
Alvaro mengintip, Clara sudah masuk ke dalam kamarnya. Ck. Sangat menyebalkan. Kenapa dia jadi melakukan pengorbanan seperti ini.
Ini kali pertama Alvaro tidur di sofa dan ini sangat menjatuhkan harga dirinya. Ah, menyebalkan sekali.
Tup!
Semua tiba-tiba gelap setelah terdengar suara ledakan. Astaga, bagiamana bisa penginapan mahal seperti ini mati lampu?
Alvaro mengumpat dalam hatinya mengetahui kejadian ini. Sudah Bayat mahal malah dapat fasilitas yang tak memuaskan seperti ini, ck.
Alvaro bangkit duduk dan menghidupkan senternya dari hpnya.
"Al." Panggil seseorang membuat Alvaro segera menoleh.
Deg!
Alvaro terkejut bukan main melihat penampilan Clara yang terlihat seperti hantu. Sudah pakaiannya putih, rambutnya di gerai, wajahnya datar lagi.
"Heh! Kau mau membuatku sakit jantung!"
Clara menahan tawanya dan kemudian duduk di sebelah Alvaro, "Al, aku di sini saja ya sama kamu. Kamarmu besar sekali, dan kalau hanya aku yang di situ akan sangat menyeramkan."
Alvaro masih memegang dadanya yang masih syok. "Terserahmu."
Clara bersyukur, untung saja Alvaro memperbolehkannya. Soalnya Clara punya phobia berlebihan kalau di dalam gelap.
"Kau phobia?" Tanya Alvaro membuat Clara tersadar. Astaga, dia lupa kalau Alvaro dapat membaca pikiran.
Clara mengangguk, "Iya, tapi sekarang tak terlalu parah seperti dulu."
Alvaro tersenyum miring, sebenarnya asik juga untuk menakutinya sekarang bukan. Itu akan seru.
Tidak Alvaro. Jika kau melakukannya angka di tangan mu akan bertambah dan itu pasti akan semakin membuat perjuanganmu sia-sia. Alvaro menepis pikiran jahilnya dan kembali membaringkan tubuhnya setengah tidur dan duduk.
"Kamu sudah mau tidur?" Tanya Clara pada Alvaro.
Alvaro mengangguk, "Hm."
Clara menghembuskan nafasnya, ada sedikit kekuatiran dalam dirinya. Jika Alvaro tidur dan dia masih bangun sendirian ini akan menakutkan.
Tangan Clara mulai panas dingin, "Tidak mau main hp gitu?"
"Gak."
"Atau mungkin cerita cerita dulu?"
"Gak."
"Kalau makan lagi mau gak?"
"Gak gak gak. Sudah, jangan bicara lagi aku ngantuk." Cetus Alvaro membuat Clara menutup mulutnya rapat rapat. Jika di teruskan bisa bisa Alvaro akan semakin galak.
Aduh. Bagaimana ini dia sangat takut.
Alvaro yang mengetahui ketakutan Clara pun menarik Clara hingga wanita itu tertidur di sebelahnya. Alvaro menutup tubuh Clara dengan selimut dan kemudian mengelus rambutnya, "Tidurlah. Aku akan menunggumu sampai kau tertidur."
Clara membelalakkan matanya, ini membuat jantungnya bahkan berdegup sangat kencang, bagaimana dia bisa tertidur?
Alvaro tersenyum tipis, "Tutup matamu dan rileks," sahut Alvaro menjawab pertanyaan yang ada di pikiran Clara.
Clara segera menutup matanya, astaga sangat memalukan, dia bahkan ketahuan jantungan di depan Alvaro.
Alvaro kembali mengelus elus lembut wanita yang sekarang tengah memunggunginya. "Mimpi indah."
Lama kelamaan pun mereka tertidur. Pagi ini Alvaro terbangun dan melihat Clara sudah tidak ada di hadapannya. Kemana anak itu?
***
Sreng srung sreng srung
Terdengar suara kuali yang tengah bergesekan dengan sendok. Alvaro yakin itu pasti Clara.
Alvaro berjalan ke arah dapur dan melihat wanita itu tengah memasak. Dan harumnya sangat enak.
Alvaro melihat masakan Clara, "Masak apa?"
Clara tersenyum dan kembali melihat masakannya, "Masak masakan kesukaan kamu. Masak mie kuah."
Alvaro menyergitkan dahinya, "Sejak kapan aku suka mie kuah?"
Clara malah melihat Alvaro bingung, "Bukannya itu memang kesukaan kamu. Kenapa kamu heran?"
