
Clara berjalan riang. Hidupnya kini bebas!
"Okey... Dari mana kita mulai. Ha! Pertama kita cari kos kosan, setelah itu buka lapangan kerja sendiri, buat bisnis kue kecil-kecilan!" Ucap Clara dengan senyuman manisnya. Dia akan sangat bahagia sekarang.
***
Ini adalah hari pertama kepergian Clara yang minggat dari rumahnya. Terasa begitu tenang, plong, rasanya enak banget.
Alvaro pun mulai bangun pagi, dia berjalan ke arah kamar mandi. Setelah membuka semua pakaiannya. Lelaki bertubuh atletis itu mulai menyampoi rambutnya,
"Akh!" Cairan sampo masuk ke dalam matanya.
Lelaki itu segera menengadah untuk segera di bilas dengan air wajahnya yang bersampo itu.
Deb
Lampu mati dan bahkan airnya pun tak hidup juga.
"DAMN!" jerit lelaki itu dari dalam kamar mandi mendapati ruangan kamar mandinya pun sudah gelap.
Baru pagi sudah membuat darah nya mendidih.
Alvaro segera menggunakan handuk kimono dan keluar kamar mandi, karena tak bisa melihat apa apa kaki Alvaro terpeleset dan terjadi hal memalukan, dia terjatuh dengan posisi terperosok di bawah kolong kursi.
"****!"
Ini juga, kenapa bisa bisanya lampu padam?! Bukankah dia tak pernah membayar terlambat? Dan bahkan sering melebihi pembayarannya.
Arh!! Menyusahkan saja!!
Alvaro terpaksa menggunakan air mineral untuk menyelamatkan matanya dari perihnya sabun.
Dan setelah itu Alvaro menjerit dengan suara menggelegar, "Pelayan! Mana air untukku mandi!"
Segera beberapa pelayan pria masuk ke dalam kamar Alvaro.
"T-tidak ada air Tuan. K-kecuali..."
"Kecuali apa?!"
Sang pelayan tersentak dengan bentakkan Alvaro, "Di kamar mandi umum Tuan!" Jawab sang pelayan dengan seberani ini.
"Huh?! Apa kau gila?! Apa di rumah ini tak tersisa air sepeserpun sampai aku harus ke tempat serendah itu?!" Bentak Alvaro tak terima.
Sang pelayan menundukkan kepalanya, "Tak ada Tuan."
Alvaro mengusap wajahnya. Sial sekali juga harus ke tempat kotor itu.
"Tidak aku takkan ke sana! Belikan saja air galon sebanyak mungkin, aku mandi pakai air itu saja!"
"B-baik Tuan." Segera para pelayan itu keluar kamar Alvaro.
Begitu lama menunggu membuat Alvaro sangat jengah dan marah. "Lama sekali! Apa mereka ngesot di jalan huh?!"
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dan mereka masih saja belum datang.
Dan akhirnya mereka pun datang dengan wajah ngos-ngosan, "Selamat pagi Tuan, kami sudah mencari di mana mana, tapi galonnya malah habis."
"Sepagi ini bisa habis?! Jangan bodoh!" Bentak Alvaro.
Sang pelayan memegang dada dan mulai bersumpah, "Sungguh Tuan. Kami bahkan memiliki bukti rekaman mereka berbicara. Kami bersungguh."
Alvaro mengusap wajahnya, "****!"
Alvaro tak perduli, dari pada dia tak mandi, lagi pula seburuk apa sih kamar mandi, orang cuma kamar mandi umum?
"Baiklah siapkan mobil kita berangkat ke kamar mandi umum!"
Mereka pun menuju kamar mandi umum, dan yang benar saja, baru saja Alvaro masuk baunya itu langsung mengundang lelaki itu untuk muntah.
Alvaro mendatangi meja pemilik kamar mandi umum itu, "Hei Brengsek! Aku membayar untuk kamar mandi bersih dan harum untukku mandi, kenapa yang kau sediakan tempat sampah umum?!" Hina Alvaro membuat sang pemilik sangat kesal karena merasa tak di hargai.
"Mau mau, gak mau gak usah! Saya juga tidak memaksa!" Tantang lelaki itu lagi.
"Cih! Sombong sekali si miskin ini! Aku akan menuntut mu ke pihak hukum karena menyediakan fasilitas tak layak pakai seperti ini. Lihat saja kau takkan memiliki apapun untuk kehidupanmu nanti." Ancam Alvaro dengan senyuman iblisnya.
