
Clara sedikit mendorong tubuh Alvaro, "Al malu."
Alvaro terkekeh dan menciumi pipi Clara, "Kenapa? Kita sudah menikah bukan?"
Clara tak dapat menjawab lagi.
Alvaro mengelus bibir Clara dengan ibu jarinya lembut, "Sampai di rumah kota langsung saja ya?"
Ucap lelaki itu seketika membuat Clara terbelalak hingga matanya ingin keluar rasanya. "H-hah?" Clara memastikan apa yang di dengarnya salah dengar.
Alvaro terkekeh geli dan kemudian memeluk Clara erat tanpa menjawab Clara. Dia akan melepaskan Clara nanti, lihat saja.
***
Sesampainya di rumah Alvaro dan Clara keluar dari mobil dan mulai masuk ke dalam rumah, Alvaro menggandeng Clara dan hendak kembali mencium wanita itu tapi di tahan Clara, "Al, apa kamu ngak mau membersihkan diri? Kita seharian di acara tadi."
Clara beralasan agar mengulur waktu. Bisa copot jantung Clara kalau langsung di tempur Alvaro sekarang juga.
Alvaro mendengus, kan tadi dia bilang mau langsung saja malam ini, malahan di suruh mandi.
Clara melepaskan tangan Alvaro, "Aku mandi dul-"
Alvaro menarik tangan Clara lagi, "Mandi sama."
Deg!
Aih, kenapa jadi mandi bareng?
"H-hah? Mandi sama? Anu, itu, aku," Alvaro menarik Clara dan menggendongnya tanpa memperdulikan kepanikan Clara, "Kelamaan alasannya. Udah gerah sayang."
Waduh! Jantung Clara seperti mau meledak sekarang. Gila! Ini bercanda kan?!
"Aku tak suka bercanda sayang," jawab Alvaro membalas pikiran Clara yang dapat di bacanya.
Meraka sudah memasuki kamar mandi dan Alvaro menurunkan Clara, lelaki itu menurut pintu.
Alvaro membuka jasnya, kemudian mulai membuka kemejanya. Clara menutup matanya, tunggu tunggu! Ini terlalu cepat! Batin Clara.
Alvaro melihat Clara, sudut bibirnya tertarik melihat Clara yang sangat panik bukan main. Lelaki itu menarik tangan Clara perlahan dan memeluknya. Alvaro membuka perlahan kancing belakang Clara perlahan. "Nikmati saja, aku akan melakukannya perlahan," bisik Alvaro dengan suara deep voicenya.
***
Alvaro membuka matanya, masih terlalu pagi untuk bangun memang karena masih jam 5 pagi karena sudah terbiasa bangun pagi.
Lelaki itu melihat Clara yang masih tertidur pulas. Wajahnya yang cantik membuat Alvaro kembali mengingat bagaimana kejadian semalam, wisata masa depan yang begitu indah.
Lelaki itu memeluk tubuh Clara yang polos dengan satu selimut yang menutupi tubuh Clara dan dirinya. Dia sungguh memiliki wanita ini seutuhnya.
Clara mengerang pelan saat lelaki itu menganggu tidurnya. Namun kembali Clara tertidur. Lelaki itu tersenyum dan kembali memeluk Clara dan mencium keningnya, "Love you so much."
Beberapa jam kemudian Clara terbangun, wanita itu merenggangkan badannya, wanita itu merasakan sesuatu yang berat memeluknya.
Clara membuka matanya perlahan dan kemudian terbelalak, wajah Alvaro tertidur begitu dekat dengannya. Astaga, baru juga bangun sudah senam jantung saja.
Clara mengelus dadanya.
Eh tunggu. Ini mereka asih dalam posisi tanpa busana?
Clara kembali terbelalak, Astaga!
Clara mencoba mengontrol dirinya, jangan sampai panik tenang... Jangan sampai membangunkan Alvaro.
Clara memandangi wajah Alvaro, lelaki ini jika di lihat seperti ini aura ketampanannya memang sangat mendominasi. Alvaro memang begitu tampan dan begitu baik sebenarnya.
Awalnya Clara mengira kemarin akan malam yang menyeramkan dan menakutkan. Namun tidak, lelaki itu tak memaksakan kehendaknya pada Clara. Bahkan ketika melihat Clara yang sudah kelelahan Alvaro tidak meneruskannya dan membiarkan Clara beristirahat.
Sederhana namun Clara merasa sangat senang melihat perhatian itu. Clara tersenyum.
Namun senyuman Clara terhenti. Tunggu, sepertinya ada yang janggal.
Clara kembali mengingat kejadian kemarin. Setelah dia kelelahan Alvaro memang mengentikannya kemudian dia berbisik sesuatu.