Clara mematikan kompornya dan menyediakan mie itu ke hadapan Alvaro. "Ini kamu yang pesan di masak untuk sarapan kamu. Kamu sih pelupa." Clara mencubit pipi Alvaro.
Alvaro ingin marah tapi ntah kenapa dia menyukai Clara melakukan hal manja seperti ini.
Alvaro menarik Clara ke pangkuannya dan memeluknya. Ntah dari mana keberaniannya ini tapi ini di lakukan Alvaro seakan ini sudah biasa di lakukannya.
Cup
Clara mencium bibir Alvaro manja, "Dasar suami menyebalkan."
Alvaro tersenyum miring dan membalas ciuman Clara, "Dasar istri nakal."
Alvaro bahkan tak sadar akan ucapan dan tingkahnya yang gila ini.
Alvaro menggendong Clara dan membawanya ke kamar kemudian memeluknya sambil melanjutkan ciumannya, seperti menikmati apa yang di lakukan Alvaro Clara melingkarkan tangannya di leher lelaki itu dan menerima apapun buang akan di lakukan Alvaro terhadapnya.
"Sayang, berikan aku bayi dari rahimmu," bisik Alvaro dengan suara beratnya.
Clara mengangguk kaku membuat Alvaro tersenyum girang bukan main.
Alvaro melanjutkan ciumannya sambil membuka baju wanitanya perlahan.
Bruk!
Pintu kamar mereka terbuka dan tampillah Viandro dengan wajah tajam dan sorot mata nyalang berapi. "Berhenti menyentuh istriku!"
Clara tampak terkejut dan melihat Alvaro, "Kamu bukan Viandro?!"
Alvaro menatap kesal dan geram Viandro, "Sekalipun Clara istrimu dia akan menjadi milikku selamanya."
Alvaro memeluk Clara dan membuat Clara ketakutan, "Lepaskan saya. Saya istrinya Viandro. Bukan istri anda."
Alvaro sangat kesal dan memaksa Clara, "Tidak kau milikku dan selamanya begitu!"
Alvaro kembali mencium Clara namun Clara menolaknya, Kendati seperti itu Alvaro tetap memaksa.
"Tidak! Lepaskan saya!"
"Tidak akan! Kamu milikku dan selamanya milikku!!"
Hush...
Bayangan itu menghilang dan Alvaro terbangun dari mimpinya. Dadanya naik turun, emosi akibat mimpi itu masih terbawa sampai dia bangun seperti sekarang.
Alvaro mendengar suara gesekan antara sendok dan kuali, segera Alvaro berlari ke dapur, apakah ini masih di dalam mimpi? Kenapa mimpi itu terasa sangat aneh dan membuat dirinya merasa takut kehilangan Clara?
Clara tengah memasak sesuatu.
"Clara apa yang kau masak?"
Clara melihat Alvaro yang penuh dengan peluh merasa kaget dan panik, "Alvaro, kamu baik baik saja?"
Alvaro menutup matanya sebelum kembali bicara, "Jawab saja pertanyaanku!"
Clara mengangguk, "Ayam goreng tepung Al."
Alvaro menghembuskan nafasnya, berbeda dengan mimpinya.
Alvaro menatap serius Clara, "Apa kau istrinya Viandro?"
"Tentu saja tidak. Saya tidak pernah mau menyukainya Al, bagaimana bisa kamu bilang aku menikah dengannya?"
Alvaro menghembuskan nafasnya lega sambil duduk. Lelaki itu memijat kepalanya, pikiran mimpi itu sangat menakutkan. Dia membenci hal itu.
Segera Clara menyediakan sarapan, "Al aku buat jus terong belanda untuk mu ya."
Alvaro mengangguk, dia juga butuh suplai tenaga dari jus itu.
Clara membuatkan jus itu sesegera mungkin dan saat sudah selesai Clara pun memberikannya pada Alvaro. Clara juga memberikan sarapan pada lelaki itu.
"Al, kenapa kau sangat pucat?"
Alvaro melihat ke arah Clara dan kembali minum minumannya, "Bukan apa apa. Hanya mimpi buruk."
Clara mengangguk. "Kalau begitu apakah ada yang kamu perlukan lagi, aku akan melakukannya."
Alvaro menggeleng, "Tidak ada, aku hanya butuh kau selalu ada di dekatku, apapun itu, dan jangan pernah mendekati siapapun, terutama Viandro."
Clara malah semakin bingung. Apa yang terjadi pada Alvaro?