"Ayo pergi!" Alvaro berjalan terlebih dahulu meninggalkan kamar mandi umum yang menjijikan itu.
Alvaro melihat ke arah si pelayan, "Apa kau tak punya akal untuk berfikir?! Apa kau tak punya inspirasi di akalmu untuk mencari air huh?! Bodoh!"
Heh! Tuannya ini sangat rewel sampai rasanya kuping nya ingin meledak!
Walaupun seperti itu sang pelayan masih saja sopan, dia menunduk hormat, "Di sungai ada Tuan. Di bawah Titi besi. Tapi jika anda berkenan."
Oh Damn! Sial sekali rasanya!
***
Yang benar saja. Pagi ini Alvaro benar benar dongkol, dia sungguh mandi di sungai tadi dengan pengawalan yang ketat karena banyak wanita yang mencuri kesempatan untuk melihat penampakan keindahan tubuhnya itu. Arhh... Dia benci sekali!
Alvaro bahkan kini merasa tubuhnya terasa gatal, ck, sungai tadi pasti banyak bakterinya!
Menjijikan sekali! Kalau tau tadi begini Alvaro pasti memilih untuk tidak mandi saja!
Pagi hari buruk ini pun berlanjut di kantornya. Lelaki bertubuh tegap itu duduk di kursi kebanggaannya dalam ruang pribadi miliknya. Baru saja beberapa menit duduk dan hendak membuka dokumen,
Brak!
Pintu terbuka secara paksa, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kantor Alvaro dengan menjerit histeris.
"Ganteng banget!!! Aaa!!! Nikah yuk!!!"
Heh? Alvaro menyerngitkan dahinya. Dia mau apa?!
"Anda siapa?! Dan siapa yang suruh masuk?!"
Wanita itu tak perduli dan malah berlari ke arah Alvaro. Sial! Alvaro segera memencet tombol keamanan, namun sebelum petugas datang wanita itu lebih dulu mendekat pada Alvaro membuat Alvaro segera berlari. Dan terjadinya kejar kejaran.
"Eh jangan macam macam!! Dasar orang gila!!!" Jerit Alvaro.
"Sumpah mas ganteng banget!! Aaa!!! Tadi saya lihat mas di sungai!!! Saya suka sekali sama Mas!!! Aa!!!" Teriak wanita itu kegirangan.
Ini sangat horor bagi Alvaro, perkara kejadian tadi pagi dia malah kedatangan orang gila.
"I love you sayang!!! Merry me!!!" Jerit wanita itu.
Sudah beberapa kali keliling ruangan barulah petugas keamanan datang dan menangkap wanita gila ini. Alvaro menatap tajam si petugas keamanan, "Kenapa kalian lama sekali datang?!"
"M-maaf Tuan."
Alvaro mengusap wajahnya, "Bawa dia pergi. SEKARANG!"
Sang satpam segera mengangguk, "Baik Tuan," dia pun pergi bersama fans dadakan Alvaro itu.
Alvaro harus tetap mengontrol dirinya. Pagi ini ada rapat, jangan karena awal pagi yang sangat buruk ini menjadikan jam jam berikutnya jadi buruk. Tidak, cukup tadi saja, jangan sampai satu hari ini.
Alvaro membaca materinya dan menyusun apa yang perlu untuk pembahasan di meja meeting nanti.
***
Sang sekretaris sudah mengatur segalanya, dan berkas berkas yang Alvaro butuhkan juga sudah di sediakan oleh sekretaris pribadinya itu. Alvaro memulai rapat,
"Selamat-"
Bom!
Tiba-tiba infokus meledak.
"Apa apaan ini?! Kenapa kau menyediakan barang seperti ini?!" Bentak Alvaro pada sekretarisnya.
"T-tapi Tuan, tadi baik-baik saja." Jawab sekretaris dengan panik. Padahal memang sebelumnya sudah di uji coba olehnya, semuanya baik baik saja sampai awal di hidupkan ulang tadi. Tapi kenapa jadi begini?
"Dasar bodoh! Aku tak membayar ku untuk kecerobohanmu!"
"Tadi sudah saya cek Tuan. Berkali-kali-"
"DIAM! KAI DIPECAT!" emosi Alvaro pun meledak. Sedari tadi tak ada yang beres, semuanya berantakan.
Sang sekretaris pun menunduk dan pergi.
"Kau! Carikan aku infokus lainnya!" Perintah Alvaro pada seorang pegawai yang sedang duduk di meja rapat.
Lelaki itu mengangguk. "Baik Tuan."