tuan."
Mereka pun membawa Alvaro ke luar ruangan, "Kita ke ruangan administrasi dulu Tuan. Untuk mengetahui di mana ruangan Nyonya Clara sekarang."
***
Kini Alvaro berada di sebelah Clara yang terbujur kaku di ruang jenazah. Wanita itu terbungkus kain kafan dan wajahnya sangat pucat.
Para anggota Alvaro keluar dari ruangan membiarkan Alvaro untuk memiliki waktu sendiri dengan Clara walaupun Clara sudah tiada.
Alvaro tak tahan melihat Clara seperti ini. Dia masih sangat tak terima, Alvaro memaksakan bangkit berdiri dan memeluk wanitanya, "Sayang... Bangun sayang... Kamu kenapa ngak bangun juga."
Alvaro menangis. Air matanya tak terbendung lagi dan dadanya sangat sesak dengan kejadian ini, sungguh tak tahan menghadapi ini.
Orang yang paling dia cintai mati dengan sangat tragis karena dirinya. Alvaro terus menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
Srek
Tangan Alvaro seperti menggenggam sesuatu. Alvaro melihat ke sebelahnya dan terlihat kembali bunga tiga tangkai. Alvaro semakin menangis, "Apakah ini maksudnya? Bunga untuk pemakaman?"
Alvaro menangis. Bunga mistik ini membuat Alvaro semakin menderita.
Ksrak!
Alvaro membuang bunga itu dengan amarah. "Brengsek!"
"AKU HANYA INGIN DIA BAHAGIA, ITU SAJA! KENAPA KAU MENYIKSAKU!! KENAPA!!
Alvaro menangis terisak. Sangat menyakitkan sungguh!
"Clara... Kembalilah..."
Syuhhhh...
Seketika angin kencang menerpa Alvaro bersamaan dengan cahaya yang silau masuk ke dalam matanya.
KEBAHAGIAAN ITU IMPIAN, KEMATIAN ITU MUTLAK
terdengar suara menggema dalam ruangan ini. Kemudian tangan Alvaro terasa sangat sakit dan perih seperti terbakar.
IMPIANMU AKAN JADI KENYATAAN, SESUAI KEINGINANMU
Set!
Kemudian semuanya gelap dan hening. Tak ada suara apapun.
Sampai akhirnya..
Tit tit tit
"Dokter... Pasien bangun!" Suara teriakan samar terdengar di telinga Alvaro.