
Alvaro melihat ke arah Clara. Segera dia dapat membaca pikiran wanita itu. Apa yang terjadi tadi terhadapnya tereview ulang di pikiran Clara hingga Alvaro dapat membacanya.
Alvaro melihat tak suka gadis yang di anggapnya bodoh itu. Dengan pengakuan Clara bahwa dia adalah pacarnya di depan ibunya membuat dia pasti sangat jengkel karena dalam hatinya sendiri dia sangat menolak keberadaan wanita kampung ini. Kalau saja bukan karena untuk membalas dendam dengan Viandro dia takkan bela belain untuk menjatuhkan harga dirinya dengan menjadikan Clara sebagai pacarnya. Ck.
"Al, pacar kamu baik. Tadi malam di tolong sama-"
"Udah gak perlu di bahas lah ma. Mendingan kita makan malam aja langsung. Alvaro juga banyak pekerjaan yang harus di urus, Alvaro tidak bisa berlama lama di sini," tukas lelaki itu memotong kalimat sang ibu yang dia yakini pasti akan sangat panjang bercerita.
Mama Alvaro sedikit kecewa, tapi ya mau bagaimana lagi, anaknya ini memang super duper sibuk. Dia sangat memakluminya.
Viandro melihat Clara hendak tertawa. Wanita ini mau bagaimana pun juga akan tetap kampungan seberusaha apapun Alvaro menaikkan derajatnya. Usaha menjaring angin.
Di balik sifat Viandro yang sangat terlihat baik dan manis tersimpan sifat yang bahkan lebih angkuh dari sang kembar, walaupun dia tak sehebat Alvaro tapi tingkahnya melebihi Alvaro. Sangat tak tau diri.
Selesai makan Alvaro bangkit berdiri, moodnya memang sudah tak enak. Dia tak suka berlama lama semeja dengan Clara, sangat tak layak bagi wanita terutama Clara duduk bersama dirinya bukan? Sangat tak etis.
"Alvaro dan Clara sudah selesai. Kami pulang," Alvaro segera menarik tangan Clara yang padahal masih menyuap 3 sendok ke dalam mulutnya. Dia sedari tadi berbincang dengan mama Alvaro yang membuat dia tak habis habis makan.
"Tapi Al, Clara belum-"
"Tak perlu ma. Dia makannya memang sedikit, makanan ini tak akan bisa dia habiskan," kata Alvaro tak perduli.
Clara melihat makanan lezat di piringnya sangat sedih jika harus meninggalkannya.
Alvaro menatap tajam Clara membuat Clara mengurungkan niatnya itu. Lebih baik dia tak makan dari pada malah di hukum sama si iblis ini bukan?
"Kami pulang." Alvaro pergi menjauh dari tempat itu sambil menarik tangan Clara.
Alvaro menghempas tangannya yang menggenggam Clara, menatap wanita itu dengan sinis, "Aku akan menghukummu sampai rumah nanti."
Clara mengangga, "Aa?.. memangnya-"
"Sekali lagi kau bicara aku akan menambahnya lebih dari perkiraanku sekarang," Ancam Alvaro membuat Clara mengumpat dalam hatinya. Perasaan dia tak berbuat apapun tadi kenapa malah dihukum mulu.
Alvaro yang mengetahui isi pikiran Clara menjitak kepala Clara, "Kau masih tak merasa bersalah? Aku akan menghukummu dengan hukuman tambahan nanti."
Clara membelalakkan matanya, dia bahkan belum bicara apa apa kenapa Alvaro makin menghukumnya? Apa maksudnya coba? Clara sangat tak terima.
Alvaro memicingkan matanya melihat Clara. Pikiran wanita ini terus saja membuatnya sangat kesal. "Masuk ke dalam mobil sekarang." Tekan Alvaro membuat Clara mau tidak mau harus menurut.
Clara masuk ke dalam mobil begitu pun Alvaro. Lelaki itu segera melajukan mobilnya menuju rumahnya, dia akan menghukum wanita ini sesuka hatinya.
***
Alvaro keluar dari mobil begitu pun Clara. Alvaro melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sedangkan Clara mulai mengekor di belakang Alvaro.
"Siapa yang menyuruhmu berjalan mengikutiku huh? Merangkak!" Perintah Alvaro membuat Clara menyerngit shock.