"Istirahatlah sayang. Besok kita lanjutkan," bisik lelaki itu sambil memeluk Clara posesif.
Deg!
Astaga!
Alvaro tersenyum miring, lelaki itu mendekatkan bibirnya ditelinga Clara, "Sudah bangun kenapa tutup mata sayang?"
Deg!
Alvaro tak sepenuhnya tertidur dia masih sedikit sadar, terutama karena Clara sudah bangun dia malah tak jadi tidur.
Clara spontan membuka matanya kaget.
Alvaro mengeratkan pelukannya, "Sepertinya istirahatmu cukup sayang."
"Heh? Aku-"
Tak menunggu lama Alvaro menarik tengkuk wanita itu dan kembali menciumnya. Dan pagi ini pun terjadi pergulatan dengan Alvaro yang paling mendominasi.
***
Cup
"Aku pergi kerja dulu sayang," Alvaro mengecup singkat kening istrinya setelah makan sarapan yang di sediakan Clara.
Clara mengangguk dan tersenyum, "Iya. Hati hati di jalan ya sayang."
Clara mencium tangan suaminya dan kemudian Alvaro pun pergi menuju kantornya.
Senyuman itu tak semu semu dari seorang kutub Utara seperti Alvaro selama perjalanannya ke kantor.
Bahkan ketika sampai Alvaro membuat geger satu kantor karena senyuman yang limitid edition itu. Beberapa karyawan bahkan ikutan bahagia, ternyata pernikahan Alvaro membuat lelaki itu terlihat lebih cerah di bandingkan waktu masih lajang.
Alvaro pun memasuki ruang kantor pribadinya, seketika senyumannya itu hilang begitu saja dan di ganti kembali oleh wajah dingin bak es.
Lelaki yang ada di hadapan Alvaro itu tersenyum tipis, "Bahagia sekali huh? Tapi itu takkan bertahan lama."
Alvaro berjalan dengan tegas dan menatap tajam lelaki itu, "Pergi." Ucap lelaki itu dingin pada orang itu.
Viandro. Lelaki itu sungguh membuat pagi harinya menjadi buruk seketika. Alvaro menyesal juga kenapa kemarin itu tak langsung saja membunuh si brengsek ini.
Viandro tertawa kecil dan kemudian berjalan ke arah Alvaro. "Well, kau mungkin bisa tersenyum sekarang kakakku tersayang. Tapi tidak untuk besok." Kalimat Viandro di akhiri dengan senyuman begis.
Alvaro menggeleng malas, dia pikir Alvaro akan takut apa? Cih dasar manusia tak tau diri. Alvaro malas berdebat sekarang, intinya dia akan membunuh Viandro sebentar lagi.
Alvaro berdiri di sebelah Viandro dan menepuk bahunya, "Bermimpilah setinggi langit, hati-hati jatuh heh?" Hina Alvaro.
Viandro yang mendengar itu berdecih, sungguh sombong Alvaro. Dia kali ini takkan kalah, Viandro bersumpah akan memiliki Clara. Lihat saja.
Viandro membuang wajahnya malas dan kemudian pergi meninggalkan Alvaro dengan muak.
Alvaro duduk di kursi kebesarannya, "Tinggal tunggu waktu kau akan menghilangkan dari bumi ini bodoh. Sebentar lagi."
***
Viandro mengendarai mobilnya menuju kantornya. Di saat yang bersamaan Viandro melihat Clara yang tengah berjalan sendiri sambil membawa sesuatu dalam paper bag.
Viandro tersenyum, dia senang sekali berjumpa dengan Clara. Lelaki itu segera menepikan mobilnya dan kemudian dia berjalan mendekati Clara, "Hei!"
Clara menoleh dan seketika kaget, "Loh kamu. Kenapa di sini?"
Viandro terkekeh, "Aku? Di sini kantor ku Clara, kamu lupa?"
Clara melihat sekitarnya, ah iya, bisa bisanya dia tak sadar dia melewati tempat kerjanya dulu.
"Oh iya. Hm. Aku pamit dulu," Izin Clara dan segera berbalik badan berjalan mempercepat langkahnya.
Bisa berabe kalau Viandro tau dia sedang bekerja mengantarkan kue. Sedangkan Alvaro saja tak mengetahuinya.
Viandro dengan cepat menarik tangan Clara, "Eh, jangan pergi."
Clara berusaha melepaskan tangannya tanpa menoleh ke arah Viandro sangking paniknya, "Gak bisa. Aku banyak kerjaan!"
Viandro mengerutkan keningnya. "Kerjaan?"
Deg!
Sial. Clara salah bicara!