"M-maksudnya Tuan?"
Alvaro memutar bola matanya malas, "Apa aku harus mengulang kalimat sederhana itu huh? Dasar bodoh! Merangkak! Kau masuk ke rumah dengan merangkak!"
"Tapi-"
"Push up 50 kali!"
"Huh?.."
"Baiklah baiklah! Aku akan melakukannya." Putus Clara, jika dia tambah bicara hukumannya akan semakin menambah.
Clara pun memulai push up nya. "Satu, dua, tiga,"
"Seratus kali dan setelahnya kau masuk dengan merangkak." Alvaro masuk ke rumahnya tanpa memperdulikan Clara.
Arhh... Clara sangat kesal di buatnya. Dasar iblis! Batin Clara.
Alvaro yang bisa mendengarnya itu malah tersenyum miring, menyiksa Clara itu salah satu hiburan baginya.
***
Alvaro turun dari tangga menuju meja makan. Di sana sudah tersedia roti dan secangkir jus jeruk untuk sarapan lelaki tampan nan dingin itu.
Alvaro melirik ke sebelahnya, seorang wanita kumel dengan segala kebodohannya yang menyiapkan sarapan ini. "Kenapa kau tak tanya padaku aku mau sarapan apa huh? Aku takkan memakan ini!" Komen Alvaro.
Clara menekuk wajahnya. Sungguh Alvaro membuat paginya menjadi lebih buruk dari pada hari yang sudah sudah.
Tapi Clara jadi serba salah, kalau di lawan dia akan semakin kena hukuman. Clara menghela nafas dan mulai berbicara, "Baiklah, Tuan mau makan-"
"Kau bertanya? Pikirkan sendiri? Punya otak kan?" Telak Alvaro tak mau tau, lelaki itu mengambil hpnya dan berkutat dengan benda pipih itu. "Cepat aku lapar!"
Clara menggenggam tangannya erat. Ingin sekali dia menerkam lelaki ini dan menelannya hidup hidup rasanya!
Alvaro menolehkan kepalanya, "Apa kau akan tetap berdiri atau bekerja?! Cepat lakukan!"
Oh Tuhan. Tambahkan hati hambamu ini. Clara mengelus dadanya, sabar... Sabar...
Clara pun mulai memasak spaghetti dengan penuh ketabahan. Dia tak tau apa sarapan yang enak untuk di pagi hari ala orang kaya, jadi mungkin makanan ini cocok untuk sarapan. Tapi ntah lah dia juga tak tau. Wong dia ngak pernah makan beginian.
Clara pun menyediakan makanan itu tepat di hadapan Alvaro, "Ini dia Tuan. Sarapan yang pastinya sangat enak." Ucap Clara.
Alvaro menatap jijik masakan Clara, "Apa ini?!"
"Spaghetti." Jawab Clara dengan santai.
Lihatlah bagaimana Clara memasak Spaghetti, dia memasaknya dengan menumis bumbu mie goreng dan kemudian memasukkan spaghetti yang sudah di rebus sebelumnya. Sungguh sangat impresif bukan?
Dalam pikiran Clara yang namanya juga mie, ya masaknya kaya masak mie lah, terus?
"Buang buang! Ck. Kau membuatku mual!" Alvaro bangkit berdiri dan menatap tajam Clara, "Aku takkan makan masakan bodohmu itu!"
Clara melengkungkan bibirnya ke bawah, padahal dia sudah berusaha untuk membuatnya.
"Nanti saat pulang aku harus sudah melihat makanan yang normal dengan minuman yang segar! Kau dengar ini baik baik?!"
Clara mengangguk, dasar galak. Pikir Clara.
Ktok!
Alvaro menjitak kepala Clara membuat Clara memegang jidadnya yang terasa sakit, "Udah salah malah semakin menjadi!"
"Buatkan aku juga sup buah, dengan buah yang segar yang kau petik sendiri dengan tanganmu dari pohonnya. Kirimkan buktinya padaku, foto mu, tidak tidak, video mu memetiknya! Jika tidak, kau tau akibatnya!" Alvaro menambah perintah dan sekaligus hukuman bagi Clara.
Astaga. Nasib memang hidup bersama orang titisan iblis sepertinya. Sad banget dah pokoknya.